Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Adakah Sama Orang yang Berilmu dengan yang Tidak?

Saya sering membaca ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran:

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar: 9)

"Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?" (QS. Ar Ra'd: 19)

Ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran dikenal dengan istilah istifham yang berarti mengerti, paham, dan jelas. Maknanya kita tidak perlu bersusah payah untuk menemukan jawabannya karena pada hakikatnya semua dari kita sudah mengetahui jawabannya.

Justru yang perlu kita renungkan adalah tentang sindiran dari ayat ini. Seolah ia mengatakan, "Orang yang berilmu kok kelakuannya sama dengan orang yang tidak berilmu. Apakah kamu benar-benar berilmu?" Sebagai contoh, orang yang mengetahui keutamaan zikir tetapi tidak berzikir. Lantas apa bedanya dengan orang yang tidak mengetahui keutamaan zikir?

Ayat-ayat seperti ini pada intinya mengajak kita untuk merenungi diri kita sendiri, sampai sejauh mana kita mencari ilmu dan sampai sejauh mana pula kita mengamalkannya. Jadi tidak sebatas untuk mengetahui tetapi ia juga mengajak kita mengamalkan apa yang kita ketahui tersebut.


Kamis, 29 Oktober 2015

Keterkaitan Antara Amalan Ruhiyah dengan Produktivitas Berkarya dan Berprestasi

Pada suatu hari saya merasa malas dalam membaca dan menulis. Kalaupun ingin mulai menulis, otak terasa beku dan tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Setelah saya teliti lebih dalam lagi, ternyata ada beberapa amalan ruhiyah yang tidak saya kerjakan pada hari itu.
Orang-orang mungkin akan bertanya, apa hubungan antara amalan ruhiyah dengan membaca dan menulis? Bagi saya amalan ruhiyah memberikan pengaruh yang besar bagi hati dan akal pikiran ini. Selain berkah dan rahmat Allah sehingga motivasi dan inspirasi begitu melimpah, juga memberikan kenikmatan tersendiri ketika mengerjakannya. Saya bercermin pada tradisi intelektual ulama Islam yang begitu produktif dalam membaca dan menulis. Misalnya Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki dan penulis kitab Al Muwatha. Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang menulis kitab seperti Jami Ash Shahih dan Adabul Mufrad. Imam Ibnu Qudamah, seorang ulama besar mazhab hanbali dan penulis kitab Al Mughni. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis 96 judul kitab dan dalam satu judulnya terdiri dari beberapa jilid kitab.
Dari sini kita seringkali terjebak hanya melihat ujungnya, tanpa melihat pangkalnya. Kita tidak melihat mengapa mereka mampu melakukan pekerjaan berat itu. Tapi bagi yang jeli melihatnya, tradisi intelektual itu tidak pernah lepas dari ibadah yang kuat, amalan yang istiqomah. Seperti halnya pondasi yang kuat, maka bangunan yang berdiri di atasnya bisa kokoh, sebesar dan seberat apapun.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Bukhari, beliau tidak meletakkan 1 hadits pun dalam kitabnya, kecuali mandi dan salat 2 rakaat terlebih dahulu.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Malik bin Anas, Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Ibnu Qudamah, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar”
Tentang amalan ruhiyah Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Imam Ibnu Katsir berkata, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”
Imam Ibnu Rajab berkata tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri Imam Ibnul Qayyim, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dari sini saya menyimpulkan adanya keterkaitan antara amalan ruhiyah dengan produktivitas dalam berkarya dan prestasi. Bahwa dakwah akan lancar manakala ruhiyah kita bersinar. Bagi yang ingin istiqomah dalam berkarya dan berprestasi, maka dirinya harus ditunjang dengan banyak mengerjakan amalan-amalan ruhiyah seperti shalat, shaum, tilawah, doa, dan dzikir.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Perjuangan Melawan Hawa Nafsu

Sesungguhnya perjuangan melawan hawa nafsu akan terus terjadi hingga kita mati. Karena bagi orang beriman, dunia ini ibarat penjara yang memagari hawa nafsu. Sedangkan bagi orang kafir, dunia ibarat surga; mereka bebas melakukan apa saja yang mereka mau.

Bila saja kita berhenti berjuang, niscaya berhenti pula semua karunia yang kita rasakan. Bahkan semenit saja kita lepas dari mengingat Allah, maka menit-menit selanjutnya hidup terasa kurang bermakna.

Apakah kita termasuk di antara orang yang paginya mukmin, sorenya menjadi ahli maksiat? Atau sorenya mukmin, paginya menjadi ahli maksiat? Semoga Allah menjauhi kita dari hal semacam itu.

Gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, timbullah asmara dihati. Lalu muncullah keinginan untuk melakukan perbuatan tercela. Padahal sebelumnya dia adalah ahli ibadah. Namun hanya gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, menodai hatinya yang bersih. Tak begitu lama, rasa malas beribadah menghiasi diri dan begitu ringan ia melakukan kemaksiatan lainnya.

