Tampilkan postingan dengan label ibnu taimiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibnu taimiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2015

Membaca Fenomena Keberanian 'Menyerang' Islam Secara Terang-terangan (2)

"Kami berkuasa maka pemaaf sifat kami,
Tatkala kalian berkuasa
Darah pun mengalir rata
Tidaklah mengherankan perbedaan diantara kita
Karena setiap bejana merembes sesuai isinya."

Syair yang ditulis Dr. Musthafa As Siba’i dalam bukunya yang berjudul "Peradaban Islam Dulu, Kini, dan Esok" menggambarkan realitas umat Islam dan orang-orang kafir ketika mereka berkuasa. Bahwa umat Islam ketika berkuasa maka memaafkan adalah sifat mereka. Namun ketika orang kafir yang berkuasa, maka mereka melakukan perbuatan zalim kepada umat Islam. Kejadian seperti ini sudah banyak contohnya. Seperti yang terjadi di Ambon-Maluku, Tolikara, Manokwari, Myanmar, Palestina, Philipina, dan Uyghur-China.

Dalam peperangan Tartar di negeri Syiria banyak orang-orang Islam, Yahudi, dan Nashrani menjadi tawanan pasukan Tartar. Syaikh Ibnu Taimiyah dengan gagah berani menemui pemimpin Tatar untuk membicarakan persoalan tawanan dan pembebasan tawanan mereka. Pemimpin Tatar mengabulkan pembebasan tawanan kaum muslimin saja, tidak dengan kaum Nashrani dan Yahudi. Namun Syaikh, yang di dunia Barat dikenal sebagai ulama fundamentalis-ekstrimis, menolak! Ia berkata: "Yang harus dibebaskan adalah semua tawanan yang ada pada Anda, termasuk kaum Yahudi dan Nashrani. Mereka ini adalah ahli dzimmah kami. Kami tidak akan membiarkan seorang tawanan pun baik dari ahli dzimmah maupun ahli millah." (lihat buku Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok karya Dr. Musthafa As Siba'i, lihat juga buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karya Abul Hasan Ali An Nadwi).

Syaikh Muhammad Hasan salah seorang ulama pendukung Presiden Muhammad Mursi mengatakan berikut ini ketika Mursi berhasil memenangkan pemilu Presiden Mesir: "Saya berpesan kepada saudaraku umat Nashrani Koptik: “Demi Tuhan yang memiliki Ka’bah! Sungguh kalian hidup bersama kami berabad-abad dan kalian akan tetap hidup bersama kami berabad-abad lagi ke depannya dengan aman, tentram di bawah syariat Allah swt. dan Rasul-Nya, karena pengikut syariah tidak akan rela kezhaliman menimpa kalian selamanya, karena kalian adalah wasiat Nabi Muhammad saw., kami dan kaliam menaiki bahtera satu, jika bahtera ini selamat, maka kita semua akan selamat, jika bahtera ini hancur maka kita semua hancur."

Lebih lanjut kesaksian seorang Yahudi bernama Max I. Dimon menyatakan bahwa “salah satu akibat dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudi berpindah dan mengambil manfaat dengan menempatkan diri mereka di seluruh pelosok Empirium Islam yang amat besar itu. Lainnya ialah bahwa mereka dapat mencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesi yang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepada mereka.”

Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi di Spanyol adalah pengakuan yang sangat tepat. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam peradaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka, untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I. Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.

Ketika orang-orang kafir sangat masif menyerang Islam akhir-akhir ini, sesungguhnya kejadian itu menimbulkan tanda tanya. Apakah kondisi orang kafir sudah mulai berada di atas umat Islam sehingga mereka begitu mudah dan terang-terangan; tanpa takut lagi, menyerang Islam? Atau kondisi umat Islam saat ini yang telah terkontaminasi oleh pemikiran sekuler dan opini-opini sesat orang-orang kafir sehingga seolah mereka tak berdaya dalam menghadapi serangan kotor tersebut?

Kita ketahui bersama bahwa pelaku utama korupsi yang banyak merugikan negara hingga trilyunan justru dipraktikkan oleh orang-orang kafir. Namun media sekuler dan kafirin mengerdilkannya dan justru membesar-besarkan berita korupsi yang dilakukan oleh segelintir umat Islam. Lalu di caplah bahwa pelaku utama korupsi di negeri ini adalah umat Islam. Umat Islam adalah biang keroknya! Siapa Eddi Tanzil yang korupsinya mencapai 9 trilyun jika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 700 %, jauh lebih dahsyat dari nilai skandal Bank Century yang hanya Rp 6,7 triliun? Lalu siapa koruptor-koruptor BLBI yang korupsi Rp 225 trilyun, Hendra Rahardja yang merugikan negara sebesar Rp 2,6 triliun, Maria Pauline yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 triliun, Anton Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Dewi Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Tony Suherman yang merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Lesmana Basuki diduga merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Marimutu Sinivasan merugikan negara Rp 20 miliar, Sukanto Tanoto diduga merugikan negara sebesar 230 juta dollar Amerika?

