Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2015

Bahaya Ajaran Imamah dalam Syiah

Saya heran setelah saya membaca sejarah tokoh-tokoh Islam, banyak ulama ahlussunnah ternyata kelahiran Iran. Sebut saja misalnya, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa'i, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Hakim, Imam Al Baihaqi, Imam Al Ghazali, Imam Al Juwaini, Imam Abu Nuaim Al Isfahani, Imam Syibawaih, Imam Al Farahidi, Imam Abu Hatim Ar Razi, Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Imam Abu Hanifah Ad Dinawari, Imam Fakhruddin Ar Razi, dsb.

Mereka adalah ulama dan ilmuwan besar diberbagai bidang, mulai dari hadits, tafsir, tasawuf, fikih, sejarah, ushul fikih, filsafat, dan sains. Saya membaca di dalam sejarah, nama-nama mereka begitu terkenal dan karya-karya mereka menjadi rujukan hingga kini. Apakah itu artinya, Iran dulunya adalah negeri ahlussunnah? Di mana kitab-kitab hadits Kutubus Sittah dan lainnya, yang memuliakan para sahabat Nabi, diajarkan di majelis-majelis ilmu yang tersebar ke seluruh penjuru kota.

Saya juga heran mengapa kemudian Syiah dulu pernah berkuasa di Mesir saat zaman Fatimiyah. Padahal Mesir dulunya adalah negeri ahlussunnah. Bahkan ia didulunya ditaklukkan oleh salah seorang sahabat Nabi yang dibenci syiah, yaitu Amr bin Ash Ra.

Berbicara soal akidah bagi syiah, juga berbicara tentang kekuasaan, kepemimpinan, atau imamah. Muhammad bin Ya’qub Al-Kulany, pakar hadist Syi’ah, meriwayatkan sejumlah hadits yang menunjukkan bahwa Imamah merupakan rukun Islam terbesar. Maka kekuasaan adalah jalan mereka untuk menyebarkan ajaran mereka dengan menghalalkan segala cara. Maka, merebut suatu negeri dari tangan ahlussunnah adalah KEWAJIBAN bagi mereka. Walaupun mungkin hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan.

Kamis, 19 November 2015

Ulama Besar Saja Ditipu Syiah, Bagaimana dengan Kita yang Awam?

Siapa yang tidak mengenal nama Syaikh Yusuf Al Qaradhawi? Ulama besar yang dilahirkan dari rahim Universitas Al Azhar. Buku-buku yang beliau tulis sangat banyak jumlahnya. Syaikh Abul A'la Maududi menyebut karya beliau, Fiqhuz Zakat sebagai karya terbaik di abad ke-20. Imam Hasan Al Banna berkata, "Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat." Di waktu mudanya, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi memang dikenal sebagai penyair yang jempolan. Bakat ini tampaknya menurun kepada putra beliau, Abdurrahman yang dikenal sebagai seorang penyair. Bila Hasan Al Banna melihat keilmuan Syaikh Yusuf di masa tuanya, maka pujiannya mungkin akan bertambah, sebagaimana telah disaksikan ulama besar lainnya.

Imam Abul Hasan An Nadwi, ulama terkenal asal India berkata: "Al Qaradhawi adalah seorang 'alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia."

Al 'Allamah Musthafa Az Zarqa', ahli fiqh asal Suriah berkata: "Al Qaradhawi adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin." Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, ahli hadis asal Suriah berkata: "al Qaradhawi adalah mursyid kita. Ia adalah seorang 'Allamah."

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz mantan mufti kerajaan Saudi dan ketua Hai'ah Kibarul Ulama berkata: "Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh di dunia Islam."

Syaikh Qadhi Husein Ahmad, amir Jamiat Islami Pakistan berkata: "Al Qaradhawi adalah madrasah ilmiah fiqhiyah dan da'awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk." Syaikh Thaha Jabir al Ulwani, direktur International Institute of Islamic Thought di AS, berkata: "Al Qaradhawi adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih."

Syaikh Muhammad Al Ghazali, ulama besar Al Azhar, berkata: "Al Qaradhawi adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqh antara akal dengan atsar." Ketika ditanya lagi tentang al Qaradhawi, ia menjawab, "Saya gurunya, tetapi ia ustadku. Syaikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku."

Syaikh Abdullah bin Baih ulama besar Saudi berkata: "Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf al Qaradhawi adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang 'alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional."

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafidzahullah pernah mengatakan bahwa pekerjaan yang paling disesalinya adalah mengadakan taqrib antara ahlussunnah dengan syiah.

Kita ketahui bersama, dulu Syaikh Yusuf adalah ulama yang paling getol mensyiarkan perlunya taqrib antara ahlussunnah dengan syiah. Karena gagasannya ini, sebagian orang menuduh beliau sebagai ulama yang sesat. Padahal niat beliau bagus; husnudzon dan menyatukan umat Islam. Tetapi tampaknya usaha beliau ini disalahgunakan oleh ulama-ulama syiah untuk menyebarkan syiah di negeri-negeri sunni. Mereka kini banyak berlindung dibalik "Risalah Amman" di mana Syaikh Yusuf banyak terlibat didalamnya.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengubah pandangannya tentang syiah dan taqrib sunnah syiah setelah beliau menyaksikan bahwa kenyataan yang terjadi dilapangan jauh berbeda dengan apa yang diucapkan ulama syiah bahwa mereka tidak mensyiahkan sunni dan tidak mencela sahabat..

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi sampai berkata seperti ini dibuku fatwa terbarunya: "Saya tidak ingin mengatakan jika mereka (para ulama Syiah) mengatakan hal ini adalah sebagai bentuk Taqiyyah." Mungkin beliau ingin mengatakan kepada ulama-ulama syiah tersebut, "Apakah anda sedang bertaqiyah? Di sini ngomong A, diluar ngomong B?"

Syaikh Yusuf lanjut berkata, "Akan tetapi saya melihat jika ajaran Syiah yang dominan selalu melampaui seluruh ucapan ulama Syiah di berbagai forum. Ini imbas dari sejarah yang panjang. Inilah wujud realitas yang dipenuhi kebencian dan dendam kesumat.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa siapa saja orangnya yang sudah mengenal madzhab Syiah, maka dengan mudah dia akan memahami sikap Syi’ah terhadap para sahabat, terutama terhadap para sahabat senior."

Beliau menegaskan bahwa kebencian syiah kepada para sahabat Nabi itu sangat mudah ditemukan. Bukan suatu yang aneh, apalagi sebentuk konspirasi. Semuanya jelas dan terang benderang.

Lebih lanjut beliau berkata, "Saya sangat sedih ketika terjadi peristiwa di Beirut pada tahun 2008, pada saat pasukan Hizbulloh memasuki rumah-rumah Ahlu Sunnah sambil berteriak, ”Semoga Allah SWT melaknat tiga orang!” Tiga orang yang mereka maksudkan adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan. Cerita ini saya dengar dari orang-orang yang bisa dipercaya, karena mereka menyaksikannya sendiri."

Fakta-fakta seperti ini, kini tidak hanya lewat lisan si fulan yang jujur, tapi juga lewat tayangan-tayangan yang dapat dengan mudah kita temui di media-media internet seperti youtube.

Kenyataannya, tidak hanya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi yang kena tipu Syiah, ulama-ulama besar dari Al Azhar nasibnya hampir sama seperti beliau. Lembaga taqrib di Al Azhar sudah lama non aktif karena banyak ditentang oleh para ulama besar Al Azhar sendiri seperti Syaikh Muhammad Arafah (anggota Hay’ah Kibar Ulama Azhar), Syaikh Hasanain Makhluf (mantan Mufti Agung Mesir), Syekh Gad elHaq Ali Gad elHaq mantan grand Syaikh al-Azhar, Dr. Abdul Mun’im An Nimr (mantan wakil Grand Syekh al-Azhar dan menteri wakaf Mesir), serta Syaikh Athiyyah Shaqr (ketua komisi fatwa al-Azhar) dan lain-lain.

