Tampilkan postingan dengan label imam nawawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam nawawi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

Keutamaan Mengulang-Ulang Bacaan (Muraja'ah)

Seringkali ketika akan menyampaikan suatu permasalahan yang terkait dengan hukum syariah saya membaca kembali buku-buku atau artikel yang terkait tentangnya. Takut-takut pemahaman sebelumnya salah. Jadi saya mempelajarinya kembali guna mencari jalan selamat. Dengan cara itu saya memperoleh dua manfaat: Pertama, menyegarkan, menambahkan atau meluruskan kembali pemahaman saya. Kedua, mendapatkan keselamatan dalam bertutur kata.

Saya dapati di dalam sejarah kehidupan para ulama, meskipun sudah dikenal dengan keilmuan dan kepakarannya, para ulama tidaklah malu untuk mengulang-ulang pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Meskipun mereka sudah hafal hadits-hadits, sudah pernah membaca buku Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin, Tafsir Ibnu Katsir, dan banyak buku lainnya, mereka masih saja mengulang-ulang untuk membaca buku-buku itu. Tidak sedikit di antara mereka telah mengulang-ulangnya hingga puluhan kali bahkan ratusan kali.

Gholib bin Abdirrahman bin Gholib Al-Muhaariby telah membaca Shahih Al Bukhari sebanyak 700 kali.

Al-Muzani berkata: Aku telah membaca kitab Ar Risalah (karya Imam Asy-Syafi’i) sejak 50 tahun lalu dan setiap kali aku baca aku menemukan faidah yang tidak ditemukan sebelumnya.

Al-Hafizh Burhanuddin Al-Halabi pernah membaca Shahih Al-Bukhari lebih dari 60 kali, dan Shahih Muslim 20 kali, di luar bacaan beliau semasa masa belajar atau dari bacaan orang lain (yang beliau dengar). (Adh-Dha’ul Lami’, As-Sakhawi 1/141)

Al-Hafizh Sulaiman bin Ibrahim Al-Alawi membaca ulang Shahih Al-Bukhari lebih dari 280 kali dengan membaca, mendengar atau dibacakan. (Thabaqatul Khawash, Syihab Ahmad Asy-Syarji)

Al-Fairuz Abadi membaca kitab Shahih al-Bukhari lebih dari 50 kali. (Fihrizul Faharis wal Atsbat, Al-Kattani)

Imam An-Nawawi ketika menulis biografi Imam Abdul Qadir bin Muhammad Al-Farisi berkata, Al-Hafizh Al-Hasan As-Samarandi membaca Shahih Muslim lebih dari 30 kali. Dan Abu Sa’id Al-Buhairi membaca Shahih Muslim di hadapannya lebih dari 20 kali. (Syarhul Muslim, An-Nawawi, 1/8)

Apa yang tersebut di atas menunjukkan bahwa mengulang-ulang membaca buku yang bermanfaat merupakan amaliah para salafus saleh. Maka, mari kita amalkan amaliah ini, semoga ilmu kita bertambah keberkahannya dan kemanfaatannya.

Jumat, 20 Maret 2015

Jomblo tapi Bahagia

Alhamdulillah saya sudah pernah menamatkan membaca kitab Riyadhus Shalihin dan Al Adzkar karya Imam Nawawi rahimahullah. Seringkali ketika saya membacanya, saya mengingat sejarah kehidupan Imam Nawawi. Membuat saya terkesima dengan pencapaian yang telah beliau raih. Usia 42 tahun beliau wafat. Usia yang tergolong masih muda bila dibandingkan kebanyakan ulama pada umumnya. Namun keilmuan beliau sungguh luar biasa banyaknya. Hal ini ditunjukkan dengan karya tulis beliau yang sangat banyak dan berjilid-jilid tebalnya. Tidak hanya itu, hampir semua karya beliau menjadi rujukan utama para ulama dari zamannya hingga kini. Membuktikan dari segi keilmuan, kepakaran beliau sudah tidak diragukan lagi.

Mengenai diri beliau, secara singkat dapat kita baca dari keterangan berikut ini:
Imam Adz-Dzahabi mengatakan, "Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertakwa, merasa cukup dengan apa yang ada, menjaga diri dari yang haram, memiliki perasaan selalu merasa di awasi Allah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan tempat tidur beliau hanyalah kulit yang disamak."

Abul Abbas bin Faraj berkata, "Syaikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih tiga tingkatan yang mana satu tingkatan saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu yang dalam dan luas. Tingkatan kedua adalah zuhud yang sangat. Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma'ruf nahi munkar."

