Jumat, 16 Oktober 2015

Fenomena Bobotoh Persib

Kemarin saya melihat beberapa bobotoh Persib ngumpul di kampus UIN. Dari pembicaraan yang saya dengar tampaknya mereka sedang berdiskusi ttg mekanisme pemberangkatan mereka ke GBK.

Saya melihat dari wajah-wajah mereka semangat dan senyum ikhlas. Salah satu dari mereka saya dengar berkata, "Isukan urang ke Jakarta bade nginep wae di ditu." Ada yang menimpali, "Nanaonan maneh, masih keneh lami." "Terserah urang atuh.."

Begitulah kecintaan bobotoh kepada tim sepakbola kesayangannya. Apapun mereka lakonin demi agar tim kesayangannya itu meraih kemenangan. Saya sendiri sering melihat di pagi hari remaja-remaja tanggung berkaos Persib berarak-arakan menuju Stadion Jalak Harupat padahal pertandingan baru dimulai sore atau malam hari. Kalau hari sudah mulai sore, jangan harap perjalanan menuju Soreang atau Jalak Harupat lancar. Karena pasti akan dimacetkan oleh ulah bobotoh yang asyik berkonvoi.

Bobotoh Persib memang beda dibanding pendukung dari tim sepakbola daerah lainnya. Tidak hanya mereka, secara kultural orang Sunda sangat senang menonton Persib. Kalau Persib sudah bertanding, apalagi final, jalanan di kota Bandung lengang. Mereka semua sedang asyik menonton TV dimana Persib sedang bertanding. Tidak heran, channel TV ESPN mengambil hak penuh siaran Persib untuk TV kabel karena mereka sudah mengetahui fenomena hebat ini. Akibatnya, pundi-pundi uang pun mengalir ke kocek Persib.

Kepada bobotoh Persib, terutama dari Viking, jadilah sporter yang suportif. Kalah menang adalah keniscayaan. Jangan kalau kalah marah-marah; hancurin sana hancurin sini. Inget orang sunda itu someah hade kasemah. Dan juga jangan lupa shalat. Selamat bertanding di final Piala Presiden.

Kamis, 15 Oktober 2015

Kemenangan Kalian Datang dari Langit

Melihat foto-foto dan video-video pendek di facebook tentang penderitaan yang dialami saudara-saudaraku di Suriah dan Palestina sungguh menyimpan pilu yang mendalam di hati. Masih terbayang dalam ingatan, sosok mungil Aylan Al Kurdi, yang terkapar di pantai menjadi mayat. Atau seorang muslimah yang lemah dan tidak bersenjata diberondong peluru tentara Zionis la'natullah hingga syahid. Betapa saya tidak banyak berbuat untuk mereka, selain apa yang bisa saya sampaikan secara materi maupun doa.
Saya pernah mendengar salah seorang mujahidin Palestina berkata, doakan saja kami. Ya, mereka hanya minta di doakan. Permintaan yang sangat sederhana. Tapi apakah kita telah melakukannya? Telah menyempatkannya? Misalnya selepas shalat atau waktu dimana diijabahnya doa? Maaf, bukannya di facebook ya. Doa kita dalam kesunyian, hanya kita yang tahu dan dengar lafaz yang kita ucapkan, jauh lebih afdhol daripada doa yang kita ucapkan terang-terangan, apalagi di facebook.
Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, 'Dan bagimu juga kebaikan yang sama'.”(HR. Muslim)
"Doa seorang muslim untuk saudaranya di seberang sana sungguh mustajab. Di kepalanya ada malaikat yang ditugasi oleh Allah untuk mengucapkan 'amin' setiap kali ia mendoakan kebaikan buatnya. Malaikat itu juga berkata: 'Dan bagimu juga seperti itu'." (HR. Bukhari dan Ahmad)
"Doa seseorang untuk saudaranya dikejauhan tidak akan ditolak." (HR. Bazzar)
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata, "Doa ikhwah fillah adalah mustajab." (HR. Bukhari)
Mungkin saja dari doa-doa yang kita panjatkan, Allah menghancurkan tank dan pesawat musuh, atau Allah menolong seorang hamba-Nya yang sedang berjihad, atau Allah menghalau roket-roket musuh, atau Allah membunuh musuh-musuh-Nya lewat para pejuang-Nya, atau Allah menyelamatkan seorang anak. Doa-doa kita untuk mereka ibarat senjata-senjata yang mematikan bagi musuh. Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk mereka dan yakinlah jika doa-doa itu tidak ada yang sia-sia.
Umar bin Khaththab meminta kemenangan kepada Allah atas musuhnya dengan berdoa, padahal Umar adalah tentara-Nya yang paling gagah. Umar pernah berkata kepada pasukannya, “Kalian tidak menang karena jumlah kalian yang banyak, akan tetapi kemenangan kalian datang dari langit.” Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Saya tidak membawa semangat dikabulkannya doa, akan tetapi saya membawa semangat untuk berdoa. Jika saya dikaruniai kesempatan untuk berdoa, maka sesungguhnya aku dikaruniai terkabulnya doa.”
Cobalah setelah membaca tulisan ini Anda berdoa untuk saudara-saudara Anda di Suriah dan Palestina. Berdoalah ditempat duduk Anda berada.

