Tampilkan postingan dengan label Imam Malik bin Anas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Malik bin Anas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

Keterkaitan Antara Amalan Ruhiyah dengan Produktivitas Berkarya dan Berprestasi

Pada suatu hari saya merasa malas dalam membaca dan menulis. Kalaupun ingin mulai menulis, otak terasa beku dan tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Setelah saya teliti lebih dalam lagi, ternyata ada beberapa amalan ruhiyah yang tidak saya kerjakan pada hari itu.
Orang-orang mungkin akan bertanya, apa hubungan antara amalan ruhiyah dengan membaca dan menulis? Bagi saya amalan ruhiyah memberikan pengaruh yang besar bagi hati dan akal pikiran ini. Selain berkah dan rahmat Allah sehingga motivasi dan inspirasi begitu melimpah, juga memberikan kenikmatan tersendiri ketika mengerjakannya. Saya bercermin pada tradisi intelektual ulama Islam yang begitu produktif dalam membaca dan menulis. Misalnya Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki dan penulis kitab Al Muwatha. Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang menulis kitab seperti Jami Ash Shahih dan Adabul Mufrad. Imam Ibnu Qudamah, seorang ulama besar mazhab hanbali dan penulis kitab Al Mughni. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis 96 judul kitab dan dalam satu judulnya terdiri dari beberapa jilid kitab.
Dari sini kita seringkali terjebak hanya melihat ujungnya, tanpa melihat pangkalnya. Kita tidak melihat mengapa mereka mampu melakukan pekerjaan berat itu. Tapi bagi yang jeli melihatnya, tradisi intelektual itu tidak pernah lepas dari ibadah yang kuat, amalan yang istiqomah. Seperti halnya pondasi yang kuat, maka bangunan yang berdiri di atasnya bisa kokoh, sebesar dan seberat apapun.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Bukhari, beliau tidak meletakkan 1 hadits pun dalam kitabnya, kecuali mandi dan salat 2 rakaat terlebih dahulu.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Malik bin Anas, Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Ibnu Qudamah, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar”
Tentang amalan ruhiyah Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Imam Ibnu Katsir berkata, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”
Imam Ibnu Rajab berkata tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri Imam Ibnul Qayyim, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dari sini saya menyimpulkan adanya keterkaitan antara amalan ruhiyah dengan produktivitas dalam berkarya dan prestasi. Bahwa dakwah akan lancar manakala ruhiyah kita bersinar. Bagi yang ingin istiqomah dalam berkarya dan berprestasi, maka dirinya harus ditunjang dengan banyak mengerjakan amalan-amalan ruhiyah seperti shalat, shaum, tilawah, doa, dan dzikir.

Senin, 13 April 2015

Menjadikan Kritikan dan Hinaan Sebagai Cambuk Penyemangat

Suatu saat ketika masih kecil, Malik bin Anas bersama dengan saudaranya berbincang dengan sang ayah. Saat itu sang ayah bertanya kepada keduanya mengenai ilmu. Ternyata Malik bin Anas menjawab dengan jawaban yang salah sedangkan saudaranya menjawab dengan jawaban yang benar.

“Merpati telah melalaikanmu dari menuntut ilmu!” kata sang ayah kepada Malik bin Anas.

Imam Malik pun amat tersinggung dengan nasehat itu, hingga akhirnya ia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berguru kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun.

Agar tidak terganggu belajarnya dengan Ibnu Hurmuz, Malik bin Anas pun memberi para pembantu Ibnu Hurmuz korma dan mengatakan kepada mereka, "Jika ada yang bertanya kepada kalian mengenai syeikh, katakana bahwa ia sedang sibuk”.

Akhirnya, karena ketekunan Malik bin Anas dalam menuntut ilmu ia pun menjadi mujtahid besar pengasas madzhab Maliki yang diikuti madzhabnya oleh ribuan ulama besar. (lihat, Tartib Al Madarik, 1/55)

Bagi orang yang pesimis dan lemah, segala kritikan, nasehat, bahkan hinaan hanyalah menambah pesimis dan kelemahannya. Apa yang dikatakan orang lain kepada dirinya dianggap sebagai kejelekan dirinya. Bahwa ia tidak bisa berbuat lebih baik lagi.

Bagi orang yang optimis dan bersemangat, segala kritikan, nasehat, bahkan hinaan bisa menjadi energi untuk tampil lebih baik dari hari ke hari. Merekalah yang telah berikrar dan berteguh hati memberi yang terbaik dalam hidup ini. Dulu miskin dihina sekarang kaya raya dipuji. Dulu bodoh di ejek sekarang pandai dihargai.

Selasa, 17 Maret 2015

Senantiasa Hidup Berkat Buku yang Ditulis

Imam Syafi'i berkata tentang Imam Laits bin Sa'd bahwa Imam Laits lebih fakih ketimbang Imam Malik.

