Tampilkan postingan dengan label muhammad mursi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhammad mursi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2015

Membaca Fenomena Keberanian 'Menyerang' Islam Secara Terang-terangan (2)

"Kami berkuasa maka pemaaf sifat kami,
Tatkala kalian berkuasa
Darah pun mengalir rata
Tidaklah mengherankan perbedaan diantara kita
Karena setiap bejana merembes sesuai isinya."

Syair yang ditulis Dr. Musthafa As Siba’i dalam bukunya yang berjudul "Peradaban Islam Dulu, Kini, dan Esok" menggambarkan realitas umat Islam dan orang-orang kafir ketika mereka berkuasa. Bahwa umat Islam ketika berkuasa maka memaafkan adalah sifat mereka. Namun ketika orang kafir yang berkuasa, maka mereka melakukan perbuatan zalim kepada umat Islam. Kejadian seperti ini sudah banyak contohnya. Seperti yang terjadi di Ambon-Maluku, Tolikara, Manokwari, Myanmar, Palestina, Philipina, dan Uyghur-China.

Dalam peperangan Tartar di negeri Syiria banyak orang-orang Islam, Yahudi, dan Nashrani menjadi tawanan pasukan Tartar. Syaikh Ibnu Taimiyah dengan gagah berani menemui pemimpin Tatar untuk membicarakan persoalan tawanan dan pembebasan tawanan mereka. Pemimpin Tatar mengabulkan pembebasan tawanan kaum muslimin saja, tidak dengan kaum Nashrani dan Yahudi. Namun Syaikh, yang di dunia Barat dikenal sebagai ulama fundamentalis-ekstrimis, menolak! Ia berkata: "Yang harus dibebaskan adalah semua tawanan yang ada pada Anda, termasuk kaum Yahudi dan Nashrani. Mereka ini adalah ahli dzimmah kami. Kami tidak akan membiarkan seorang tawanan pun baik dari ahli dzimmah maupun ahli millah." (lihat buku Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok karya Dr. Musthafa As Siba'i, lihat juga buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karya Abul Hasan Ali An Nadwi).

Syaikh Muhammad Hasan salah seorang ulama pendukung Presiden Muhammad Mursi mengatakan berikut ini ketika Mursi berhasil memenangkan pemilu Presiden Mesir: "Saya berpesan kepada saudaraku umat Nashrani Koptik: “Demi Tuhan yang memiliki Ka’bah! Sungguh kalian hidup bersama kami berabad-abad dan kalian akan tetap hidup bersama kami berabad-abad lagi ke depannya dengan aman, tentram di bawah syariat Allah swt. dan Rasul-Nya, karena pengikut syariah tidak akan rela kezhaliman menimpa kalian selamanya, karena kalian adalah wasiat Nabi Muhammad saw., kami dan kaliam menaiki bahtera satu, jika bahtera ini selamat, maka kita semua akan selamat, jika bahtera ini hancur maka kita semua hancur."

Lebih lanjut kesaksian seorang Yahudi bernama Max I. Dimon menyatakan bahwa “salah satu akibat dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudi berpindah dan mengambil manfaat dengan menempatkan diri mereka di seluruh pelosok Empirium Islam yang amat besar itu. Lainnya ialah bahwa mereka dapat mencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesi yang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepada mereka.”

Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi di Spanyol adalah pengakuan yang sangat tepat. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam peradaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka, untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I. Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.

Ketika orang-orang kafir sangat masif menyerang Islam akhir-akhir ini, sesungguhnya kejadian itu menimbulkan tanda tanya. Apakah kondisi orang kafir sudah mulai berada di atas umat Islam sehingga mereka begitu mudah dan terang-terangan; tanpa takut lagi, menyerang Islam? Atau kondisi umat Islam saat ini yang telah terkontaminasi oleh pemikiran sekuler dan opini-opini sesat orang-orang kafir sehingga seolah mereka tak berdaya dalam menghadapi serangan kotor tersebut?

