Tampilkan postingan dengan label imam ibnul qayyim al jauziyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam ibnul qayyim al jauziyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Taman Orang Jatuh Cinta karya Imam Ibnul Qayyim

Buku "Taman Orang Jatuh Cinta: Tamasya Orang yang Terbakar Rindu" adalah salah satu buku yang saya edit. Tebalnya 464 halaman. Buku ini sangat bagus terutama bagi orang yang tengah dimabuk asmara terhadap lawan jenis. Diterjemahkan dari kitab aslinya yang berjudul "Raudhatul Muhibbin man Nuzhatul Musytaqin" karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah.

Berikut ini adalah salah satu perkataan Imam Ibnul Qayyim yang ada dalam buku tersebut:
"Salah satu kecocokan seseorang dengan orang yang dicintainya adalah keserasian akhlak, keselarasan jiwa, rindunya satu jiwa kepada jiwa yang selaras dengannya. Secara alami, kesamaan sesuatu akan menarik kebersamaan dua jiwa. Dua jiwa yang serupa dalam dalam penciptaannya yang asli akan menghasilkan daya tarik antara keduanya. Sekali lagi hal itu terjadi secara alami, tidak bisa dicari latar belakangnya atau alasan tarik menarik di antara keduanya. Seperti halnya sepotong besi dengan biji-biji debu yang mengandung sifat magnetik. Tidak dapat disangkal bahwa daya tarik kedua ruh semacam itu, lebih kuat daripada daya tarik material lainnya."

Ingin saya katakan, mengomentari perkataan Imam Ibnul Qayyim di atas, bahwa beliau, tidak hanya memahami ilmu-ilmu syariat, tetapi juga sangat memahami ilmu psikologi dan sosial. Intinya all about love ada di dalam buku ini.

Kamis, 29 Oktober 2015

Keterkaitan Antara Amalan Ruhiyah dengan Produktivitas Berkarya dan Berprestasi

Pada suatu hari saya merasa malas dalam membaca dan menulis. Kalaupun ingin mulai menulis, otak terasa beku dan tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Setelah saya teliti lebih dalam lagi, ternyata ada beberapa amalan ruhiyah yang tidak saya kerjakan pada hari itu.
Orang-orang mungkin akan bertanya, apa hubungan antara amalan ruhiyah dengan membaca dan menulis? Bagi saya amalan ruhiyah memberikan pengaruh yang besar bagi hati dan akal pikiran ini. Selain berkah dan rahmat Allah sehingga motivasi dan inspirasi begitu melimpah, juga memberikan kenikmatan tersendiri ketika mengerjakannya. Saya bercermin pada tradisi intelektual ulama Islam yang begitu produktif dalam membaca dan menulis. Misalnya Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki dan penulis kitab Al Muwatha. Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang menulis kitab seperti Jami Ash Shahih dan Adabul Mufrad. Imam Ibnu Qudamah, seorang ulama besar mazhab hanbali dan penulis kitab Al Mughni. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis 96 judul kitab dan dalam satu judulnya terdiri dari beberapa jilid kitab.
Dari sini kita seringkali terjebak hanya melihat ujungnya, tanpa melihat pangkalnya. Kita tidak melihat mengapa mereka mampu melakukan pekerjaan berat itu. Tapi bagi yang jeli melihatnya, tradisi intelektual itu tidak pernah lepas dari ibadah yang kuat, amalan yang istiqomah. Seperti halnya pondasi yang kuat, maka bangunan yang berdiri di atasnya bisa kokoh, sebesar dan seberat apapun.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Bukhari, beliau tidak meletakkan 1 hadits pun dalam kitabnya, kecuali mandi dan salat 2 rakaat terlebih dahulu.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Malik bin Anas, Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Ibnu Qudamah, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar”
Tentang amalan ruhiyah Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Imam Ibnu Katsir berkata, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”
Imam Ibnu Rajab berkata tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri Imam Ibnul Qayyim, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dari sini saya menyimpulkan adanya keterkaitan antara amalan ruhiyah dengan produktivitas dalam berkarya dan prestasi. Bahwa dakwah akan lancar manakala ruhiyah kita bersinar. Bagi yang ingin istiqomah dalam berkarya dan berprestasi, maka dirinya harus ditunjang dengan banyak mengerjakan amalan-amalan ruhiyah seperti shalat, shaum, tilawah, doa, dan dzikir.

