Tampilkan postingan dengan label teori evolusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori evolusi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2015

Bacalah dengan Menyebut Nama Tuhanmu

Lebah madu memiiki karakteristik yang benar-benar unik. Keunikan itu telah menjadi diskusi dan penelitian banyak ilmuwan dari zaman dulu hingga zaman sekarang. Seolah dari keunikan tersebut ingin menyebutkan sebuah keajaiban. Yaitu keajaiban seekor binatang. Ya, hanya seekor binatang dari jutaan bahkan milyaran binatang lainnya. Apa keunikan dari lebah madu? Saya mencatat setidaknya ada lima keunikan

Pertama, lebah madu membangun sarangnya dengan sangat cermat, efisien dan efektif. Sarangnya berbentuk heksagonal (segi enam). Kita layak bertanya, mengapa harus heksagonal? Bukan segitiga atau segi empat atau yang lain misalnya? Hal ini menjadi pertanyaan serius yang kemudian hari diteliti dan dijawab oleh sejumlah ilmuwan. Ahli matematika memberikan alasannya: "Struktur segi enam adalah bentuk geometris yang paling cocok untuk memanfaatkan setiap area unit secara maksimum". Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat area yang tidak terpakai, sehingga lebih sedikit madu yang bisa disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya.

Banyak inspirasi yang keluar dari sana (heksagon). Salah satu orang yang meneliti segi enam ini adalah George Saa, putra Indonesia yang menulis paper Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Saa menghitung hambatan antara dua titik dari suatu rangkaian resistor tak berhingga yang membentuk segitiga dan heksagon. Berkat hasil penelitiannya inilah Saa berhasil menyabet medali emas Nobel Fisika yunior tingkat Internasional.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia'." (QS. An Nahl: 68).

Kedua, lebah madu tidak mungkin membangun sarangnya seorang diri, dia harus dibantu dengan yang lain. Artinya, untuk membangun sarang lebah yang dapat memuat 80.000 lebah diperlukan kerja kolektif. Lebah mencontohkan persaudaraan dan kerjasamanya yang efektif kepada kita.

Ketiga, lebah hanya memakan makanan yang halal dan baik, yaitu nektar dan serbuksari bunga. Sehingga tidak heran yang dihasilkannya pun akan baik atau bahkan sangat baik, yaitu madu (keempat). Dari berbagai hasil penelitian, madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon. Kandungan-kandungan itu berfungsi sebagai "obat untuk manusia". "…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (An Nahl: 69). Pada kesempatan yang lain, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa madu itu beragam jenis dan warnanya. "…Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya…" (QS. An Nahl: 69).

Kelima, lebah madu bergerak berdasarkan perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah.." Artinya gerak gerik lebah bukan instink yang muncul tiba-tiba dan kebetulan, melainkan bersumber dari kekuatan Allah yang menguasai dan menciptakan alam semesta ini. Allah mewahyukan demikian, bukan berarti yang diwahyukan hanya sebatas lebah madu saja. Lebah madu ditampilkan karena contoh yang paling efektif kecerdasan seekor binatang yang telah diakui oleh kebanyakan orang pada umumnya. Allah Swt. ingin meluruskan bahwa tidak mungkin kecerdasan lebah madu itu muncul secara tiba-tiba melalui peristiwa yang disebut kebetulan. Kecerdasan itu berasal dari Allah yang mewahyukan kepada lebah untuk bertindak demikian.

Setelah menjelaskan tentang lebah madu, ayat itu diakhiri dengan, "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."

Ilmuwan-ilmuwan yang sombong dan bingung
Para ilmuwan Barat khususnya sekalipun ateis merasa "takjub dan hormat" dengan fenomena-fenomena seperti itu. Mereka sering menyebutnya sebagai "keajaiban". Tapi jelas, rasa takjub dan hormat itu tidak pernah keluar dari gelanggang materialisme. Keadaan ini hampir tak ada bedanya dengan Abu Jahal atau Abu Lahab, dua tokoh Quraisy yang disegani, yang merasa kagum dan takjub dengan ayat-ayat Al Quran yang didengarnya. Namun, karena kesombongannya, mereka tetap saja menolak menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Allah sebagai Tuhan yang Esa. Nabi Muhammad pernah menerangkan definisi kesombongan kepada kita, dalam sebuah haditsnya: "menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain."

