Tampilkan postingan dengan label menuntut ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menuntut ilmu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Adakah Sama Orang yang Berilmu dengan yang Tidak?

Saya sering membaca ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran:

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar: 9)

"Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?" (QS. Ar Ra'd: 19)

Ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran dikenal dengan istilah istifham yang berarti mengerti, paham, dan jelas. Maknanya kita tidak perlu bersusah payah untuk menemukan jawabannya karena pada hakikatnya semua dari kita sudah mengetahui jawabannya.

Justru yang perlu kita renungkan adalah tentang sindiran dari ayat ini. Seolah ia mengatakan, "Orang yang berilmu kok kelakuannya sama dengan orang yang tidak berilmu. Apakah kamu benar-benar berilmu?" Sebagai contoh, orang yang mengetahui keutamaan zikir tetapi tidak berzikir. Lantas apa bedanya dengan orang yang tidak mengetahui keutamaan zikir?

Ayat-ayat seperti ini pada intinya mengajak kita untuk merenungi diri kita sendiri, sampai sejauh mana kita mencari ilmu dan sampai sejauh mana pula kita mengamalkannya. Jadi tidak sebatas untuk mengetahui tetapi ia juga mengajak kita mengamalkan apa yang kita ketahui tersebut.


Sabtu, 07 Februari 2015

Dahsyatnya Semangat Belajar Imam Ath-Thabari

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, "Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk mengujikan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari ilmu Arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang ilmu tersebut. Akhirnya, aku katakan kepadanya, Aku tidak bisa bicara, karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah Arudh sedikit pun. Tetapi datanglah besok dan temui aku. Lalu aku pun meminjam Kitab Arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari kitab tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.'' 

Sungguh luar biasa Imam Ath-Thabari mampu memahami ilmu Arudh (tentang syair) hanya dalam waktu semalam!

Setidaknya ada 3 pelajaran yang saya dapatkan dari penuturan beliau di atas: Pertama, beliau tidak mengatakan apa yang beliau tidak ketahui. Maka, beliau pun menjawab tidak tahu ketika seseorang bertanya tentang sesuatu yang belum beliau ketahui. Ini adalah kejujuran sekaligus kerendahan hati beliau. 

Kedua, beliau memberi kesempatan si penanya untuk datang besok. Kata-kata yang keluar dari lisan beliau ini menunjukkan kesungguhan dan tekad yang kuat untuk menguasai ilmu yang ditanyakan si penanya. Setelah itu, beliau benar-benar menghabiskan waktu yang pendek itu untuk memahami ilmu tersebut. Pada saat itu mungkin beliau tidur sebentar atau tidak sama sekali. 

Ketiga, keadaan para ulama yang sibuk dengan ilmunya terutama di zaman keemasan Islam menunjukkan bahwa mereka sangat kaya ilmu. Mereka ibarat tambang yang terus digali dan diambil manfaatnya. Bila memahami satu ilmu saja bisa dikuasai dalam satu malam, bagaimana dengan waktu mereka yang tersisa dalam hidup mereka, berapa banyak ilmu yang pasti telah mereka kuasai? Tidaklah mengherankan jika para ulama pada saat itu seperti ensiklopedia yang berjalan. Mereka menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. 

Selain menguasai sejarah, tafsir Al-Qur'an, fikih, ushul fikih, dan hadits, Imam Ath-Thabari juga menguasai ilmu kedokteran. Pernah suatu ketika beliau meminta seorang dokter untuk mendiagnosa sakitnya. Sang dokter yang diminta malah menjawab, “Sesungguhnya aku tidak lebih pandai dalam ilmu kedokteran dari pada dirimu wahai Imam Besar.” Al Washaya adalah salah satu kitab kedokteran yang beliau tulis.