Tampilkan postingan dengan label Umar bin Khaththab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umar bin Khaththab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Kelompok Sesat Bekerjasama dengan Kelompok Sesat Lainnya

Imam Ibnu Taimiyah berkata, "Rafidhah (Syiah) itu menjadikan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah sebagai teman; mereka bekerja sama dengan Tatar dan Nasrani. Mereka juga menjalin perdamaian dengan orang-orang Eropa… …Apabila umat Islam menang atas Tatar, mereka (Syiah) pun berduka dan bersedih. Sebaliknya, kalau Tatar yang menang, mereka bersuka cita dan bahagia…"

Bukan hanya syiah yang menjadi masalah. Pada umumnya kelompok-kelompok yang beraliran sesat tidak mungkin bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang beraliran lurus. Dengan kata lain, mereka malah bekerjasama dengan kelompok-kelompok sesat lainnya. Dulu orang-orang syiah bekerjasama dengan tentara Mongol untuk menghancurkan Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka juga bekerjasama dengan orang-orang kafir seperti bangsa Inggris dan Portugal untuk merongrong kekhalifahan Utsmaniyah. Di saat ini, mereka bekerjasama dengan JIL dan Ahmadiyah.

Jadi, bagaimana mungkin orang yang katanya memperjuangkan syariat bekerjasama dalam masalah dien dengan orang yang sangat anti syariat? Bagaimana mungkin orang yang katanya lurus bekerjasama dengan orang yang menyimpang dari agama? Bagaimana mungkin orang yang katanya meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir bekerjasama dengan orang yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad?

Orang yang baik atau kelompok yang baik dan orang yang sesat atau kelompok yang sesat memiliki dua hati yang bertolak belakang. Sunnatullahnya, Nabi Muhammad Saw. tidak bersahabat dengan Abu Lahab dan Abu Jahal. Karena kedua orang itu jahat dan sesat. Nabi Muhammad Saw. bersabat dengan orang-orang yang memang menghendaki kebaikan, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq (yang membenarkan Nabi di saat orang lain mendustakannya) dan Umar al-Faruq (yang mampu membedakan antara yang haq dan yang batil).

Persahabatan itu alami, tidak dibuat-buat, berjalan sesuai dengan sunnah-Nya. Salman al-Farisi jauh-jauh dari Persia untuk bersahabat dengan Nabi, begitupun dengan Shuaib ar-Rumi yang berasal dari Romawi. Bagaimana bisa persahabatan itu diciptakan karena adanya jarak yang dekat atau jauh. Persahabatan Nabi dengan para sahabatnya tercipta karena sunnatullah, bukan hasil kreasi manusia.

Abu Lahab dan Abu Jahal adalah dua orang paman Nabi. Bahkan, Abu Lahab adalah orang yang menyembelih domba akikah ketika Nabi lahir, tetapi ketika Nabi memproklamirkan kenabian dan kerasulannya, ia menolak bersahabat dengan Nabi bahkan menjadi musuhnya yang paling utama. Bukankah pula istri Nabi Luth terkena azab Allah atas kaum Sadum, padahal dia istri seorang Nabi? Mengapa dia tidak mau bersahabat dengan Nabi? Begitupun dengan Kan’an putra Nabi Nuh, Azar bapak dari Nabi Ibrahim, Fir’aun bapak angkat Nabi Musa. Ketiga orang itu tidak mau bersahabat dengan orang yang sudah jelas hujjahnya dan sudah dikenal baik akhlaknya.

Ketika Allah menyatakan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”, kenyataannya seperti itu. Karena persaudaraan itu adalah fitrah dan sunnatullah. Di belahan bumi manapun, ketika iman menyatukan kita, ketika kebaikan yang utama, kita adalah dekat, lebih dekat daripada pertalian darah, seperti persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua kaum ini dari tempat yang berbeda; terbentang jarak ratusan kilometer. Apakah kedua kaum itu berdiri di atas peradaban yang berbeda setelah mereka berkumpul bersama? Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Ketika ada nafsu syahwat terselip dalam persahabatan kita, maka nafsu tersebut akan merenggangkan persahabatan kita. Semakin banyak syahwat itu terkumpul, semakin rengganglah ikatan persahabatan kita. Jika gosip mengalahkan kenyataan yang sesungguhnya, maka ia dibutakan dari kebenaran. Jika kita berusaha menjadi orang yang baik, secara sunnatullah kita akan berkumpul dan bekerjasama dengan orang-orang yang baik pula, seperti doa robithoh yang sering kita panjatkan,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...

Jumat, 24 April 2015

Mengapa Syiah Ingin Menguasai Makkah dan Madinah?

Tidak heran bila Saudi menyerang Syiah di Yaman. Disekeliling saudi saat ini sudah dikelilingi negara-negara syiah. Mulai dari suriah, irak, bahrain, yaman, dan sudah pasti iran. Mengapa syiah ingin menguasai Arab Saudi? Karena di sana ada al haramain. Kenapa syiah ingin menguasai al haramain?

Tanah Haramain (Makkah-Madinah) sangat istimewa dan strategis. Nilai spiritual kedua temapt suci ini menembus hati setiap muslim sejati.