Rabu, 14 Oktober 2015

Atas Nama Kemanusiaan, Persenjatailah Rakyat Palestina!

Begitu mudahnya orang-orang Israel mendapatkan senjata. Sementara bagi rakyat Palestina di tepi barat mendapat senjata saja susah, ketika mendapat senjata, mereka malah ditangkapi oleh orang-orang Mahmud Abbas.

Sudah bukan saatnya lagi rakyat Palestina hanya bermodalkan batu untuk menyerang tentara Israel. Sudah saatnya rakyat Palestina dipersenjatai dengan senjata-senjata yang canggih. Ditangan Pemuda Palestina bukan lagi batu melainkan granat-granat yang siap meledak.

Jika dunia barat menolak aksi ini berarti mereka menolak aksi kemanusiaan. Rakyat Palestina hanyalah membela diri dan mendapatkan hak-hak mereka kembali setelah sebelumnya dirampas oleh Zionis Israel.

Apa bedanya dengan bangsa kita yang dulu ingin merdeka pada awalnya menggunakan bambu runcing lalu kemudian memiliki senapan laras panjang. Zionis Israel tidak ada bedanya dengan Belanda atau Jepang. Mereka sama-sama penjajah. Jika ada yang mengaku dirinya muslim menolak aksi jihad seperti HAMAS maka dia jelas-jelas buta mata hatinya dan tidak berprikemanusiaan.


Selasa, 13 Oktober 2015

Ilmu Kimia Sebagai Warisan Umat Islam bagi Peradaban Dunia

"Saya sangat bahagia untuk negara saya. Turki butuh ilmu pengetahuan. Saya sangat senang karena sudah berkontribusi." (Perkataan Prof. Aziz Sancar setelah meraih Nobel Kimia 2015)

Seorang muslim dari Turki kini berhasil meraih nobel kimia, setelah sebelumnya pada tahun 1999, Prof. Ahmad Zewail dari Mesir juga turut meraihnya. Dibanding nobel fisika yang baru sekali muslim memperolehnya dan nobel kedokteran yang belum ada sama sekali. Nampaknya dua raihan nobel kimia ini bisa menjadi bukti bahwa ilmu kimia begitu lekat dengan umat Islam.

Ilmu kimia sendiri berasal dari bahasa Arab kimiya yang berarti perubahan benda/zat. Menurut seorang ilmuwan terkemuka, Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization IV: The Age of Faith, ilmu kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. “Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar,” ungkapnya. Jabir bin Hayan hidup di abad ke-8 dan kabarnya menjadi murid Imam Ja'far Ash Shadiq disebut-sebut sebagai "Bapak pendiri laboratorium kimia pertama" atau "Bapak kimia modern".

Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium–senyawa penting dalam kehidupan manusia modern–merupakan penemuan para kimiawan Muslim. Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.

Walaupun tidak bisa dijadikan ukuran mutlak keilmuaan seseorang, setidaknya Nobel kimia yang diraih muslim saat ini atau nobel-nobel lainnya, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi umat ini untuk mengingatkan kembali sejarah kejayaannya di masa lalu.

Senin, 12 Oktober 2015

Kemunduran Ilmu Islam di Luar Wilayah Jazirah Arab

Penyusun kitab-kitab hadits paling terkenal ternyata bukan berasal dari kawasan Jazirah Arab. Yaitu, kawasan di mana terdapat tujuh negara di dalamnya: Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, UEA, Qatar, dan Bahrain.

Imam Bukhari lahir di kota Bukhara, Uzbekistan. Imam Muslim, Imam Al Hakim, dan Imam Al Baihaqi lahir di kota Naisabur Iran. Imam Abu Daud lahir di kota Sijistan (daerah antara Iran dan Afghanistan). Imam Tirmidzi lahir di kota Tirmidz, Iran. Imam Ibnu Majah lahir di kota Qazwin Iran. Imam An Nasa’i lahir di Nasa’, salah satu kota di Khurasan Iran. Imam Ad Darimi lahir di daerah Darim, Samarkand, Uzbekistan.

Saya memahami pesan ini sebagai berikut: Para penguasa muslim pada waktu itu bukan sekedar menaklukan wilayah musuh tetapi juga turut menyebarkan Islam dan bahasa Arab. Hal ini mendorong bahasa Arab menjadi bahasa resmi kaum muslimin. Kalaupun ada bahasa non Arab, dapat disebut sebagai bahasa daerah, seperti bahasa sunda atau bahasa jawa di Indonesia.

Bila dibandingkan saat ini, di mana wilayah Islam terpecah-belah atau tidak berdiri tunggal dalam satu kekuasaan khilafah, bahasa pun ikut-ikutan terpecah. Bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa resmi. Bahasa nomer dua pun bukan. Di masyarakat pada umumnya lebih senang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Jadi bahasa Arab entah berada di kedudukan ke berapa. Yang di maksud bahasa Arab hanyalah bahasa orang jazirah Arab.

Dengan keadaan ini, kecil kemungkinan orang-orang di non-Arab menjadi ulama besar. Padahal di masa kejayaan Islam, sumbangsih orang non Arab terhadap ilmu pengetahuan sangat besar. Bahkan mungkin saja lebih besar daripada orang Arab itu sendiri. Selain ahli-ahli hadits di atas, terdapat banyak ahli ilmu lainnya yang bukan berasal dari Arab. Misalnya Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Biruni, dan Ar Razi.

Minggu, 11 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 3)

Kaum syiah dan para pendukung Bashar Al Asad seringkali menuduh bahwa ulama-ulama pendukung kelompok oposisi berasal dari kelompok wahabi atau kelompok oposisi itu adalah wahabi. Mereka berpikiran bahwa yang mengkritik mereka adalah wahabi. Tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan tuduhan mereka ini. Sebagian dari kaum muslimin akhirnya memilih diam atau tidak mendukung siapapun, dan sebagian lagi malah terprovokasi dan ikut-ikutan menyerang mujahidin Suriah. Salah satu alasan mereka terprovokasi adalah dengan kematian ulama Syaikh Said Ramadhan Al Buthi yang menurut mereka dibunuh oleh kaum oposisi Suriah. Karena Syaikh Al Buthi adalah ulama ahlussunnah, maka otomatis yang membunuh ulama tersebut berasal dari wahabi. Yang ada dalam pikiran mereka, para pembunuh ulama ahlussunnah adalah berasal dari kalangan wahabi. Inilah fakta yang terjadi saat ini. Umat Islam dipecah belah sedemikian rupa oleh permainan kotor kaum syiah dan para pendukung Bashar Al Asad.