Karena terbukti terkuak taqiyahnya Al-Qummi dan tak sesuai harapan karena Abdul Husain al-Musawi salah satu penggerak motor Taqrib ternyata menerbitkan kitab al-Muraja’at isinya surat menyurat fiktif dia dengan yang diklaim sebagai Syaikh Al-Azhar yaitu Fadhilatu Syaikh Salim al-Bisyri, sehingga Syaikh Gad elHaq perintahkan Ulama Azhar untuk mentahqiq dan membantah buku fiktif tersebut.

Ulama besar lainnya yang hampir saja kena tipu syiah adalah Prof. DR. Musthafa As Siba'i. Beliau pernah memenuhi seruan ulama Syiah untuk mendamaikan antara Sunnah (Ahlussunnah wal Jama’ah) dengan Syiah. Syaikh As Siba’i menyambutnya dengan baik. Beliau menyampaikan pentingnya ukhuwah dalam kuliah-kuliah, seminar maupun pada kesempatan diskusi akademik.

Namun, Syaikh As Siba’i, kecewa berat. Ulama kenamaan Syiah, Abdul Husein, paska seruan, justru menulis kitab berisi caci maki Shahabat dan ‘Aisyah. Beliau pun memprotes keras kampanye ukhuwah Sunnah-Syiah pada saat itu. Syarafudin Abdul Husen Musawi, jelas As Siba’i, tidak beri’tikad baik untuk berdamai dengan Ahlussunnah. Beliau pun memutuskan untuk keluar dari seruan palsu tersebut. Kisah tersebut ditulis dalam mukaddimah kitabnya, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’.

Dalam kasus tersebut, Syaikh Mustafa As Siba’i dikhianati oleh orang-orang Syiah. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa ajakan Syiah sebetulnya bukan ber-ukhwah dengan Ahlussunnah, namun sejatinya mengajak Sunni untuk menjadi Syiah.

Yang menjadi renungan kita adalah, para ulama-ulama besar itu hampir atau sudah kena tipu syiah, apalagi dengan kita yang awam? Hasbunallah wani'mal wakil.

Menyatukan Syiah dan Sunni Ibarat Menyatukan Minyak dengan Air

Apa pandangan saya terkait Syiah? Saya seorang sunni. Ketika saya melihat syiah, apakah saya melihat adanya perbedaan di dalamnya? Bila berbeda, apakah perbedaan itu hanya masalah furu seperti halnya perbedaan mazhab fikih yang empat atau ia terkait dengan ushul agama seperti halnya perbedaan antar agama?

Untuk memulai bahasan ini, saya ingin memulai satu pertanyaan, dalam sejarah, pernahkah syiah dan sunni hidup berdampingan, misalnya saling bersahabat baik? Atau mereka hidup dalam peperangan? Mengapa Daulah Shafawiyah yang syiah memerangi Daulah Utsmaniyah yang sunni? Begitupun sebaliknya. Mengapa Daulah Fathimiyah yang syiah memerangi ahlussunnah hingga menguasai Mesir dan Syam? Dan, mengapa juga Sultan Nuruddin Zanki dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi yang sunni memerangi Daulah Fathimiyah hingga mengusirnya dari Mesir? Mengapa pula Daulah Mamlukiyah yang sunni merombak total kurikulum pendidikan Al Azhar yang semula syiah menjadi sunni? Kenapa terjadi peperangan antara sultan syiah dengan sultan sunni di Peureulak Aceh, sehingga karena berlarut-larutnya peperangan tersebut, akhirnya keduanya bersepakat membagi Aceh Peurelak menjadi dua bagian: Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah, dan Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (1).

Hingga kini, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Fahmi Salim (alumni Al Azhar), Al Azhar tidak pernah mengajarkan fikih selain fikih yang empat. Pada tahun 60 an pernah diwacanakan pengajaran fikih ja'fari yang syiah namun tidak pernah terwujud karena banyak ditentang para Ulama guru besar syariah di Al-Azhar (2). Artinya, Al Azhar ingin mengokohkan institusinya sebagai 100% ahlussunnah.

Sampai disini saja kita bisa menyimpulkan bahwa Syiah dengan ahlussunnah seperti antara minyak dengan air, mana mungkin bisa bersatu. Ini baru membahas sejarahnya, belum lagi isi ajarannya!

Rabu, 18 November 2015

Kelompok Sesat Bekerjasama dengan Kelompok Sesat Lainnya

Imam Ibnu Taimiyah berkata, "Rafidhah (Syiah) itu menjadikan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah sebagai teman; mereka bekerja sama dengan Tatar dan Nasrani. Mereka juga menjalin perdamaian dengan orang-orang Eropa… …Apabila umat Islam menang atas Tatar, mereka (Syiah) pun berduka dan bersedih. Sebaliknya, kalau Tatar yang menang, mereka bersuka cita dan bahagia…"

Bukan hanya syiah yang menjadi masalah. Pada umumnya kelompok-kelompok yang beraliran sesat tidak mungkin bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang beraliran lurus. Dengan kata lain, mereka malah bekerjasama dengan kelompok-kelompok sesat lainnya. Dulu orang-orang syiah bekerjasama dengan tentara Mongol untuk menghancurkan Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka juga bekerjasama dengan orang-orang kafir seperti bangsa Inggris dan Portugal untuk merongrong kekhalifahan Utsmaniyah. Di saat ini, mereka bekerjasama dengan JIL dan Ahmadiyah.

Jadi, bagaimana mungkin orang yang katanya memperjuangkan syariat bekerjasama dalam masalah dien dengan orang yang sangat anti syariat? Bagaimana mungkin orang yang katanya lurus bekerjasama dengan orang yang menyimpang dari agama? Bagaimana mungkin orang yang katanya meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir bekerjasama dengan orang yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad?

Orang yang baik atau kelompok yang baik dan orang yang sesat atau kelompok yang sesat memiliki dua hati yang bertolak belakang. Sunnatullahnya, Nabi Muhammad Saw. tidak bersahabat dengan Abu Lahab dan Abu Jahal. Karena kedua orang itu jahat dan sesat. Nabi Muhammad Saw. bersabat dengan orang-orang yang memang menghendaki kebaikan, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq (yang membenarkan Nabi di saat orang lain mendustakannya) dan Umar al-Faruq (yang mampu membedakan antara yang haq dan yang batil).

Persahabatan itu alami, tidak dibuat-buat, berjalan sesuai dengan sunnah-Nya. Salman al-Farisi jauh-jauh dari Persia untuk bersahabat dengan Nabi, begitupun dengan Shuaib ar-Rumi yang berasal dari Romawi. Bagaimana bisa persahabatan itu diciptakan karena adanya jarak yang dekat atau jauh. Persahabatan Nabi dengan para sahabatnya tercipta karena sunnatullah, bukan hasil kreasi manusia.

Abu Lahab dan Abu Jahal adalah dua orang paman Nabi. Bahkan, Abu Lahab adalah orang yang menyembelih domba akikah ketika Nabi lahir, tetapi ketika Nabi memproklamirkan kenabian dan kerasulannya, ia menolak bersahabat dengan Nabi bahkan menjadi musuhnya yang paling utama. Bukankah pula istri Nabi Luth terkena azab Allah atas kaum Sadum, padahal dia istri seorang Nabi? Mengapa dia tidak mau bersahabat dengan Nabi? Begitupun dengan Kan’an putra Nabi Nuh, Azar bapak dari Nabi Ibrahim, Fir’aun bapak angkat Nabi Musa. Ketiga orang itu tidak mau bersahabat dengan orang yang sudah jelas hujjahnya dan sudah dikenal baik akhlaknya.