Kita ketahui bersama bahwa pelaku utama korupsi yang banyak merugikan negara hingga trilyunan justru dipraktikkan oleh orang-orang kafir. Namun media sekuler dan kafirin mengerdilkannya dan justru membesar-besarkan berita korupsi yang dilakukan oleh segelintir umat Islam. Lalu di caplah bahwa pelaku utama korupsi di negeri ini adalah umat Islam. Umat Islam adalah biang keroknya! Siapa Eddi Tanzil yang korupsinya mencapai 9 trilyun jika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 700 %, jauh lebih dahsyat dari nilai skandal Bank Century yang hanya Rp 6,7 triliun? Lalu siapa koruptor-koruptor BLBI yang korupsi Rp 225 trilyun, Hendra Rahardja yang merugikan negara sebesar Rp 2,6 triliun, Maria Pauline yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 triliun, Anton Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Dewi Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Tony Suherman yang merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Lesmana Basuki diduga merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Marimutu Sinivasan merugikan negara Rp 20 miliar, Sukanto Tanoto diduga merugikan negara sebesar 230 juta dollar Amerika?

Belum lagi bila membicarakan kasus yang melibatkan Miranda Goeltom, Theo Toemion, Freddy Harry Sualang mantan, Panda Nababan, Max Moein, Ni Luh Mariani Tirta Sari, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani alias Ayin dsb.

Jangankan ketika menjadi mayoritas, ketika menjadi minoritas pun orang-orang kafir telah banyak membuat kerusakan. Namun atas nama Hak Asasi Manusia kemudian kerusakan itu mereka tutup seolah tidak pernah ada. Mereka menuduh orang Islam sebagai koruptor, atau PKS, misalnya, sebagai partai terkorup, maka bila dibanding dengan korupsi yang dilakukan orang kafir atau korupsi partai-partai sekuler, maka itu tidak ada apa-apanya meskipun tentu saja korupsi besar atau kecil itu salah.

Sejarah adalah pelajaran berharga bagi kita. Sekali lagi bukan karena kita dendam dengan mereka, justru kita memaafkan mereka, tapi agar kejahatan mereka tidak terulang lagi dikemudian hari. Bahwa kita, hari ini, haruslah mencegah kezaliman itu berulang, tidak hanya kepada diri kita, bahkan kepada mereka yang tidak seagama dengan kita. Mulai dari diri kita, sadar akan posisi kita sebagai muslim di negeri ini, sadar bahwa keislaman kita hari ini adalah berkat perjuangan para leluhur kita; para ulama, orangtua kita, orang-orang saleh, para dai yang gigih berjuang menyerukan kalimat Allah. Sedangkan hari esok, anak-cucu kita, keislamannya ditentukan oleh apa yang kita perjuangkan hari ini. Bila hari esok peradaban Islam itu luntur di negeri ini, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan diri kita sendiri mengapa berdiam diri.

Selasa, 20 Oktober 2015

TANDA-TANDA PEOPLE POWER DI MESIR

Disitus middleeastmonitor.com menyebutkan tingkat partisipasi rakyat Mesir dalam mengikuti pemilu parlemen baru-baru ini hanya sebesar 2,27% dari 27 juta pemilih atau hanya sekitar 612 ribuan yang ikut mencoblos. Keadaan ini sangat jauh berbeda ketika pemilu parlemen untuk pertama kalinya pasca tumbangnya Mubarak. Di mana Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu parlemen pada saat itu; masyarakat berbondong-bondong memilih wakil rakyatnya.

Para peneliti politik di seluruh dunia sudah mafhum, kondisi rendahnya partisipasi publik dalam pemilu adalah bukti paling kuat rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah atau partai yang ada. Kondisi di Mesir saat ini sangat mengherankan sekali. Betapa pemerintahan kudeta As Sisi yang selama ini mengaku-ngaku mendapatkan dukungan rakyat, nyatanya tidak mempunyai dukungan atau legitimasi dari rakyatnya sendiri. Dari sini terlihat bahwa rakyat Mesir sedang menghukum As Sisi. Dan kudeta yang dilakukan As Sisi terhadap Mursi semakin menunjukkan bahwa kudeta tersebut hanyalah dusta dan manipulasi.