Belum lagi bila membicarakan kasus yang melibatkan Miranda Goeltom, Theo Toemion, Freddy Harry Sualang mantan, Panda Nababan, Max Moein, Ni Luh Mariani Tirta Sari, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani alias Ayin dsb.

Jangankan ketika menjadi mayoritas, ketika menjadi minoritas pun orang-orang kafir telah banyak membuat kerusakan. Namun atas nama Hak Asasi Manusia kemudian kerusakan itu mereka tutup seolah tidak pernah ada. Mereka menuduh orang Islam sebagai koruptor, atau PKS, misalnya, sebagai partai terkorup, maka bila dibanding dengan korupsi yang dilakukan orang kafir atau korupsi partai-partai sekuler, maka itu tidak ada apa-apanya meskipun tentu saja korupsi besar atau kecil itu salah.

Sejarah adalah pelajaran berharga bagi kita. Sekali lagi bukan karena kita dendam dengan mereka, justru kita memaafkan mereka, tapi agar kejahatan mereka tidak terulang lagi dikemudian hari. Bahwa kita, hari ini, haruslah mencegah kezaliman itu berulang, tidak hanya kepada diri kita, bahkan kepada mereka yang tidak seagama dengan kita. Mulai dari diri kita, sadar akan posisi kita sebagai muslim di negeri ini, sadar bahwa keislaman kita hari ini adalah berkat perjuangan para leluhur kita; para ulama, orangtua kita, orang-orang saleh, para dai yang gigih berjuang menyerukan kalimat Allah. Sedangkan hari esok, anak-cucu kita, keislamannya ditentukan oleh apa yang kita perjuangkan hari ini. Bila hari esok peradaban Islam itu luntur di negeri ini, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan diri kita sendiri mengapa berdiam diri.

Minggu, 08 Februari 2015

Syiah Mengkambinghitamkan Ibnu Taimiyah

Saya terlibat diskusi dengan orang Syiah. Kali ini semakin terlihat betapa dangkalnya pemikiran orang syiah. Hanya karena mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah, saya kemudian dituduh Wahabi oleh mereka. 

Pertama, keadaan mereka seperti pepatah yang mengatakan, gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Mereka meributkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah yang hanya satu kutipan, tapi anehnya tidak meributkan perkataan ulama-ulama lainnya seperti Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad. 

Mengapa? Karena mereka takut kalau mereka menyerang para Imam Madzhab itu belang syiah mereka akan terlihat. Mereka menyadari psikologis kaum muslimin saat ini yang sangat kuat berpegang kepada imam madzhab yang empat. Menyerang 4 imam sama saja dengan menyerang ahlus sunnah yang hakiki, meskipun pada dasarnya ahlus sunnah itu bukan hanya dari empat imam saja. 

Akhirnya mereka menyerang ulama yang paling besar perbedaan pendapatnya dengan kalangan penganut akidah asyariyah dan maturidiyah. Yaitu Imam Ibnu Taimiyah. Dengan demikian,serangan mereka terhadap orang-orang yang anti syiah seolah dilancarkan oleh kaum ahlus sunnah sendiri. Pada akhirnya sesama ahlus sunnah saling bentrok sendiri. Sementara akar permasalahan tentang pemikiran Syiah tidak dikemukakan lebih lanjut. Sampai disini, orang syiah berhasil membelokkan masalah yang sesungguhnya. Di satu sisi, mereka tetap mengemukakan pemikirannya yang sesat, di sisi lain mereka mengadu domba sesama kalangan ahlus sunnah.

Kedua, orang syiah memberi gelar orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dengan sebutan Wahabi. Saya heran, apa hubungan langsung antara Ibnu Taimiyah dengan Wahabi? Seolah Ibnu Taimiyah itu penganut Wahabi. Padahal Ibnu Taimiyah hidup sebelum pendiri "Wahabi" itu hidup. 

Kalau memang orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah disebut Wahabi, tentu orang-orang Islam Liberal seperti Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Nurcholis Majid adalah penganut Wahabi. Prof. Fazlur Rahman pernah memuji Ibnu Taimiyah dengan sebutan "neo sufism" dan Prof. Nurcholis Majid menulis desertasi doktoralnya tentang pemikiran Ibnu Taimiyah. 

