Tampilkan postingan dengan label Imam Al Ghazali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Al Ghazali. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2015

Bahaya Ajaran Imamah dalam Syiah

Saya heran setelah saya membaca sejarah tokoh-tokoh Islam, banyak ulama ahlussunnah ternyata kelahiran Iran. Sebut saja misalnya, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa'i, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Hakim, Imam Al Baihaqi, Imam Al Ghazali, Imam Al Juwaini, Imam Abu Nuaim Al Isfahani, Imam Syibawaih, Imam Al Farahidi, Imam Abu Hatim Ar Razi, Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Imam Abu Hanifah Ad Dinawari, Imam Fakhruddin Ar Razi, dsb.

Mereka adalah ulama dan ilmuwan besar diberbagai bidang, mulai dari hadits, tafsir, tasawuf, fikih, sejarah, ushul fikih, filsafat, dan sains. Saya membaca di dalam sejarah, nama-nama mereka begitu terkenal dan karya-karya mereka menjadi rujukan hingga kini. Apakah itu artinya, Iran dulunya adalah negeri ahlussunnah? Di mana kitab-kitab hadits Kutubus Sittah dan lainnya, yang memuliakan para sahabat Nabi, diajarkan di majelis-majelis ilmu yang tersebar ke seluruh penjuru kota.

Saya juga heran mengapa kemudian Syiah dulu pernah berkuasa di Mesir saat zaman Fatimiyah. Padahal Mesir dulunya adalah negeri ahlussunnah. Bahkan ia didulunya ditaklukkan oleh salah seorang sahabat Nabi yang dibenci syiah, yaitu Amr bin Ash Ra.

Berbicara soal akidah bagi syiah, juga berbicara tentang kekuasaan, kepemimpinan, atau imamah. Muhammad bin Ya’qub Al-Kulany, pakar hadist Syi’ah, meriwayatkan sejumlah hadits yang menunjukkan bahwa Imamah merupakan rukun Islam terbesar. Maka kekuasaan adalah jalan mereka untuk menyebarkan ajaran mereka dengan menghalalkan segala cara. Maka, merebut suatu negeri dari tangan ahlussunnah adalah KEWAJIBAN bagi mereka. Walaupun mungkin hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan.

Jumat, 06 November 2015

Sumbangsih Tarekat bagi Kebangkitan Islam

Apa pandangan saya tentang tarekat? Apakah ia menyimpang dari kebenaran? Jawaban saya, saya tidak berani mengatakan tarekat itu menyimpang dari kebenaran. Karena saya bukanlah ahli agama atau hakim yang mampu memutuskan perkara. Saya hanya ingin mengungkapkan pandangan saya yang mungkin benar, mungkin juga salah. Tapi yang pasti adalah sejarah telah mencatatnya.

Bagi saya, tarekat pada awal mulanya adalah perwujudan dari ijtihad ulama. Tarekat adalah gerakan tasawuf yang terorganisir. Ia banyak bermunculan setelah banyak terjadinya kekacauan di negeri Islam yang dilakukan oleh orang-orang kafir, seperti direbutnya Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah, oleh tentara-tentara Mongol pimpinan Hulaghu Khan dan dikuasainya Yerusalem oleh tentara-tentara salib.

Tentu para ulama heran, bagaimana bisa umat Islam yang memiliki agama yang agung, dikalahkan dan dipecundangi sedemikian rupa oleh orang-orang kafir. Para ulama memandang hal ini sebagai sesuatu yang berbahaya bagi umat dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Salah satu ulama yang mula-mula melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini adalah Imam Al Ghazali rahimahullah. Tampaknya beliau melihat bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah umat Islam yang hubbud dunya, jauh dari agama. Sehingga umat Islam tidak begitu mempunyai semangat dalam memperjuangkan agamanya. Maka para ulama mulai menghidupkan ajaran ruhani dalam Islam, agar umat menyadari dari lubuk hatinya yang paling dalam, tentang kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, pentingnya tazkiyatun nafs dan taqarub kepada Allah, dan segera kembali pada agamanya yang nyatanya bernilai mulia.