Ibnu Al-Aththar berkata, "Guru kami, An-Nawawi, di samping selalu bermujahadah, menjaga diri dari yang diharamkan, senang mendekatkan diri kepada Allah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafal banyak hadits, bidang-bidangnya, rijalnya, dan ma'rifat shahih dan dhaif-nya. Beliau juga seorang imam dalam madzhab fikih."

Ibnu Al-Aththar juga berkata, "Guru kami, An-Nawawi, menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan, beliau terus dalam menelaah dan menghafal."

Rasyid bin Muallim berkata, "Syaikh Muhyiddin An-Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumnya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah-buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur. Beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur."

Quthbuddin Al-Yuniny berkata, "Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, menjaga diri dari yang diharamkan, ahli ibadah, dan zuhud."

Syamsuddin bin Fakhruddin Al-Hanbaly berkata, "Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat menjaga diri dari yang diharamkan dan zuhud."

Imam Nawawi hingga akhir hayatnya tidak menikah. Namun beliau menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Beliau benar-benar mewakafkan usianya untuk berdzikir kepada Allah, menuntut ilmu, mengajar, dan menulis kitab tanpa ada yang menghalangi, tanpa ada yang menakut-nakutinya. Usianya yang singkat benar-benar berkah. Ilmunya pun kemudian menjadi berkah. Hingga kini karya-karyanya telah menjadi amal jariyah bagi beliau.

Sahabatku, kesendirian anda janganlah anda tangisi. Karena bisa jadi kesendirian anda saat ini jauh lebih bermanfaat bagi anda dan orang lain. Kesendirian Anda maupun kebersamaan Anda bersama pasangan hidup Anda, adalah ujian bagi Anda. Sebagaimana juga mereka yang telah memiliki anak maupun yang belum memiliki anak; sama-sama sedang di uji Allah. Yang satu diuji dengan sifat amanah, dan yang kedua diuji dengan sifat sabar. Isilah waktu-waktu anda dengan kesibukan yang bermanfaat. Jauhkan diri anda dari maksiat. Tutuplah hari-hari anda dengan kebahagiaan. Semoga Allah memberkahi hidup anda.

Selasa, 17 Maret 2015

Senantiasa Hidup Berkat Buku yang Ditulis

Imam Syafi'i berkata tentang Imam Laits bin Sa'd bahwa Imam Laits lebih fakih ketimbang Imam Malik.

Imam Syafi'i berani berkata demikian karena beliau telah berguru kepada kedua ulama tersebut. Dari sana beliau mampu menilai mana yang lebih fakih di antara keduanya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah Imam Laits yang dikatakan Imam Syafi'i sebagai ulama yang lebih fakih ketimbang Imam Malik? Mengapa beliau tidak termasuk di antara Imam Madzhab fikih yang ada hingga sekarang ini?

Imam Laits adalah ulama besar yang tinggal di Mesir. Beliau adalah ahli hadits, fikih, ushul fikih, dan tafsir. Sekaligus pedagang yang kaya raya namun hidup zuhud dan wara. Walaupun dikenal sebagai ulama yang fakih namun sayangnya beliau tidak menulis satupun buku. Kalaupun ada karya tulis yang dinisbatkan kepada beliau, itupun ditulis oleh murid-murid beliau dan itupun sangat sedikit jumlahnya. Pemikirannya yang besar hanya bisa didapat dari buku-buku yang dikutip secara terpisah-pisah sehingga seringkali tidak dapat menampilkan pemikirannya secara utuh dan konfrehensif.

Berbeda dengan Imam Malik yang rajin menulis dan pemikirannya juga banyak dibukukan oleh para murid dan pengikutnya. Sehingga namanya terus dikenang sebagai salah satu Imam fikih paling terkemuka sepanjang sejarah.

Begitupun dengan imam madzhab fikih yang lainnya, mereka semua dikenal karena masih adanya pemikiran mereka yang tersimpan dalam buku yang mereka dan murid-muridnya tulis. Buku-buku seperti itu masih saja terus ditulis dengan ijtihad yang diambil dari pokok-pokok fikih imam madzhab. Para ulama hingga kini berlomba-lomba menulis buku terkait dengan madzhab yang dianutnya.

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Al Ghazali, Imam Nawawi, dan ulama-ulama lainnya, nama-namanya begitu dikenal dalam sejarah. Mereka akan selalu hidup di benak sanubari kaum muslimin berkat karya-karya yang telah mereka tulis.