Mereka mengatakan bahwa yang membunuh Syaikh Al Buthi adalah wahabi, lalu bagaimana dengan yang membunuh ribuan ulama ahlussunnah Homs dan Hama tahun 1982? Ya, para pembunuh itu tidak lain adalah orang-orang syiah. Saksikanlah kemarahan Syaikh Ali Ash Shabuni hafidzahullah dalam video di youtube berikut ini:https://www.youtube.com/watch?t=59&v=rEq_qtzkr9w

Di video itu, Syaikh Ali Ash Shabuni, walaupun sudah tua tapi tampak terlihat kemarahan beliau dengan fenomena ini. Beliau berkata: Kemarin dunia seluruhnya telah menyaksikan terbunuhnya seorang ‘alim yang memutuskan dirinya membela kezaliman dan thoghut menurut kebenaran dan keadilan. Kita telah berselisih dengan Syaikh Al-Buthi semenjak priode penjahat lagi zalim Hafez Assad, di mana pada waktu itu ia berdiri di samping Hafez kemudian menshalatinya dan berdiri untuk jenazahnya. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menshalati jenazah yang mati di antara mereka (munafiq) selamanya dan janganlah berdiri di kuburannya,” (QS. At-Taubah:84)

Apa makna jangan berdiri di kuburannya. Artinya jangan menyaksikan jenazahnya karena murka Allah Azza wa Jalla turun ke jenazah itu.

Kemudian pada revolusi yang penuh berkah ini, Al-Buthi telah menyelisihi bukan hanya rakyat Suriah saja, bahkan menyelisihi para ulama ummat ini. Dan Maha benar Allah yang Maha Agung, “Siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya Al-Huda dan mengikuti jalan selain jalan kaum muslimin, Kami palingkan ia sebagaimana ia berpaling dan Kami masukkan ke jahannam.” (QS. An-Nisa’: 115)

Apa maksud firman Allah Kami palingkan ia sebagaimana ia berpaling dan Kami masukkan ke jahannam? Yaitu kami rasakan ia siksa jahannam. Allah tidak berfirman siapa yang menentang Rasul dan kitab Allah, tapi Ia berfirman dan mengikuti selain jalan kaum muslimin.

Ulama telah berpendapat wajibnya memberontak kepada musailamah Al-kadzdzab yang dinamakan Bashar Assad setelah ia memperlihatkan kethoghutannya dan kejahatannya, membunuh manusia serta mencedari rumah Allah dengan bom. Ia juga menghinakan kitabullah dan merampas kehormatan wanita – wanita mukmin.

Namun Al-Buthi malah mendukung kezaliman ini dan kefajiran Bashar seraya melupakan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang menolang orang yang membunuh seorang mukmin walau dengan sepotong kata (jangankan mengatakan bunuh, tapi bun.Syaikh), ia akan menjumpai Allah Azza wa Jalla sedangkan di antara kedua matanya tertulis Ayisun min rahmatillah (berputus asa dari rahmat Allah)”

Sungguh Al-Buthi terus berlangsung menentang para oposisi Bashar, di mana ia menyebut mereka sebagai sampah. Dan menyamakan para pembunuh yaitu tentara Bashar dengan kedudukan sahabat. Kalau saja ia diam, maka hal itu lebih baik buat dia.

Al-Buthi telah datang dengan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Saya katakan sesungguhnya Dr Al-Buthi yang telah dipanggil Robb Nya telah membawa di lehernya darah yang banyak. Fatwa-fatwanya membenarkan pembunuhan atas nama agama. Hingga Allah menjadikan kontribusi Bashar yang membunuh rakyat itu berada di dadanya, di mana Al-Buthi membuat fatwanya terakhir mengajak jihad di bawah panji tentara pemerintah Bashar Assad.