Kondisi Mesir saat ini ibarat bom waktu yang siap meledak. Ledakan tersebut tercipta bergantung pada kerjasama semua elemen masyarakat, tidak terkecuali militer di dalamnya. Bercermin dari kesuksesan gerakan People Power yang berlangsung secara damai di Filipina, di mana semua elemen masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Bahkan pembelotan militer pun terjadi. Kelompok pro-Mursi tidak bisa mengabaikan satu elemen People Power, dalam hal ini militer, walaupun militerlah yang menyiksa mereka secara kejam. Saya percaya tidak semua militer di Mesir seperti As Sisi cs.

Dalam sejarah, setidaknya ada tiga kelompok militer ketika di dalam negaranya dipimpin oleh orang zalim: Pertama, menjadi pendukung bagi pemimpin zalim tersebut. Mereka datang menyiksa lawan-lawan politik pemimpin zalim tersebut. Biasanya mereka adalah perwira-perwira papan atas yang haus harta, tahta, dan wanita.

Kedua, kelompok militer yang diam menyaksikan kezaliman tersebut. Mereka diam karena tidak ingin terlibat dalam kezaliman itu namun disisi lain mereka tidak punya kemampuan untuk menghentikan kezaliman itu. Mereka berharap akan ada pemimpin lainnya yang berani menggerakkan rakyat untuk melawan pemimpin zalim itu. Ketika kemenangan rakyat di depan mata, mereka tampil sebagai penguat atau melegitimasi kemenangan tersebut.

Ketiga, mereka yang menentang pemimpin zalim tersebut secara terang-terangan. Kebanyakan mereka bukan dari perwira papan atas. Pengaruh mereka tidak begitu besar dikalangan militer tapi dapat dijadikan penggerak revolusi dan melakukan pendekatan kepada kalangan militer lainnya.

Dari ketiga kelompok militer di atas, setidaknya dua kelompok militer dapat diajak kerjasama. Hanya saja perlakuannya berbeda. Untuk kelompok militer ketiga sudah jelas. Sedangkan untuk kelompok militer kedua, karena mereka diam, mereka juga harus diajak secara diam-diam. Maka permainan intelejen harus dijalankan agar dapat menggerakan mereka.

Saya merasa yakin bahwa revolusi di Mesir akan terjadi. melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi di Mesir saat ini. Dapat dilihat dari tanda-tandanya, selain rendahnya partisipasi rakyat dalam pemilu sebagai faktor politik, juga karena faktor perekonomian Mesir yang semakin terpuruk.Almesryoon.com melaporkan, krisis ekonomi di Mesir telah memburuk menempatkan masa depannya beresiko dan menjurus kepada kebangkrutan.

Jumat, 09 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 1)

Dulu saya pernah kepincut dengan gerakan syiah seperti Hizbullah dari Libanon dan juga tokohnya seperti Khomaini. Pertama kali buku syiah yang saya miliki dan saya baca adalah karya seorang ulama syiah asal Libanon, Muhammad Husain Fadhlullah, yang berjudul Islam dan Logika Kekuatan. Alasan saya membelinya adalah karena judul dan sinopsisnya yang menarik. Saat itu saya masih duduk dibangku SMA. Tanpa pikir panjang dan pengetahuan saya yang terbatas mengenai syiah, saya menelan isinya begitu saja. Kakak saya yang mengetahui saya membeli buku tersebut pun ikut membacanya. Kakak saya saat itu juga sedang keranjingan membaca buku-buku Islam. Hanya saja, dia lebih paham bahaya tentang syiah dibanding saya. Setelah membacanya, kakak saya memberi beberapa catatan peringatan dibeberapa halaman buku tersebut, "Hati-hati ini pemikiran syiah!" Pada waktu itu saya tidak peduli dengan peringatan kakak saya tersebut.

Sewaktu perang Hizbullah-Israel tahun 2006 lalu, saya semakin terkesima dengan gerakan syiah. Tokohnya, Hasan Nashrullah begitu saya kagumi karena keberanian dan khutbah-khutbahnya yang membakar semangat. Saya menonton beberapa cuplikan video perjuangannya, semakin menambah kecintaan saya pada gerakan syiah ini. Hal ini mengingatkan saya dengan buku syiah karya Fadhlullah di atas. Karena ternyata Husain Fadhlullah adalah penasehat spiritual Hizbullah. Tapi ada yang mengganjal di hati saya, mengapa Hizbullah selalu membawa-bawia foto-foto Khomaini dalam setiap aksi-aksinya? Hizbullah di Libanon sedangkan Khomaini di Iran. Apakah Hizbullah masih dalam satu komando Khomaini? Dari sini saya tidak menemukannya di negara-negara sunni. Jawaban dari pertanyaan itu nantinya akan anda temukan dalam tulisan ini.