Ketika Allah menyatakan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”, kenyataannya seperti itu. Karena persaudaraan itu adalah fitrah dan sunnatullah. Di belahan bumi manapun, ketika iman menyatukan kita, ketika kebaikan yang utama, kita adalah dekat, lebih dekat daripada pertalian darah, seperti persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua kaum ini dari tempat yang berbeda; terbentang jarak ratusan kilometer. Apakah kedua kaum itu berdiri di atas peradaban yang berbeda setelah mereka berkumpul bersama? Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Ketika ada nafsu syahwat terselip dalam persahabatan kita, maka nafsu tersebut akan merenggangkan persahabatan kita. Semakin banyak syahwat itu terkumpul, semakin rengganglah ikatan persahabatan kita. Jika gosip mengalahkan kenyataan yang sesungguhnya, maka ia dibutakan dari kebenaran. Jika kita berusaha menjadi orang yang baik, secara sunnatullah kita akan berkumpul dan bekerjasama dengan orang-orang yang baik pula, seperti doa robithoh yang sering kita panjatkan,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...

Arab Saudi Memberontak Melawan Kekhalifahan Utsmaniyah?

Selama ini saya sering mendengar dari salah satu harokah sebelah yang sering meributkan bahwa kerajaan Arab Saudi adalah salah satu penyebab runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah. Lalu mereka mengatakan bahwa kerajaan Arab Saudi berkomplot dengan Inggris untuk mengusir Daulah Khilafah dari tanah Arab. Akhir-akhir ini yang meributkan hal ini tidak hanya dari harokah tersebut, tapi juga sebagian dari saudara saya dari ASWAJA dan dari kelompok syiah yang berwajah sunni. Apakah benar yang terjadi seperti itu? Saya bukan orang yang sering mereka sebut sebagai "wahabi". Dalam beberapa pendapat, saya berbeda dengan kelompok ini. Namun saya selalu ingin bersikap adil, entah kepada kawan dekat maupun kawan jauh, dan kepada musuh sekalipun. Agar saya dapat lebih obyektif dalam menilai.

Pertama, wilayah Daulah Utsmaniyah terbentang luas dari Asia, Afrika, hingga sebagian Eropa. Arab Saudi hanyalah sedikit wilayah dari sekian besar wilayah Daulah Utsmaniyah. Jika Arab Saudi yang dipermasalahkan, lalu mengapa negara-negara lain bekas wilayah Daulah Utsmaniyah tidak dipermasalahkan? Jika Arab Saudi yang notabene sebagai negara berbasis syariah, mengapa negara lain yang jauh lebih sekuler tidak dipermasalahkan? Taruhlah Arab Saudi memang betul melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, lalu bagaimana dengan negara lain yang juga melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, bahkan banyak negara yang sudah jauh-jauh hari sebelum berdirinya kerajaan Arab Saudi sudah menyatakan berpisah dari Daulah Utsmaniyah?

Negara atau wilayah yang mula-mula memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah adalah apa yang disebut sebagai Daulah Shafawiyah di zaman dulu atau Iran yang dikenal sekarang. Negara Iran sudah kita ketahui bersama adalah negara yang berpaham Syiah. Tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, Daulah Shafawiyah juga menyebarkan Syiah dan merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah dengan membunuhi ribuan ahlussunnah dan menghancurkan banyak masjid.

Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Daulah Shafawiyah terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Daulah Shafawiyah yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).

Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.

Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).

Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengetahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.

Jadi, bila ingin menyalahkan Kerajaan Arab Saudi dalam hal ini, maka salahkan juga negara-negara lainnya. Salahkan juga Mesir, Suriah, Yordania, Libya, dan seterusnya, mengapa mereka memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan terlebih lagi mendirikan negara sekuler atau jauh dari syariat. Dan yang patut disalahkan lagi adalah dengan Iran. Mereka tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, tetapi juga merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah yang sunni dan membunuhi rakyatnya yang ahlussunnah.

Senin, 09 November 2015

NU itu Syiah Minus Imamah

Orang syiah merasa gembira dengan perkataan Gus Dur yang mengatakan NU itu syiah minus imamah. Bahwa perkataan itu menunjukkan dukungan Gus Dur kepada syiah. Bahwa NU itu dekat dengan syiah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagaimana dikatakan orang syiah yang bernama Candiki Repantu dalam situs http://www.alhassanain.com/…/im…/imamah_dan_wilayah/001.html:

"Salah satu perbedaan pokok yang mendasar antara sunni dan syiah adalah keyakinan tentang imamah. Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau."

Imamah dalam syiah adalah rukun iman dan pokok agama mereka. Sedangkan di NU tidak mengenal yang demikian itu. Rukun iman di NU sangat jauh dari istilah imamah. Contoh implikasi imamah adalah bila syiah selain mengambil hadits dari Rasulullah juga dari imam yang duabelas. Sedangkan NU tidaklah mengikuti dengan cara seperti itu. NU mengikuti hadits sebagaimana yang telah digariskan ahlussunnah wal jamaah. Artinya, NU tidak mempercayai hadits-hadits diluar yang telah ditetapkan oleh ijma ulama ahlussunnah waljamaah. Syiah mengatakan imam yang duabelas itu maksum, sedangkan bagi NU imam yang duabelas itu tidak maksum. Yang maksum hanya Nabi Saw. Jadi kalau sudah ngomongin akidah orang NU dengan orang syiah jelas berbeda 180 derajat. Bila Gus Dur mengatakan NU itu syiah minus imamah artinya NU itu bukan syiah. NU itu ahlussunnah. Gitu aja kok repot 
smile emotikon

Minggu, 11 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 3)

Kaum syiah dan para pendukung Bashar Al Asad seringkali menuduh bahwa ulama-ulama pendukung kelompok oposisi berasal dari kelompok wahabi atau kelompok oposisi itu adalah wahabi. Mereka berpikiran bahwa yang mengkritik mereka adalah wahabi. Tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan tuduhan mereka ini. Sebagian dari kaum muslimin akhirnya memilih diam atau tidak mendukung siapapun, dan sebagian lagi malah terprovokasi dan ikut-ikutan menyerang mujahidin Suriah. Salah satu alasan mereka terprovokasi adalah dengan kematian ulama Syaikh Said Ramadhan Al Buthi yang menurut mereka dibunuh oleh kaum oposisi Suriah. Karena Syaikh Al Buthi adalah ulama ahlussunnah, maka otomatis yang membunuh ulama tersebut berasal dari wahabi. Yang ada dalam pikiran mereka, para pembunuh ulama ahlussunnah adalah berasal dari kalangan wahabi. Inilah fakta yang terjadi saat ini. Umat Islam dipecah belah sedemikian rupa oleh permainan kotor kaum syiah dan para pendukung Bashar Al Asad.

Mereka mengatakan bahwa yang membunuh Syaikh Al Buthi adalah wahabi, lalu bagaimana dengan yang membunuh ribuan ulama ahlussunnah Homs dan Hama tahun 1982? Ya, para pembunuh itu tidak lain adalah orang-orang syiah. Saksikanlah kemarahan Syaikh Ali Ash Shabuni hafidzahullah dalam video di youtube berikut ini:https://www.youtube.com/watch?t=59&v=rEq_qtzkr9w

Di video itu, Syaikh Ali Ash Shabuni, walaupun sudah tua tapi tampak terlihat kemarahan beliau dengan fenomena ini. Beliau berkata: Kemarin dunia seluruhnya telah menyaksikan terbunuhnya seorang ‘alim yang memutuskan dirinya membela kezaliman dan thoghut menurut kebenaran dan keadilan. Kita telah berselisih dengan Syaikh Al-Buthi semenjak priode penjahat lagi zalim Hafez Assad, di mana pada waktu itu ia berdiri di samping Hafez kemudian menshalatinya dan berdiri untuk jenazahnya. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menshalati jenazah yang mati di antara mereka (munafiq) selamanya dan janganlah berdiri di kuburannya,” (QS. At-Taubah:84)

Apa makna jangan berdiri di kuburannya. Artinya jangan menyaksikan jenazahnya karena murka Allah Azza wa Jalla turun ke jenazah itu.