Fatwa dan seruan ini membuat Bashar menyelesaikan hajatnya. Orang-orang yang keluar dari masjid dengan menyambut seruan Allah Labbaikallah, mustahil mencederai kehormatan rumah Allah. Apalagi dengan masjid Al-Iman, di mana di sana menjadi tempat mengajarnya Syaikh Syam, Syaikh Muhammad Awadh rahimahullah. Perbuatan ini (membom masjid) menyelisihi prinsip agama.

Sesungguhnya keterlibatan pasukan Assad dalam operasi jahat ini sangat jelas seperti terangnya matahari. Siapa yang mengambil manfaat atas pembunuhan Al-Buthi? Bukan kah ia adalah pemerintah. Dengan ini ia bisa menyemangati manusia untuk memerangi pejuang Suriah dengan alasan mereka membunuh orang-orang yang menyelisihi mereka.

Pasukan Assad adalah musuh kemanusiaan seperti zionis jahat. Mereka tidak pernah menunggu-nunggu waktu untuk membunuh siapa saja, meskipun orang itu membela mereka. Jika dalam membunuhnya dapat mewujudkan tujuannya yang buruk.

Pada suatu hari, di mana oposisi menekan. Seorang Kurdi dijadikan oleh pemerintah sebagai Perdana Menteri. Pasukan Assad membunuh Syaikh Kurdi pada hari besar Kurdi. Dan ini bukan suatu kebetulan bagi orang yang merenung dengan baik sejerah pemerintah ini dan kelebihannya dalam kejahatan.

Kemudian, lihat bagaimana pasukan Assad langsung masuk ke masjid setelah peristiwa pembunuhan itu dengan penuh tenang dengan para petugas medis tanpa rasa takut dan malu. Dan sebagian lagi pura – pura menangis.

Pemerintah ini (rezim syiah Bashar) juga telah membunuh Khotib masjid Al-Muhammadi, Syaikh Riyadh Ash-Sha’b rahimahullah, semoga Allah menerima beliau di kalangan syuhada. Mereka membom mobil beliau ketika menuju majlis ilmu sebelum 24 jam.

Sebelum 24 jam juga mereka membom masjid Al-Iman. Apakah dengan ini semua kita membebaskan pasukan Bashar dari pembunuhan seseorang, baik itu orang tua atau anak-anak atau wanita atau yang membela mereka.

Saya katakan sesungguhnya para pejuang yang mulia mereka mempunyai orang yang lebih penting dari Al-Buthi di jajaran militer dalam sandraan untuk dibunuh. Jika mereka benar – benar berhak untuk dibunuh.

Sesungguhnya kami di Suriah yakin bahwa di balik insiden pembunuhan ini adalah pasukan pemerintah Assad. Kami lebih tau tentang mereka dan modus-modus mereka yang membuat kami terbiasa dengan itu puluhan tahun.

Mereka adalah pembunuh. Mereka membunuh ulama Lebanon seperti Syaikh Hasn Khalid, Mufti Lebanon rahimahullah. Dan juga membunuh puluhan ulama di Suriah.

Dan bapaknya yang zalim, Hafez Assad, telah membunuh tiga puluh ribu lebih warga Suriah di Hama.

Kami meminta kepada muslimin untuk mendoakan rahmat untuk mereka yang terbunuh dan syahid di bawah panji Al-Haq. Ketika mati, semua manusia sama. Kami bersedih atas setiap tetes darah dari anak-anak, orang tua dan wanita yang terbunuh setiap hari. Kami tidak membedakan, yang satu mati kita diamkan dan yang satu kita marah karena terbunuh. Itulah Dinul Islam.

Yang mengharamkan darah di antara kita. Maka pada hari dibunuhnya Al-Buthy, terbunuh pula 150 lebih orang Suriah oleh ditang thoghut yang jahat iini (Bashar).

Ya Allah terimalah syuhada kami, ampuni mereka. Jadikan amal-amal yang baik kami pada akhir hayat kami. Siapa yang beramal baik walau sebiji zarrah ia akan melihatnya. Siapa yang beramal jelek sebiji zarrah ia akan melihatnya pula.

Saya katakan mereka adalah pembunuh dan penumpah darah orang-orang yang tak bersalah. Mereka yang berafiliasi kepada pemerintah ganas lagi bertaring yang menamakan dirinya Bashar Assad. Dia tidak lain murid musailamah Al-Kadzdzab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin”

Siapakah Syaikh Ali Ash Shabuni hafidzahullah yang mengatakan bahwa Bashar adalah musailamah? Beliau adalah seorang mufassir besar abad ini. Namanya sudah tidak asing lagi di tengah-tengah pesantren di Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Shafwah al-Tafaasir”. Kitab tafsir Al-Qur’an ini merupakan salah satu tafsir terbaik, karena luasnya pengetahuan yang dimiliki oleh sang pengarang. Selain dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an, Ash-Shabuni juga memahami dasar-dasar ilmu tafsir, guru besar ilmu syariah, dan ketokohannya sebagai seorang intelektual Muslim. Hal ini menambah bobot kualitas dari tafsirnya ini. Syaikhul Azhar DR. Abdul Halim Mahmud rahimahullah memberikan komentar tentang kitab ini, “Shofwah at-Tafasir adalah hasil penelitian penulis terhadap kitab-kitab besar tafsir, kemudian ditulis ulang dengan mengambil pendapat terbaik dari kitab-kitab tersebut yang disusun secara ringkas dan mudah”.

Apakah beliau seorang ulama wahabi? Ternyata bukan. Beliau beraqidah asy'ariyah, banyak ulama Saudi yang memberikan kritikan dan bantahan, seperti yaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, Abu Bakar Zaid dan lain-lain. Kitab beliau yang paling banyak mendapat bantahan dari para ulama wahabi itu adalah Shofwah at-Tafasir. Syaikh Abu Bakr Zaid telah mentahzir kitab ini dengan menulis sebuah kitab at-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabuni fi Tafsir. Syaikh Jamil Zainu menulis kitab Tanbihat Haammah ‘ala Kitab Shafwah Tafasir sebagai kritikan terhadap kitab Shafwah.

Jadi, masalah di Suriah bukanlah masalah wahabi. Tapi ini adalah masalah permusuhan orang-orang syiah terhadap ahlussunnah. Kalaupun baru-baru ini ulama-ulama saudi menggelorakan jihadnya, sesungguhnya sudah sejak lama ulama-ulama Suriah menggelorakan jihad itu. Hanya saja puncaknya menemukan momentum saat Arab Spring berlangsung. Sudah sejak lama syiah melampiaskan kezalimannya kepada ahlussunnah. Mereka adalah para pembunuh sebenarnya. Para peneror sebenarnya. Mereka memperkosa dan telah berbuat kerusakan di bumi ahlussunnah Suriah.

Foto: Syaikh Ali Ash Shabuni bersama KH. Maimun Zubair. Dan Syaikh Ali Ash Shabuni bersama Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki.



Sabtu, 10 Oktober 2015

MENYIBAK TABIR SYIAH KONTEMPORER (Bag. 2)