Saya mulai tidak suka dengan gerakan syiah ketika konflik Suriah mulai memuncak. Di mana gerakan syiah Iran dan Hizbullah ikut-ikutan menyerang dan membunuhi saudara saya dari ahlussunnah. Mulailah saya membaca buku dan artikel-artikel tentang bahaya syiah. Saya begitu terkejut, begitu banyaknya perbedaan baik yang furu maupun yang ushul dengan kalangan ahlussunnah. Rujukannya bukan hanya dari perkataan ulama-ulama ahlussunnah, tapi dari buku-buku dan perkataan ulama-ulama syiah itu sendiri. Salah satu ajaran yang paling berbahaya dari syiah adalah taqiyah yaitu menyembunyikan kebusukan hati mereka dengan alasan kondisi belum memungkinkan untuk mengungkap kebusukan tersebut. Saya katakan "kebusukan" sedangkan bagi mereka adalah "kebenaran". Bagi mereka, taqiyah adalah dien itu sendiri; fardhu ain untuk diamalkan seperti halnya shalat fardhu. Bahkan lebih fardhu daripada shalat fardhu itu sendiri. Al Kulaini, Ulama besar syiah, berkata, “Tidak beragama orang yang tidak menggunakan konsep taqiyah.” (al-Kulaini, Ushul al-Kafi, jilid II, hal. 217).

Ibnu Babawaih, tokoh besar Syiah klasik, berfatwa bahwa hukum menerapkan taqiyah itu wajib, seperti kewajiban menjalankan shalat. Ia mengatakan; “Keyakinan kita tentang hukum taqiyah adalah wajib, barangsiapa yang meninggalkan taqiyah sama halnya dengan meninggalkan shalat.” (Ibnu Babawaihi, al-I’tiqadat, hal. 114).

Dalam keyakinan Syiah, taqiyah merupakan pilar-pilar utama agama. Taqiyah diserupakan dengan Sembilan persepuluh dari agama mereka. Sementara rukun-rukun Islam dan kewajiban dalam Islam lainnya hanya sepadan dengan satu persepuluh. Ini artinya, taqiyah lebih utama daripada rukun Islam. (Al-Kafi, juz II hal. 217, Badzlul Majhud juz II hal. 637).

Prof. Ali Muhammad al-Syalabi menerangkan, dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran taqiyah; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan (Ali Muhammad al-Syalabi, Fikr al-Khawarij wa al-Syiah fi Mizan Ahlissunnah wal Jama’ah, hal. 311).

Prof. Muhammad Baharun dalam bukunya yang berjudul "Tantangan Syiah terhadap Ahlus Sunnah" di hal 108 mengatakan, topeng taqiyah Syiah menjadi masalah dalam interaksi dengan Ahlus Sunnah. Dakwah Syiah yang menggunakan taqiyah kerap mengelabuhi umat. Banyak pengikut Syiah tidak mengaku Syi’i secara konsekuen dan terang-terangan. Mereka Syi’i biwajhin Sunni (Syiah berwajah Sunni). Pengelabuhan ini memiliki target khusus. Setelah mereka menguasai, baru menampakkan wujud aslinya.

Artinya, orang syiah itu seperti musuh dalam selimut. Pengkhianat yang sewaktu-waktu menikam dari belakang. Salah satu bukti nyata pengkhianatan syiah kontemporer adalah keterlibatan mereka dalam penggulingan Presiden Mesir yang sah, Muhammad Mursi. Situs bersamadakwah.com pada bulan Juli 2013 melaporkan, "Kelompok Syiah dilaporkan tengah bergerak untuk menggulingkan Presiden Mesir Muhammad Mursi. Mereka memobilisasi lebih dari 100 ribu warga Mesir penganut Syiah menandatangani pernyataan pemberontakan yang bertujuan menarik kepercayaan terhadap pemerintahan Mursi.

