Tampilkan postingan dengan label Shaidul Khathir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shaidul Khathir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2015

Belajar Agama di Pondok Pesantren Hidayatullah

Saya sangat beruntung dapat belajar agama bersama ustadz-ustadz dari Pondok Pesantren Hidayatullah. Walaupun tergolong singkat, hanya 2 tahun, tapi sangat membekas dihati saya. Jujur saja, saya baru benar-benar bisa membaca Al Quran pada saat itu dimana saya sudah duduk dibangku SMA. Boleh dibilang sangat terlambat bila dibanding dengan kebanyakan muslim lainnya yang sudah pandai membaca Al Quran ketika masih SD.
Sebenarnya untuk belajar Al Quran sendiri saya sudah belajar sejak duduk dibangku SD tapi pengajaran itu tidak membekas di akal dan hati saya. Mungkin karena saya tidak terlalu konsentrasi atau pola pengajarannya yang tidak begitu tepat untuk akal dan hati saya. Mungkin yang lebih tepat yang kedua daripada yang pertama.
Pondok Pesantren Hidayatullah sudah terkenal dengan militansinya. Mereka berdakwah mulai dari kota-kota hingga pedalaman papua. Saya sangat terkesan dengan dakwah mereka; membina dengan penuh kesabaran dan kasih sayang namun tetap teguh memegang prinsip.
Untuk hari guru kemarin, saya persembahkan salam ta'dzim saya kepada guru-guru saya dari PP Hidayatullah yang walaupun namanya saya lupa tapi wajahnya masih saya ingat di benak saya. Mereka yang telah mengajarkan saya Al Quran dan As Sunnah beserta makna-maknanya. Terutama kepada pendiri Pondok Allahuyarham KH. Abdullah Said. Semoga Allah menjaga, melindungi dan merahmati mereka. Aamiin.

Jumat, 16 Oktober 2015

Fenomena Bobotoh Persib

Kemarin saya melihat beberapa bobotoh Persib ngumpul di kampus UIN. Dari pembicaraan yang saya dengar tampaknya mereka sedang berdiskusi ttg mekanisme pemberangkatan mereka ke GBK.

Saya melihat dari wajah-wajah mereka semangat dan senyum ikhlas. Salah satu dari mereka saya dengar berkata, "Isukan urang ke Jakarta bade nginep wae di ditu." Ada yang menimpali, "Nanaonan maneh, masih keneh lami." "Terserah urang atuh.."

Begitulah kecintaan bobotoh kepada tim sepakbola kesayangannya. Apapun mereka lakonin demi agar tim kesayangannya itu meraih kemenangan. Saya sendiri sering melihat di pagi hari remaja-remaja tanggung berkaos Persib berarak-arakan menuju Stadion Jalak Harupat padahal pertandingan baru dimulai sore atau malam hari. Kalau hari sudah mulai sore, jangan harap perjalanan menuju Soreang atau Jalak Harupat lancar. Karena pasti akan dimacetkan oleh ulah bobotoh yang asyik berkonvoi.

Bobotoh Persib memang beda dibanding pendukung dari tim sepakbola daerah lainnya. Tidak hanya mereka, secara kultural orang Sunda sangat senang menonton Persib. Kalau Persib sudah bertanding, apalagi final, jalanan di kota Bandung lengang. Mereka semua sedang asyik menonton TV dimana Persib sedang bertanding. Tidak heran, channel TV ESPN mengambil hak penuh siaran Persib untuk TV kabel karena mereka sudah mengetahui fenomena hebat ini. Akibatnya, pundi-pundi uang pun mengalir ke kocek Persib.

Kepada bobotoh Persib, terutama dari Viking, jadilah sporter yang suportif. Kalah menang adalah keniscayaan. Jangan kalau kalah marah-marah; hancurin sana hancurin sini. Inget orang sunda itu someah hade kasemah. Dan juga jangan lupa shalat. Selamat bertanding di final Piala Presiden.

Jumat, 25 September 2015

Baru Setahun Bapak Menjadi Presiden Sudah Membuat Rakyat Sengsara, Apalagi 20 Tahun

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengingatkan bahwa kerjanya memimpin Ibu Kota masih terbilang baru lebih dari setahun. Sehingga, jika disebut belum maksimal, memang belum maksimal karena pekerjaan masih terus berjalan.

"(Jadi Gubernur) Baru setahun, yang 20 tahun yang 30 tahun sudah apa?" ujar Jokowi di Pintu Air Karet, Jakarta Pusat, Minggu (12/1/2014). 