Para ilmuwan itu, sekalipun mereka melihat bukti-bukti nyata yang menggugurkan argumen-argumen mereka, tetapi tetap saja mereka menolaknya; "Segala bentuk justifikasi yang menyeret kita pada bentuk selain materialisme kita tolak!" Terbayang-bayang dalam benak mereka bagaimana agama digunakan untuk menindas banyak ilmuwan seperti Galileo Galilei, Copernicus, dan orang-orang kritis yang sezaman. Alfred Tang dalam artikelnya yang berjudul Science & Theology: An Integrative Approach, 2003, berkata: "Para astronom pada zaman sekarang sering menggunakan penganiayaan pada Galileo dan Copernicus sebagai contoh menakutkan tentang gereja sebagai tokoh jahat yang merintangi kemajuan ilmiah."

Bayangan-bayangan ini membuat mereka trauma. Mereka tidak lagi memandang benar atau tidak. Selama kebenaran itu berkonotasi tentang agama, mereka langsung menolaknya. Apapun itu agamanya. Mereka tidak peduli ada agama lain yang tidak sama dengan agama yang sebelumnya mereka anut. 

Pernyataan ahli biologi evolusionis terkenal dari Jerman, Hoimar Von Dithfurt, merupakan contoh nyata pemahaman materialis yang fanatik. Setelah mengutarakan contoh susunan kehidupan yang sangat kompleks, selanjutnya ia mengungkapkan kemungkinan kehidupan muncul secara kebetulan, padahal sudah terbukti bahwa alam ini tidak tercipta secara kebetulan: "Mungkinkah keserasian seperti itu terjadi secara kebetulan? Inilah pertanyaan mendasar dari keseluruhan evolusi biologis. Menjawabnya dengan "Ya, mungkin" berarti membuktikan kesetiaan pada ilmu alam modern. Secara kritis dapat dikatakan, mereka yang menerima ilmu alam modern tidak punya pilihan selain mengatakan "ya", karena dengan ini dia akan dapat menjelaskan fenomena alam melalui cara-cara yang mudah dipahami dan merujuk pada hukum-hukum alam tanpa menyertakan campur tangan metafisis. Bagaimanapun, menjelaskan segala sesuatu dengan hukum alam, yakni konsep kebetulan, merupakan pertanda bahwa tidak ada lagi jalan baginya. Karena, apa yang dapat dilakukannya selain mempercayai konsep kebetulan?" (Hoimar Von Dithfurt, Im Anfang War Der Wasserstoff (Secret Night of the Dinosaurs), Vol 2, p. 64 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Sekalipun banyak fakta yang berlawanan dari "teori kebetulan ini". Namun anehnya, masih saja mereka tetap mempertahankannya sampai sekarang. Bagaikan hipotesis ptolomeus yang mendekati kehancurannya: setiap kali timbul kesulitan, lingkaran lain ditambahkan untuk menyelamatkan teori itu.

Bukan karena tidak ilmiah
Seorang pakar astrobiologi Inggris, Prof. Chandra Wickramasinghe berkata tentang hal ini: "Sejak masa pendidikan untuk menjadi seorang ilmuwan, otak saya benar-benar dicuci agar percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan penciptaan yang 'disengaja'. Pemikiran tentang penciptaan ini harus disingkirkan dengan cara yang menyakitkan. Pada saat ini, saya tidak dapat menemukan argumentasi rasional untuk mengalahkan ajakan mempercayai Tuhan. Kami biasanya memiliki pikiran terbuka; dan sekarang, kami sadar bahwa satu-satunya jawaban logis atas kehidupan ini adalah penciptaan-bukan proses acak dan kebetulan." (Chandra Wickramasinghe, wawancara dalam London Daily Express, 14 Agustus 1981 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com)

Ahli genetika terkenal dari Universitas Harvard, Richard C. Lewontin, mengakui bahwa dia "materialis dulu baru ilmuwan" dengan kata-kata berikut: "Bukan metode dan penemuan-penemuan ilmiah yang mendorong kami menerima penjelasan material tentang dunia yang fenomenal ini. Sebaliknya, kami dipaksa oleh keyakinan apriori kami terhadap prinsip-prinsip material untuk menciptakan perangkat penyelidikan dan serangkaian konsep yang menghasilkan penjelasan material, betapa pun bertentangan dengan intuisi, atau membingungkan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Lagi-pula, materialisme itu absolut, jadi kami tidak bisa membiarkan Kaki Tuhan masuk." (Richard C. Lewontin, The Demon-Haunted World, The New York Review of Books - 9 januari 1997, p. 28 Sebagaimana dikutipwww.harunyahya.com).