Juru bicara komunitas Syiah Mesir Bahaa Anwar dalam pernyataannya Sabtu (1/6) lalu mengatakan, sebanyak 100.253 orang Syiah Mesir telah menandatangani pernyataan itu. Sebagian penandatangan tinggal di luar negeri, lapor Al-Ahram.

Selain Syiah, kalangan sekuler Mesir adalah motor kampanye “pemberontakan” itu. Mereka mengklaim, sejak “pemberontakan” digulirkan 1 Mei 2013 lalu, sampai saat ini sudah terkumpul 7 juta tanda tangan.

Kampanye tersebut berusaha mendapatkan 15 juta tanda tangan guna mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Mursi, untuk melampaui 13,2 juta suara yang didapat Mursi dalam pemilu presiden yang dimenangkannya tahun lalu."

Sejarah pengkhianatan syiah sangat panjang. Sejarahnya mungkin sama panjangnya dengan sejarah Islam itu sendiri khususnya bermula sejak zaman Khalifah Umar bin Khaththab yang dibunuh oleh Abu Lu’luah Al-Majusi. Abu Lu'luah oleh orang syiah dijuluki "Baba Syujauddin" (sang pembela agama yang gagah berani).

Salah satu sejarah pengkhianatan mereka disebutkan oleh sejarawan Mesir, Imam Al-Maqrizi dalam kitab-nya (as-suluk), tentang rencana pembunuhan pahlawan Islam, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menegakkan kembali daulah Syiah Fatimiyah di Mesir yang sebelumnya dihancurkan oleh Shalahuddin. Alhamdulillah, Sultan Shalahuddin berhasil menggagalkan rencana itu dengan membasmi mereka terlebih dahulu sebelum rencana mereka dilaksanakan.
Foto dibawah: Mahmud Badr, salah satu tokoh utama penggerak kudeta terhadap Mursi ternyata adalah seorang syiah.


Kamis, 16 Juli 2015

Ulama Su' di Mesir

Saya terkejut dan heran dengan pernyataan Syaikh Mukhtar Jumah, menteri agama-nya rezim kudeta, bahwa boleh mendoakan keburukan untuk mursi dan tidak boleh mendoakan keburukan untuk as sisi. Karena mursi adalah presiden yang sah, sedangkan As Sisi adalah presiden yang sah.

Fakta seperti apakah dia bisa berkata seperti itu? Secara fakta bagi orang yang berakal sehat bahwa pernyataan seperti itu ibarat orang yang terbalik akalnya alias gila. Mursi adalah presiden yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan as sisi adalah presiden yang diraih dengan kekerasan dan kezaliman. Mursi adalah orang saleh. Sedangkan as sisi adalah orang zalim.

Lalu saya mengingat sejarah tentang ulama-ulama su' (buruk) diseputar penguasa. Ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Merekalah yang turut andil melegitimasi penyiksaan penguasa atas ulama-ulama saleh seperti terhadap Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan Imam Hasan Al Banna. Bagaimana bisa legitimasi itu terjadi? Bukankah mereka orang-orang yang berilmu? Dan bukankah orang-orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al fathir?

Lalu kemudian saya bercermin pada sebuah hadits, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh."

Ulama su' bisa jadi adalah orang yang berilmu tinggi. Tapi ilmunya itu tidak membawanya dekat kepada Allah. Tidak membawa kebaikan untuk dirinya maupun untuk umat.

Ulama su’ pada umumnya adalah ulama yang bukannya mendekati Allah ta’ala namun mendekati para penguasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah.” ( HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu pengusaha” bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu penguasa” adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.

Di Mesir saat ini telah terlihat, setelah sebelumnya di masa mursi samar terlihat, ulama-ulama su'. Maka salah satu doa Syaikh Muhammad Jibril saat mengingami shalat tarawih di masjid amr bin ash mesir beberapa hari lalu, selain memohon laknat untuk penguasa yang zalim, juga untuk para ulama su' yang menjadi pengikut penguasa yang zalim. Begini doanya: “Ya Allah, siksalah orang-orang yang telah menjadi kejam, termasuk di dalamnya para syaikh yang menjadi pengikut penguasa kejam.”