Minggu, 20 September 2015

Imam Ibnu Taimiyah: Ulama Ahlussunnah dan Murabbi Agung

Saya termasuk orang yang tidak setuju menjelek-jelekkan ulama sebesar Imam Ibnu Taimiyah. Seperti misalnya kalangan syiah dan sebagian ahlussunnah menjelek-jelekkannya dengan julukan dedengkotnya wahabi. Bagi saya beliau adalah ulama ahlussunnah waljamaah. Adapun kejelekannya yang banyak diungkapkan seperti mujasimah adalah fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Kekurangannya, sebutlah demikian, adalah sikap kerasnya kepada musuh-musuh syariat. Beliau berhadapan secara frontal tokoh-tokoh syiah, wahdatul wujud, sejarawan yang menyimpang, pernah beliau meludahi buku sejarah yang banyak mengandung penyimpangan, dan beliau juga pernah mengkritik kitab Sibawaih yang dianggap "kitab sucinya" ahli bahasa dan mengatakan di dalamnya terdapat 81 kesalahan. Hal ini membuat marah Imam Abu Hayyan yang sebelumnya pernah memujinya. Semua itu, kritikan itu, selagi benar, adalah amar ma'ruf nahi munkar beliau dalam menghentikan segala kemungkaran yang tampak dihadapannya. Tapi mungkin saja sikap kerasnya itu dipandang lain, apalagi oleh orang yang dari segi keilmuan berada dibawahnya.

Namun di sisi lain, beliau menunjukkan sikap lemah lembut, tawadhu, banyak beribadah, Prof. Fazlur Rahman menyebut beliau sebagai neo-sufi, sebagai julukan terhadap ulama yang memiliki citra ruhani. Beliau pernah berkata, ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.” Beliau juga pernah berkata, "Manusia tanpa dzikir seperti ikan tanpa air."

Imam Ibnu Taimiyah meninggal penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Imam Ibnul Qayyim, ketika dia sedang membaca Al-Qur'an surah Al-Qamar yang berbunyi "Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin"

Tidaklah mengherankan di antara deretan murid-muridnya adalah ulama-ulama Rabbani yang tidak diragukan lagi, sebut saja misalnya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang karyanya I'lamul Muwaqqin adalah rujukan utama pemikiran banyak ulama besar, seperti pengakuan Syaikh Wahbah Zuhaili. Beliau juga menelurkan masterpice dibidang tasawuf "Madarijus Salikin". Lalu ada murid beliau yang lain seperti Imam Ibnu Katsir, pakar tafsir dan sejarah yang tiada duanya, salah satu ulama besar mazhab syafi'i. Ada juga ahli hadits dan sejarawan kenamaan seperti Imam Adz Dzahabi.

Bagaimana mungkin ulama seperti Imam Ibnu Taimiyah mampu melahirkan generasi ulama-ulama Rabbani jika beliau sendiri bukan seorang murabbi agung. Di antara orang yang membenci dan mencintainya secara fanatik, saya adalah orang yang berusaha bersikap adil terhadapnya. Sebagai penghormatan saya kepada para ulama besar, maka saya berkata apalah saya ini. Khilafiyah di antara para ulama saya biarkan apa adanya tanpa perlu menghujat di antara pendapat yang bertolak belakang dengan pendapat yang saya yakini. Saya katakan, semua itu, perbedaan pada masalah-masalah furu, adalah rahmat dari Allah yang bisa saja satu pendapat dapat dijadikan pegangan dimasa tertentu, tapi dimasa lain pendapat yang lain lebih layak dijadikan pegangan.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Kamis, 16 Juli 2015

Ulama Su' di Mesir

Saya terkejut dan heran dengan pernyataan Syaikh Mukhtar Jumah, menteri agama-nya rezim kudeta, bahwa boleh mendoakan keburukan untuk mursi dan tidak boleh mendoakan keburukan untuk as sisi. Karena mursi adalah presiden yang sah, sedangkan As Sisi adalah presiden yang sah.

Fakta seperti apakah dia bisa berkata seperti itu? Secara fakta bagi orang yang berakal sehat bahwa pernyataan seperti itu ibarat orang yang terbalik akalnya alias gila. Mursi adalah presiden yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan as sisi adalah presiden yang diraih dengan kekerasan dan kezaliman. Mursi adalah orang saleh. Sedangkan as sisi adalah orang zalim.