Membangkitkan kesadaran hati dengan nilai-nilai ruhani nyatanya mampu memunculkan ghirah atau semangat baru sehingga umat pun bangkit dari keterpurukannya; hidup zuhud, jujur, sabar, tawakal, ridha, taat, syukur, mujahadah, dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Maka lahirlah dari tarbiyah itu pemimpin-pemimpin saleh seperti Shalahuddin Al Ayyubi, Nuruddin Zanki, Ertugrul, dan Muhammad Al Fatih.

Tidaklah mengherankan bila gerakan tarekat adalah gerakan yang sangat anti terhadap penjajahan. Para pengikut tarekat tidak malu-malu mengatakan penjajah itu orang kafir dan perang yang mereka kobarkan sebagai jihad fisabilillah.

Syaikh Abdussamad al-Palimbani (dari Palembang) menulis sejumlah kitab tentang jihad fisabilillah sebagai dorongan untuk mengusir pasukan kafirin, di antaranya Nashihat Al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu'minin fi Fadha'il Al-Jihad fi Sabil Allah. Beliau juga telah menulis surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Susuhunan Prabu Jaka (putra Amangkurat IV) yang dapat dianggap dorongan untuk terus berjihad melawan orang kafir, sebagaimana dilakukan para sultan Mataram sebelumnya. Syaikh Abdussamad seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia, bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik.

Ulama tarekat lainnya yang memimpin gerakan jihad melawan kafir penjajah adalah Syaikh Yusuf Makassar Tajul Khalwati. Akibat perlawanannya yang sengit terhadap penjajah, dia dibuang ke beberapa tempat. Di Banten ia mengobarkan jihad, lalu tertangkap. Kemudian dibuang ke Srilangka. Di Srilangka beliau juga tidak diam, penjajah kafir membuangnya lagi ke Afrika Selatan. Bisa anda bayangkan betapa sangat jauhnya ulama yang satu ini dibuang karena ketakutan penjajah kafir akan pengaruhnya terhadap gerakan anti penjajahan.

Pada perang padri di Sumatera Barat selama 17 tahun (1821 - 1838) pimpinan yang terkenal adalah Tuanku Iman bonjol (Muhammad Syahab). Imam bonjol ini adalah seorang ulama Tarekat selalu didampingi para penasehat dan dibantu oleh panglima-panglima pasukan yang kebanyakan ulama yang mengamalkan Tarekat diantaranya Tarekat Naqsyabandiyyah, Qodiriyyah dan Samaniyah , sebagian dari mereka tertawan Belanda dan sebagian gugur.

Peran dan jasa tarekat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji dan kalangan pesantren. Dalam perjuangan yang dilakukan Diponegoro, Kyai Maja pun tampil sebagai pemimpin spiritual pemberontakan tersebut. Untuk menarik dukukan dari pondok pesantren, tokoh agama dan jasa pengikut tarekat, Pangeran Diponegoro menyebut pemberontakannya sebagai perang suci atau perang sabil.Tak heran, jika kemudian peran dan jasa para pengikut tarekat dan umat Islam lainnya, pada waktu itu meyakini pemberontakan Diponegoro itu sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa. Perang itu pun digaungkan Diponegero untuk mengusir kolonial Belanda yang tak beriman dari tanah Jawa.

Selain itu, sejarah juga mencatat banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah belanda yang dimotori tarekat, seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa'I (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917) dan Peristiwa Garut (1919).

Dalam pemberontakan Cilegon - BANTEN 1888 Selama satu tahun yang menjadi pimpinan pemberontakan adalah KH. Marzuqi putera menantu KH. Asnawi kholifah Tarekat Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah, pengganti Syaikh Abdul Karim kholifah TQN pertama di Banten. Kerugian Belanda amat besar. KH. Asnawi di tangkap Belanda. Atas bukti-bukti tersebut di atas, maka pemerintah penjajah Belanda memandang Tarekat sebagai musuh besar yang sangat ditakuti dan harus dikikis habis.