Kemudian pada revolusi yang penuh berkah ini, Al-Buthi telah menyelisihi bukan hanya rakyat Suriah saja, bahkan menyelisihi para ulama ummat ini. Dan Maha benar Allah yang Maha Agung, “Siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya Al-Huda dan mengikuti jalan selain jalan kaum muslimin, Kami palingkan ia sebagaimana ia berpaling dan Kami masukkan ke jahannam.” (QS. An-Nisa’: 115)

Apa maksud firman Allah Kami palingkan ia sebagaimana ia berpaling dan Kami masukkan ke jahannam? Yaitu kami rasakan ia siksa jahannam. Allah tidak berfirman siapa yang menentang Rasul dan kitab Allah, tapi Ia berfirman dan mengikuti selain jalan kaum muslimin.

Ulama telah berpendapat wajibnya memberontak kepada musailamah Al-kadzdzab yang dinamakan Bashar Assad setelah ia memperlihatkan kethoghutannya dan kejahatannya, membunuh manusia serta mencedari rumah Allah dengan bom. Ia juga menghinakan kitabullah dan merampas kehormatan wanita – wanita mukmin.

Namun Al-Buthi malah mendukung kezaliman ini dan kefajiran Bashar seraya melupakan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang menolang orang yang membunuh seorang mukmin walau dengan sepotong kata (jangankan mengatakan bunuh, tapi bun.Syaikh), ia akan menjumpai Allah Azza wa Jalla sedangkan di antara kedua matanya tertulis Ayisun min rahmatillah (berputus asa dari rahmat Allah)”

Sungguh Al-Buthi terus berlangsung menentang para oposisi Bashar, di mana ia menyebut mereka sebagai sampah. Dan menyamakan para pembunuh yaitu tentara Bashar dengan kedudukan sahabat. Kalau saja ia diam, maka hal itu lebih baik buat dia.

Al-Buthi telah datang dengan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Saya katakan sesungguhnya Dr Al-Buthi yang telah dipanggil Robb Nya telah membawa di lehernya darah yang banyak. Fatwa-fatwanya membenarkan pembunuhan atas nama agama. Hingga Allah menjadikan kontribusi Bashar yang membunuh rakyat itu berada di dadanya, di mana Al-Buthi membuat fatwanya terakhir mengajak jihad di bawah panji tentara pemerintah Bashar Assad.

Fatwa dan seruan ini membuat Bashar menyelesaikan hajatnya. Orang-orang yang keluar dari masjid dengan menyambut seruan Allah Labbaikallah, mustahil mencederai kehormatan rumah Allah. Apalagi dengan masjid Al-Iman, di mana di sana menjadi tempat mengajarnya Syaikh Syam, Syaikh Muhammad Awadh rahimahullah. Perbuatan ini (membom masjid) menyelisihi prinsip agama.

Sesungguhnya keterlibatan pasukan Assad dalam operasi jahat ini sangat jelas seperti terangnya matahari. Siapa yang mengambil manfaat atas pembunuhan Al-Buthi? Bukan kah ia adalah pemerintah. Dengan ini ia bisa menyemangati manusia untuk memerangi pejuang Suriah dengan alasan mereka membunuh orang-orang yang menyelisihi mereka.

Pasukan Assad adalah musuh kemanusiaan seperti zionis jahat. Mereka tidak pernah menunggu-nunggu waktu untuk membunuh siapa saja, meskipun orang itu membela mereka. Jika dalam membunuhnya dapat mewujudkan tujuannya yang buruk.

Pada suatu hari, di mana oposisi menekan. Seorang Kurdi dijadikan oleh pemerintah sebagai Perdana Menteri. Pasukan Assad membunuh Syaikh Kurdi pada hari besar Kurdi. Dan ini bukan suatu kebetulan bagi orang yang merenung dengan baik sejerah pemerintah ini dan kelebihannya dalam kejahatan.

Kemudian, lihat bagaimana pasukan Assad langsung masuk ke masjid setelah peristiwa pembunuhan itu dengan penuh tenang dengan para petugas medis tanpa rasa takut dan malu. Dan sebagian lagi pura – pura menangis.

Pemerintah ini (rezim syiah Bashar) juga telah membunuh Khotib masjid Al-Muhammadi, Syaikh Riyadh Ash-Sha’b rahimahullah, semoga Allah menerima beliau di kalangan syuhada. Mereka membom mobil beliau ketika menuju majlis ilmu sebelum 24 jam.

Sebelum 24 jam juga mereka membom masjid Al-Iman. Apakah dengan ini semua kita membebaskan pasukan Bashar dari pembunuhan seseorang, baik itu orang tua atau anak-anak atau wanita atau yang membela mereka.

Saya katakan sesungguhnya para pejuang yang mulia mereka mempunyai orang yang lebih penting dari Al-Buthi di jajaran militer dalam sandraan untuk dibunuh. Jika mereka benar – benar berhak untuk dibunuh.

Sesungguhnya kami di Suriah yakin bahwa di balik insiden pembunuhan ini adalah pasukan pemerintah Assad. Kami lebih tau tentang mereka dan modus-modus mereka yang membuat kami terbiasa dengan itu puluhan tahun.

Mereka adalah pembunuh. Mereka membunuh ulama Lebanon seperti Syaikh Hasn Khalid, Mufti Lebanon rahimahullah. Dan juga membunuh puluhan ulama di Suriah.

Dan bapaknya yang zalim, Hafez Assad, telah membunuh tiga puluh ribu lebih warga Suriah di Hama.

Kami meminta kepada muslimin untuk mendoakan rahmat untuk mereka yang terbunuh dan syahid di bawah panji Al-Haq. Ketika mati, semua manusia sama. Kami bersedih atas setiap tetes darah dari anak-anak, orang tua dan wanita yang terbunuh setiap hari. Kami tidak membedakan, yang satu mati kita diamkan dan yang satu kita marah karena terbunuh. Itulah Dinul Islam.

Yang mengharamkan darah di antara kita. Maka pada hari dibunuhnya Al-Buthy, terbunuh pula 150 lebih orang Suriah oleh ditang thoghut yang jahat iini (Bashar).

Ya Allah terimalah syuhada kami, ampuni mereka. Jadikan amal-amal yang baik kami pada akhir hayat kami. Siapa yang beramal baik walau sebiji zarrah ia akan melihatnya. Siapa yang beramal jelek sebiji zarrah ia akan melihatnya pula.

Saya katakan mereka adalah pembunuh dan penumpah darah orang-orang yang tak bersalah. Mereka yang berafiliasi kepada pemerintah ganas lagi bertaring yang menamakan dirinya Bashar Assad. Dia tidak lain murid musailamah Al-Kadzdzab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin”

Siapakah Syaikh Ali Ash Shabuni hafidzahullah yang mengatakan bahwa Bashar adalah musailamah? Beliau adalah seorang mufassir besar abad ini. Namanya sudah tidak asing lagi di tengah-tengah pesantren di Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Shafwah al-Tafaasir”. Kitab tafsir Al-Qur’an ini merupakan salah satu tafsir terbaik, karena luasnya pengetahuan yang dimiliki oleh sang pengarang. Selain dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an, Ash-Shabuni juga memahami dasar-dasar ilmu tafsir, guru besar ilmu syariah, dan ketokohannya sebagai seorang intelektual Muslim. Hal ini menambah bobot kualitas dari tafsirnya ini. Syaikhul Azhar DR. Abdul Halim Mahmud rahimahullah memberikan komentar tentang kitab ini, “Shofwah at-Tafasir adalah hasil penelitian penulis terhadap kitab-kitab besar tafsir, kemudian ditulis ulang dengan mengambil pendapat terbaik dari kitab-kitab tersebut yang disusun secara ringkas dan mudah”.

Apakah beliau seorang ulama wahabi? Ternyata bukan. Beliau beraqidah asy'ariyah, banyak ulama Saudi yang memberikan kritikan dan bantahan, seperti yaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, Abu Bakar Zaid dan lain-lain. Kitab beliau yang paling banyak mendapat bantahan dari para ulama wahabi itu adalah Shofwah at-Tafasir. Syaikh Abu Bakr Zaid telah mentahzir kitab ini dengan menulis sebuah kitab at-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabuni fi Tafsir. Syaikh Jamil Zainu menulis kitab Tanbihat Haammah ‘ala Kitab Shafwah Tafasir sebagai kritikan terhadap kitab Shafwah.