Menurut Jokowi, soal kemacetan dan banjir, sudah ada perkembangan yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Untuk persoalan banjir, sudah ditanganinya dengan melakukan pengamatan pada lokasi genangan air di jalan-jalan di Ibu Kota. Untuk perbaikan tanggul juga sedang dikerjakan Pemprov DKI Jakarta seperti di Waduk Pluit dan juga Waduk Ria Rio, Waduk Ciracas, dan Waduk Tomang, Jakarta Barat. 

"Perbaiki tanggul, kan sudah kita keruk semuanya. Dulu yang tergenang mana, yang tidak mana," ucap Jokowi.

Sebelumnya, hasil survei dari Lembaga Suvei Media Survei Nasional (Median) menyatakan, kinerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo masih belum maksimal dalam menangani beberapa persoalan Ibu Kota. Beberapa di antaranya seperti masalah kemacetan dan banjir yang dianggap belum berjalan maksimal.

Adapun hasil survei lain dari Pusat Data Bersatu terhadap 12 hal yang ditangani Jokowi-Basuki pada November 2013 lalu, warga tidak puas mengenai persoalan pembenahan angkutan umum. Sebanyak 50,8 persen responden tidak puas dan 43,1 persen menyatakan puas. 

Sementara itu, respons paling memuaskan pada pasangan pemimpin Ibu Kota itu yakni untuk penanganan pedagang kaki lima. Sebanyak 77,7 persen pernyataan puas dan 18,5 persen responden tidak puas.

(http://megapolitan.kompas.com/read/2014/01/12/1601202/Jokowi.Saya.Baru.Setahun.yang.Sudah.20.Tahun.Buat.Apa)

Tanggapan:
Baru setahun saja bapak menjadi presiden sudah membuat rakyat sengsara, apalagi 20 tahun.

Jangan takabur pak Jokowi. Saya belum mendengar ada pimpinan daerah lain berbicara seperti ini. Akibat omongan bapak itu bisa jadi dampaknya sekarang, saat bapak menjadi presiden.

Seorang Tabi'in bernama Muhammad bin Sirrin pernah berdagang, namun menderita kerugian Sehingga menanggung hutang yang amat banyak.. Ia pun di penjara oleh Qadli..

Setelah dilepaskan, ia berkata: "Aku ingat dosaku dahulu.. Mungkin karena itu kini aku menderita beban ini.. Sekitar 40 tahun lalu.. Aku pernah berkata kepada seseorang, "Hai bangkrut.."

Kamis, 09 April 2015

Janganlah Engkau Sakiti Anakmu, Karena Dia Adalah Buah Cinta Kamu Berdua

Sungguh saya sedih saat menonton tayangan berita yang menyebutkan sekeluarga tewas bunuh diri dengan cara meminum cairan beracun. Yang paling mengiris hati saya, anaknya yang berusia 7 tahun, yang saya yakin tidak tahu apa-apa, juga ikut tewas. Kabarnya, alasan bunuh diri itu karena masalah kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Sebegitu beratkah masalah yang mereka hadapi itu sehingga mereka sekeluarga harus bunuh diri? 


Saya teringat dengan kisah seorang bapak di China bernama Xia Jun. Dia memiliki bocah yang sangat disayanginya, Guo Guo. Sayang, dalam usianya yang baru dua tahun, Guo mengalami cobaan yang sangat berat. Ia divonis menderita penyakit yang cukup langka yang bisa merenggut nyawanya, yaitu penyakit leukimia myeloid akut. Jika tak dilakukan tindakan segera, usia Guo hanya akan bertahan beberapa tahun saja. 

Sebagai ayah yang tak tahan melihat penderitaan anaknya, ia berusaha ke sana kemari mencari penyembuhan terbaik untuk anaknya. Ia harus mengeluarkan uang sebanyak 2,2 milyar rupiah untuk proses operasi anaknya secara keseluruhan. Ia harus memutar otaknya untuk mendapatkan uang sebanyak itu. 

Demi mendapatkan dana untuk operasi dan perawatan Guo, Xia setiap hari pergi ke depan sebuah stasiun yang ramai dilewati banyak orang. Di sana ia memajang kotak sumbangan yang ditempeli foto dan surat diagnosis yang diberikan dokter padanya. Agar orang memberikan sumbangan tanpa ia harus meminta-minta, Xia melakukan hal yang cukup membahayakan, yaitu menjadikan tubuhnya sansak hidup. Xia memakai sebuah kaos yang bertuliskan: "Karung tinju manusia, 10 yuan (sekitar 20 ribu rupiah) per pukulan."