Saya tidak setuju dengan pandangan dokter Joserizal yang melulu berpendapat bahwa konflik yang terjadi di Suriah adalah konspirasi zionis yang bermula dari Arab Spring. Tampaknya dokter Joserizal lupa dengan pembantaian besar-besaran yang pernah dilakukan oleh Hafez Al Asad, bapaknya Bashar Al Asad, terhadap kaum muslimin Suriah terutama di kota Homs dan Hama pada tahun 1982. Puluhan ribu orang syahid, termasuk di antaranya adalah para ulama ahlussunnah. Syaikh Jabir Rizq, seorang ulama dari gerakan Ikhwanul Muslimin, menggambarkan pembantaian terhadap umat Islam Suriah di masa rezim Hafez Al Asad dalam bukunya yang berjudul, "Ikhwan Dibantai Syiria": Ada sebuah masjid dimana berkumpul para ulama dan jamaahnya. Lalu masjid itu kemudian ditembaki oleh tentara Asad hingga semua orang yang ada di masjid itu mati. Pada saat itu lebih dari 30.000 orang tewas, 88 masjid dan 3 gereja hancur serta puluhan ribu warga mengungsi dari tempat tinggalnya.

Saat itu, tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin Suriah seperti Syaikh Said Hawwa rahimahullah menghadap Khomaini. Tujuannya adalah meminta tolong kepada Khomaini agar mau membantu gerakan revolusi Islam yang saat itu sedang bergelora di Suriah. Saat itu banyak tokoh Ikhwan memandang Iran adalah negara yang berhasil meraih kemenangan berkat revolusi Islamnya dan mereka berharap banyak dari Khomaini untuk mau membantu revolusi mereka seperti halnya Khomaini berhasil melakukannya di Iran.

Apakah Khomaini mau membantu revolusi Islam di Suriah? Tidak! Mengapa? Hafez Al Asad (ayah dari Bashar Al Asad/ diktator Suriah saat itu) adalah penganut Syiah. Walaupun bukan penganut Syiah Itsna Asyariah, tetapi Syiah Nusairiyah memiliki banyak kesamaan dengan Syiah Itsna Asyariah. Begitupun yang terjadi di Yaman dan Bahrain saat ini. Kaum syiah tidak malu-malu lagi mengangkat-angkat foto-foto tokoh-tokoh syiah Iran seperti Khomaini dan Khemeni dalam aksi-aksi demonstran mereka. Apa hubungannya mereka yang bukan warga negara Iran dengan Iran? Solidaritas ke-syiahahan mereka terus memuncak. Maka syiah dari kelompok manapun dan dimanapun akan saling berangkulan dengan syiah yang ada di Iran. Dengan kata lain, Iran adalah kekhalifahan tersembunyi bagi kelompok syiah di seluruh dunia.

Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin pun mulai menyadari bahwa revolusi di Iran bukanlah revolusi Islam, tetapi revolusi Syiah. Revolusi syiah seperti ini bisa saja meletus di negara mana pun baik negeri kafir maupun negeri yang mayoritasnya kaum sunni seperti Indonesia. Bila revolusi ini terjadi maka mereka akan mensyiahkan negara yang mereka revolusikan. Bersiap-siaplah ahlussunnah menerima penindasan dan kehancuran. Bukan menakut-nakuti. Tapi ini adalah kenyataan yang terus berulang sepanjang sejarah Islam. Oleh karenanya, sebelum Shalahuddin Al Ayyubi menaklukkan pasukan Salib di Yerussalem, terlebih dahulu menaklukkan kaum Syiah. Karena kaum syiah dikenal dengan kelicikan dan pengkhianatannya yang tidak kepalang tanggung. Tidak heran bila Sejarawan kontemporer seperti Prof. Raghib As Sirjani berpendapat, sebelum umat Islam menaklukkan Al Aqsha dari cengkeraman Zionis, harus menaklukkan kaum Syiah terlebih dahulu.

Foto: - Penghancuran kota-kota basis Sunni di Suriah pada tahun 1982 oleh rezim Hafez Al Asad, penganut Syiah Nushairiyah dan bapak dari Bashar Al Asad.
- Demonstrasi di Bahrain. Orang-orang syiah mengangkat foto Khomaini dan Khemenei dari Iran. Apa hubungannya? Tidak mengherankan bila Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengatakan bahwa revolusi yang terjadi di Bahrain bukanlah revolusi rakyat tapi revolusi syiah.