Jadi, masalah di Suriah bukanlah masalah wahabi. Tapi ini adalah masalah permusuhan orang-orang syiah terhadap ahlussunnah. Kalaupun baru-baru ini ulama-ulama saudi menggelorakan jihadnya, sesungguhnya sudah sejak lama ulama-ulama Suriah menggelorakan jihad itu. Hanya saja puncaknya menemukan momentum saat Arab Spring berlangsung. Sudah sejak lama syiah melampiaskan kezalimannya kepada ahlussunnah. Mereka adalah para pembunuh sebenarnya. Para peneror sebenarnya. Mereka memperkosa dan telah berbuat kerusakan di bumi ahlussunnah Suriah.

Foto: Syaikh Ali Ash Shabuni bersama KH. Maimun Zubair. Dan Syaikh Ali Ash Shabuni bersama Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki.



Sabtu, 10 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 2)

Saya tidak setuju dengan pandangan dokter Joserizal yang melulu berpendapat bahwa konflik yang terjadi di Suriah adalah konspirasi zionis yang bermula dari Arab Spring. Tampaknya dokter Joserizal lupa dengan pembantaian besar-besaran yang pernah dilakukan oleh Hafez Al Asad, bapaknya Bashar Al Asad, terhadap kaum muslimin Suriah terutama di kota Homs dan Hama pada tahun 1982. Puluhan ribu orang syahid, termasuk di antaranya adalah para ulama ahlussunnah. Syaikh Jabir Rizq, seorang ulama dari gerakan Ikhwanul Muslimin, menggambarkan pembantaian terhadap umat Islam Suriah di masa rezim Hafez Al Asad dalam bukunya yang berjudul, "Ikhwan Dibantai Syiria": Ada sebuah masjid dimana berkumpul para ulama dan jamaahnya. Lalu masjid itu kemudian ditembaki oleh tentara Asad hingga semua orang yang ada di masjid itu mati. Pada saat itu lebih dari 30.000 orang tewas, 88 masjid dan 3 gereja hancur serta puluhan ribu warga mengungsi dari tempat tinggalnya.

Saat itu, tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin Suriah seperti Syaikh Said Hawwa rahimahullah menghadap Khomaini. Tujuannya adalah meminta tolong kepada Khomaini agar mau membantu gerakan revolusi Islam yang saat itu sedang bergelora di Suriah. Saat itu banyak tokoh Ikhwan memandang Iran adalah negara yang berhasil meraih kemenangan berkat revolusi Islamnya dan mereka berharap banyak dari Khomaini untuk mau membantu revolusi mereka seperti halnya Khomaini berhasil melakukannya di Iran.

Apakah Khomaini mau membantu revolusi Islam di Suriah? Tidak! Mengapa? Hafez Al Asad (ayah dari Bashar Al Asad/ diktator Suriah saat itu) adalah penganut Syiah. Walaupun bukan penganut Syiah Itsna Asyariah, tetapi Syiah Nusairiyah memiliki banyak kesamaan dengan Syiah Itsna Asyariah. Begitupun yang terjadi di Yaman dan Bahrain saat ini. Kaum syiah tidak malu-malu lagi mengangkat-angkat foto-foto tokoh-tokoh syiah Iran seperti Khomaini dan Khemeni dalam aksi-aksi demonstran mereka. Apa hubungannya mereka yang bukan warga negara Iran dengan Iran? Solidaritas ke-syiahahan mereka terus memuncak. Maka syiah dari kelompok manapun dan dimanapun akan saling berangkulan dengan syiah yang ada di Iran. Dengan kata lain, Iran adalah kekhalifahan tersembunyi bagi kelompok syiah di seluruh dunia.

Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin pun mulai menyadari bahwa revolusi di Iran bukanlah revolusi Islam, tetapi revolusi Syiah. Revolusi syiah seperti ini bisa saja meletus di negara mana pun baik negeri kafir maupun negeri yang mayoritasnya kaum sunni seperti Indonesia. Bila revolusi ini terjadi maka mereka akan mensyiahkan negara yang mereka revolusikan. Bersiap-siaplah ahlussunnah menerima penindasan dan kehancuran. Bukan menakut-nakuti. Tapi ini adalah kenyataan yang terus berulang sepanjang sejarah Islam. Oleh karenanya, sebelum Shalahuddin Al Ayyubi menaklukkan pasukan Salib di Yerussalem, terlebih dahulu menaklukkan kaum Syiah. Karena kaum syiah dikenal dengan kelicikan dan pengkhianatannya yang tidak kepalang tanggung. Tidak heran bila Sejarawan kontemporer seperti Prof. Raghib As Sirjani berpendapat, sebelum umat Islam menaklukkan Al Aqsha dari cengkeraman Zionis, harus menaklukkan kaum Syiah terlebih dahulu.

Foto: - Penghancuran kota-kota basis Sunni di Suriah pada tahun 1982 oleh rezim Hafez Al Asad, penganut Syiah Nushairiyah dan bapak dari Bashar Al Asad.
- Demonstrasi di Bahrain. Orang-orang syiah mengangkat foto Khomaini dan Khemenei dari Iran. Apa hubungannya? Tidak mengherankan bila Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengatakan bahwa revolusi yang terjadi di Bahrain bukanlah revolusi rakyat tapi revolusi syiah.



Jumat, 09 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 1)

Dulu saya pernah kepincut dengan gerakan syiah seperti Hizbullah dari Libanon dan juga tokohnya seperti Khomaini. Pertama kali buku syiah yang saya miliki dan saya baca adalah karya seorang ulama syiah asal Libanon, Muhammad Husain Fadhlullah, yang berjudul Islam dan Logika Kekuatan. Alasan saya membelinya adalah karena judul dan sinopsisnya yang menarik. Saat itu saya masih duduk dibangku SMA. Tanpa pikir panjang dan pengetahuan saya yang terbatas mengenai syiah, saya menelan isinya begitu saja. Kakak saya yang mengetahui saya membeli buku tersebut pun ikut membacanya. Kakak saya saat itu juga sedang keranjingan membaca buku-buku Islam. Hanya saja, dia lebih paham bahaya tentang syiah dibanding saya. Setelah membacanya, kakak saya memberi beberapa catatan peringatan dibeberapa halaman buku tersebut, "Hati-hati ini pemikiran syiah!" Pada waktu itu saya tidak peduli dengan peringatan kakak saya tersebut.

Sewaktu perang Hizbullah-Israel tahun 2006 lalu, saya semakin terkesima dengan gerakan syiah. Tokohnya, Hasan Nashrullah begitu saya kagumi karena keberanian dan khutbah-khutbahnya yang membakar semangat. Saya menonton beberapa cuplikan video perjuangannya, semakin menambah kecintaan saya pada gerakan syiah ini. Hal ini mengingatkan saya dengan buku syiah karya Fadhlullah di atas. Karena ternyata Husain Fadhlullah adalah penasehat spiritual Hizbullah. Tapi ada yang mengganjal di hati saya, mengapa Hizbullah selalu membawa-bawia foto-foto Khomaini dalam setiap aksi-aksinya? Hizbullah di Libanon sedangkan Khomaini di Iran. Apakah Hizbullah masih dalam satu komando Khomaini? Dari sini saya tidak menemukannya di negara-negara sunni. Jawaban dari pertanyaan itu nantinya akan anda temukan dalam tulisan ini.