Di India Sultan Aurangzeb (pertengahan abad ke-17) adalah penganut tarekat Naqsyabandiyah. Tarekat inilah yang punya andil dalam perubahan besar kehidupan beragama di bawah Sultan ini. Agama resmi yang diciptakan Sultan Akbar, Din-i Ilahi, yang merupakan perpaduan Islam dan Hindu, digantikan dengan Islam yang murni dan berorientasi syariah. Dalam salah satu surat kepada Sultan Aurangzeb, Syaikh Muhammad Ma`sum (seorang ulama tarekat Naqsyabandiyah) menganjurkannya untuk menunaikan jihad dalam dua dimensinya, yaitu perang melawan kafir (dalam hal ini negara tetangga Qandahar yang Syiah) dan perang melawan nafsu.

Itulah tarekat yang saya ketahui. Saya tidak menyetujui kemungkaran bila ada di dalamnya. Sekaligus saya tidak menafikan sumbangsihnya dalam kebangkitan peradaban Islam. Dan, setiap ijtihad ulama di zamannya berbeda-beda, bisa jadi satu ajaran Islam yang menjadi prioritas gerakannya di satu zaman, sedangkan di zaman lainnya, prioritasnya yang lain. Bukan berarti bahwa ulama-ulama itu hanya memahami Islam secara parsial, tapi justru ulama-ulama itu datang membawa obat yang diperlukan umat yang sakit.

Kamis, 16 April 2015

Rakyat Rusak karena Ulama dan Penguasanya Menyimpang

"Sesungguhnya rusaknya rakyat terjadi karena rusaknya penguasa; dan rusaknya penguasa terjadi karena rusaknya ulama." (Imam Al Ghazali)

Mengomentari pernyataan Imam Al Ghazali di atas, Dr. Adian Husaini berkata, "Maka, renungkan: Jika penguasa saat ini rusak, jangan-jangan, memang bermula dari kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan, diawali oleh kerusakan ulama dan cendekiawan!"

Saat ini institusi pendidikan Islam mulai dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi sudah mulai banyak disusupi oleh pemikiran Islam liberal oleh kalangan penganutnya. Akibatnya, banyak dari kyai, santri, dan mahasiswa teracuni oleh pemikiran itu. 

Ketika kalangan ulama sudah rusak pemikirannya maka bisikan yang masuk ke telinga penguasa juga ikut menyimpang. Akibatnya lahirlah penguasa yang menyimpang; jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Karena penguasa punya kekuasaan, lantas ia gunakan kekuasaannya tersebut untuk merusak rakyatnya. Karena sudah rusak, mereka akhirnya memilih pemimpin yang rusak pula. Dan menghasilkan bibit-bibit ulama yang rusak juga karena para ulama itu asalnya dari rakyat.  

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

"Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan." (HR. al-Darimi dalam Shahihnya dari haidts Tsauban, Imam Abu Dawud al-Thayalisi dari hadits Abu Darda')

Penggunaan kata "innama" secara umum memiliki makna hashar (pembatasan). Ini menunjukkan besarnya bahaya pemimpin penyesat. Pemimpin penyesat adalah pemimpin sesat yang mencakup penguasa perusak, ulama penyesat, dan ahli ibadah yang sesat (ngawur). Keberadaan mereka menggiring umat kepada kesesatan, menghancurkan agama mereka, dan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan mereka. Termasuk di dalamnya adalah para du'at (pendakwah dan penceramah); jika mereka menyeru kepada kesesatan maka bahayanya tidak lagi diragukan. Jika masyarakat sudah percaya kepadanya dan yakin dengan ilmunya, maka ia akan merusak akidah dan keimanan mereka. 