Ali Demirsoy salah seorang ahli biologi evolusionis ternama dari Turki berikut ini merupakan contoh nyata untuk melihat tujuan dari penilaian menyimpang akibat keyakinan buta ini. Ilmuwan ini membahas probabilitas pembentukan secara kebetulan sitokrom-C, salah satu enzim terpenting bagi kehidupan: Probabilitas pembentukan rangkaian sitokrom-C mendekati nol. Jadi, jika kehidupan memerlukan sebuah rangkaian tertentu, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki probabilitas untuk terwujud hanya satu kali di seluruh alam semesta. Jika tidak, kekuatan-kekuatan metafisis di luar definisi kita mestilah telah berperan dalam pembentukan tersebut. Menerima pernyataan terakhir ini tidak sesuai dengan tujuan-tujuan ilmu pengetahuan, karenanya kita harus mengkaji hipotesis pertama. (Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Vererbung und Evolution), Ankara: Meteksan Publishing Co., 1984, S. 61 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Penyebab kemunduran sains
Ibnu Taimiyah dalam bukunya Ar Raddu Alal Manthiqiyyun mengatakan bahwa salah satu penyebab kemunduran keilmuwan rasional dalam Islam adalah, ketika para ilmuwan muslim tidak lagi kritis dan tidak mau lagi menguji hipotesis-hipotesis lama. Mereka menerima begitu saja (taqlid) dan menganggap pemikiran guru-guru mereka sudah final dan sempurna. Dalam buku-buku mereka hanya tertulis kutipan-kutipan (manqul) guru-guru mereka. Dapat kita simak contoh-contohnya sebagai berikut: "Kedua filosof ini (Aristoteles dan Plato) adalah pencipta filsafat, asal-usulnya, sekaligus penyempurnanya. Mereka juga terpercaya sedikit dan banyaknya filsafat." (Al Farabi). "Tiada Aristoteles sejak zaman dahulu melainkan keputusan dan penelitian yang dikemukakannya tidak lagi memerlukan tambahan sedikitpun." (Ibnu Sina).

Sekalipun secara alamiah saya kontra terhadap teori evolusi, tapi saya terkesan dengan sikap Michael Ruse Profesor Guelph University – anjing buldognya darwinisme – yang menempatkan penjajahan atas teologi oleh biologi ini dalam perspektifnya ketika dia menuduh rekan darwinis lain bertingkah laku seakan-akan darwinisme sebuah agama. Rustum Roy, seorang ilmuwan di Pennsylvania State University melangkah lebih jauh. Setengah guyon, dia mengancam akan memperkarakan National Science Foundation karena sudah melanggar ketentuan pemisahan antara agama dan negara, sebab membiayai riset pada bidang-bidang ilmiah yang kemudian menjadi agama. Jika mereka benar dan darwinisme makin doktriner, kita mempunyai tontonan menarik, karena yang dijajah kini bukan hanya teologi melainkan juga biologi. (Huston Smith, Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains?, Cet. I 2003, Mizan).

Allah Swt. telah berfirman, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu." Ilmu pengetahuan yang hakiki adalah ilmu pengetahuan yang jujur secara ilmiah. Dan, ilmu yang jujur secara ilmiah tidak mungkin bertolak belakang dari pengakuan terhadap eksistensi Tuhan. Di mana ketika kita mengkaji ilmu, maka kita akan takjub pada kekuasaan Tuhan, dan ketakjuban itu membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

Kamis, 01 Januari 2015

Teori Evolusi Harga Mati!

Entah mengapa, saya selalu memahami teori evolusi dengan cara yang sederhana. Yaitu, kebenaran teori evolusi sangat ditentukan oleh adanya link atau kesinambungan antara satu makhluk dengan makhluk hidup yang lainnya. Dalam hal ini khususnya adalah keterkaitan antara kera dengan manusia. Dalam teori evolusi manusia berkerabatan dengan kera. Taruhlah manusia itu berkerabatan dengan kera, tapi mengapa dalam perkembangannya dari awal evolusi hingga kini terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Yang satu semakin cerdas, yang satunya lagi tetap bodoh. Apakah anda berpikir kera pada zaman sekarang lebih cerdas daripada kera zaman dulu? Sepertinya hal ini menjadi kegalauan kaum evolusionis seperti yang nampak ketika saya membaca artikel ini:http://sains.kompas.com/read/2013/10/31/1751453/Ada.Missing.Link.antara.Simpanse.dan.Manusia.Modern 

Di berita itu tertulis: "Ada missing link untuk melihat relasi antara simpanse (yang dikatakan kerabat terdekat manusia yang masih eksis hingga sekarang) dan spesies manusia modern. Ini menjadi sulit diterangkan sebab tidak sedikit spesies yang sudah punah. "Tapi, yang secara luas ahli-ahli sepakati, kerabat terdekat manusia—yang telah mengalami kepunahan—adalah Neandertal," kata Richard Edward Green, seorang peneliti asal Department of Biomolecular Engineering, University of California-Santa Cruz.