Saya mulai tidak suka dengan gerakan syiah ketika konflik Suriah mulai memuncak. Di mana gerakan syiah Iran dan Hizbullah ikut-ikutan menyerang dan membunuhi saudara saya dari ahlussunnah. Mulailah saya membaca buku dan artikel-artikel tentang bahaya syiah. Saya begitu terkejut, begitu banyaknya perbedaan baik yang furu maupun yang ushul dengan kalangan ahlussunnah. Rujukannya bukan hanya dari perkataan ulama-ulama ahlussunnah, tapi dari buku-buku dan perkataan ulama-ulama syiah itu sendiri. Salah satu ajaran yang paling berbahaya dari syiah adalah taqiyah yaitu menyembunyikan kebusukan hati mereka dengan alasan kondisi belum memungkinkan untuk mengungkap kebusukan tersebut. Saya katakan "kebusukan" sedangkan bagi mereka adalah "kebenaran". Bagi mereka, taqiyah adalah dien itu sendiri; fardhu ain untuk diamalkan seperti halnya shalat fardhu. Bahkan lebih fardhu daripada shalat fardhu itu sendiri. Al Kulaini, Ulama besar syiah, berkata, “Tidak beragama orang yang tidak menggunakan konsep taqiyah.” (al-Kulaini, Ushul al-Kafi, jilid II, hal. 217).

Ibnu Babawaih, tokoh besar Syiah klasik, berfatwa bahwa hukum menerapkan taqiyah itu wajib, seperti kewajiban menjalankan shalat. Ia mengatakan; “Keyakinan kita tentang hukum taqiyah adalah wajib, barangsiapa yang meninggalkan taqiyah sama halnya dengan meninggalkan shalat.” (Ibnu Babawaihi, al-I’tiqadat, hal. 114).

Dalam keyakinan Syiah, taqiyah merupakan pilar-pilar utama agama. Taqiyah diserupakan dengan Sembilan persepuluh dari agama mereka. Sementara rukun-rukun Islam dan kewajiban dalam Islam lainnya hanya sepadan dengan satu persepuluh. Ini artinya, taqiyah lebih utama daripada rukun Islam. (Al-Kafi, juz II hal. 217, Badzlul Majhud juz II hal. 637).

Prof. Ali Muhammad al-Syalabi menerangkan, dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran taqiyah; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan (Ali Muhammad al-Syalabi, Fikr al-Khawarij wa al-Syiah fi Mizan Ahlissunnah wal Jama’ah, hal. 311).

Prof. Muhammad Baharun dalam bukunya yang berjudul "Tantangan Syiah terhadap Ahlus Sunnah" di hal 108 mengatakan, topeng taqiyah Syiah menjadi masalah dalam interaksi dengan Ahlus Sunnah. Dakwah Syiah yang menggunakan taqiyah kerap mengelabuhi umat. Banyak pengikut Syiah tidak mengaku Syi’i secara konsekuen dan terang-terangan. Mereka Syi’i biwajhin Sunni (Syiah berwajah Sunni). Pengelabuhan ini memiliki target khusus. Setelah mereka menguasai, baru menampakkan wujud aslinya.

Artinya, orang syiah itu seperti musuh dalam selimut. Pengkhianat yang sewaktu-waktu menikam dari belakang. Salah satu bukti nyata pengkhianatan syiah kontemporer adalah keterlibatan mereka dalam penggulingan Presiden Mesir yang sah, Muhammad Mursi. Situs bersamadakwah.com pada bulan Juli 2013 melaporkan, "Kelompok Syiah dilaporkan tengah bergerak untuk menggulingkan Presiden Mesir Muhammad Mursi. Mereka memobilisasi lebih dari 100 ribu warga Mesir penganut Syiah menandatangani pernyataan pemberontakan yang bertujuan menarik kepercayaan terhadap pemerintahan Mursi.

Juru bicara komunitas Syiah Mesir Bahaa Anwar dalam pernyataannya Sabtu (1/6) lalu mengatakan, sebanyak 100.253 orang Syiah Mesir telah menandatangani pernyataan itu. Sebagian penandatangan tinggal di luar negeri, lapor Al-Ahram.

Selain Syiah, kalangan sekuler Mesir adalah motor kampanye “pemberontakan” itu. Mereka mengklaim, sejak “pemberontakan” digulirkan 1 Mei 2013 lalu, sampai saat ini sudah terkumpul 7 juta tanda tangan.

Kampanye tersebut berusaha mendapatkan 15 juta tanda tangan guna mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Mursi, untuk melampaui 13,2 juta suara yang didapat Mursi dalam pemilu presiden yang dimenangkannya tahun lalu."

Sejarah pengkhianatan syiah sangat panjang. Sejarahnya mungkin sama panjangnya dengan sejarah Islam itu sendiri khususnya bermula sejak zaman Khalifah Umar bin Khaththab yang dibunuh oleh Abu Lu’luah Al-Majusi. Abu Lu'luah oleh orang syiah dijuluki "Baba Syujauddin" (sang pembela agama yang gagah berani).

Salah satu sejarah pengkhianatan mereka disebutkan oleh sejarawan Mesir, Imam Al-Maqrizi dalam kitab-nya (as-suluk), tentang rencana pembunuhan pahlawan Islam, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menegakkan kembali daulah Syiah Fatimiyah di Mesir yang sebelumnya dihancurkan oleh Shalahuddin. Alhamdulillah, Sultan Shalahuddin berhasil menggagalkan rencana itu dengan membasmi mereka terlebih dahulu sebelum rencana mereka dilaksanakan.
Foto dibawah: Mahmud Badr, salah satu tokoh utama penggerak kudeta terhadap Mursi ternyata adalah seorang syiah.


Selasa, 29 September 2015

Bukti Orang Syiah Membuat Onar di Haramain

"Wkt lik dilah haji di madinah jg org iran ketangkep mo msk nabawi bw senjata. akhirnya polisi menyeret org iran. tp situasi jd mencekam. iran arab musuhan."

Saya copy paste apa adanya dari pernyataan salah seorang keluarga kami di grup BBM. Beliau warga biasa, tidak berafiliasi kepada kelompok tertentu apalagi wahabi. Pada tahun 2014 lalu beliau pergi haji beserta suaminya.

Saya membaca beberapa postingan yang berserakan di FB dan twitter. Ditambah lagi fakta-fakta yang mengemuka di media tentang keonaran yang dibuat orang Iran yang pergi haji. Jadi sudah mafhum yang membuat onar itu siapa dari tahun haji ke tahun haji berikutnya.

Senin, 28 September 2015

Masukan Untuk Asma Nadia Terkait Artikel Tentang Sebab Musabab Tragedi Mina

"Karena saya mengkritik Saudi, dan padahal saya nggak sendiri, & Iran mengkritik Saudi, maka saya = Iran = Syiah. Logika bagaimana ini:(" (Asma Nadia ditwitternya)

Saya memberi masukan kepada mbak Asma: 

Mbak Asma untuk kali ini saya tidak setuju dengan mbak. Kenapa mbak mengkritik Arab Saudi sedangkan kejadian yang sesungguhnya belum menemukan titik terang? Mbak Asma terlalu cepat menyimpulkan dan yang lebih berbahaya lagi kesimpulan itu mbak terbitkan di republika yang memiliki pembaca yang banyak. Kabarnya koran terbesar kedua di Indonesia. Tidak aneh kalau banyak orang menyangka mbak menggiring opini kepada publik pada sesuatu yang belum terbukti kebenarannya. Menurut saya ini adalah kesalahan yang fatal bagi seorang penulis senior seperti mbak Asma Nadia. Semoga Allah meluruskan setiap langkah kita. Aamiin.

Minggu, 20 September 2015

Imam Ibnu Taimiyah: Ulama Ahlussunnah dan Murabbi Agung

Saya termasuk orang yang tidak setuju menjelek-jelekkan ulama sebesar Imam Ibnu Taimiyah. Seperti misalnya kalangan syiah dan sebagian ahlussunnah menjelek-jelekkannya dengan julukan dedengkotnya wahabi. Bagi saya beliau adalah ulama ahlussunnah waljamaah. Adapun kejelekannya yang banyak diungkapkan seperti mujasimah adalah fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Kekurangannya, sebutlah demikian, adalah sikap kerasnya kepada musuh-musuh syariat. Beliau berhadapan secara frontal tokoh-tokoh syiah, wahdatul wujud, sejarawan yang menyimpang, pernah beliau meludahi buku sejarah yang banyak mengandung penyimpangan, dan beliau juga pernah mengkritik kitab Sibawaih yang dianggap "kitab sucinya" ahli bahasa dan mengatakan di dalamnya terdapat 81 kesalahan. Hal ini membuat marah Imam Abu Hayyan yang sebelumnya pernah memujinya. Semua itu, kritikan itu, selagi benar, adalah amar ma'ruf nahi munkar beliau dalam menghentikan segala kemungkaran yang tampak dihadapannya. Tapi mungkin saja sikap kerasnya itu dipandang lain, apalagi oleh orang yang dari segi keilmuan berada dibawahnya.