Dalam menjalani hidup ini, kita tidak lepas dari dua pilihan: ketaatan atau kemaksiatan. Renungkanlah setiap perbuatan, lalu katakan, apa manfaatnya bagiku? Apakah dengan perbuatan yang aku lakukan itu dapat membuatku menjadi lebih baik? Bila tidak, perbuatan yang kita lakukan bisa jadi termasuk kategori kemaksiatan.

Jumat, 23 Oktober 2015

Nikmatnya Pahala Sabar Menghilangkan Rasa Sakit Karena Musibah

Di dalam kitab Ihya Ulumuddin dikisahkan, Fath Al Maushili memiliki seorang istri yang dikenal dengan kesabarannya. Suatu saat istri beliau terjatuh dan kuku jarinya pecah hingga menyebabkan luka, namun ia malah tertawa dengan keadaan seperti itu.

Hal itu menyebabkan orang disekitarnya bertanya terheran-heran, "Apakah engkau tidak merasa sakit?"

Istri Fath Al Maushili pun menjawab, "Sesungguhnya nikmatnya pahala karena luka ini menghilangkan rasa sakitnya dari hatiku."

Demikianlah keajaiban rasa sabar; musibah yang berat terasa ringan dan senantiasa tenang dan berbahagia ditengah kesulitan. Keadaan ini akan jauh berbeda bila musibah itu dihadapi dengan ketidaksabaran; musibah yang ringan menjadi terasa berat, masalah yang kecil dibesar-besarkan.

Ketika menghadapi musibah, ingat-ingatlah keutamaan sabar; keutamaannya di dunia dan pahalanya di akhirat.Ingatlah ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Rasulullah, dan perkataan ulama tentang sabar.

Kamis, 15 Oktober 2015

Kemenangan Kalian Datang dari Langit

Melihat foto-foto dan video-video pendek di facebook tentang penderitaan yang dialami saudara-saudaraku di Suriah dan Palestina sungguh menyimpan pilu yang mendalam di hati. Masih terbayang dalam ingatan, sosok mungil Aylan Al Kurdi, yang terkapar di pantai menjadi mayat. Atau seorang muslimah yang lemah dan tidak bersenjata diberondong peluru tentara Zionis la'natullah hingga syahid. Betapa saya tidak banyak berbuat untuk mereka, selain apa yang bisa saya sampaikan secara materi maupun doa.
Saya pernah mendengar salah seorang mujahidin Palestina berkata, doakan saja kami. Ya, mereka hanya minta di doakan. Permintaan yang sangat sederhana. Tapi apakah kita telah melakukannya? Telah menyempatkannya? Misalnya selepas shalat atau waktu dimana diijabahnya doa? Maaf, bukannya di facebook ya. Doa kita dalam kesunyian, hanya kita yang tahu dan dengar lafaz yang kita ucapkan, jauh lebih afdhol daripada doa yang kita ucapkan terang-terangan, apalagi di facebook.
Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, 'Dan bagimu juga kebaikan yang sama'.”(HR. Muslim)
"Doa seorang muslim untuk saudaranya di seberang sana sungguh mustajab. Di kepalanya ada malaikat yang ditugasi oleh Allah untuk mengucapkan 'amin' setiap kali ia mendoakan kebaikan buatnya. Malaikat itu juga berkata: 'Dan bagimu juga seperti itu'." (HR. Bukhari dan Ahmad)
"Doa seseorang untuk saudaranya dikejauhan tidak akan ditolak." (HR. Bazzar)
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata, "Doa ikhwah fillah adalah mustajab." (HR. Bukhari)
Mungkin saja dari doa-doa yang kita panjatkan, Allah menghancurkan tank dan pesawat musuh, atau Allah menolong seorang hamba-Nya yang sedang berjihad, atau Allah menghalau roket-roket musuh, atau Allah membunuh musuh-musuh-Nya lewat para pejuang-Nya, atau Allah menyelamatkan seorang anak. Doa-doa kita untuk mereka ibarat senjata-senjata yang mematikan bagi musuh. Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk mereka dan yakinlah jika doa-doa itu tidak ada yang sia-sia.
Umar bin Khaththab meminta kemenangan kepada Allah atas musuhnya dengan berdoa, padahal Umar adalah tentara-Nya yang paling gagah. Umar pernah berkata kepada pasukannya, “Kalian tidak menang karena jumlah kalian yang banyak, akan tetapi kemenangan kalian datang dari langit.” Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Saya tidak membawa semangat dikabulkannya doa, akan tetapi saya membawa semangat untuk berdoa. Jika saya dikaruniai kesempatan untuk berdoa, maka sesungguhnya aku dikaruniai terkabulnya doa.”
Cobalah setelah membaca tulisan ini Anda berdoa untuk saudara-saudara Anda di Suriah dan Palestina. Berdoalah ditempat duduk Anda berada.