Aamiin

Kamis, 26 Maret 2015

Syaikh Muhammad Al Arifi: Ulama Ahli Hadits dan Motivator Islam Terkenal


Di antara penulis motivasi islami yang saya kagumi adalah Syaikh Prof. Dr. Muhammad Al Arifi hafidzahullah. Tulisannya lancar mengalir dan enak dibaca. Begitupun khutbah-khutbahnya sering beliau ucapkan tanpa teks. Dan satu lagi murottal beliau yang menawan seperti contoh di atas.

Beliau berasal dari Bani Khalid (Bani Makhzum) yang merupakan Bani dari Shahabat Nabi, Khalid bin Walid –radhiallahu ‘anhu-. Beliau lahir pada 15 Juli tahun 1970. Beliau lulus dari Universitas di Saudi dan menyandang gelar Ph.D. Disertasi S3 beliau ialah “Ara’ Shaykh al-Islam Ibn Taymiyya fi al-Sufiyya – Jam’ wa Dirasah” (Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang Tasawuf).

Beliau kini menjadi profesor di King Saud University of Riyadh dan menjadi dosen tamu di berbagai universitas baik di Arab Saudi maupun diluar Arab Saudi dengan spesialisasi ilmu hadits. 

Di zaman Raja Abdullah alm. lalu beliau dipenjara karena mengkritik kebijakan raja yang mendukung kudeta terhadap Dr. Muhammad Mursi hafidzahullah dan juga dipenjara sekali lagi karena mengkritik pelayanan ibadah haji. Itulah karakter beliau, berani mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil tanpa pernah merasa takut dipenjara. 

Alhamdulillah beliau dibebaskan oleh Raja Arab yang baru, Salman hafidzahullah.

Sabtu, 21 Maret 2015

Jelaslah Sudah Pendukung Kebenaran dan Pendukung Kebatilan Di Mesir

Sewaktu Mursi terpilih menjadi Presiden Mesir, Mursi memaafkan orang-orang yang dulu pernah memenjarakannya. Padahal bisa saja dia menghukum mereka. Tapi beliau tidak melakukannya. Mungkin beliau berpikir saat ini tatanan masyarakat telah berubah akibat terjadinya revolusi musim semi. Orang yang dulunya jahat berubah menjadi baik dan bertobat. Beliau berbaik sangka kepada semua orang sebagai bukti ketulusan cintanya kepada rakyat Mesir.

Tapi mungkin inilah "kesalahan" terbesar Mursi; terlalu baik kepada lawan politiknya. Saya berpikir, kalau seandainya saja Mursi waktu itu menghukum lawan-lawan politiknya yang telah menyiksanya, mungkin kudeta saat ini tidak terjadi.

Tapi saya kemudian berpikir lagi, apalah artinya saya dihadapan pejuang seperti Mursi dan saudara-saudaranya yang tercinta seperti Prof. Muhammad Badi, Syaikh Mahdi Akif dan Khairat Asy Syatir. Yang sering keluar masuk penjara, sering mendapatkan teror, yang ilmunya lebih luas, akhlaknya lebih indah, ibadahnya lebih khusyu. Mungkin yang ada dipikiran mereka adalah perubahan itu sendiri. Ketika perubahan ke arah yang lebih baik itu tercapai maka hal itu adalah hadiah bagi pengorbanan mereka selama ini. Setidaknya kejadian ini adalah pelajaran sangat berharga bagi Mursi.

Akhlak Mursi yang begitu mulia ternyata disalahgunakan oleh orang-orang yang membencinya sejak dulu. Mereka merencanakan kudeta secara diam-diam, tidak terkecuali orang-orang yang berlabel "syaikh" juga turut terlibat di dalamnya. Lalu terjadilah kudeta itu. Rezim kudeta membunuh ribuan pendukung Mursi dan memenjarakan Mursi dan tokoh-tokoh revolusi. Berbeda sekali keadaannya sewaktu Mursi berkuasa.