Namun di sisi lain, beliau menunjukkan sikap lemah lembut, tawadhu, banyak beribadah, Prof. Fazlur Rahman menyebut beliau sebagai neo-sufi, sebagai julukan terhadap ulama yang memiliki citra ruhani. Beliau pernah berkata, ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.” Beliau juga pernah berkata, "Manusia tanpa dzikir seperti ikan tanpa air."

Imam Ibnu Taimiyah meninggal penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Imam Ibnul Qayyim, ketika dia sedang membaca Al-Qur'an surah Al-Qamar yang berbunyi "Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin"

Tidaklah mengherankan di antara deretan murid-muridnya adalah ulama-ulama Rabbani yang tidak diragukan lagi, sebut saja misalnya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang karyanya I'lamul Muwaqqin adalah rujukan utama pemikiran banyak ulama besar, seperti pengakuan Syaikh Wahbah Zuhaili. Beliau juga menelurkan masterpice dibidang tasawuf "Madarijus Salikin". Lalu ada murid beliau yang lain seperti Imam Ibnu Katsir, pakar tafsir dan sejarah yang tiada duanya, salah satu ulama besar mazhab syafi'i. Ada juga ahli hadits dan sejarawan kenamaan seperti Imam Adz Dzahabi.

Bagaimana mungkin ulama seperti Imam Ibnu Taimiyah mampu melahirkan generasi ulama-ulama Rabbani jika beliau sendiri bukan seorang murabbi agung. Di antara orang yang membenci dan mencintainya secara fanatik, saya adalah orang yang berusaha bersikap adil terhadapnya. Sebagai penghormatan saya kepada para ulama besar, maka saya berkata apalah saya ini. Khilafiyah di antara para ulama saya biarkan apa adanya tanpa perlu menghujat di antara pendapat yang bertolak belakang dengan pendapat yang saya yakini. Saya katakan, semua itu, perbedaan pada masalah-masalah furu, adalah rahmat dari Allah yang bisa saja satu pendapat dapat dijadikan pegangan dimasa tertentu, tapi dimasa lain pendapat yang lain lebih layak dijadikan pegangan.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Jumat, 24 April 2015

Mengapa Syiah Ingin Menguasai Makkah dan Madinah?

Tidak heran bila Saudi menyerang Syiah di Yaman. Disekeliling saudi saat ini sudah dikelilingi negara-negara syiah. Mulai dari suriah, irak, bahrain, yaman, dan sudah pasti iran. Mengapa syiah ingin menguasai Arab Saudi? Karena di sana ada al haramain. Kenapa syiah ingin menguasai al haramain?

Tanah Haramain (Makkah-Madinah) sangat istimewa dan strategis. Nilai spiritual kedua temapt suci ini menembus hati setiap muslim sejati.

Makkah adalah Qiblat kaum muslimin seluruh dunia. Setiap tahun jutaan kaum muslimin berbondong-bondong datang ke Makkah demi melaksanakan ibadah haji atau Umrah. Dan Madinah adalah kota Nabi , sekaligus tempat dimakamkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Selain itu, nilai politis kedua tanah suci ini sangat tinggi. Siapa saja diberi taufik untuk memakmurkan al-Haramain, maka mereka bisa mempengaruhi opini dan ideologi muslim dunia.

Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar 52/386 menulis: "Tahukah kalian, apa perbuatan yang pertama kali dilakukan oleh al-Mahdi?" Yang pertama kali dia lakukan adalah mengeluarkan jasad kedua orang ini (Abu Bakar dan Umar), kemudian membakar keduanya dan menerbangkan debunya di udara. Lalu menghancurkan Masjid (Nabawi)".

"Sesungguhnya al-Qa'im (Imam Mahdi Syiah) akan menghancurkan Ka'bah dan Masjid Nabawi, dan mengembalikannya ke asalanya". (Al-Ghaibah, h 282)

Inilah sebabnya, mengapa Iran dan Syiahnya sangat bernafsu merebut Makkah dan Madinah.

Kamis, 02 April 2015

Siapa Dibalik Pemblokiran Situs Islam?

Malaysia akan bergabung dengan Koalisi negeri-negeri sunni untuk menumpas syiah houthi di Yaman.

Keadaan yang berbeda justru datang dari negeri kita. Disinyalir, kelompok syiahlah yang berada di balik pemblokiran situs-situs Islam. Karena seluruh situs-situs itu mengatakan dengan tegas bahwa syiah adalah aliran sesat dan menyesatkan. Terkait dengan ISIS, justru saya melihat situs-situs itu sangat kontra dengan ISIS.

Setelah Jokowi berkuasa maka gerbong kaum syiah, sekuler, dan fundamentalis kristen berlindung ditubuh pemerintah. Mereka seolah mendapat angin segar untuk eksis dan terlebih menembakkan peluru-peluru kezaliman mereka kepada orang-orang yang ingin menegakkan syariat Islam.

Inilah yang menjadi perbedaan nyata dengan negeri seperti Malaysia. Malaysia adalah negeri muslim yang bermazhab sunni syafiiyah sama seperti muslim di negeri kita. Bedanya disana orang-orang syiah dan sekuler tidak diberi tempat. Mereka sangat memusuhi kaum syiah dan sekuler. Atas nama negara, mereka dengan tegas menyatakan syiah sesat. Tapi dinegara ini, menteri agama justru memberi kata pengantar buku yang ditulis oleh orang syiah. Di Malaysia, istilah "wahabi" bagi mereka yang menolak syiah nyaris tidak terdengar. Tapi di negeri ini, setiap orang yang mengkritik syiah langsung dituduh wahabi. Di negeri ini, istilah "wahabi" begitu tren sebagai upaya pengkambinghitaman yang dilakukan kelompok syiah terhadap kaum muslimin.

Bila kalian ingin mengetahui siapa tokoh-tokoh kebenaran itu, kenalilah kebenaran itu sendiri. Bila kalian dapati kebenaran itu pada kitab-kitab ulama ahlussunnah, lantas mengapa kalian berpaling pada syiah dan tokoh-tokohnya bahkan menjadi pembela-pembelanya?

Sabtu, 28 Maret 2015

Maling Teriak Maling

Website-website pro syiah ramai-ramai mengatakan "Amerika dan Israel mendukung serangan Arab Saudi terhadap syiah houthi di Yaman." Seolah-olah dibuat kesan Amerika dan Israel berada dibalik serangan tersebut.

Selama ini kelompok pro syiah selalu mengidentikkan dirinya sebagai kelompok yang anti Amerika dan Israel. Mereka mengecam Israel tapi sinagog Yahudi banyak bertebaran di Iran. Kabarnya yang terbanyak di Timur Tengah. Mereka mengecam Amerika karena Amerika membantu pemberontakan melawan Bashar Asad di Suriah. Kemudian mereka mengesankan seolah-olah pihak pemberontak mendapatkan suplai senjata dari Amerika. Hal ini dibantah langsung oleh pihak pemberontak. Pihak pemberontak adalah kaum mujahidin yang sangat anti Amerika. Bagaimana mungkin mereka mendapatkan senjata dan Amerika memberi mereka senjata, sedangkan di antara keduanya saling bermusuhan.

Tapi anehnya, kelompok pro syiahlah yang paling mendapat keuntungan dari penggulingan Saddam Husein yang dilakukan oleh Amerika. Kini kelompok syiahlah yang berkuasa di Irak, bukan lagi kelompok sunni sebagaimana yang terjadi di era Saddam Husein dulu.