Jumat, 06 Maret 2015

Israel dan Dunia Barat Mencuri Manuskrip Kuno dari Dunia Islam

Ternyata Israel dibalik pencurian manuskrip kuno Irak. Salinan naskah kuno tersebut pada awal mulanya diselundupkan ke luar Irak saat terjadinya invasi militer Amerika ke Irak. Sebagaimana dikatakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed ben Helli, "Irak telah mengalami pencurian terbesar naskah dan harta bersejarah, katanya seperti dikutip Al Arabiya, senin (4/6/2012). "Israel ada hubungannya dengan pencurian ini."

Mengapa Israel mencuri manuskrip kuno ini? Menurut para arkeolog, arsip Yahudi Irak mengandung hampir 3000 dokumen dan 1700 barang antik di era kaum Yahudi menjadi budak di Irak selama masa penawanan bangsa Babilonia. Koleksi ini juga terdiri atas barang-barang milik orang Yahudi yang tinggal di Irak.

Di antara item yang paling penting dalam koleksi adalah salinan tertua dari kitab Talmud dan Perjanjian Lama. Para ahli menambahkan bahwa Israel tertarik untuk mendapatkan naskah untuk membuktikan klaim mereka bahwa orang Yahudi telah membangun Menara Babel, sebagai bagian dari usahanya untuk memutarbalikkan sejarah Timur Tengah demi kepentingan mereka.http://english.alarabiya.net/articles/2012/06/04/218618.html

Saya sangat sedih mendengar kabar ini. Israel memang tidak henti-hentinya melakukan berbagai tindak kejahatan demi keberlangsungan hidup mereka. Ketika naskah kuno itu ada pada mereka, mereka bisa menggunakannya untuk kepentingan mereka. Mereka mengatakan tentang keistimewaan mereka, padahal sejarah membuktikan tidak ada yang istimewa tentang mereka. Tapi karena kita tidak memiliki bukti sejarah, akhirnya kita tidak dapat membuktikannya kecuali hanya dari mulut ke mulut saja.

Apakah manuskrip kuno itu milik mereka meskipun ada kaitannya tentang agama yang mereka anut? Mereka tidak bisa seperti itu. Karena manuskrip itu sudah sejak lama berada di tangan Irak sebelum Israel itu berdiri. Sudah sangat banyak manuskrip kuno (lebih khusus tentang Islam) yang dicuri oleh Eropa dan Amerika saat mereka menjajah negara-negara Islam. Tidak heran bila kemudian ada sejarah yang hilang dalam hidup kita. Bila kita harus meneliti sejarah kita, maka terpaksa kita harus berkiblat ke Barat yang mungkin saja sejarah itu sudah di acak-acak sedemikian rupa. Salah satu kitab Islam yang manuskrip aslinya ada di Barat di antaranya Al Adzkar karya Imam Nawawi (di Dublin Finlandia), Fawa’id fi Naqd al Asanid, karya Hafidz as Shuri (di London Inggris), dan Majmu Fatawa karya Imam Ibnu Taimiyah (di Berlin Jerman).

Koran Sarq Al Ausath (14/3/2004) menyebutkan, ada 15.000 manuskrip Arab yang berada di perpustakaan museum Inggris. Prof. Dr. Muhammad Isa as Shalihiyah menyatakan, “Lebih dari 30 dari 72 ruangan yang berada di museum Inggris berisi peninggalan Mesir yang dicuri. Begitu juga di Prancis, walau tidak sebanyak itu.” Pernyataan Muhammad itu tertuang di dalam bukunya, Taghrib Turats al Arabi Baina ad Diblumasiyah wa at Tijarah (Pembaratan Karya Klasik Arab, antara Diplomasi dan Perdagangan).

Dari berita di atas, sudah sangat jelas terbukti jika Israel membonceng Amerika ketika menginvasi Irak. Mungkin, yang lebih punya kepentingan itu Israel ketimbang Amerika. Buktinya, harta karun sejarah yang sangat mahal harganya itu berada ditangan mereka, bukan ditangan Amerika. Amerika hanyalah boneka yang dimainkan Israel untuk mencuri harta karun tersebut.

Sabtu, 24 Januari 2015

Ikhwanul Muslimin yang Saya Kenal (2)

Mungkin buku wirid doa dan dzikir yang paling banyak dibaca aktivis dakwah adalah Al Ma'tsurat yang disusun Imam Hasan Al Banna. Tidak hanya kalangan harokah Ikhwanul Muslimin, tapi juga harokah-harokah lainnya. Saya pernah membaca ust. Ismail Yusanto, juru bicara HTI juga mengamalkan wirid Al Ma'tsurat.