Orang-orang Jamaah Tabligh dengan tokohnya seperti Syaikh Maulana Kandahlawi dalam bukunya banyak mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Bahkan tokohnya yang lain, yakni Syaikh Abul Hasan An-Nadwi menulis buku biografi tentang Imam Ibnu Taimiyah. Sementara itu dikalangan Wahabi itu sendiri, Jamaah Tabligh sering dikritik sebagai jamaah yang banyak bid'ahnya. 

Begitupun dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin yang banyak dikritik dan dihujat oleh kalangan Wahabi, banyak mengutip pemikiran Imam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya. 

Kesimpulannya, Imam Ibnu Taimiyah adalah milik kaum muslimin. Bukan milik orang-orang Wahabi semata. Murid-murid Imam Ibnu Taimiyah di antaranya: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Rajab, dan Imam Adz Dzahabi. Banyak karya-karya Imam Ibnul Qayyim condong pada tasawuf seperti kitab Madarijus Salikin, Ighatsul Lahfan dan Al Jawabul Kafi. Imam Ibnu Katsir terkenal dengan karyanya Tafsir Ibnu Katsir dan Al Bidayah wan Nihayah yang dijadikan rujukan seluruh kaum ahlussunnah tidak terkecuali. Begitupun Imam Adz Dzahabi dikenal sebagai ahli hadits yang diakui oleh para ulama ahlussunnah.

Minggu, 11 Januari 2015

Bacalah dengan Menyebut Nama Tuhanmu

Lebah madu memiiki karakteristik yang benar-benar unik. Keunikan itu telah menjadi diskusi dan penelitian banyak ilmuwan dari zaman dulu hingga zaman sekarang. Seolah dari keunikan tersebut ingin menyebutkan sebuah keajaiban. Yaitu keajaiban seekor binatang. Ya, hanya seekor binatang dari jutaan bahkan milyaran binatang lainnya. Apa keunikan dari lebah madu? Saya mencatat setidaknya ada lima keunikan

Pertama, lebah madu membangun sarangnya dengan sangat cermat, efisien dan efektif. Sarangnya berbentuk heksagonal (segi enam). Kita layak bertanya, mengapa harus heksagonal? Bukan segitiga atau segi empat atau yang lain misalnya? Hal ini menjadi pertanyaan serius yang kemudian hari diteliti dan dijawab oleh sejumlah ilmuwan. Ahli matematika memberikan alasannya: "Struktur segi enam adalah bentuk geometris yang paling cocok untuk memanfaatkan setiap area unit secara maksimum". Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat area yang tidak terpakai, sehingga lebih sedikit madu yang bisa disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya.

Banyak inspirasi yang keluar dari sana (heksagon). Salah satu orang yang meneliti segi enam ini adalah George Saa, putra Indonesia yang menulis paper Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Saa menghitung hambatan antara dua titik dari suatu rangkaian resistor tak berhingga yang membentuk segitiga dan heksagon. Berkat hasil penelitiannya inilah Saa berhasil menyabet medali emas Nobel Fisika yunior tingkat Internasional.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia'." (QS. An Nahl: 68).

Kedua, lebah madu tidak mungkin membangun sarangnya seorang diri, dia harus dibantu dengan yang lain. Artinya, untuk membangun sarang lebah yang dapat memuat 80.000 lebah diperlukan kerja kolektif. Lebah mencontohkan persaudaraan dan kerjasamanya yang efektif kepada kita.

Ketiga, lebah hanya memakan makanan yang halal dan baik, yaitu nektar dan serbuksari bunga. Sehingga tidak heran yang dihasilkannya pun akan baik atau bahkan sangat baik, yaitu madu (keempat). Dari berbagai hasil penelitian, madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon. Kandungan-kandungan itu berfungsi sebagai "obat untuk manusia". "…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (An Nahl: 69). Pada kesempatan yang lain, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa madu itu beragam jenis dan warnanya. "…Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya…" (QS. An Nahl: 69).

Kelima, lebah madu bergerak berdasarkan perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah.." Artinya gerak gerik lebah bukan instink yang muncul tiba-tiba dan kebetulan, melainkan bersumber dari kekuatan Allah yang menguasai dan menciptakan alam semesta ini. Allah mewahyukan demikian, bukan berarti yang diwahyukan hanya sebatas lebah madu saja. Lebah madu ditampilkan karena contoh yang paling efektif kecerdasan seekor binatang yang telah diakui oleh kebanyakan orang pada umumnya. Allah Swt. ingin meluruskan bahwa tidak mungkin kecerdasan lebah madu itu muncul secara tiba-tiba melalui peristiwa yang disebut kebetulan. Kecerdasan itu berasal dari Allah yang mewahyukan kepada lebah untuk bertindak demikian.

