Tampilkan postingan dengan label imam ibnu al jauzy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam ibnu al jauzy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Nikmatnya Dunia Tak Sebanding dengan Nikmatnya Qona'ah

Pastilah Anda mengetahui betapa sedikitnya kenikmatan duniawi yang diberikan kepada manusia, jika dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh binatang. Makhluk Allah itu tampaknya lebih banyak menerima kenikmatan daripada yang manusia dapatkan. Binatang bahkan memperolehnya dengan tenang, sedangkan Anda mendapatkannya dengan penuh kekhawatiran. Oleh karena itu, jika bagian harta Anda dilipatgandakan seperti yang Anda kehendaki, maka Anda akan bersama kelompok hewan dan binatang itu.(Imam Ibnu Al-Jauzy)

Selalu merasa tidak puas dengan apa yang ada adalah ciri orang yang serakah. Orang seperti itu menghabiskan waktu untuk meraih materi duniawi. Sementara urusan akhirat dia lalaikan. Dia mampu menata dunia yang fana, tetapi tidak mampu menata akhirat yang baqa.

Bila memberi, pelitnya bukan main. Berpikir seribu kali untung-ruginya. Tetapi bila untuk kesenangan pribadinya, tak segan-segan dia habiskan untuk berbuat maksiat. Setelah itu dia baru menyadari hartanya telah berkurang. Padahal dialah yang menghabiskannya sendiri! Begitulah seterusnya, dia terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung. Untuk menambah hartanya yang hilang itu, dia melakukan hal-hal yang diharamkan. Dia gelisah pada urusan duniawi, tetapi sedikit sekali memikirkan urusan ukhrowi. Bila diingatkan, dia menyingkir dan menjauh seolah baru saja mendengar berita buruk.

Ternyata materi duniawi bukanlah ukuran untuk menunjukkan seseorang mulia atau hina. Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, apa bedanya kita dengan kelompok hewan? Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, tidak akan ada keadilan. Orang miskin "menyembah" orang kaya karena kehinaan yang melekat padanya. Bila materi duniawi yang menjadi ukuran, tak ada lagi kasih sayang dan berbagi pada sesama.

Tetapi bila takwa yang menjadi ukuran, para raja pun bisa tunduk pada para hamba dan rakyat jelata! Tidak semua orang kaya bertakwa, tetapi semua orang bertakwa itu kaya. Hidup orang bertakwa penuh dengan qonaah sehingga merasa berkecukupan walaupun miskin harta.

Sedangkan orang yang tidak bertakwa selalu merasa kekurangan walaupun kaya harta. Dia memandang kekosongan, tidak memandang apa yang telah ada padanya. Dia memandang kekurangan, tidak memandang apa yang telah Allah berikan kepadanya.

Sabtu, 25 April 2015

Kemandirian dalam Kesederhanaan

Orang yang cerdas mengatur hidupnya di dunia dengan akalnya. Jika hidup dalam kemiskinan, ia berusaha keras untuk menghasilkan rezeki yang mencegahnya dari penghinaan manusia. Ia juga mengurangi kebergantungannya kepada orang lain dengan cara hidup sederhana. Oleh karena itu, ia hidup tenang dan tak pernah mendengar ocehan manusia yang sampai ke telinganya. Ia hidup dengan harga diri di tengah-tengah mereka. Jika hidup dalam kekayaan, ia menggunakan akalnya untuk tidak berlebihan menggunakan hartanya, khawatir suatu saat ia menghajatkan sehingga membuatnya rendah di mata orang lain. (Imam Ibnu Al-Jauzy)

Saya pernah melihat peminta-minta keluar masuk angkutan umum, bis, atau rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Tubuhnya sehat tetapi menjadi peminta-minta. Tidak malu apalagi terhina. Tetapi di mata orang, martabatnya jatuh, rendah, dan hina. Kenapa tubuhnya yang sehat itu tidak digunakan sebagai modal awal untuk bekerja?

Di pihak lain, saya memiliki seorang tetangga yang sebelah tangannya cacat. Ia hanya mampu menggunakan sebelah tangannya yang satunya lagi. Walaupun begitu dia tetap bersemangat dalam mencari nafkah. Dia tidak pernah meminta-minta bahkan selalu siap menolong jika dimintai bantuan. Orangnya sederhana dan senang beribadah. Semangatnya dalam mencari nafkah, menjadi cambuk untuk diri saya; mengapa orang sehat seperti saya kalah semangatnya dalam mencari nafkah dengan orang yang secara fisik berkekurangan? 