Kamis, 01 Oktober 2015

Berkumpul Bersama Orang Saleh

Tiga hari yang lalu bertemu Ust. Fahrur Rozi, MA. Usianya mungkin tidak terpaut jauh di atas saya. Beliau salah satu tim pentashih Al Quran DEPAG. Bila ada Al Quran yang sudah di tashih, tandanya ada dibagian halaman depan Al Quran, maka beliau adalah salah satu orang yang mentashihnya. Disini saya ingin menceritakan amal saleh beliau. Saya tidak mendengarnya langsung dari beliau, tapi dari beberapa kawan beliau. Kalau menceritakannya secara langsung kepada saya mungkin beliau akan malu.

Ust. Fahrur Rozi, MA adalah seorang hafidz Quran. Tiga hari sekali beliau mengkhatamkan Al Quran dalam shalatnya. Ya, dalam shalatnya! Bukan diluar shalat! Subhanallah, dalam hati saya berkata. Salah seorang dari kawan beliau berkata, "Ustadz Fahrur Rozi akan berdoa khatam Al Quran karena semalam beliau telah khatam Quran dalam shalatnya. Semoga kita mendapat rahmat dan keberkahan darinya. Silahkan ustadz..." Lalu ustadz pun berdoa, lumayan panjang namun fasih dan menggetarkan sanubari. Tidak terasa saya meneteskan airmata. Mengingat banyak hal: Mengingat betapa sedikitnya amal shaleh saya. Mengingat betapa sedikitnya saya berzikir, membaca Al Quran, shalat. Mengingat dosa-dosa saya yang begitu banyak.

Selesai doa khatam Quran, saya lalu bersalaman dan mencium tangan beliau, sebagai ungkapan rasa hormat kepada orang saleh dan berilmu. Ingin sekali saya berfoto bareng dengan beliau, namun sepertinya banyak orang yang ingin mengobrol dengan beliau. Jadi ya sampai disitu saja pertemuan saya dengan beliau hari itu. Seharian beliau mengisi acara tapi tidak terlihat kelelahan padahal saat itu beliau sedang berpuasa sunah.

Semoga saya dipertemukan lagi dengan beliau atau dengan orang-orang saleh lainnya.

“Hendaknya kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.” (Hadits Rasulullah sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al Bantani)

Rabu, 23 September 2015

Meraih Kemenangan Lewat Ujian dan Cobaan

Seorang pemimpin Islam seringkali hadir ditengah dunia yang sedang bergejolak. Nabi Muhammad Saw. lahir ditengah serangan pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka'bah. Shalahuddin Al Ayyubi lahir ditengah serbuan pasukan Salib terhadap Masjidil Aqsha. Sebagaimana juga kelahiran Utsman 1 bin Ertugrul di saat pasukan Mongol memporak porandakan pusat pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Kekacauan dunia saat itu telah menempa jiwa seorang mukmin. Sehingga mereka lebih mampu melihat penderitaan saudara-saudara mereka, lebih mampu bersabar, lebih mampu melihat kekurangan dan kelemahan yang ada, sekaligus lebih mampu melihat peluang dan kesuksesan.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta!" (QS. Al Ankabut: 2-3)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesung-guhnya kita adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang menda-pat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Al Baqarah: 155-157)

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat"." (QS. Al Baqarah: 214)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia ini menyadari bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya di dunia ini tidaklah semudah dan semulus yang dibayangkan; akan tetapi harus melalui berbagai macam rintangan dan ujian.

Rabu, 16 September 2015

Tuntutlah Ilmu Mulai dari Buaian Hingga Liang Lahat

Pada detik-detik terakhir ketika ajal hendak menjemput Abu Raihan Al Biruni, beliau masih ingin membahas permasalahan ilmu yang belum tuntas jawabannya. Saat detik-detik kematian beliau, ada sahabatnya yang bernama Abu Hasan al-Walwajiyi hadir menjenguknya. Beliau telah mendengar pendapat Abu Hasan tadi tentang bagian warisan nenek yang ternyata kurang tepat. Pada saat itu Abu Hasan merasa kaget dan bertanya, “Apakah dalam situasi genting semacam ini engkau masih membahas tentang pendapat saya sementara engkau hendak meninggalkan dunia ini?” Kemudian beliau menjawab, “Apakah pantas saya meninggalkan dunia ini sementara saya tahu tentang suatu masalah dan saya tidak membenarkannya?”.
Yang hidup malas menuntut ilmu. Sedangkan engkau, yang mau mati, masih membahas ilmu dengan senang hati.

Minggu, 06 September 2015

Tips Istiqomah Membaca Al Quran

Bagi orang yang merasa berat membaca Al Quran, saya sarankan cobalah duduk dan mulai membaca Al Quran. Lembar pertama mungkin akan terasa berat bagi anda karena pada saat itu sedang terjadi pertarungan antara nafsu dengan iman. Kalau anda berhenti, anda akan semakin malas membaca Al Quran pada waktu-waktu berikutnya. Oleh karena itu, lanjutkan terus membacanya. Anggaplah semua itu ujian dan pengorbanan bagi Anda. Saksikanlah setelahnya Al Quran menjadi terasa ringan dan semakin ringan untuk dibaca. Hingga anda dapat menyelesaikan satu juz, dua juz, bahkan tiga juz penuh dengan kenikmatan.

Sabtu, 05 September 2015

Menuntut Ilmu Agama Haruns Diikut Ketakwaan

Menuntut ilmu agama haruslah diiringi dengan ketakwaan. Karena jika telah memperoleh banyak ilmu, biasanya timbul dalam hati perasaan ujub. Sedangkan ketakwaan membawa hati tetap tawadhu. Bahwa di atasnya masih ada orang yang lebih tinggi ilmunya. Dan semua ilmu pada akhirnya adalah milik Allah Azza wa Jalla.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

Senin, 22 Juni 2015

Tiga Juta Kebaikan untuk Mereka yang Khatam Al Quran

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Mujahid Ra. sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, jumlah huruf dalam Al Quran sebanyak 321.180. Sedangkan menurut Imam Ibnu Abbas Ra sebanyak 323.671. Mari kita ambil riwayat dari Imam Ibnu Abbas karena beliau adalah sahabat Nabi dan kepakaran beliau dibidang ilmu fikih dan Al Quran lebih baik daripada Imam Mujahid.

Bila 323.671 huruf X 10. Maka apabila kita mengkhatamkan Al Quran, kita akan memperoleh 3.236.710 kebaikan. Itu pahala diluar bulan Ramadhan. Pahala membacanya di dalam bulan Ramadhan akan jauh lebih besar lagi. Dilipatgandakan hingga hanya Allah yang tahu seberapa besar pahala itu dilipatgandakan.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengapa Orang-Orang Beriman Bergembira Menyambut Kedatangan Ramadhan?

Bagi orang yang beriman, Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan kedatangannya. Ketika bulan memasuki Rajab, mereka sudah berdoa, "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami kepada bulan Ramadhan."

Saat bulan yang dinanti itu tiba, mereka menyambutnya dengan penuh kegembiraan, "Marhaban ya Ramadhan". Perkataan "marhaban" berasal dari kata "rahb" yang berarti "luas dan lapang". Sehingga marhaban mengandung makna bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Sudah mafhum bahwa orang yang bergembira menampakkan dirinya sebagai orang yang antusias dan ceria. Begitupun dengan keadaan orang yang beriman dalam menyambut bulan Ramadhan, yang antusias dan bersemangat dalam beramal serta tersirat diwajahnya keceriaan. Bila menyambutnya saja sudah bergembira, apatah lagi bila sudah berada di dalamnya. Ingin sekali berlama-lama di dalamnya, sedih mereka apabila berpisah dengannya.

Pahala amal saleh dibulan Ramadhan dilipatgandakan hingga unlimited. Sedangkan wujud amal saleh tidak hanya satu. Tidak hanya shalat sunah atau tilawah atau dzikir bil lisan saja. Seorang polisi yang mengatur lalu lintas, dokter yang mengobati pasiennya, atau petugas pemerintah yang melayani warganya dengan ikhlas dan sebaik-baiknya adalah juga sedang beramal saleh. Maka di bulan Ramadhan kita dapati mereka bertugas lebih baik, lebih bersemangat, dan lebih produktif. Bila Rasulullah dan para sahabatnya banyak berjihad di bulan Ramadhan, begitupun orang-orang yang beriman saat ini khususnya di Indonesia, mereka berjihad; beramal saleh dengan penuh kesungguhan, mengharap ridho Allah Swt. Bukannya bermalas-malasan, orang-orang beriman justru bersungguh-sungguh dalam beramal meskipun mereka sedang berpuasa.

Maka keadaan orang-orang yang beriman di Bulan Ramadhan merupakan model ideal khairu ummah yang dapat kita lihat di setiap zaman.

Minggu, 03 Mei 2015

Kedustaan di Media Sosial

Di dunia maya ini orang bisa bicara sebebas-bebasnya. Dengan membuat banyak akun tidak jelas, foto profil diambil dari orang lain, dst. Lalu mulailah mereka memprovokasi dengan tulisan atau perkataan yang membangkitkan kemarahan. Sebagian orang tampaknya terprovokasi dengan kata-katanya itu. Sebagian lagi merasa diuntungkan dengan kata-kata itu dan menjadikannya sebagai amunisi untuk menyerang dan memfitnah.

Tampaknya akan susah bagi kita menangkal fenomena ini. Dibunuh satu bisa tumbuh seribu. Kita bisa saja membuat petisi. Tapi yang paling utama bagi diri kita adalah menyibukkan diri dengan amal perbaikan dan dakwah. Mulailah dari diri kita sendiri untuk tidak mengatakan kedustaan atau ketidakbenaran. Karena hal itulah yang akan menentukan keimanan kita kepada Allah Swt. "Barangsiapa yang beriman pada kehidupan akhirat, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam." (HR. Muttafaq alaih).

Ya, keimananlah yang menjaga lisan dan perilaku kita dari ketidakbenaran. Keimanan itu bukan tampak hanya ketika orang lain melihat kita. Dimana disaat itu kita tampil penuh kebaikan, namun ketika sepi melakukan banyak kemungkaran. Tapi keimanan itu selalu melekat dimanapun kita berada. Itulah keimanan yang hidup dan menghidupkan. Kata Sayyid Quthb, orang yang beriman itu seperti bunga yang tidak kuasa menahan wanginya yang harum.

Rabu, 29 April 2015

Hikmah Gempa Di Nepal


Saya mendapatkan foto ini dari seorang teman yang mensharenya di FB. Terkait dengan kejadian gempa Nepal beberapa hari yang lalu. Kabarnya, menurut data terakhir yang saya lihat di TV One, jumlah korban tewas mencapai 5600 orang. Tapi kemungkinan besar terus bertambah karena orang yang belum ditemukan tidak dimasukkan ke dalam korban tewas.

Menurut berita yang banyak di share di FB tersebut, beberapa hari sebelum terjadinya gempa hebat tersebut, di adakan upacara pembantaian hewan terbesar di dunia dalam rangka suatu upacara persembahan kepada dewa-dewa di Nepal. Jutaan pemeluk agama Hindu berduyun-duyun mendatangi lokasi upacara yang digelar tiap lima tahun sekali di Kuil Gadhimai, Dewi Kekuatan, di Bariyarpur, Nepal. Lebih dari 250.000 hewan dibariskan untuk dilakukan pembantaian di acara tersebut. Festival tersebut diakhiri dengan ritual membunuh 5000 kerbau. Ritual itu selesai dilakukan selama dua hari. Hewan-hewan tersebut tidak untuk dikonsumsi, melainkan untuk dijadikan sesajen bagi dewa-dewa mereka.

Membaca berita di atas membuat saya tidak habis pikir. Betapa ngerinya. Betapa dahsyatnya pembantaian tersebut. Dan lebih dahsyat lagi, jutaan orang menyaksikannya secara langsung, tidak merasa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sangat buruk. Setiap lima tahun sekali mereka melakukannya. Awalnya tidak terjadi apa-apa atas diri mereka. Mereka anggap dewa-dewa mereka senang menerimanya. Kemudian mereka melakukannya lagi dan lagi dengan penuh suka cita, tanpa merasa bersalah. Padahal Allah sedang memasukkan mereka ke dalam istidraj. Sehingga ketika masanya tiba, Allah mengazab mereka tanpa mereka sadari kedatangannya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu melihat (suatu keadaan di mana) Allah memberikan kenikmatan dunia pada seorang hamba karena kemaksiatannya, maka hal itu merupakan istidraj.”Kemudian beliau membaca ayat: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) (HR. Ahmad dan Ath-Thabari)

Allah Swt. berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

Menurut Ibnu Zaid, yang dimaksud kerusakan di darat dan dilautan adalah dosa. Dalam bahasa Arab, agar adalah “li” atau huruf lam untuk menunjukkan makna akibat. Jadi, makna kerusakan pada bagian pertama adalah kekurangan, keburukan, dan penderitaan yang diturunkan oleh Allah di bumi karena perbuatan maksiat hamba-Nya.

Mujahid Ra. berkata, “Sesungguhnya binatang ternak melaknat ahli maksiat dari keturunan Adam. Jika paceklik menimpa dan hujan tidak turun mereka berkata, ‘Ini akibat maksiat yang dilakukan oleh keturunan Adam’.”

Ikrimah Ra. berkata, “Binatang melata dan serangga di bumi hingga kumbang kelapa dan kalajengking berkata, ‘Kami tidak merasakan walau hanya setetes hujan karena dosa-dosa keturunan Adam’.” (Dikutip dari Kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawaaisy Syafi karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah).

Demikianlah para binatang itu. Mereka tidak bisu terhadap kezaliman yang dilakukan oleh manusia. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan mereka yang menghukum manusia atas kezaliman terhadap diri mereka. Allah-lah yang akan turun tangan langsung menghukum manusia yang zalim tersebut. Bila ada orang yang masuk neraka gara-gara berbuat zalim kepada seekor anjing, sebagaimana sebuah hadits menyebutkan, apatah lagi ratusan ribu hewan dibantai dan disiksa sedemikian rupa!

Minggu, 26 April 2015

Nikmatnya Dunia Tak Sebanding dengan Nikmatnya Qona'ah

Pastilah Anda mengetahui betapa sedikitnya kenikmatan duniawi yang diberikan kepada manusia, jika dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh binatang. Makhluk Allah itu tampaknya lebih banyak menerima kenikmatan daripada yang manusia dapatkan. Binatang bahkan memperolehnya dengan tenang, sedangkan Anda mendapatkannya dengan penuh kekhawatiran. Oleh karena itu, jika bagian harta Anda dilipatgandakan seperti yang Anda kehendaki, maka Anda akan bersama kelompok hewan dan binatang itu.(Imam Ibnu Al-Jauzy)

Selalu merasa tidak puas dengan apa yang ada adalah ciri orang yang serakah. Orang seperti itu menghabiskan waktu untuk meraih materi duniawi. Sementara urusan akhirat dia lalaikan. Dia mampu menata dunia yang fana, tetapi tidak mampu menata akhirat yang baqa.

Bila memberi, pelitnya bukan main. Berpikir seribu kali untung-ruginya. Tetapi bila untuk kesenangan pribadinya, tak segan-segan dia habiskan untuk berbuat maksiat. Setelah itu dia baru menyadari hartanya telah berkurang. Padahal dialah yang menghabiskannya sendiri! Begitulah seterusnya, dia terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung. Untuk menambah hartanya yang hilang itu, dia melakukan hal-hal yang diharamkan. Dia gelisah pada urusan duniawi, tetapi sedikit sekali memikirkan urusan ukhrowi. Bila diingatkan, dia menyingkir dan menjauh seolah baru saja mendengar berita buruk.

Ternyata materi duniawi bukanlah ukuran untuk menunjukkan seseorang mulia atau hina. Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, apa bedanya kita dengan kelompok hewan? Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, tidak akan ada keadilan. Orang miskin "menyembah" orang kaya karena kehinaan yang melekat padanya. Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, tak ada lagi kasih sayang dan berbagi pada sesama.

Tetapi bila takwa yang menjadi ukuran, para raja pun bisa tunduk pada para hamba dan rakyat jelata! Tidak semua orang kaya bertakwa, tetapi semua orang bertakwa itu kaya. Hidup orang bertakwa penuh dengan qonaah sehingga merasa berkecukupan walaupun miskin harta.

Sedangkan orang yang tidak bertakwa selalu merasa kekurangan walaupun kaya harta. Dia memandang kekosongan, tidak memandang apa yang telah ada padanya. Dia memandang kekurangan, tidak memandang apa yang telah Allah berikan kepadanya.

Sabtu, 25 April 2015

Kemandirian dalam Kesederhanaan

Orang yang cerdas mengatur hidupnya di dunia dengan akalnya. Jika hidup dalam kemiskinan, ia berusaha keras untuk menghasilkan rezeki yang mencegahnya dari penghinaan manusia. Ia juga mengurangi kebergantungannya kepada orang lain dengan cara hidup sederhana. Oleh karena itu, ia hidup tenang dan tak pernah mendengar ocehan manusia yang sampai ke telinganya. Ia hidup dengan harga diri di tengah-tengah mereka. Jika hidup dalam kekayaan, ia menggunakan akalnya untuk tidak berlebihan menggunakan hartanya, khawatir suatu saat ia menghajatkan sehingga membuatnya rendah di mata orang lain. (Imam Ibnu Al-Jauzy)

Saya pernah melihat peminta-minta keluar masuk angkutan umum, bis, atau rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Tubuhnya sehat tetapi menjadi peminta-minta. Tidak malu apalagi terhina. Tetapi di mata orang, martabatnya jatuh, rendah, dan hina. Kenapa tubuhnya yang sehat itu tidak digunakan sebagai modal awal untuk bekerja?

Di pihak lain, saya memiliki seorang tetangga yang sebelah tangannya cacat. Ia hanya mampu menggunakan sebelah tangannya yang satunya lagi. Walaupun begitu dia tetap bersemangat dalam mencari nafkah. Dia tidak pernah meminta-minta bahkan selalu siap menolong jika dimintai bantuan. Orangnya sederhana dan senang beribadah. Semangatnya dalam mencari nafkah, menjadi cambuk untuk diri saya; mengapa orang sehat seperti saya kalah semangatnya dalam mencari nafkah dengan orang yang secara fisik berkekurangan? 

Saya juga melihat di tegah-tengah masyarakat, ada orang kaya yang gemar menghambur-hamburkan hartanya seolah tidak ada lagi hari esok. Atau menggunakan hartanya untuk berbuat maksiat. Saat hartanya habis, ia bisa menjadi orang yang terhina. Teman-teman menjauhinya. Saat miskin itulah dia merasakan jika saat kaya dulu dia tidak pandai bersyukur. Itulah. Seringkali penyesalan datang belakangan.

Sementara orang yang menggunakan akalnya, baik miskin maupun kaya, dia akan hidup sederhana. Dia akan menggunakan hartanya dengan sebaik-baiknya; menginvestasikannya untuk masa depannya dan tidak menghambur-hamburkannya untuk tujuan yang tidak benar. Setiap rezeki yang ia dapat ia syukuri, sebagian ia sedekahkan, bila cukup nisab ia zakatkan. Saat masa susah, ia masih memiliki tabungan untuk menghidupinya. Saat senang, ia tabungkan agar tenang di masa yang akan datang. 

Tidak setiap orang kaya adalah sederhana tapi setiap orang sederhana pasti kaya. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah materi, sedangkan ruhnya adalah kesederhanaan.