Dari Ziyad bin Hudair Radhiyallahu 'Anhu , ia berkata: Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu berkata kepadaku: "Tahukan engkau apa yang akan merobohkan Islam?" Aku menjawab: "Tidak (tahu)." Beliau berkata: "Yang akan merobohkan Islam adalah penyimpangan ulama, debatnya munafik dengan Al-Qur'an, dan hukum para pemimpin penyesat." (Atsar Shahihi riwayat Ibnul Mubarak dalam al-Zuhud wa al-Raqaiq, al-Faryabi dalam Sifah al-Nifaq wa Dzam al-Munafikin, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilmi wa Fadhlih, Al-Darimi dan selainnya. Dishahihkan al-Albani dalam al-Misyhkah)

Pernyataan Imam Al Ghazali rahimahullah di atas bisa menjadi testimoni bila ada suatu wilayah, daerah, atau negara yang mana rakyatnya rusak, maka hal itu bisa terjadi karena penguasa dan ulamanya rusak. Apakah sudah terjadi pada negara ini?  

Selasa, 17 Maret 2015

Senantiasa Hidup Berkat Buku yang Ditulis

Imam Syafi'i berkata tentang Imam Laits bin Sa'd bahwa Imam Laits lebih fakih ketimbang Imam Malik.

Imam Syafi'i berani berkata demikian karena beliau telah berguru kepada kedua ulama tersebut. Dari sana beliau mampu menilai mana yang lebih fakih di antara keduanya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Imam Laits yang dikatakan Imam Syafi'i sebagai ulama yang lebih fakih ketimbang Imam Malik? Mengapa beliau tidak termasuk di antara Imam Madzhab fikih yang ada hingga sekarang ini?

Imam Laits adalah ulama besar yang tinggal di Mesir. Beliau adalah ahli hadits, fikih, ushul fikih, dan tafsir. Sekaligus pedagang yang kaya raya namun hidup zuhud dan wara. Walaupun dikenal sebagai ulama yang fakih namun sayangnya beliau tidak menulis satupun buku. Kalaupun ada karya tulis yang dinisbatkan kepada beliau, itupun ditulis oleh murid-murid beliau dan itupun sangat sedikit jumlahnya. Pemikirannya yang besar hanya bisa didapat dari buku-buku yang dikutip secara terpisah-pisah sehingga seringkali tidak dapat menampilkan pemikirannya secara utuh dan konfrehensif.

Berbeda dengan Imam Malik yang rajin menulis dan pemikirannya juga banyak dibukukan oleh para murid dan pengikutnya. Sehingga namanya terus dikenang sebagai salah satu Imam fikih paling terkemuka sepanjang sejarah.

Begitupun dengan imam madzhab fikih yang lainnya, mereka semua dikenal karena masih adanya pemikiran mereka yang tersimpan dalam buku yang mereka dan murid-muridnya tulis. Buku-buku seperti itu masih saja terus ditulis dengan ijtihad yang diambil dari pokok-pokok fikih imam madzhab. Para ulama hingga kini berlomba-lomba menulis buku terkait dengan madzhab yang dianutnya.

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Al Ghazali, Imam Nawawi, dan ulama-ulama lainnya, nama-namanya begitu dikenal dalam sejarah. Mereka akan selalu hidup di benak sanubari kaum muslimin berkat karya-karya yang telah mereka tulis.

Senin, 09 Maret 2015

Para Pembaharu Islam (Bag. 1)

Sedikit sekali saya membaca sejarah para ulama besar yang hidup kisaran abad ke 15 M ke atas. Hal ini mungkin terjadi karena sejarah tersebut tidaklah populer seperti sejarah salafus saleh. Sehingga kemudian para penulis kebanyakan tidak mengangkatnya dalam karya-karya tulis mereka. Atau hal ini semakin menunjukkan kemunduran peradaban Islam sedikit demi sedikit. 

Bila boleh saya kumpulkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh mujadid, sebagaimana sabda Rasulullah, hadir setiap 100 tahun sekali. Maka, saya akan memilih tokoh-tokoh tersebut sebagai berikut (sejak diluar zaman sahabat). Kurun pertama, saya memilih Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Karena beliau adalah bintang kekhalifahan Bani Umayah, terkenal dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kesalehannya. Beliaulah yang memerintahkan para ulama, dikomandoi oleh Imam Ibnu Zuhri, untuk membukukan hadits-hadits Nabi. Kisah-kisah tentang keadilan dan kebijaksanaan beliau begitu banyak dan populer di masyarakat sehingga tidak begitu sulit untuk menelusuri sejarah kehidupan beliau yang mirip dengan kakek buyutnya "Umar bin Khaththab".