Lalu saya mengingat sejarah tentang ulama-ulama su' (buruk) diseputar penguasa. Ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Merekalah yang turut andil melegitimasi penyiksaan penguasa atas ulama-ulama saleh seperti terhadap Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan Imam Hasan Al Banna. Bagaimana bisa legitimasi itu terjadi? Bukankah mereka orang-orang yang berilmu? Dan bukankah orang-orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al fathir?

Lalu kemudian saya bercermin pada sebuah hadits, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh."

Ulama su' bisa jadi adalah orang yang berilmu tinggi. Tapi ilmunya itu tidak membawanya dekat kepada Allah. Tidak membawa kebaikan untuk dirinya maupun untuk umat.

Ulama su’ pada umumnya adalah ulama yang bukannya mendekati Allah ta’ala namun mendekati para penguasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah.” ( HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu pengusaha” bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu penguasa” adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.

Di Mesir saat ini telah terlihat, setelah sebelumnya di masa mursi samar terlihat, ulama-ulama su'. Maka salah satu doa Syaikh Muhammad Jibril saat mengingami shalat tarawih di masjid amr bin ash mesir beberapa hari lalu, selain memohon laknat untuk penguasa yang zalim, juga untuk para ulama su' yang menjadi pengikut penguasa yang zalim. Begini doanya: “Ya Allah, siksalah orang-orang yang telah menjadi kejam, termasuk di dalamnya para syaikh yang menjadi pengikut penguasa kejam.”

Aamiin

Rabu, 29 April 2015

Hikmah Gempa Di Nepal


Saya mendapatkan foto ini dari seorang teman yang mensharenya di FB. Terkait dengan kejadian gempa Nepal beberapa hari yang lalu. Kabarnya, menurut data terakhir yang saya lihat di TV One, jumlah korban tewas mencapai 5600 orang. Tapi kemungkinan besar terus bertambah karena orang yang belum ditemukan tidak dimasukkan ke dalam korban tewas.

Menurut berita yang banyak di share di FB tersebut, beberapa hari sebelum terjadinya gempa hebat tersebut, di adakan upacara pembantaian hewan terbesar di dunia dalam rangka suatu upacara persembahan kepada dewa-dewa di Nepal. Jutaan pemeluk agama Hindu berduyun-duyun mendatangi lokasi upacara yang digelar tiap lima tahun sekali di Kuil Gadhimai, Dewi Kekuatan, di Bariyarpur, Nepal. Lebih dari 250.000 hewan dibariskan untuk dilakukan pembantaian di acara tersebut. Festival tersebut diakhiri dengan ritual membunuh 5000 kerbau. Ritual itu selesai dilakukan selama dua hari. Hewan-hewan tersebut tidak untuk dikonsumsi, melainkan untuk dijadikan sesajen bagi dewa-dewa mereka.

Membaca berita di atas membuat saya tidak habis pikir. Betapa ngerinya. Betapa dahsyatnya pembantaian tersebut. Dan lebih dahsyat lagi, jutaan orang menyaksikannya secara langsung, tidak merasa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sangat buruk. Setiap lima tahun sekali mereka melakukannya. Awalnya tidak terjadi apa-apa atas diri mereka. Mereka anggap dewa-dewa mereka senang menerimanya. Kemudian mereka melakukannya lagi dan lagi dengan penuh suka cita, tanpa merasa bersalah. Padahal Allah sedang memasukkan mereka ke dalam istidraj. Sehingga ketika masanya tiba, Allah mengazab mereka tanpa mereka sadari kedatangannya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu melihat (suatu keadaan di mana) Allah memberikan kenikmatan dunia pada seorang hamba karena kemaksiatannya, maka hal itu merupakan istidraj.”Kemudian beliau membaca ayat: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44) (HR. Ahmad dan Ath-Thabari)

Allah Swt. berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

Menurut Ibnu Zaid, yang dimaksud kerusakan di darat dan dilautan adalah dosa. Dalam bahasa Arab, agar adalah “li” atau huruf lam untuk menunjukkan makna akibat. Jadi, makna kerusakan pada bagian pertama adalah kekurangan, keburukan, dan penderitaan yang diturunkan oleh Allah di bumi karena perbuatan maksiat hamba-Nya.

Mujahid Ra. berkata, “Sesungguhnya binatang ternak melaknat ahli maksiat dari keturunan Adam. Jika paceklik menimpa dan hujan tidak turun mereka berkata, ‘Ini akibat maksiat yang dilakukan oleh keturunan Adam’.”