Nah kan, pada awalnya teori evolusi bilang manusia itu berkerabatan dengan kera atau dengan kata lain masih satu nenek moyang, kemudian para pendukungnya bingung karena mata rantai kekerabatannya belum ditemukan dan tampaknya hampir mustahil ditemukan. Lalu mereka, ambil contoh pernyataan di atas, merubah pandangan awal mereka dengan mengatakan seperti perkataan di atas. Apa itu Neanderthal? Sederhana saja, biar ngga ribet, pernah lihat orang papua bugil hanya pakai koteka untuk menutup kemaluannya? Nah, bagi kaum evolusionis, orang-orang seperti itu dianggap sebagai manusia purba. Tapi pada kenyataannya mereka sama seperti kita. Bedanya mereka hidup ratusan ribu tahun yang lalu, hidup dengan peralatan yang terbuat dari tulang belulang, misalnya. Sedangkan kita hidup zaman sekarang dengan peralatan yang canggih. Zaman dulu pakai tombak, zaman sekarang pakai bedil, misalnya. Nah, manusia Neanderthal ini adalah manusia purba yang paling awal ditemukan oleh para arkeolog. Kaum evolusionis terpaksa menggunakan Neanderthal sebagai patokan untuk menentukan sejarah evolusi mereka. Nyatanya, kekerabatan antara kera dengan Neanderthal tetap saja terbentang jarak yang sangat jauh, sama seperti jauhnya kekerabatan kera dengan manusia saat ini. Inilah yang disebut missing link. Atau terputusnya mata rantai. 

Kasus yang lain, aneka pemalsuan dan kebohongan mengenai bukti-bukti rekaan evolusi seperti lukisan khayalan dan berlimpah fosil palsu menambah panjang daftar kejahatan mereka dalam menipu manusia agar percaya pada teori bohong evolusi. Sepertinya pemalsuan masa lalu seperti gambar embrio Haeckel dan manusia Piltdown tidaklah membuat mereka jera. Profesor evolusionis asal Jerman, Reiner Protsch von Zieten, yang beberapa tahun lalu menjadi bintang media massa. Fotonya terpampang di mana-mana bukan lantaran temuan gemilangnya mengenai evolusi, tapi karena penipuan yang dilakukannya sehubungan dengan beragam fosil. Profesor von Zieten pernah mengatakan bahwa manusia setengah kera berusia 50 juta tahun yang dijuluki Adapis telah ditemukan di Swiss. Namun faktanya, fosil monyet itu telah digali di Prancis. Akibat penipuan ini, Terberger, sang arkeolog pembongkar pemalsuan, menggambarkan kerugian yang diderita antropologi akibat pemalsuan Protsch: "Anthropology is going to have to completely revise its picture of modern man between 40,000 and 10,000 years ago" (Antropologi akan diharuskan membenahi sama sekali gambarannya tentang manusia modern antara 40.000 hingga 10.000 tahun yang lalu).

Kaum evolusionis semakin berusaha mencari missing link semakin galau. Sebagian dari mereka tampaknya tidak sabar sehingga melakukan penipuan. Sebagian lagi masih percaya teori evolusi dengan merubah pandangan awal teori evolusi. Bagi mereka, ini yang mereka sebut pembaharuan tapi masih dalam tataran teori evolusi. Bagi saya yang benar mereka itu sedang taklid buta terhadap teori evolusi, bukannya sedang melakukan pembaharuan. Benar atau salahnya teori ini, bukan suatu hal yang aneh jika kemudian mereka menerimanya tanpa mau keluar dari doktrin evolusi. Prof. Steve Jones, seorang evolusionis dari University College London, ketika ditanya, “Bagaimana, jika Teori Evolusi suatu saat dibuktikan keliru?” Lantas dia mengatakan, “Hal itu bagi ilmu pengetahuan sesungguhnya hal yang sama sekali lumrah: Orang punya hipotesa dan orang berupaya menyangkalnya. Jika itu tidak berhasil, maka teori itu mungkin benar. Setiap teori bisa dibantah, juga Newton telah dibantah. Jadi andai saya pernah bertemu manusia Cro-Magnon yang memakai (jam tangan) Rolex, maka saya akan segera membuang Teori Evolusi. Tapi itu belum pernah terjadi pada saya. Karenanya saya akan tetap menerimanya, setidaknya untuk sementara waktu.” 

Cro Magnon hidup puluhan ribu tahun yang lalu, sedangkan jam tangan rolex baru beberapa tahun saja diciptakan. Bagaimana bisa manusia Cro-Magnon memakai jam tangan rolex? Hal itu benar-benar mustahil terjadi. Dengan kata lain sebenarnya Prof. Steve Jones sedang mengatakan, "Teori evolusi itu harga mati meskipun salah!"