Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2015

Membaca Fenomena Keberanian 'Menyerang' Islam Secara Terang-terangan (1)

Akhir-akhir ini sering saya dapatkan komentar orang-orang kafir di situs-situs Islam. Mereka sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi mengutarakan opini mereka ditengah kaum muslimin. Padahal apa yang mereka komentari tidak ada sangkut pautnya dengan mereka secara langsung. Mereka mengutarakan ketidaksukaan dan ejekan pada syariat Islam, para pejuang syariat, ulama, dan orang-orang saleh. Bahkan di antara mereka ada yang berani menyamar sebagai ustadz, ada koordinator JASMEV yang memakai jilbab padahal orang kafir. Fenomena apakah ini?

Terus terang selama bertahun-tahun saya berselancar di internet, baru beberapa bulan terakhir ini saja saya merasakan serangan mereka begitu masif. Tapi saya punya pendapat yang mungkin salah, mungkin benar. Pendapat saya, fenomena ini terjadi karena:

Pertama, mulai bermunculannya kasus korupsi yang melibatkan petinggi PKS. Kondisi ini mengakibatkan tergerusnya pengaruh positif politik Islam secara umum ditengah masyarakat. Karena saat ini ada anggapan bahwa satu-satunya partai Islam yang real adalah PKS, maka ketika PKS menjadi negatif, otomatis politik Islam akan menjadi negatif. Orang-orang kafir menggunakan situasi ini untuk kepentingan mereka; mempengaruhi opini publik bahwa Islam itu buruk.

Kedua, kemenangan Jokowi-Ahok di pilgub DKI lalu kemenangan Jokowi-JK di pilpres adalah dua kemenangan yang beruntun terjadi. Dua kemenangan ini dipercaya atau tidak adalah dua kemenangan yang sangat disukai oleh kelompok sekuler dan kaum kafirin. Berkat dua kemenangan ini mereka seolah mempunyai alasan untuk berani berbicara lebih lantang tanpa perlu takut lagi karena masyarakat sudah berubah.

Ketiga, Gubernur DKI orang kafir ditengah mayoritas muslim. Dia ngomong kasar, menjelek-menjelekkan ajaran Islam, umat Islam marah-marah toh ternyata tidak mempengaruhi Ahok. Ahok cuek saja. Orang-orang kafir sepertinya mengikuti jejak Ahok ini. Mereka menjelek-jelekkan Islam, umat Islam paling cuma bisa marah. Elit politiknya sudah lemah atau bila bersuara pun mereka akan dibully karena adanya kasus pertama di atas. Anehnya sebagian umat Islam malah ikut-ikutan membully. Sepertinya mereka terpengaruh dengan opini yang diciptakan oleh orang sekuler dan orang kafir.

Keempat, gencarnya syiar sekularisme dan kristenisasi. Sekularisme dan kristenisasi adalah dua hal yang seiring sejalan merusak dan melemahkan akidah umat Islam. Tokoh penting yang mengobarkan Ghazwul Fikr (perang pemikiran) terhadap umat Islam, yaitu Samuel Zwemer, adalah seorang pendeta. Berdasarkan data yang saya peroleh, dalam prosentase jumlah umat Islam di Indonesia terus berkurang dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil riset Yayasan Al Itsar Al Islam (Magelang) pada tahun 1999-2000 umat Kristen dan Katolik di Jateng telah meningkat dari 1-5%, kini naik drastis 20-25% dari total jumlah penduduk Indonesia. Dari laporan Riset Dep. Dokumentasi dan Penerangan Majelis Agama Wali Gereja Indonesia, sejak tahun 1980-an setiap tahunnya laju pertumbuhan umat Khatolik: 4,6%, Protestan 4,5%, Hindu 3,3%, Budha 3,1% dan Islam hanya 2,75%. Dalam Kiblat Garut 26 Juni 2012 disebutkan, semula umat Islam di Indonesia mencapai 95% kini anjlok menjadi 85%.

Kelima, melihat begitu masifnya serangan musuh-musuh Islam terhadap Islam dan umatnya, kemungkinan besar terorganisir dengan baik. Mereka menciptakan akun-akun kloningan untuk membentuk opini yang buruk tentang Islam. Mereka adalah Troll internet. Troll internet adalah kelompok pengguna internet yang biasanya masuk ke sebuah diskusi tentang suatu topik dengan tujuan mengacaukan diskusi tersebut, baik dengan tiba-tiba memaki dan berkata kasar sehingga memancing keributan atau berpura-pura bego. Troll sebenarnya sudah ada sejak dunia message board ada di internet, namun salah satu troll bayaran pertama di Indonesia atau troll profesional adalah Jasmev. Beberapa hari yang lalu akun facebook milik Ridwan Kamil diblokir facebook setelah sebelumnya beliau mengungkapkan fakta tentang sungai epicentrum yang diklaim pendukung Ahok adalah buatan Ahok.