Kurun kedua, saya memilih Imam Syafi'i rahimahullah mengingat jasa beliau yang besar dalam ilmu fiqh dan ushul fiqh. Beliau berjasa dalam "mendamaikan" pemikiran ahlur ra'yu yang diwakili Imam Abu Hanifah dan ahlul hadits yang diwakili Imam Malik. Beliau juga yang pertama kali menyusun buku tentang ushul fiqh, yakni kitab Ar Risalah. Seorang ulama bernama Hilal bin al-A’la memuji kehebatan Imam Syafi'i dalam bidang hadis: "Para ahli hadits bagaikan anak-anak Imam al-Syafi’i, beliau pembuat kunci untuk mereka itu." Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, ”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah.”

Kurun ketiga, saya memilih Imam Bukhari rahimahullah karena berkat jasa dan kegigihan beliau dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih, sehingga kita dapat mengenal hadits-hadits shahih. Dari 600.000 hadits yang beliau hafal, kemudian beliau saring lagi hanya tinggal 2.602 hadits dalam kitabnya yang kesemuanya merupakan hadits shahih. Usaha pengumpulan hadits shahih ini kemudian diikuti oleh murid sekaligus sahabatnya, yakni Imam Muslim. Sehingga apabila disebut shahihain atau muttafaqun alaih, maka itu artinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama telah bersepakat bahwa kitab Shahih Al Bukhari adalah kitab hadits yang paling tinggi nilainya dibanding kitab hadits yang lain.   

Kurun keempat, saya memilih Imam Ath-Thabari karena keahlian beliau dibidang tafsir Al Quran dan sejarah. Beliau termasuk jajaran ulama yang paling produktif dalam menulis. Karya beliau yang terkenal adalah yang dikenal dengan nama "Tafsir Ath-Thabari". Kitab tafsir ini adalah tafsir bil ma'tsur terlengkap dan yang terbaik sistematikanya sehingga banyak dijadikan rujukan oleh kaum muslimin dari dulu hingga sekarang. Termasuk salah satunya adalah Imam Ibnu Katsir yang menulis kitab Tafsir Ibnu Katsir. Karya beliau yang terkenal lainnya adalah yang dikenal dengan nama "Tarikh Ath-Thabari". Kitab ini adalah kitab yang membahas sejarah mulai dari zaman Nabi Adam hingga zaman sang penulis. Bisa Anda bayangkan berapa halaman yang beliau habiskan untuk menulis buku itu. Yaitu 6 jilid tebal sedangkan tafsirnya ada 16 jilid tebal. 

Kurun kelima, saya memilih Imam Al Ghazali rahimahullah. Walaupun beliau seorang sufi, tapi sangat memegang teguh syariat. Sehingga tasawufnya memiliki nilai yang tinggi dan murni. Untuk menempuh jalan Allah maka haruslah melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang Islam. Para sufi yang mengabaikan syariat adalah orang-orang yang sesat. Di zaman beliau umat mulai mengalami kemunduran, apalagi sejak dihancurkannya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad oleh tentara Mongol. Menurut beliau kemunduran itu lebih banyak disebabkan kemunduran spiritual atau minimnya nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sehingga mengakibatnya maraknya kriminilatas dan kerusakan moral, serta lemahnya semangat jihad. Lantas kemudian beliau berjuang untuk membangkitkan kesadaran ruhani tersebut. Meskipun demikian perjuangannya tersebut bukan tanpa hambatan, karena perjuangan beliau itu berarti akan berhadapan langsung dengan kaum batiniah, para ahli filsafat, syiah, dan pemikiran menyimpang lainnya. 

Bersambung....