Imam Syafi'i berani berkata demikian karena beliau telah berguru kepada kedua ulama tersebut. Dari sana beliau mampu menilai mana yang lebih fakih di antara keduanya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Imam Laits yang dikatakan Imam Syafi'i sebagai ulama yang lebih fakih ketimbang Imam Malik? Mengapa beliau tidak termasuk di antara Imam Madzhab fikih yang ada hingga sekarang ini?

Imam Laits adalah ulama besar yang tinggal di Mesir. Beliau adalah ahli hadits, fikih, ushul fikih, dan tafsir. Sekaligus pedagang yang kaya raya namun hidup zuhud dan wara. Walaupun dikenal sebagai ulama yang fakih namun sayangnya beliau tidak menulis satupun buku. Kalaupun ada karya tulis yang dinisbatkan kepada beliau, itupun ditulis oleh murid-murid beliau dan itupun sangat sedikit jumlahnya. Pemikirannya yang besar hanya bisa didapat dari buku-buku yang dikutip secara terpisah-pisah sehingga seringkali tidak dapat menampilkan pemikirannya secara utuh dan konfrehensif.

Berbeda dengan Imam Malik yang rajin menulis dan pemikirannya juga banyak dibukukan oleh para murid dan pengikutnya. Sehingga namanya terus dikenang sebagai salah satu Imam fikih paling terkemuka sepanjang sejarah.

Begitupun dengan imam madzhab fikih yang lainnya, mereka semua dikenal karena masih adanya pemikiran mereka yang tersimpan dalam buku yang mereka dan murid-muridnya tulis. Buku-buku seperti itu masih saja terus ditulis dengan ijtihad yang diambil dari pokok-pokok fikih imam madzhab. Para ulama hingga kini berlomba-lomba menulis buku terkait dengan madzhab yang dianutnya.

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Al Ghazali, Imam Nawawi, dan ulama-ulama lainnya, nama-namanya begitu dikenal dalam sejarah. Mereka akan selalu hidup di benak sanubari kaum muslimin berkat karya-karya yang telah mereka tulis.

Senin, 09 Maret 2015

Para Pembaharu Islam (Bag. 1)

Sedikit sekali saya membaca sejarah para ulama besar yang hidup kisaran abad ke 15 M ke atas. Hal ini mungkin terjadi karena sejarah tersebut tidaklah populer seperti sejarah salafus saleh. Sehingga kemudian para penulis kebanyakan tidak mengangkatnya dalam karya-karya tulis mereka. Atau hal ini semakin menunjukkan kemunduran peradaban Islam sedikit demi sedikit. 

Bila boleh saya kumpulkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh mujadid, sebagaimana sabda Rasulullah, hadir setiap 100 tahun sekali. Maka, saya akan memilih tokoh-tokoh tersebut sebagai berikut (sejak diluar zaman sahabat). Kurun pertama, saya memilih Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Karena beliau adalah bintang kekhalifahan Bani Umayah, terkenal dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kesalehannya. Beliaulah yang memerintahkan para ulama, dikomandoi oleh Imam Ibnu Zuhri, untuk membukukan hadits-hadits Nabi. Kisah-kisah tentang keadilan dan kebijaksanaan beliau begitu banyak dan populer di masyarakat sehingga tidak begitu sulit untuk menelusuri sejarah kehidupan beliau yang mirip dengan kakek buyutnya "Umar bin Khaththab".

Kurun kedua, saya memilih Imam Syafi'i rahimahullah mengingat jasa beliau yang besar dalam ilmu fiqh dan ushul fiqh. Beliau berjasa dalam "mendamaikan" pemikiran ahlur ra'yu yang diwakili Imam Abu Hanifah dan ahlul hadits yang diwakili Imam Malik. Beliau juga yang pertama kali menyusun buku tentang ushul fiqh, yakni kitab Ar Risalah. Seorang ulama bernama Hilal bin al-A’la memuji kehebatan Imam Syafi'i dalam bidang hadis: "Para ahli hadits bagaikan anak-anak Imam al-Syafi’i, beliau pembuat kunci untuk mereka itu." Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, ”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah.”

Kurun ketiga, saya memilih Imam Bukhari rahimahullah karena berkat jasa dan kegigihan beliau dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih, sehingga kita dapat mengenal hadits-hadits shahih. Dari 600.000 hadits yang beliau hafal, kemudian beliau saring lagi hanya tinggal 2.602 hadits dalam kitabnya yang kesemuanya merupakan hadits shahih. Usaha pengumpulan hadits shahih ini kemudian diikuti oleh murid sekaligus sahabatnya, yakni Imam Muslim. Sehingga apabila disebut shahihain atau muttafaqun alaih, maka itu artinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama telah bersepakat bahwa kitab Shahih Al Bukhari adalah kitab hadits yang paling tinggi nilainya dibanding kitab hadits yang lain.   