Al Ma'tsurat pada hakikatnya adalah sebuah kitab yang mencakup banyak doa dan dzikir, tidak hanya wirid pagi dan petang. Di dalam Al Ma'tsurat Imam Hasan Al Banna membuat lima pembahasan:

Qismul Awwal (bagian pertama), Al Ustadz Al Banna memberi judul Al Wazhiifah, yaitu berisi wirid pagi dan sore yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. Inilah yang umumnya beredar dan manusia mengenal dan menyebutnya dengan Al Ma’tsurat. Dan, ini pula yang menjadi pembahasan kami dalam buku ini.

Qismuts Tsaani (bagian kedua), berjudul Al Wirdul Qur’aniy (wirid Al Quran), yaitu berisi wirid-wirid berasal dari ayat-ayat pilihan dari Al Quran.

Qismuts Tsaalits (bagian ketiga), berjudul Ad’iyah Al Yaum wal Lailah (doa-doa sehari-hari siang dan malam), seperti doa bangun tidur, doa berpakaian, dan lainnya.

Qismur Raabi’, (bagian keempat) berjudul Al Ad’iyah Al Ma’tsurah fi Haalat Mukhtalifah (doa-doa ma’tsur pada berbagai keadaan).

Bagian kelima, adalah Wirdul Ikhwan (wirid Al Ikhwan), yaitu wirid-wirid ma’tsur yang anjurkan untuk dibaca oleh para aktifis Al Ikhwan Al Muslimun. Di dalamnya terdapat doa rabithah, dia bukan doa ma’tsur melainkan susunan Al Ustadz Hasan Al Banna sendiri, maka jangan sampai ada yang terkecoh.

Semua inilah Al Ma’tsurat itu. Cukup banyak dan panjang, dalam kitab aslinya –khususnya penerbit Maktabah At Taufiqiyah- ada pada hal. 371 – 413, alias memakan 42 halaman dari kitab Majmu’ah Rasail. Sedangkan Al Ma’tsurat yang saat ini beredar dipasaran adalah hanya pada qismul awwal (bagian pertama) saja, yakni terdapat pada hal. 379-388 (hanya sembilan halaman, sudah mencakup wazhifah sughra dan kubra). Mungkin tujuannya biar lebih praktis dan mudah dibawa kemana-mana.

Saudara-saudara saya dari kalangan salafi mengkritik wirid-wirid Al Ma'tsurat karena mencantumkan hadits-hadits lemah, bilangan-bilangan bacaan, misalnya dibaca 3 kali, dibaca 7 kali, dan doa robithoh yang menurut mereka bid'ah yang berasal dari tarekat hashafiyah.

Saya pernah dua kali membaca kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi. Kitab ini boleh dibilang kitab induk doa dan dzikir karena memuat banyak sekali doa dari A sampai Z. Saya dapati wirid-wirid di dalam Al Ma'tsurat ada di dalam kitab tersebut. Kalaupun saudara-saudara saya 'membid'ahkan' Al Ma'tsurat, mereka juga seharusnya 'membid'ahkan' kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi. Tapi tampaknya tidak mereka lakukan. Mungkin hal ini terjadi karena nama Imam Hasan Al Banna tidaklah sebesar nama Imam Nawawi dalam segi keilmuan seperti penguasaan hadits.

Sedangkan mengenai doa robithoh menurut saya tidak ada yang salah di dalamnya. Doa ini tidak ada salahnya dibaca dan Imam Hasan Al Banna sendiri tidak sedang berdusta dengan mengatakan bahwa doa ini berasal dari Rasulullah Saw. Kalaupun doa ini berasal dari tarekat, maka harus dilihat isi dan maknanya, apakah ada yang menyimpang atau tidak. Kenyataannya isi doa ini sama sekali tidak menyimpang dari syariat.

Al Ma'tsurat telah menggambarkan kepada saya bahwa gerakan Ikhwanul Muslimin pada hakikatnya adalah gerakan rabbani. Gerakan yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Gerakan ini bukan semata gerakan pemikiran, tetapi juga gerakan tazkiyatun nafs dengan membiasakan diri membaca wirid-wirid yang ma'tsur. Kader-kadernya tidak hanya berilmu tetapi juga dekat dengan Allah Swt. Tidak hanya fakih tapi juga sufi dalam hakikat yang sebenarnya.