Senin, 30 Maret 2015

Tidak Lurus Tingkah Laku Sebelum Lurus Lisannya

Sekarang ini banyak orang yang suka bicara kasar. Apalagi di dunia maya ini. Mereka sudah tidak takut pada dosa. Kebanyakan dari mereka menyembunyikan diri mereka agar tidak diketahui oleh orang lain. Mereka takut diketahui oleh orang lain, tapi tidak takut pada Tuhan yang Maha Menyaksikan. Ketika ada orang yang menegurnya agar berhati-hati terhadap ucapannya, ucapannya malah semakin menjadi-jadi. Ketika diingatkan akan azab Tuhan, mereka tidak mempedulikannya karena merasa selama ini aman-aman saja. Kalaupun kemudian ada rasa takut dihati mereka itu hanya sesaat saja. Tidak lama kemudian penyakitnya kambuh kembali karena terbukti Tuhan tidak mengazabnya. Inilah apa yang disebut qalbun maridh (hati yang sakit) dan qalbun mayyit (hati yang mati). Summun bukmun umyun fahum layarziuun.

Akhir-akhir ini juga sering kita dengarkan ucapan, "Boleh bicara kasar asal tidak korupsi." Saya teringat dengan ucapan hampir sama yang pernah dikatakan Iwan Fals terkait dengan anaknya yang diberi nama "Galang Rambu Anarki". Baginya, terserah anaknya mau buat apa untuk dirinya sendiri asalkan tidak anarkis kepada orang lain. Akibatnya sang anakpun kecanduan narkoba dan mati dalam keadaan overdosis.

Tidak bisakah kita bersikap tegas di satu sisi, tapi disisi lain juga dapat bertutur kata sopan santun? Tidak bisakah berlaku jujur tapi juga tetap sopan santun? Tidak bisakah kita berbuat baik pada diri kita sendiri sekaligus mampu berbuat baik kepada orang lain?

Ternyata bisa juga kita menggabungkan dua perbuatan yang menurut mereka saling berlawanan itu, dalam diri kita. Dalam Al Quran, As Sunnah, dan sejarah Islam, akan kita dapatkan pemikiran yang integral antara adab dengan tingkah laku. Antara kejujuran dengan sopan santun. Antara keimanan dengan menjaga lisan. Rasulullah bersabda, tidak akan lurus tingkah laku seseorang sebelum lurus lisannya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang yang mengaku sebagai mukmin, berbicara kasar dan jorok terhadap orang lain? Maka, setiap orang yang mengaku beriman, akan dipertanyakan keimanannya apabila lisannya tidak mampu dijaga.

Bagi saya pemikiran boleh bicara kasar yang penting tidak korupsi adalah pemikiran kaum sekuler; pemikiran yang tamazuq (memisahkan yang satu dengan yang lainnya), akibatnya jauh lebih membahayakan atau split personality. Yang paling berbahaya lainnya, efek domino yang akan ditimbulkannya; bolehlah berbicara kasar kepada kedua orangtua asal memberi uang bulanan kepada keduanya. Boleh berbicara kasar kepada ulama asal mengumrohkan atau menghajikan setiap tahun. Boleh memaki-maki rakyat kecil asal memberi santunan. Naudzubillahi mindzalik.

Rabu, 25 Maret 2015

Siapa yang Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Indonesia: Vatikan atau Negara Islam?

Sebuah kebohongan besar diucapkan oleh Ahok yang mengatakan bahwa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Vatikan. Hal ini sangat tidak sesuai dari sisi fakta sejarah dan agama.

Dari sisi fakta sejarah, sebagaimana disebutkan dalam buku Ensiklopedia Ulama Nusantara hal. 173, pengakuan de facto terhadap Indonesia pertama kali diberikan oleh Mesir (10 Juni 1947), Libanon (17 Juni 1947), Syiria (2 Juli 1947) dan selanjutnya negara-negara Timur Tengah lainnya. Berarti negara-negara Islam di kawasan Timur Tengahlah yang pertama kali mengakui secara de facto lahirnya Republik Indonesia.

Kedua, dari sisi agama. Semua penjajah Barat selain membawa misi merauk kekayaan negara yang dijajahnya, juga untuk menyebarkan agamanya. Jadi, bila negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan adalah negara Katolik seperti Vatikan, maka hal itu dusta belaka. Yang paling tepat dan sesuai adalah sebagaimana fakta sejarah yang disebutkan di atas. Negara Islamlah yang pertama kali mengakui secara de facto kemerdekaan Indonesia.

Hampir semua pahlawan di negeri kita beragama Islam. Bahkan beberapa pahlawan yang dikesankan sebagai penganut agama Kristen ternyata adalah seorang muslim seperti Si Singamangaraja yang cap kerajaannya bertuliskan aksara Arab dan Patimura yang bernama asli Ahmad Matulessi. Logikanya, tidak mungkin pendeta/ pastur mengajarkan pengikutnya untuk menghancurkan atau membunuhi sesamanya sendiri meskipun sesamanya itu adalah penjajah. Karena pendeta/pastur itu sendiri adalah utusan penjajah. Sama halnya negara-negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia tidak mungkin datang dari negara-negara kafir. Apalagi Vatikan yang notabene adalah pusat penyebaran agama Katolik.