Makkah adalah Qiblat kaum muslimin seluruh dunia. Setiap tahun jutaan kaum muslimin berbondong-bondong datang ke Makkah demi melaksanakan ibadah haji atau Umrah. Dan Madinah adalah kota Nabi , sekaligus tempat dimakamkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Selain itu, nilai politis kedua tanah suci ini sangat tinggi. Siapa saja diberi taufik untuk memakmurkan al-Haramain, maka mereka bisa mempengaruhi opini dan ideologi muslim dunia.

Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar 52/386 menulis: "Tahukah kalian, apa perbuatan yang pertama kali dilakukan oleh al-Mahdi?" Yang pertama kali dia lakukan adalah mengeluarkan jasad kedua orang ini (Abu Bakar dan Umar), kemudian membakar keduanya dan menerbangkan debunya di udara. Lalu menghancurkan Masjid (Nabawi)".

"Sesungguhnya al-Qa'im (Imam Mahdi Syiah) akan menghancurkan Ka'bah dan Masjid Nabawi, dan mengembalikannya ke asalanya". (Al-Ghaibah, h 282)

Inilah sebabnya, mengapa Iran dan Syiahnya sangat bernafsu merebut Makkah dan Madinah.

Rabu, 25 Maret 2015

Bahaya Pengangguran

Harga-harga bahan pokok meningkat, bbm naik, nilai rupiah melemah, ekonomi terpuruk, mencari pekerjaan sulit, banyak pengangguran, banyak kejahatan.

Imam Syafi'i berkata, "Dan dirimu, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebatilan."

Imam Ibnul Qayyim berkata, "Bahaya terbesar yang dialami seorang hamba adalah adanya waktu menganggur dan waktu luang. Karena jiwa tidak akan pernah diam. Ketika dia tidak disibukkan dengan yang bermanfaat, pasti dia akan sibuk dengan hal yang membahayakan."

Maka pengangguran, seperti kata Albert Camus (peraih nobel sastra), hanyalah santapan bagi setan.

Yang dimaksud pengangguran bukan sebatas tidak bekerja mencari nafkah. Tapi mereka yang tidak mengisi waktu luang dengan beragam kebaikan juga bisa dikategorikan sebagai pengangguran. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab berkata, "Sungguh aku marah dengan orang yang menganggur. Tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk merencanakan hari-hari, membuat target-target yang bisa dicapai pada satu hari, seminggu, sebulan, dan seterusnya. Target-target itu tidak perlu langsung yang susah-susah. Pertama-tama awalilah dengan target-target yang mudah agar kita semangat mengerjakannya. Setelah itu, kita bisa meningkatkannya lagi. Misalnya, sehari membaca buku 50 halaman, tilawah Al Quran 1 juz, shalat sunah 12 rakaat, menghafal Al Quran 1-5 ayat, berolahraga minimal 15 menit, dan seterusnya. Semua itu dilakukan agar kita luput dari bahaya pengangguran. 

Orang yang bijak selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Istirahatnya diniatkan untuk beribadah, apalagi disaatnya terjaga. Sekalipun miskin harta, ia selalu sibuk dengan kebaikan. Suatu waktu dia mencari nafkah, kemudian banyak berdoa, banyak berdzikir, rajin membaca, tekun menuntut ilmu, mengerjakan shalat sunah dan tilawah. Jika tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, maka ia akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.

Kamis, 19 Maret 2015

Mencari Pemimpin yang Tegas dan Beretika

Kaka Slank bilang haji Lulung berbahaya karena marahin Ahok.

Kalau Ahok sering marahin semua orang yang ditemui dan menemuinya. Apalagi kepada orang yang mengkritiknya, umpatan dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Kata Kak Seto, Ahok bukan contoh yang baik bagi anak-anak karena kelakuannya ini.

Pemimpin boleh tegas, tapi tetap punya etika. Umar bin Khaththab mantan preman Makkah. Sikap tegasnya masih melekat setelah masuk Islam. Dia obrak abrik kesombongan kafir Quraisy terhadap kaum muslimin. Maka saat Hamzah dan Umar masuk Islam, umat Islam dapat bernafas lega. Mereka punya pelindung yang gagah berani. Mereka mulai berani berdakwah secara terang-terangan. Banyak orang kafir Quraisy takut kepada Umar. Bahkan setan pun takut kepada Umar. Tapi Umar tetap menjadi pribadi yang menyenangkan. Pernah ada seorang nenek mengkritiknya karena kelakuan Umar yang menyimpang dari syariat. Bagaimana Umar? Umar berterima kasih kepada nenek tersebut, membatalkan pendapatnya pribadi, dan membenarkan pendapat sang nenek.

Bukan suatu hal yang buruk karena kekerasan yang ada pada diri kita. Hanya saja kekerasan itu semestinya diarahkan pada tempatnya seperti berjihad. Bila kekerasan itu artinya merendahkan sesamanya, marah-marah yang tidak karuan, lisannya penuh dengan caci maki mengerikan dan senang menyalahkan orang lain maka hal itu tidak sesuai dengan fitrahnya.