Saya juga melihat di tegah-tengah masyarakat, ada orang kaya yang gemar menghambur-hamburkan hartanya seolah tidak ada lagi hari esok. Atau menggunakan hartanya untuk berbuat maksiat. Saat hartanya habis, ia bisa menjadi orang yang terhina. Teman-teman menjauhinya. Saat miskin itulah dia merasakan jika saat kaya dulu dia tidak pandai bersyukur. Itulah. Seringkali penyesalan datang belakangan.

Sementara orang yang menggunakan akalnya, baik miskin maupun kaya, dia akan hidup sederhana. Dia akan menggunakan hartanya dengan sebaik-baiknya; menginvestasikannya untuk masa depannya dan tidak menghambur-hamburkannya untuk tujuan yang tidak benar. Setiap rezeki yang ia dapat ia syukuri, sebagian ia sedekahkan, bila cukup nisab ia zakatkan. Saat masa susah, ia masih memiliki tabungan untuk menghidupinya. Saat senang, ia tabungkan agar tenang di masa yang akan datang. 

Tidak setiap orang kaya adalah sederhana tapi setiap orang sederhana pasti kaya. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah materi, sedangkan ruhnya adalah kesederhanaan.

Senin, 16 Februari 2015

Tidak Merasa Diri Mendapat Cobaan

"Cobaan terberat bagi seseorang adalah jika ia tidak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu. Misalnya, perasaan bangga dengan harta yang haram dan terus-menerus melakukan dosa sementara ia tahu bahwa hal itu adalah dosa." (Imam Ibnu Al-Jauzy)

Seringkali manusia mampu bersabar dengan kemiskinan, tetapi tidak mampu bersabar dengan kekayaan. Ketika miskin mereka banyak berdoa, beribadah, dan berakhlak mulia. Mereka berharap Tuhan memberi mereka rezeki agar dapat beribadah lebih baik dan lebih banyak lagi. Sedikit Dia memberinya rezeki, betapa senang hatinya. Kemudian mereka berdoa lagi, memohon tambahan rezeki, Allah pun memberi mereka rezeki.

Setelah rezeki itu semakin sering mereka peroleh, semakin lemah semangat mereka dalam berdoa. Dan, akhirnya mereka menjauhi-Nya seolah lupa akan masa lalunya seperti apa. Seolah lupa bahwa Tuhan telah mengangkatnya dari lembah kemiskinan. Mereka menganggap rezeki itu akan datang dengan sendirinya atau semata-mata berasal dari usahanya sendiri.

Kemudian mereka gunakan harta kekayaan itu untuk kemaksiatan dan hal-hal yang tak bermanfaat. Mereka akhirnya masuk ke dalam lingkaran setan yang tak berujung. Setelah menghambur-hamburkan kekayaan, mereka melakukan berbagai tindak kejahatan. Setelah hartanya berkurang, mereka mencuri harta orang lain. Pihak keamanan yang belum menjangkaunya, menjadikan mereka leluasa untuk berbuat korupsi atau melakukan tindak kriminal lainnya.

Seperti halnya Qorun. Dulunya dia adalah pengikut Nabi Musa. Lalu dia berharap Nabi Musa mau berdoa agar Allah menjadikan dirinya sebagai orang kaya. Nabi Musa menasehati Qorun agar senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah, baik ketika miskin maupun kaya. Lalu Nabi Musa pun berdoa dan kemudian Allah mengabulkan doa tersebut, hingga akhirnya Qorun menjadi kaya raya.

Kekayaan itu ternyata telah membuat Qarun lupa dengan nasehat yang disampaikan Nabi Musa. Bahkan kesombongan Qorun semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya Allah menghukum Qorun dengan membenamkan dirinya dan hartanya ke dalam bumi. Qorun telah menjadi fakta sejarah tentang orang yang “tidak merasa dirinya sedang mendapatkan cobaan, terlebih lagi jika ia sangat bergembira dengan cobaan itu.”

Senin, 12 Januari 2015

Tetap Produktif Menjelang Wafat

Imam Ibnu Al Jauzy berkata, “Orang berakal adalah yang tahu bahwa dunia ini tidak diciptakan hanya untuk mencari kesenangan, karenanya dalam kondisi apa pun ia harus konsisten dalam menggunakan waktunya secara tepat.”