Senin, 20 April 2015

Kemuliaan Orang-Orang yang Tawadhu Dihadapan Allah dan Makhluk-Nya

Allah berkata pada hari pembalasan, "Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakan?" (HR. Ahmad, Al Baghawi, dan Ath Thabrani dengan sanad yang shahih)

Maka, tidaklah mengherankan bila orang-orang saleh berusaha untuk menyembunyikan amal-amal mereka. Imam Sufyan Ats Tsaury tidak menganggap penting amal-amalnya yang dilihat oleh orang lain dan menganggap amalnya yang sesungguhnya adalah amal-amal yang tidak diketahui orang lain.

Imam Ali Zainal Abidin bertahun-tahun bersedekah kepada fakir miskin tanpa ada orang yang tahu. Kaum fakir itu baru mengetahuinya setelah sang imam wafat karena tak ada lagi yang bersedekah kepada mereka.

Pernah suatu ketika Imam Abu Hanifah kepergok sedang shalat malam yang panjangnya dari setelah shalat isya sampai menjelang subuh. Setelah sang Imam tahu ada yang melihatnya sedang shalat, lantas beliau berkata kepada orang tersebut agar merahasiakan apa yang dilihat.

Ada orang saleh yang bertahun-tahun menangis karena takut kepada Allah tanpa diketahui oleh istri yang tinggal bersamanya. Ada orang saleh yang menangis lantas kemudian dilihat oleh banyak orang, tapi beliau malah berkata, "Tidak apa-apa, aku sedang flu." Ada orang saleh lainnya yang berusaha menahan tangis ditengah khalayak ramai walaupun demikian orang lain yang berada bersamanya dapat merasakan bagaimana nafas yang terasa berat dan tubuh yang berguncang menahan tangis tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga keikhlasan di dalam hatinya. Agar tidak sia-sia amal mereka. Agar Allah memberi mereka pahala bukan menambah mereka dosa. Tidak penting menjadi terkenal dihadapan manusia tapi yang paling penting adalah terkenal dihadapan Allah.

Namun anehnya, meskipun orang-orang saleh itu menyembunyikan amal saleh mereka, tapi Allah membuat mereka terkenal dihadapan manusia. Semakin mereka menjauhi dunia, semakin dunia mengejar mereka. Semakin tidak ingin mereka menjadi orang yang terkenal, semakin terkenal mereka dihadapan manusia. Lihatlah sejarah telah mencatat perbuatan mereka meskipun mereka tidak mempedulikannya. Bila Allah begitu mudah membuka aib manusia meskipun aib itu ditutup rapat oleh manusia. Tentu betapa mudahnya juga bagi Allah untuk membuka kebaikan si fulan dihadapan manusia sebagai rasa cinta-Nya kepada fulan tersebut.

Senin, 30 Maret 2015

Tidak Lurus Tingkah Laku Sebelum Lurus Lisannya

Sekarang ini banyak orang yang suka bicara kasar. Apalagi di dunia maya ini. Mereka sudah tidak takut pada dosa. Kebanyakan dari mereka menyembunyikan diri mereka agar tidak diketahui oleh orang lain. Mereka takut diketahui oleh orang lain, tapi tidak takut pada Tuhan yang Maha Menyaksikan. Ketika ada orang yang menegurnya agar berhati-hati terhadap ucapannya, ucapannya malah semakin menjadi-jadi. Ketika diingatkan akan azab Tuhan, mereka tidak mempedulikannya karena merasa selama ini aman-aman saja. Kalaupun kemudian ada rasa takut dihati mereka itu hanya sesaat saja. Tidak lama kemudian penyakitnya kambuh kembali karena terbukti Tuhan tidak mengazabnya. Inilah apa yang disebut qalbun maridh (hati yang sakit) dan qalbun mayyit (hati yang mati). Summun bukmun umyun fahum layarziuun.

Akhir-akhir ini juga sering kita dengarkan ucapan, "Boleh bicara kasar asal tidak korupsi." Saya teringat dengan ucapan hampir sama yang pernah dikatakan Iwan Fals terkait dengan anaknya yang diberi nama "Galang Rambu Anarki". Baginya, terserah anaknya mau buat apa untuk dirinya sendiri asalkan tidak anarkis kepada orang lain. Akibatnya sang anakpun kecanduan narkoba dan mati dalam keadaan overdosis.

Tidak bisakah kita bersikap tegas di satu sisi, tapi disisi lain juga dapat bertutur kata sopan santun? Tidak bisakah berlaku jujur tapi juga tetap sopan santun? Tidak bisakah kita berbuat baik pada diri kita sendiri sekaligus mampu berbuat baik kepada orang lain?

Ternyata bisa juga kita menggabungkan dua perbuatan yang menurut mereka saling berlawanan itu, dalam diri kita. Dalam Al Quran, As Sunnah, dan sejarah Islam, akan kita dapatkan pemikiran yang integral antara adab dengan tingkah laku. Antara kejujuran dengan sopan santun. Antara keimanan dengan menjaga lisan. Rasulullah bersabda, tidak akan lurus tingkah laku seseorang sebelum lurus lisannya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang yang mengaku sebagai mukmin, berbicara kasar dan jorok terhadap orang lain? Maka, setiap orang yang mengaku beriman, akan dipertanyakan keimanannya apabila lisannya tidak mampu dijaga.

Bagi saya pemikiran boleh bicara kasar yang penting tidak korupsi adalah pemikiran kaum sekuler; pemikiran yang tamazuq (memisahkan yang satu dengan yang lainnya), akibatnya jauh lebih membahayakan atau split personality. Yang paling berbahaya lainnya, efek domino yang akan ditimbulkannya; bolehlah berbicara kasar kepada kedua orangtua asal memberi uang bulanan kepada keduanya. Boleh berbicara kasar kepada ulama asal mengumrohkan atau menghajikan setiap tahun. Boleh memaki-maki rakyat kecil asal memberi santunan. Naudzubillahi mindzalik.

Selasa, 24 Maret 2015

Akibat dari Memperturutkan Hawa Nafsu

Sesungguhnya memperturutkan hawa nafsu ibarat fatamorgana. Dilihat ada padahal tiada. Kita berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara, bahkan dengan jiwa dan harta. Namun begitu sampai ke tujuan, ternyata tiada. Semua yang kita keluarkan ternyata hanya kesia-siaan; kelelahan, kehinaan, kemiskinan, hingga kehancuran dalam hidup.

Banyak orang yang berharap dari meminum-minuman keras adalah kenikmatan. Namun kesudahannya ternyata tidak terperikan. Satu maksiat hanyalah pintu masuk maksiat selanjutnya. Maksiat kedua adalah pintu masuk maksiat ketiga. Begitupun selanjutnya. Ibarat berada di dalam lingkaran setan, sulit untuk dihentikan.

Pelaku maksiat lebih kuat keinginannya untuk berbuat maksiat ketimbang mereka yang belum berbuat maksiat. Meskipun pelaku maksiat itu berusaha memperbaiki dirinya untuk tidak lagi berbuat maksiat. Tetapi godaan-godaannya masih terasa. Mereka ibarat orang yang mencabut paku di sebuah kayu, meskipun paku itu telah tercabut namun bekasnya masih ada. Itulah mengapa saat bulan Ramadhan tiba, mereka masih saja berbuat maksiat padahal setan telah dibelenggu. Ya, setan memang telah dibelenggu, namun bisikannya yang telah berlalu masih mengendap di dalam benak pelaku maksiat.

Para pengisap ganja ternyata diawali dari kecanduan merokok. Orang-orang yang terkena HIV AIDS kebanyakan diantaranya bermula dari seks bebas dan pecandu narkoba. Artinya keduanya saling beririsan. Setelah menggunakan narkoba banyak di antara mereka berzina.

Saya banyak menemukan orang yang kaya di antara ahli maksiat. Namun banyak pula di antara mereka jatuh miskin dan hidup sengsara setelah terjerumus maksiat.

Saya juga banyak menemukan orang yang miskin di antara ahli taubat. Namun kemudian Allah anugerahkan kekayaan, ketenangan, dan kebahagiaan kepada mereka sebagai balasan atas ketaatan mereka.

Qad aflaha man zakkaha waqad khoba man dassaha

Minggu, 22 Maret 2015

Mengingat Mati dari Sejarah Masa Lalu

Ketika saya membaca buku sejarah membuat saya sering teringat akan kematian. Saya berpikir tentang mereka-mereka yang ada di dalam sejarah, dimanakah mereka kini berada? Dikuburan-kuburan mereka berada. Ada yang ratusan tahun lamanya tinggal di dalamnya. Berselimutkan tanah, cacing sebagai karibnya, munkar dan nakir teman-temannya.

Saya berpikir tentang keadaan mereka yang mati, apa yang saat ini mereka hadapi? Apakah mereka hidup dalam kebahagiaan atau sedang mendapat siksa? Mereka yang dulunya gagah berani, tampan rupawan, takluk diterjang waktu. Semua makhluk-Nya pasti mati. Itulah sunnatullah tidak terkecuali.

Lalu saya berpikir tentang diri saya, sudah cukupkah bekal saya dalam menghadapi kematian? Apakah amal kebaikan saya lebih banyak daripada amal keburukan saya? Apakah saya selamat dari siksa kubur? Disebutkan dalam sebuah hadits, umur umat Nabi Muhammad bila dirata-ratakan sama seperti umur ketika Nabi Muhammad wafat, yakni 63 tahun. Bila demikian, saat ini kita sedang berangkat menuju kematian. Mungkin sebentar lagi. Tidak terasa waktu terus beranjak. Yang dulu bayi, kini sudah beranjak dewasa. Kemudian menikah, punya anak, memasuki masa pensiun, dan menunggu datangnya ajal. Bisa saja kita berhenti untuk selamanya disebuah fase sebelum fase pensiun terjadi.

Imam Hasan Al Bashri berkata, "Maut telah menunjukkan kesalahan-kesalahan dunia dan tidak menyisakan kegembiraan bagi orang yang mau berpikir."