Jadi, pada hakikatnya peristiwa penggulingan Saddam Husein, bagaimanapun kezalimannya, telah menyingkapkan hubungan yang dekat antara Amerika dan Iran (syiah). Maka taktik yang serupa bisa saja terjadi di negara Islam lainnya, tidak terkecuali di Indonesia.

Jumat, 27 Maret 2015

Iran: Dalang Dibalik Konflik Timur Tengah

“Usaha Iran untuk mendominasi benar-benar menjengkelkan kami, dapatkah ini ditoleransi?” ujar Erdogan Kamis (26/03/2015) dalam sebuah konferensi pers sebagaimana dikutip dari Reuters.

Erdogan juga menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah telah menjelma menjadi konflik sektarian dan mendesak Iran untuk tidak ikut campur.

“Iran harus merubah cara pandanganya dan mereka harus menarik semua pasukan, baik yang berada di Yaman, Suriah dan Irak sebagai bentuk rasa hormat terhadap teritori mereka,” tegasnya.

Inilah yang berbahaya dari Iran. Iran bukan hanya sebuah negara tapi juga pusat penyebaran ajaran syiah. Negara atau kelompok yang berbau syiah pasti mereka bela. Contohnya adalah pembelaan mereka terhadap syiah Houthi di Yaman, Bashar Asad di Suriah, Hizbullah di Libanon, dan kelompok oposisi syiah di Bahrain. Non sense pembelaan itu semata-mata alasan kemanusiaan atau membela pihak yang terzalimi. Karena negara dan kelompok yang mereka bela justru berada di pihak yang telah berbuat kezaliman.

Sebagai hubungan timbal balik dan kedekatan ideologi dan ajaran keagamaan, kelompok-kelompok ini juga mendukung Iran dan siap menjadi penopang Iran ditengah-tengah negara Islam yang sunni. Maka tidaklah mengherankan bila kita dapatkan mereka mengangkat foto-foto tokoh syiah seperti Ali Khemenei dan Hasan Nashrallah dalam setiap demonstrasi yang mereka lakukan. Menggambarkan seolah-olah Iran berada di balik semua kerusuhan dan perselisihan itu.

Minggu, 22 Maret 2015

Syiah Menuduh Saya Wahabi

Paling eneg kalau debat dengan orang syiah. Ketika bertanya, bener ngga apa yang kalian lakukan begini dan begitu (misalnya bener ngga kalian mencaci maki para sahabat?) Bukannya menjawab benar atau tidak. Malah menuduh saya wahabi. Ya sudahlah kalau begituuh.

Mereka itu berusaha menutup-nutupi keyakinan mereka. Salah satu caranya dengan mengalihkan pembicaraan. Agar mereka seolah sedang tidak terlihat berdusta. Karena kalau mereka berkata tidak benar, umat Islam akan tahu mereka sedang bertaqiyah.

Metode mengalihkan pembicaraan atau menyalahkan pihak lain adalah upaya syiah untuk memecah belah kaum muslimin. Jadi janganlah termakan hasutan ucapan mereka. Kesesatan mereka sudah terang benderang.

Minggu, 01 Maret 2015

Inilah Senjata Made In Amerika di Tangan Mujahidin Suriah

Beberapa kali saya berdebat dengan orang syiah dan mereka yang bersimpati kepada syiah. Salah satu perdebatan saya seputar kondisi Suriah saat ini. Kata mereka, Amerika dan sekutunya telah mengadu domba antara orang Sunni dan Syiah.

Saya tanyakan, darimana Anda tahu?

Jawabnya, orang-orang Sunni yang menyerang pemerintahan Bashar Al-Asad dibantu oleh Amerika. Amerika dan sekutunya mengirimkan persenjataan untuk para pemberontak itu.

Saya katakan, analisa Anda itu tidak terbukti sama sekali. Hingga saat ini Amerika hanya membual saja memberikan persenjataan. Bukti yang ada dilapangan, para pejuang pembebasan memodali persenjataan mereka dari apa yang sanggup mereka miliki dan yang sanggup mereka buat. Kalaupun mereka memiliki persenjataan dari Amerika, pasti daya gempur mereka jauh lebih kuat daripada yang ada pada saat ini.

Apa yang terjadi di Suriah adalah kezaliman sebuah rezim yang sama dari generasi yang berbeda. Kezaliman Bashar Al-Asad tidak jauh beda dengan kezaliman Hafez Al-Asad. Bahkan lebih kejam lagi. Di zaman Hafez Al-Asad (bapaknya Bashar), di awal tahun 80 an, rezim ini telah membunuh lebih dari delapan puluh ribu orang dan meratakan ratusan masjid kaum sunni. Syaikh Said Hawwa, ulama Suriah, saat itu mendatangi Ali Khomaini agar membantu revolusi Islam Suriah. Tapi beliau pulang dari Iran dengan tangan hampa.

Apa yang bisa diharapkan dari seorang Syiah tatkala ada orang Syiah lainnya akan dilawan? Tidak mungkin orang Syiah membantu kaum Sunni melawan orang Syiah lainnya. Seperti yang terjadi saat ini, Syiah Iran dan Syiah Libanon membantu rezim Bashar yang Syiah. Mereka terang-terangan membantu Bashar dengan persenjataan. Ditambah lagi bantuan dari negara ateis Rusia. Jadi anggapan yang terjadi pada saat ini karena perbuatan dan campur tangan Amerika Serikat belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Gejolak saat ini ibarat bom waktu dari kezaliman yang sudah ada sebelumnya. Saat terjadi Revolusi Musim Semi Arab, para pejuang menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Sama seperti yang terjadi di Tunisia, Yaman, Maroko, Mesir, dan di beberapa negara Arab lainnya. Pada awalnya mereka melakukan melakukan demonstrasi damai. Karena tindakan represif rezim bashar, banyak pendemo yang mati. Kezaliman ini menyulut perlawanan bersenjata.

Jadi, siapa yang mengangkat senjata untuk pertama kali? Tidak bolehkah orang yang terzalimi membela diri? Tapi orang seperti Anda kemudian menuduh Amerika berada dibelakang semua ini. Padahal tuduhan itu seharusnya Anda arahkan kepada kezaliman teman-teman Anda sesama Syiah di Suriah.

Lalu, orang syiah ini kembali berkata, Anda boleh berpendapat seperti itu. Tidakkah Anda lihat penggulingan Muammar Khadafi di Libya? Bukankah dibantu Amerika dan sekutunya?

Saya menjawab, Bagaimana dengan Irak? Bukankah Saddam Husein juga digulingkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya? Setelah itu siapa yang paling mendapat keuntungan sesudah penggulingan itu? Orang syiah! Mengapa Anda melihat Libya tetapi buta dari melihat Irak?

Orang syiah ini kembali berkata, negara Iran adalah negara yang paling keras permusuhannya kepada Amerika dan Israel. Sementara negara lain lembek.

Saya menjawab, Anda bisa saja berkata seperti itu. Tapi ucapan harus dibuktikan dengan tindakan agar tidak disebut omong kosong. Apakah Iran pernah menembakkan roketnya ke arah Israel, seperti yang dilakukan oleh Saddam Husein? Apakah Iran pernah mengembargo minyak untuk Amerika Serikat dan sekutunya seperti yang dilakukan Raja Faishal dari Arab Saudi? Justru yang ada saat ini Iran semakin mesra dengan Amerika dan sekutunya. Jumlah orang Yahudi di Iran semakin meningkat, sementara kaum ahlussunnah ditindas dan tidak mendapat tempat yang layak untuk beribadah.

Saya khawatir dugaan saya orang syiah sedang bertaqiyah bahwa mereka bersekutu dengan Amerika, Israel, Rusia, dan kaum kafirin lainnya, benar adanya. Dan kalaupun dugaan itu benar, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah keanehan.

Berikut ini senjata bantuan Amerika Serikat untuk Mujahidin Suriah. :D