Kurun keempat, saya memilih Imam Ath-Thabari karena keahlian beliau dibidang tafsir Al Quran dan sejarah. Beliau termasuk jajaran ulama yang paling produktif dalam menulis. Karya beliau yang terkenal adalah yang dikenal dengan nama "Tafsir Ath-Thabari". Kitab tafsir ini adalah tafsir bil ma'tsur terlengkap dan yang terbaik sistematikanya sehingga banyak dijadikan rujukan oleh kaum muslimin dari dulu hingga sekarang. Termasuk salah satunya adalah Imam Ibnu Katsir yang menulis kitab Tafsir Ibnu Katsir. Karya beliau yang terkenal lainnya adalah yang dikenal dengan nama "Tarikh Ath-Thabari". Kitab ini adalah kitab yang membahas sejarah mulai dari zaman Nabi Adam hingga zaman sang penulis. Bisa Anda bayangkan berapa halaman yang beliau habiskan untuk menulis buku itu. Yaitu 6 jilid tebal sedangkan tafsirnya ada 16 jilid tebal. 

Kurun kelima, saya memilih Imam Al Ghazali rahimahullah. Walaupun beliau seorang sufi, tapi sangat memegang teguh syariat. Sehingga tasawufnya memiliki nilai yang tinggi dan murni. Untuk menempuh jalan Allah maka haruslah melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang Islam. Para sufi yang mengabaikan syariat adalah orang-orang yang sesat. Di zaman beliau umat mulai mengalami kemunduran, apalagi sejak dihancurkannya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad oleh tentara Mongol. Menurut beliau kemunduran itu lebih banyak disebabkan kemunduran spiritual atau minimnya nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sehingga mengakibatnya maraknya kriminilatas dan kerusakan moral, serta lemahnya semangat jihad. Lantas kemudian beliau berjuang untuk membangkitkan kesadaran ruhani tersebut. Meskipun demikian perjuangannya tersebut bukan tanpa hambatan, karena perjuangan beliau itu berarti akan berhadapan langsung dengan kaum batiniah, para ahli filsafat, syiah, dan pemikiran menyimpang lainnya. 

Bersambung....

Senin, 19 Januari 2015

Semangat Amar Ma’ruf Nahi Munkar Imam Malik bin Anas

Di antara ujian yang dideritanya pada tahun 146 H. adalah Khalifah Abu Ja’far melarangnya menyampaikan hadis yang berbunyi, “Tidak ada thalak bagi orang yang dipaksa.” 

Diam-diam, ada yang mananyakan kepada Imam Malik tentang hadits tersebut, hal ini mendorong sang Imam menyampaikan hadits ini ke khalayak. Mendengar demikian Ja’far bin Sulaiman, Gubernur Madinah memukul Imam Malik 30 kali, dalam riwayat lain lebih 30 kali dan ada yang mangatakan 70 kali, serta ada pula menyebutkan lebih dari itu. Sebagian perawi menyebutkan, penyebab Imam Malik dipukul dikarenakan fatwa, bahwa pengangkatan Abu Ja’far sebagai Khalifah tidak sah karena melalui paksaan.

Namun hukuman demi hukuman yang diderita, tidak membuat Imam Malik turun derajat, bahkan sebaliknya. Dirinya makin menjadi lebih terhormat dan masyhur di mata umat. Al-Hunaini teman Malik menuturkan, “Setelah menderita hukuman pukul, tangan Imam Malik menjadi kaku tidak dapat diangakat. Demi Allah, setelah ia dipukul, ia menjadi lebih terhormat dan lebih besar sehingga seakan-akan pukulan itu menjadi perhiasan baginya.” 

Al-Qarawi menguatkan, “Ketika Malik bin Anas dipukul dan disiksa, orang-orang datang menjenguknya ketika siuman, ia berkata, “Aku jadikan kalian saksi bahwa orang yang memukuliku aku maafkan.” Al-Qarawi melanjutkan, “Pada hari kedua, kami kembali menjenguk. Ternyata ia sudah dapat berdiri, lalu kami ucapkan sesuatu yang telah kami dengar darinya. Dan kepadanya kami berkata, ‘Engkau telah menderita seperti ini.’ Ia bertutur, “Kemarin aku takut meninggal lalu aku berjumpa dengan Rasulullah, dimana aku sangat malu kepada beliau jika sebagian muslim masuk neraka lantaran aku.” 

Al-Mutharrif berkomentar, “Aku dapati bekas cambukan di punggung Malik, aku telah memeriksanya dan nampaknya saat meraka mencambuknya, mereka membuka baju Imam Malik sehingga ia dapat meluruskan sorbannya karena babak belur pada pundaknya. Imam Malik sangat malu pada dirinya, saat pakaian yang menutupi dada dan pahanya terlepas akibat cambukan. Terbukanya paha lebih berat baginya daripada cambukan yang ia derita, ia lebih merasa sakit karena dadanya kelihatan ketimbang karena cambukan.”