Ikrimah Ra. berkata, “Binatang melata dan serangga di bumi hingga kumbang kelapa dan kalajengking berkata, ‘Kami tidak merasakan walau hanya setetes hujan karena dosa-dosa keturunan Adam’.” (Dikutip dari Kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawaaisy Syafi karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah).

Demikianlah para binatang itu. Mereka tidak bisu terhadap kezaliman yang dilakukan oleh manusia. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan mereka yang menghukum manusia atas kezaliman terhadap diri mereka. Allah-lah yang akan turun tangan langsung menghukum manusia yang zalim tersebut. Bila ada orang yang masuk neraka gara-gara berbuat zalim kepada seekor anjing, sebagaimana sebuah hadits menyebutkan, apatah lagi ratusan ribu hewan dibantai dan disiksa sedemikian rupa!

Rabu, 25 Maret 2015

Bahaya Pengangguran

Harga-harga bahan pokok meningkat, bbm naik, nilai rupiah melemah, ekonomi terpuruk, mencari pekerjaan sulit, banyak pengangguran, banyak kejahatan.

Imam Syafi'i berkata, "Dan dirimu, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebatilan."

Imam Ibnul Qayyim berkata, "Bahaya terbesar yang dialami seorang hamba adalah adanya waktu menganggur dan waktu luang. Karena jiwa tidak akan pernah diam. Ketika dia tidak disibukkan dengan yang bermanfaat, pasti dia akan sibuk dengan hal yang membahayakan."

Maka pengangguran, seperti kata Albert Camus (peraih nobel sastra), hanyalah santapan bagi setan.

Yang dimaksud pengangguran bukan sebatas tidak bekerja mencari nafkah. Tapi mereka yang tidak mengisi waktu luang dengan beragam kebaikan juga bisa dikategorikan sebagai pengangguran. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab berkata, "Sungguh aku marah dengan orang yang menganggur. Tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk merencanakan hari-hari, membuat target-target yang bisa dicapai pada satu hari, seminggu, sebulan, dan seterusnya. Target-target itu tidak perlu langsung yang susah-susah. Pertama-tama awalilah dengan target-target yang mudah agar kita semangat mengerjakannya. Setelah itu, kita bisa meningkatkannya lagi. Misalnya, sehari membaca buku 50 halaman, tilawah Al Quran 1 juz, shalat sunah 12 rakaat, menghafal Al Quran 1-5 ayat, berolahraga minimal 15 menit, dan seterusnya. Semua itu dilakukan agar kita luput dari bahaya pengangguran. 

Orang yang bijak selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Istirahatnya diniatkan untuk beribadah, apalagi disaatnya terjaga. Sekalipun miskin harta, ia selalu sibuk dengan kebaikan. Suatu waktu dia mencari nafkah, kemudian banyak berdoa, banyak berdzikir, rajin membaca, tekun menuntut ilmu, mengerjakan shalat sunah dan tilawah. Jika tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, maka ia akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.

Rabu, 11 Maret 2015

Ingatlah Allah Dikala Senang, Niscaya Allah Akan Mengingat Anda Ketika Susah

Sudah biasa orang berkeluh kesah disaat gelisah. Tapi sungguh luar biasa ketika Allah diingatinya saat sedang bahagia.

Tidakkah engkau mengingat kisah tiga orang yang terperangkap di dalam goa? Mereka berhasil menyelamatkan diri setelah menyebut amal-amal saleh yang pernah mereka lakukan.

Tidakkah juga engkau mengingat kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus? Selama tiga hari berada di dalam gelapnya rongga. Lalu Allah perintahkan ikan paus tersebut untuk mengeluarkan Nabi Yunus. Karena dia adalah hamba-Nya yang banyak berdzikir, mengingat-Nya; bertasbih, mensucikan-Nya. Maka tidaklah sukar baginya mendapat pertolongan Allah.

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, "Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), "Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Madarij as-Salikin, 1/329).

Amal saleh yang engkau lakukan hari ini akan menyelamatkanmu dikemudian hari. Setiap untaian zikir yang engkau baca di saat lapang, akan menjadi pengingat Allah untuk mengingat engkau disaat engkau susah.

”Ingatlah Rabmu ketika lapang, dia akan mengingatmu ketika susah.” (HR. Ahmad).