Kamis, 19 Maret 2015

Mencari Pemimpin yang Tegas dan Beretika

Kaka Slank bilang haji Lulung berbahaya karena marahin Ahok.

Kalau Ahok sering marahin semua orang yang ditemui dan menemuinya. Apalagi kepada orang yang mengkritiknya, umpatan dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Kata Kak Seto, Ahok bukan contoh yang baik bagi anak-anak karena kelakuannya ini.

Pemimpin boleh tegas, tapi tetap punya etika. Umar bin Khaththab mantan preman Makkah. Sikap tegasnya masih melekat setelah masuk Islam. Dia obrak abrik kesombongan kafir Quraisy terhadap kaum muslimin. Maka saat Hamzah dan Umar masuk Islam, umat Islam dapat bernafas lega. Mereka punya pelindung yang gagah berani. Mereka mulai berani berdakwah secara terang-terangan. Banyak orang kafir Quraisy takut kepada Umar. Bahkan setan pun takut kepada Umar. Tapi Umar tetap menjadi pribadi yang menyenangkan. Pernah ada seorang nenek mengkritiknya karena kelakuan Umar yang menyimpang dari syariat. Bagaimana Umar? Umar berterima kasih kepada nenek tersebut, membatalkan pendapatnya pribadi, dan membenarkan pendapat sang nenek.

Bukan suatu hal yang buruk karena kekerasan yang ada pada diri kita. Hanya saja kekerasan itu semestinya diarahkan pada tempatnya seperti berjihad. Bila kekerasan itu artinya merendahkan sesamanya, marah-marah yang tidak karuan, lisannya penuh dengan caci maki mengerikan dan senang menyalahkan orang lain maka hal itu tidak sesuai dengan fitrahnya.

Minggu, 15 Maret 2015

Umat Islam VS Media Massa Sekuler

Saat ini saya melihat fenomena pembunuhan akal kritis rakyat Indonesia oleh media massa.

Hampir seluruh media massa saat ini adalah pendukung Jokowi, Ahok, dan kaum sekuler lainnya. Walaupun mereka sesekali mengkritik tapi seringkali apa yang mereka kritik itu bukan substansi sesungguhnya atau bukan terkait masalah-masalah besar. Bila ada tokoh umat mengkritik tokoh-tokoh sekuler dari kalangan mereka, ramai-ramai media membela tokoh sekuler itu. Karena mereka mungkin menyadari bahwa menjatuhkan kewibawaan tokoh-tokoh sekuler sama saja meruntuhkan sekularisme itu sendiri! Oleh karena itu, tokoh-tokoh sekuler itu harus dibela habis-habisan. Salah satu caranya adalah membuat opini tandingan seolah tokoh umat tersebutlah yang berbahaya bagi rakyat.

Dalam kasus Ahok vs DPRD DKI misalnya, pengamat seperti Effendi Ghozali misalnya mengatakan Ahok dikeroyok oleh anggota dewan. Jelas sekali pengamat seperti Effendi Ghozali walaupun kadang berusaha tampil objektif, namun seringkali memperlihatkan wujud aslinya sebagai pengamat yang tidak netral.

Taruhlah Ahok dikeroyok anggota dewan, maka yang terjadi saat ini juga anggota dewan dikeroyok media massa. Lebih parah mana, dikeroyok anggota dewan yang jumlahnya segelintir orang dan acapkali hanya mampu mempengaruhi segelintir orang lainnya atau dikeroyok media massa yang mampu mempengaruhi rakyat Indonesia secara keseluruhan; bisa saja yang haq dikatakan batil dan yang batil dikatakan haq.

Baru-baru ini juga beberapa lembaga survei mengungkapkan hasil surveinya yang menyebutkan 60-70% rakyat jakarta mendukung Ahok. Saya tidak terlalu heran dengan hasil survei ini karena mereka (LSI dan Cyrus) adalah lembaga survei pendukung Ahok.

Media massa sering mengopinikan seolah Ahok berada diposisi terzalimi padahal mulut Ahok, kata orang betawi, gede bacot; sering berkata kasar dan merendahkan bawahannya. Bagaimana bisa ia ditampilkan sebagai orang yang terzalimi sementara disisi lain dia tampil menzalimi?! Ahok mengatakan Legislatif dan Eksekutif sama-sama tukang garong. Apakah dia tidak menyadari bahwa dirinya bagian dari eksekutif? Apa yang terjadi sesungguhnya? Bukannya membersihkan internalnya atau aparat birokrasinya, dia malah ingin membangun pencitraan untuk dirinya pribadi.

Umat jangan sampai terperosok pada lubang pencitraan untuk yang kedua kalinya. Akal kritis dan hati nurani harus terus dimainkan. Jika tidak, saya takutkan sekularisme merajalela, orang-orang saleh disingkirkan dan syiar-syiar Islam dipadamkan. Percaya atau tidak, hal itu sudah mulai terjadi saat ini.