Sungguh sebuah ungkapan yang menarik. Dalam kondisi apapun kita harus konsisten menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, tak terkecuali disaat kita sakit hingga menjelang wafat. Para ulama kita dibawah ini telah memberikan contoh yang baik bagaimana mereka tetap konsisten dalam menjaga waktunya meskipun mereka saat itu sedang sakit berat yang berujung pada kematian.

Ibrahim bin al-Jarrah berkata, Imam Abu Yusuf Al-Qadhi rahimahullah sedang sakit. Saya pun menjenguknya. Saat itu dia tidak sadarkan diri. Ketika terjaga, beliau lalu bersandar dan mengatakan, "Hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?' Saya menjawab, 'Dalam kondisi seperti ini?' Dia mengatakan, "Tidak mengapa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karena kita memecahkan masalah ini." Lalu saya pulang, ketika baru sampai rumah, saya mendengar kabar bahwa beliau telah wafat.

Ibnu Asy Syahnah adalah seorang hafidz hadits yang bermadzhab Hanafi yang memiliki umur lebih dari 100 tahun dan masih mampu melaksanakan puasa Ramadhan dan 6 hari setelah Syawal di usia 100 tahun.

Sehari sebelum wafatnya ulama Damaskus ini, murid beliau Muhibbuddin bin Muhib membaca Shahih Al Bukhari di hadapan beliau. Kemudian di keesokan harinya di waktu dhuha beliau kembali menyimak As Shahih dan wafat sesaat sebelum dhuhur tahun 730 H. (Dzail Tadzkirah Al Huffadz, hal. 134-135)

Ibnu Malik, ulama nahwu memiliki semangat yang cukup tinggi dalam mencari ilmu. Hal ini tercermin dari kesungguhan beliau menghafal ilmu meskipun ajal hendak menjemput. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait ilmu, di hari wafatnya beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Abu Hasan Al Walwaliji pada tahun 440 H, menjenguk Abu Raihan Al Biruni, seorang ahli falak dan sastrawan di zaman itu. Ulama ini sakit keras di tengah usianya yang mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaliji,"Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?"

"Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas hal itu)?" Jawab Al Walwaliji, menaruh belas kasihan. "Wahai Al Walwaliji, saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya."

Akhirnya Al Walwaliji mengulangi apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya. Dan Abu Raihan pun menghafalnya. Tidak lama kemudian, Al Walwaliji keluar, dan saat di jalan beliau mendengar teriakan. Ternyata Abu Raihan telah wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Mu’jam Al Udaba`, 17/181,182).

Al-Jariri berkata, "Saya berada di kepala Junaid ketika menjelang kematiannya. Pada saat itu dia sedang membaca Al-Qur’an dan saya berkata kepadanya,"Kasihanilah dirimu.”"(yakni, jangan engkau memberatkan dirimu dengan membaca Al-Qur’an pada saat menjemput). Dia menjawab,"Apakah ada orang yang lebih membutuhkan pahala dariku pada saat seperti ini, dan inilah diriku. Buku catatan amalku hampir ditutup." Al-Jariri berkata,"Junaid telah mengkhatamkan Al-Qur’an, dia kemudian memulai lagi dengan surat Al-Baqarah dan telah membaca tujuh puluh ayat, kemudian dia wafat." (Thabaqat Asy-Syafiiyah, As-Subki, juz 4). 

Imam Abu Ishak An-Naisaburi rahimahulloh sedang menghadapi ajalnya. Sepanjang hari itu dia berpuasa. Dia berkata kepada anaknya, “Buka kelambu,” kemudian dia berkata lagi, "Saya haus." Lalu anaknya membawakan air untuknya. Abu Ishak berkata, “Apakah matahari telah terbenam?” Anaknya menjawab,"Belum." Maka Abu Ishak mengembalikan air tersebut, lalu dia berkata, "Untuk seperti inilah hendaknya orang-orang beramal." Kemudian ruhnya pergi kepada Tuhannya. (Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, juz 6)

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahulloh adalah orang yang selalu memperbanyak dzikir kepada Alloh Ta’ala. Hingga dia meninggal dalam keadaan bertasbih yang dia hitung dengan jarinya. (Syadzarat Adz-Dzahab, Ibnul Ahmad Al-Hambali, juz 5).

Semoga Allah merahmati mereka dan menjadi cambuk bagi kita untuk tetap konsisten dalam menjaga waktu dengan kegiatan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita.