Tampilkan postingan dengan label Umar bin Abdul Aziz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umar bin Abdul Aziz. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Para Pembaharu Islam (Bag. 1)

Sedikit sekali saya membaca sejarah para ulama besar yang hidup kisaran abad ke 15 M ke atas. Hal ini mungkin terjadi karena sejarah tersebut tidaklah populer seperti sejarah salafus saleh. Sehingga kemudian para penulis kebanyakan tidak mengangkatnya dalam karya-karya tulis mereka. Atau hal ini semakin menunjukkan kemunduran peradaban Islam sedikit demi sedikit. 

Bila boleh saya kumpulkan ulama-ulama dan tokoh-tokoh mujadid, sebagaimana sabda Rasulullah, hadir setiap 100 tahun sekali. Maka, saya akan memilih tokoh-tokoh tersebut sebagai berikut (sejak diluar zaman sahabat). Kurun pertama, saya memilih Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Karena beliau adalah bintang kekhalifahan Bani Umayah, terkenal dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kesalehannya. Beliaulah yang memerintahkan para ulama, dikomandoi oleh Imam Ibnu Zuhri, untuk membukukan hadits-hadits Nabi. Kisah-kisah tentang keadilan dan kebijaksanaan beliau begitu banyak dan populer di masyarakat sehingga tidak begitu sulit untuk menelusuri sejarah kehidupan beliau yang mirip dengan kakek buyutnya "Umar bin Khaththab".

Kurun kedua, saya memilih Imam Syafi'i rahimahullah mengingat jasa beliau yang besar dalam ilmu fiqh dan ushul fiqh. Beliau berjasa dalam "mendamaikan" pemikiran ahlur ra'yu yang diwakili Imam Abu Hanifah dan ahlul hadits yang diwakili Imam Malik. Beliau juga yang pertama kali menyusun buku tentang ushul fiqh, yakni kitab Ar Risalah. Seorang ulama bernama Hilal bin al-A’la memuji kehebatan Imam Syafi'i dalam bidang hadis: "Para ahli hadits bagaikan anak-anak Imam al-Syafi’i, beliau pembuat kunci untuk mereka itu." Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, ”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah.”

Kurun ketiga, saya memilih Imam Bukhari rahimahullah karena berkat jasa dan kegigihan beliau dalam mengumpulkan hadits-hadits shahih, sehingga kita dapat mengenal hadits-hadits shahih. Dari 600.000 hadits yang beliau hafal, kemudian beliau saring lagi hanya tinggal 2.602 hadits dalam kitabnya yang kesemuanya merupakan hadits shahih. Usaha pengumpulan hadits shahih ini kemudian diikuti oleh murid sekaligus sahabatnya, yakni Imam Muslim. Sehingga apabila disebut shahihain atau muttafaqun alaih, maka itu artinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama telah bersepakat bahwa kitab Shahih Al Bukhari adalah kitab hadits yang paling tinggi nilainya dibanding kitab hadits yang lain.   

Kurun keempat, saya memilih Imam Ath-Thabari karena keahlian beliau dibidang tafsir Al Quran dan sejarah. Beliau termasuk jajaran ulama yang paling produktif dalam menulis. Karya beliau yang terkenal adalah yang dikenal dengan nama "Tafsir Ath-Thabari". Kitab tafsir ini adalah tafsir bil ma'tsur terlengkap dan yang terbaik sistematikanya sehingga banyak dijadikan rujukan oleh kaum muslimin dari dulu hingga sekarang. Termasuk salah satunya adalah Imam Ibnu Katsir yang menulis kitab Tafsir Ibnu Katsir. Karya beliau yang terkenal lainnya adalah yang dikenal dengan nama "Tarikh Ath-Thabari". Kitab ini adalah kitab yang membahas sejarah mulai dari zaman Nabi Adam hingga zaman sang penulis. Bisa Anda bayangkan berapa halaman yang beliau habiskan untuk menulis buku itu. Yaitu 6 jilid tebal sedangkan tafsirnya ada 16 jilid tebal. 

Kurun kelima, saya memilih Imam Al Ghazali rahimahullah. Walaupun beliau seorang sufi, tapi sangat memegang teguh syariat. Sehingga tasawufnya memiliki nilai yang tinggi dan murni. Untuk menempuh jalan Allah maka haruslah melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang Islam. Para sufi yang mengabaikan syariat adalah orang-orang yang sesat. Di zaman beliau umat mulai mengalami kemunduran, apalagi sejak dihancurkannya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad oleh tentara Mongol. Menurut beliau kemunduran itu lebih banyak disebabkan kemunduran spiritual atau minimnya nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sehingga mengakibatnya maraknya kriminilatas dan kerusakan moral, serta lemahnya semangat jihad. Lantas kemudian beliau berjuang untuk membangkitkan kesadaran ruhani tersebut. Meskipun demikian perjuangannya tersebut bukan tanpa hambatan, karena perjuangan beliau itu berarti akan berhadapan langsung dengan kaum batiniah, para ahli filsafat, syiah, dan pemikiran menyimpang lainnya. 

Bersambung....

Jumat, 30 Januari 2015

Hari ini Harus Lebih Baik Daripada Hari Kemarin

"Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini lebih sama dengan hari kemarin maka dia orang yang merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin maka dia orang yang hina."

Perkataan di atas disampaikan Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, Khalifah yang dikenal karena kesalehan, keadilan, dan kebijaksanaannya.

Walaupun berkuasa hanya sebentar, yakni 2,5 tahun tapi sudah mampu melakukan terobosan-terobosan penting dalam ilmu dan amal. Dalam bidang ilmu, salah satunya adalah, beliau memelopori pengumpulan hadits. Hal ini mirip seperti apa yang dilakukan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab, yang memelopori pengumpulan ayat-ayat Al Quran dalam satu mushaf. Sehingga Umar bin Abdul Aziz sering dijuluki Umar II.

Sedangkan dalam bidang amal khususnya amal sosial, Umar telah mampu mendongkrak perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Beliau telah melampaui pekerjaan yang dilakukan Khalifah-Khalifah Bani Umayah yang berkuasa melebihi waktunya berkuasa. Dua setengah tahun masanya berkuasa adalah masa-masa emas Bani Umayah. Standar hidup dan perekonomian rakyat begitu tinggi sehingga jumlah orang kaya jauh lebih banyak daripada orang miskin. Hal ini ditandai dari sedikitnya orang yang mau menerima zakat karena mereka yang sebelumnya mustahik, kini sudah menjadi muzakki. Para pemuda yang belum menikah karena alasan ekonomi, oleh pemerintah diberikan dana pernikahan plus rumah, kendaraan, dan modal usaha yang cukup besar untuk masa depan keduanya.

Istri Umar menggambarkan Umar sebagai orang yang takut kepada Allah, zuhud, dan wara. Jarang ditemui pemimpin seperti ini dimasa sebelum dan sesudahnya. Kekuasaannya yang membentang dari Asia hingga Afrika tidak menjadikannya pemimpin yang sombong dan arogan. Beliau dekat dengan rakyat, berpakaian sederhana, dan jauh dari kemewahan. Tapi cerita beliau sebelum berkuasa dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. Bagaimana seorang yang sebelumnya dikenal sebagai sosok pangeran yang hidup dalam kemewahan kini hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung "menderita" karena kekuasaan yang diembannya. 

Hijrah menjadi lebih baik, itulah yang menjadi pilihan Umar saat ini. Kekuasaan yang diembannya membuatnya berpikir untuk hidup lebih baik; lebih takwa, lebih takut kepada Allah. Karena dirinya akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah dengan beban tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelumnya. Beliau kini tidak hanya memimpin dirinya sendiri dan keluarganya, tapi juga memimpin jutaan rakyatnya.

Suatu hari istri Umar bertanya kepada Umar, "Ya Suamiku, apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?"

Umar menjawab, "Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku."

Itulah makna hijrah secara hakiki; menjadi insan yang lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Seseorang dikatakan berhijrah bila telah memenuhi 2 syarat: Pertama, ada sesuatu yang ditinggalkan. Kedua, ada sesuatu yang dituju. Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Yaitu meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat menuju keadaan yang lebih baik, positif, dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Perubahan pada diri Umar setelah menjabat Khalifah telah menjadi bukti nyata atas perkataan beliau di atas. Semoga kita dapat memetik pelajaran dari kisah hijrahnya Umar di atas.

Kamis, 22 Januari 2015

Keniscayaan Hadirnya Pemimpin Islam Ditengah Kezaliman

Lahirnya seorang pemimpin yang saleh, adil, dan bijaksana ditengah kezaliman adalah sebuah keniscayaan. Ditengah kezaliman Raja-Raja Bani Umayah, lahirlah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Ketika mengetahui Kekhalifahan dipimpin oleh pemimpin yang adil, Imam Ja'far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, pemuka dari kalangan Bani Alawi menyerukan kaumnya agar memenuhi seruan Amirul Mukminin, menghentikan pertumpahan darah, dan menjauhi taqiyah.

Ditengah-tengah dominasi Eropa dalam menguasai Yerusalem dan Masjidil Aqshanya, lahirlah sosok panglima yang pemberani, mujahid yang saleh, dan sultan yang adil; Shalahuddin Al Ayyubi. Di mana beliau mampu menyusun kekuatan dan menyatukan umat Islam saat itu guna meraih kemenangan dalam menghadapi kaum Salibis yang keji dan bengis. 

Ditengah kemewahan dan kemegahan kekhalifahan Utsmani lahir khalifah yang saleh, zuhud sekaligus panglima perang yang pemberani, sang penakluk Konstantinopel; Muhammad II yang dijuluki "al fatih".

Tidaklah terlalu sulit untuk menyebutkan satu persatu. Tapi akan menjadi panjang ceritanya. Yang ingin saya tekankan disini, berbaik sangkalah kepada Allah. Karena Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya dan Allah berjanji akan menganugerahkan  kekuasaan kepada orang yang beriman. Mari kita berdoa kepada Allah agar diberi seorang pemimpin yang saleh dan adil. Niscaya akan dikabulkan doa itu. Bisa jadi disaat yang tidak akan lama. Bisa jadi juga nanti baru anak cucu kita yang merasakannya. Biarlah, karena seorang pemimpin yg saleh dan adil adalah warisan berharga bagi kaumnya, melebihi harta dan tahta.