Tampilkan postingan dengan label menjaga lisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menjaga lisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2015

Tidak Lurus Tingkah Laku Sebelum Lurus Lisannya

Sekarang ini banyak orang yang suka bicara kasar. Apalagi di dunia maya ini. Mereka sudah tidak takut pada dosa. Kebanyakan dari mereka menyembunyikan diri mereka agar tidak diketahui oleh orang lain. Mereka takut diketahui oleh orang lain, tapi tidak takut pada Tuhan yang Maha Menyaksikan. Ketika ada orang yang menegurnya agar berhati-hati terhadap ucapannya, ucapannya malah semakin menjadi-jadi. Ketika diingatkan akan azab Tuhan, mereka tidak mempedulikannya karena merasa selama ini aman-aman saja. Kalaupun kemudian ada rasa takut dihati mereka itu hanya sesaat saja. Tidak lama kemudian penyakitnya kambuh kembali karena terbukti Tuhan tidak mengazabnya. Inilah apa yang disebut qalbun maridh (hati yang sakit) dan qalbun mayyit (hati yang mati). Summun bukmun umyun fahum layarziuun.

Akhir-akhir ini juga sering kita dengarkan ucapan, "Boleh bicara kasar asal tidak korupsi." Saya teringat dengan ucapan hampir sama yang pernah dikatakan Iwan Fals terkait dengan anaknya yang diberi nama "Galang Rambu Anarki". Baginya, terserah anaknya mau buat apa untuk dirinya sendiri asalkan tidak anarkis kepada orang lain. Akibatnya sang anakpun kecanduan narkoba dan mati dalam keadaan overdosis.

Tidak bisakah kita bersikap tegas di satu sisi, tapi disisi lain juga dapat bertutur kata sopan santun? Tidak bisakah berlaku jujur tapi juga tetap sopan santun? Tidak bisakah kita berbuat baik pada diri kita sendiri sekaligus mampu berbuat baik kepada orang lain?

Ternyata bisa juga kita menggabungkan dua perbuatan yang menurut mereka saling berlawanan itu, dalam diri kita. Dalam Al Quran, As Sunnah, dan sejarah Islam, akan kita dapatkan pemikiran yang integral antara adab dengan tingkah laku. Antara kejujuran dengan sopan santun. Antara keimanan dengan menjaga lisan. Rasulullah bersabda, tidak akan lurus tingkah laku seseorang sebelum lurus lisannya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang yang mengaku sebagai mukmin, berbicara kasar dan jorok terhadap orang lain? Maka, setiap orang yang mengaku beriman, akan dipertanyakan keimanannya apabila lisannya tidak mampu dijaga.

Bagi saya pemikiran boleh bicara kasar yang penting tidak korupsi adalah pemikiran kaum sekuler; pemikiran yang tamazuq (memisahkan yang satu dengan yang lainnya), akibatnya jauh lebih membahayakan atau split personality. Yang paling berbahaya lainnya, efek domino yang akan ditimbulkannya; bolehlah berbicara kasar kepada kedua orangtua asal memberi uang bulanan kepada keduanya. Boleh berbicara kasar kepada ulama asal mengumrohkan atau menghajikan setiap tahun. Boleh memaki-maki rakyat kecil asal memberi santunan. Naudzubillahi mindzalik.

Rabu, 07 Januari 2015

Keutamaan Diam atau Berbicara Baik

"Apabila berbicara itu perak, maka diam dari maksiat kepada Allah adalah emas." (Luqmanul Hakim)

Dalam mengomentari perkataan Luqmanul Hakim ini, penulis kitab Kasyful Khafa menyebutkan, bahwa yang dimaksud "diam" adalah apa yang tidak ada faidah menurut syar'i. Dan kalau ada faidah syar'inya, maka berbicara itu terkadang wajib hukumnya, terkadang juga mandub (terpuji secara syar’i jika dikerjakan dan tidak dicela secara syar’i ketika ditinggalkan).

Sedangkan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly menafsirkan dengan berkata, "Hal itu berarti bahwa mencegah maksiat lebih utama daripada melaksanakan ketaatan."

Tidak ada orang yang bisa selamat darinya, kecuali dengan diam. Oleh karena itulah agama memuji sikap diam bahkan menganjurkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Barangsiapa diam, niscaya akan selamat." (HR. Tirmidzi)


Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Muadz pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, perbuatan apakah yang paling utama?" Beliau mengeluarkan lisannya, lalu meletakkan jari-jari di atasnya. (maksudnya, perbuatan yang paling utama adalah menjaga lisan)." (HR. Thabrani dan Ibnu Abi Dunya)

Muadz bin Jabal berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, apakah kita disiksa karena apa yang kita katakan?' Maka beliau berkata, 'Bagaimana engkau ini, wahai Ibnu Jabal! Manusia tidak dijerumuskan ke dalam Neraka, kecuali karena apa yang dihasilkan oleh lisan mereka!' " (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw. berkata, "Barangsiapa ingin selamat, hendaknya membiasakan diri diam!" (HR. Ibnu Abi Dunya dan Baihaki)

Rasulullah Saw. berkata, "Tahanlah lisanmu, kecuali untuk kebaikan. Dengan demikian, engkau dapat mengalahkan setan!" (HR. Abi Sa'id dan Ibnu Hibban)

Syaikh Ali Mahfudz dalam kitab Hidayatul Mursyidin mengutip perkatan orang-orang bijak: "Tahanlah lisanmu kecuali dari kebenaran yang engkau nyatakan, atau kebatilan yang engkau bantah, atau dari hikmah yang engkau sebarkan atau dari nikmat yang engkau mengingatnya."

Maka alangkah sedikitnya perkataan. Alangkah banyaknya kebaikan. Setiap kata yang keluar adalah kebaikan, bila tidak maka ia akan diam.