Setelah menjelaskan tentang lebah madu, ayat itu diakhiri dengan, "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."

Ilmuwan-ilmuwan yang sombong dan bingung
Para ilmuwan Barat khususnya sekalipun ateis merasa "takjub dan hormat" dengan fenomena-fenomena seperti itu. Mereka sering menyebutnya sebagai "keajaiban". Tapi jelas, rasa takjub dan hormat itu tidak pernah keluar dari gelanggang materialisme. Keadaan ini hampir tak ada bedanya dengan Abu Jahal atau Abu Lahab, dua tokoh Quraisy yang disegani, yang merasa kagum dan takjub dengan ayat-ayat Al Quran yang didengarnya. Namun, karena kesombongannya, mereka tetap saja menolak menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Allah sebagai Tuhan yang Esa. Nabi Muhammad pernah menerangkan definisi kesombongan kepada kita, dalam sebuah haditsnya: "menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain."

Para ilmuwan itu, sekalipun mereka melihat bukti-bukti nyata yang menggugurkan argumen-argumen mereka, tetapi tetap saja mereka menolaknya; "Segala bentuk justifikasi yang menyeret kita pada bentuk selain materialisme kita tolak!" Terbayang-bayang dalam benak mereka bagaimana agama digunakan untuk menindas banyak ilmuwan seperti Galileo Galilei, Copernicus, dan orang-orang kritis yang sezaman. Alfred Tang dalam artikelnya yang berjudul Science & Theology: An Integrative Approach, 2003, berkata: "Para astronom pada zaman sekarang sering menggunakan penganiayaan pada Galileo dan Copernicus sebagai contoh menakutkan tentang gereja sebagai tokoh jahat yang merintangi kemajuan ilmiah."

Bayangan-bayangan ini membuat mereka trauma. Mereka tidak lagi memandang benar atau tidak. Selama kebenaran itu berkonotasi tentang agama, mereka langsung menolaknya. Apapun itu agamanya. Mereka tidak peduli ada agama lain yang tidak sama dengan agama yang sebelumnya mereka anut. 

Pernyataan ahli biologi evolusionis terkenal dari Jerman, Hoimar Von Dithfurt, merupakan contoh nyata pemahaman materialis yang fanatik. Setelah mengutarakan contoh susunan kehidupan yang sangat kompleks, selanjutnya ia mengungkapkan kemungkinan kehidupan muncul secara kebetulan, padahal sudah terbukti bahwa alam ini tidak tercipta secara kebetulan: "Mungkinkah keserasian seperti itu terjadi secara kebetulan? Inilah pertanyaan mendasar dari keseluruhan evolusi biologis. Menjawabnya dengan "Ya, mungkin" berarti membuktikan kesetiaan pada ilmu alam modern. Secara kritis dapat dikatakan, mereka yang menerima ilmu alam modern tidak punya pilihan selain mengatakan "ya", karena dengan ini dia akan dapat menjelaskan fenomena alam melalui cara-cara yang mudah dipahami dan merujuk pada hukum-hukum alam tanpa menyertakan campur tangan metafisis. Bagaimanapun, menjelaskan segala sesuatu dengan hukum alam, yakni konsep kebetulan, merupakan pertanda bahwa tidak ada lagi jalan baginya. Karena, apa yang dapat dilakukannya selain mempercayai konsep kebetulan?" (Hoimar Von Dithfurt, Im Anfang War Der Wasserstoff (Secret Night of the Dinosaurs), Vol 2, p. 64 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Sekalipun banyak fakta yang berlawanan dari "teori kebetulan ini". Namun anehnya, masih saja mereka tetap mempertahankannya sampai sekarang. Bagaikan hipotesis ptolomeus yang mendekati kehancurannya: setiap kali timbul kesulitan, lingkaran lain ditambahkan untuk menyelamatkan teori itu.

Bukan karena tidak ilmiah
Seorang pakar astrobiologi Inggris, Prof. Chandra Wickramasinghe berkata tentang hal ini: "Sejak masa pendidikan untuk menjadi seorang ilmuwan, otak saya benar-benar dicuci agar percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan penciptaan yang 'disengaja'. Pemikiran tentang penciptaan ini harus disingkirkan dengan cara yang menyakitkan. Pada saat ini, saya tidak dapat menemukan argumentasi rasional untuk mengalahkan ajakan mempercayai Tuhan. Kami biasanya memiliki pikiran terbuka; dan sekarang, kami sadar bahwa satu-satunya jawaban logis atas kehidupan ini adalah penciptaan-bukan proses acak dan kebetulan." (Chandra Wickramasinghe, wawancara dalam London Daily Express, 14 Agustus 1981 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com)

Ahli genetika terkenal dari Universitas Harvard, Richard C. Lewontin, mengakui bahwa dia "materialis dulu baru ilmuwan" dengan kata-kata berikut: "Bukan metode dan penemuan-penemuan ilmiah yang mendorong kami menerima penjelasan material tentang dunia yang fenomenal ini. Sebaliknya, kami dipaksa oleh keyakinan apriori kami terhadap prinsip-prinsip material untuk menciptakan perangkat penyelidikan dan serangkaian konsep yang menghasilkan penjelasan material, betapa pun bertentangan dengan intuisi, atau membingungkan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Lagi-pula, materialisme itu absolut, jadi kami tidak bisa membiarkan Kaki Tuhan masuk." (Richard C. Lewontin, The Demon-Haunted World, The New York Review of Books - 9 januari 1997, p. 28 Sebagaimana dikutipwww.harunyahya.com).

Ali Demirsoy salah seorang ahli biologi evolusionis ternama dari Turki berikut ini merupakan contoh nyata untuk melihat tujuan dari penilaian menyimpang akibat keyakinan buta ini. Ilmuwan ini membahas probabilitas pembentukan secara kebetulan sitokrom-C, salah satu enzim terpenting bagi kehidupan: Probabilitas pembentukan rangkaian sitokrom-C mendekati nol. Jadi, jika kehidupan memerlukan sebuah rangkaian tertentu, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki probabilitas untuk terwujud hanya satu kali di seluruh alam semesta. Jika tidak, kekuatan-kekuatan metafisis di luar definisi kita mestilah telah berperan dalam pembentukan tersebut. Menerima pernyataan terakhir ini tidak sesuai dengan tujuan-tujuan ilmu pengetahuan, karenanya kita harus mengkaji hipotesis pertama. (Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Vererbung und Evolution), Ankara: Meteksan Publishing Co., 1984, S. 61 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Penyebab kemunduran sains
Ibnu Taimiyah dalam bukunya Ar Raddu Alal Manthiqiyyun mengatakan bahwa salah satu penyebab kemunduran keilmuwan rasional dalam Islam adalah, ketika para ilmuwan muslim tidak lagi kritis dan tidak mau lagi menguji hipotesis-hipotesis lama. Mereka menerima begitu saja (taqlid) dan menganggap pemikiran guru-guru mereka sudah final dan sempurna. Dalam buku-buku mereka hanya tertulis kutipan-kutipan (manqul) guru-guru mereka. Dapat kita simak contoh-contohnya sebagai berikut: "Kedua filosof ini (Aristoteles dan Plato) adalah pencipta filsafat, asal-usulnya, sekaligus penyempurnanya. Mereka juga terpercaya sedikit dan banyaknya filsafat." (Al Farabi). "Tiada Aristoteles sejak zaman dahulu melainkan keputusan dan penelitian yang dikemukakannya tidak lagi memerlukan tambahan sedikitpun." (Ibnu Sina).

Sekalipun secara alamiah saya kontra terhadap teori evolusi, tapi saya terkesan dengan sikap Michael Ruse Profesor Guelph University – anjing buldognya darwinisme – yang menempatkan penjajahan atas teologi oleh biologi ini dalam perspektifnya ketika dia menuduh rekan darwinis lain bertingkah laku seakan-akan darwinisme sebuah agama. Rustum Roy, seorang ilmuwan di Pennsylvania State University melangkah lebih jauh. Setengah guyon, dia mengancam akan memperkarakan National Science Foundation karena sudah melanggar ketentuan pemisahan antara agama dan negara, sebab membiayai riset pada bidang-bidang ilmiah yang kemudian menjadi agama. Jika mereka benar dan darwinisme makin doktriner, kita mempunyai tontonan menarik, karena yang dijajah kini bukan hanya teologi melainkan juga biologi. (Huston Smith, Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains?, Cet. I 2003, Mizan).

Allah Swt. telah berfirman, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu." Ilmu pengetahuan yang hakiki adalah ilmu pengetahuan yang jujur secara ilmiah. Dan, ilmu yang jujur secara ilmiah tidak mungkin bertolak belakang dari pengakuan terhadap eksistensi Tuhan. Di mana ketika kita mengkaji ilmu, maka kita akan takjub pada kekuasaan Tuhan, dan ketakjuban itu membuat kita semakin dekat kepada-Nya.