Dari sini saya semakin sadar bahwa Mursi adalah orang yang baik dan berada dipihak yang benar dan pihak pengkudeta berada dipihak yang batil. Mereka yang dulunya diampuni oleh Mursi kini malah menyiksa Mursi dan para pendukungnya. Maka jelaslah sudah mana yang haq dan mana yang batil.

Saya teringat dengan salah satu dari sepuluh pintu kemenangan yang diutarakan Sayyid Quthb dalam Fizhilal-nya, yaitu ketika sudah terlihat jelas mana yang haq dan mana yang batil; mana pendukung kebenaran, mana pendukung kejahatan. Semoga saja kejadian yang terjadi di Mesir saat ini adalah pertanda aktivis dakwah disana sebentar lagi akan memperoleh kemenangan.

Rabu, 04 Maret 2015

Jihad Mursi Untuk Rakyat Suriah

Hanya pemerintah Mesir di masa kepemimpinan Muhammad Mursi yang berani dan terang-terangan mendukung oposisi Suriah. Mursi telah mengusir dubes Suriah dan membentuk komite jihad yang para anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh lintas negara seperti DR. Yusuf Al Qaradhawi, DR. Muhammad Al Arifi, DR. Sholah Sulthan, DR. Shofwat Hijazy, DR. Hasan Syafi'i, dan ulama lainnya. Mursi juga membuat kebijakan positif dalam melindungi pengungsi Suriah yang masuk Mesir.

Kebijakan Mursi ini kabarnya membuat kalangan militer Mesir yang dekat dengan Bashar Al-Asad Asy Syi'i meradang. Sementara itu negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, & Uni Emirat Arab yang sangat mendukung kudeta terhadap Mursi hanya omdo saja. Dukungan mereka terhadap oposisi Suriah tidak kongkrit. Kemungkinan besar ketidakkongkritan ini terjadi karena ternyata di medan perlawanan Suriah yang banyak berjihad adalah para aktivis Ikhwanul Muslimin.

Arab Saudi-UEA-Kuwait tidak fokus membantu umat Islam di Suriah. Mereka malah sibuk mengurus bagaimana merebut pengaruh perlawanan dari tangan Ikhwanul Muslimin. Caranya adalah, mengganti pimpinan oposisi dari kalangan ikhwan dengan tokoh yang dekat dengan mereka. Sedangkan tokoh itu jauh sekali dari medan perjuangan.

Selama ini dukungan negara-negara Barat terhadap kelompok oposisi Suriah juga nonsense. Pengiriman senjata mereka untuk oposisi Suriah hanya gosip belaka. Biasanya yang menggembor-gemborkannya adalah kaum Syiah Rofidhoh. Pengakuan komandan tempur gerakan perlawanan menyebutkan bahwa pengiriman senjata hanya dusta belaka. Meskipun mereka sendiri mengakui sangat mengharapkan bantuan senjata itu. Dan juga menurut Menlu Rusia, Amerika Serikat lebih setuju mempertahankan rezim Bashar ketimbang mendukung kelompok perlawanan yang mayoritasnya adalah aktivis pergerakan Islam.

Maka tidaklah heran, salah satu tokoh yang paling senang dengan kudeta terhadap Mursi adalah Bashar Al-Asad. Dia mengatakan lengsernya Mursi merupakan berakhirnya kekuatan politik Islam. Karena dukungan Mursi terhadap oposisi sangat kuat pengaruhnya untuk menggulingkan Bashar Al-Asad dari tampuk kekuasaan. Tampaknya pula Bashar mengirim sinyal-sinyal ke negara-negara tetangga jika musuh besar yang kini mereka hadapi sesungguhnya adalah Ikhwanul Muslimin, bukan Suriah, Iran atau bahkan Israel.

Kesimpulannya, kudeta terhadap Muhammad Mursi oleh militer Mesir adalah tragedi demokrasi, tragedi kemanusiaan, dan tragedi keadilan yang disaksikan oleh dunia. Muhammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin telah menjadi target serangan besar-besaran oleh berbagai kepentingan dunia yang congkak dan zalim. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin harus mendukung Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin. Sebagai dukungan untuk kemaslahatan umat yang lebih besar. Semoga Allah menyelamatkan Mursi, kaum muslimin Mesir, dan menghancurkan rezim kudeta.