Kerelaan untuk jadi sansak hidup itulah yang membuat banyak orang iba padanya. Aksi unik ini kemudian tersebar luas ke berbagai media dan masyarakat mulai berbondong-bondong memberikan sumbangan kepadanya. Dengan dana tersebut, anaknya itu dapat dioperasi dan kini sedang dalam fase penyembuhan. Demikianlah perjuangan seorang ayah demi anaknya tercinta. Seluruh keringat, darah, dan airmata ia persembahkan untuk kesembuhan anaknya tercinta. 

Saat cucu Rasulullah Saw. wafat, beliau sangat bersedih seakan seperti geriba yang kosong. Beliau menggendong cucunya yang wafat itu dan menangisinya. Salah seorang sahabatnya yang bernama Sa'ad bin Ubadah Ra. bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapakah engkau menangis?” Beliau berkata, “Inilah rahmat yang Allah berikan kepada hati hamba-hamba-Nya; dan sesungguhnya Allah akan merahmati di antara hamba-hamba-Nya mereka yang saling berkasih sayang.”

Semua orang yang masih memiliki cinta dan kasih sayang dihatinya, akan bersimpati dan berempati ketika misalnya, melihat seorang anak yang menderita sakit, kelaparan, atau disiksa. Walaupun anak-anak itu bukan anaknya, tapi perasaan kasih sayang itu muncul begitu saja seolah memang telah tertanam dalam fitrahnya yang suci. Entah apa jadinya jika anak-anak itu adalah anak-anaknya, perasaan memilikinya pasti jauh lebih besar. Maka janganlah heran bila ada orangtua menangis sejadi-jadinya saat anaknya yang masih kecil wafat. Bahkan kalau bisa yang mati itu dirinya daripada anaknya.

Bila anak sering disebut dengan istilah "buah hati" atau "buah cinta", artinya apa yang ada dalam diri anak adalah perpaduan cinta ayah dan ibunya. Maka, cinta kasih kedua orangtua kepada anaknya jauh lebih besar daripada cinta kasih kepada diri mereka masing-masing. Lantas, apa jadinya jika sang anak yang tidak tahu apa-apa itu diikutsertakan dalam aksi jahat kedua orangtuanya? Ya, tidak lain cinta itu telah hilang dalam diri kedua orangtuanya.  

Rabu, 08 April 2015

Mengapa Terjadi Peredaran Narkoba di Lapas?

Beberapa hari yang lalu saya melihat berita penangkapan pengedar narkoba di salah satu Lapas di Jakarta. Aneh tapi nyata, pengedar narkoba ditangkap di dalam penjara. Dan kejadian ini bukan hanya sekali dua kali ini saja. Tapi sudah cukup santer terdengar. Artinya, Lapas sudah menjadi tempat peredaran narkoba.

Saya bertanya-tanya, mengapa semua itu bisa terjadi? Saya memberi empat catatan tentang fenomena ini: Pertama, tidak adanya ketegasan dan hukuman yang berat kepada petugas Lapas yang turut terlibat dalam peredaran narkoba di Lapas. Sehingga kasus-kasus seperti ini terus menerus terjadi di Lapas.

Kedua, orang-orang yang ditahan karena narkoba tidak bisa dikatakan dapat sembuh setelah ditahan. Bila tidak ada rehabilitasi maka kecanduan itu alias sakau akan muncul kembali. Sehingga mereka merasa perlu mendapatkan narkoba bagaimanapun caranya.

Ketiga, yang paling berbahaya dari peredaran narkoba di Lapas adalah mencampurbaurkan tahanan narkoba dengan tahanan-tahanan lainnya, misalnya tahanan pencurian atau perampokan. Bisa saja pengguna narkoba ini menularkan perilaku buruknya kepada para tahanan lain itu. Bagi para pelaku kriminal itu tidak ada bedanya kriminalitas yang satu dengan yang lain. Selagi menguntungkan, akan mereka lakukan. Apalagi bila ditambah jika mereka menjadi pemakai dan kemudian kecanduan. Maka keinginan untuk menjadi pengedar narkoba akan semakin kuat. Mereka menjual narkoba dan uangnya untuk mereka belikan narkoba lagi. Begitu seterusnya.

Keempat, pencampurbauran ini menghasilkan efek domino lainnya, yaitu penyebaran virus HIV/ AIDS yang berasal dari pengguna narkoba. Penyalahgunaan narkoba dan kecanduan seseorang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan, membuat mereka lebih rentan terhadap HIV atau, pada orang dengan HIV, memperburuk perkembangan HIV dan konsekuensi-konsekuensinya, terutama di otak. Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa HIV menyebabkan kerusakan sel-sel saraf di otak dan kerusakan kognitif yang lebih besar di antara pengguna methamphetamine dan pelaku orang-orang dengan HIV yang tidak menyalahgunakan narkoba. Dalam penelitian hewan, metamfetamin telah terbukti meningkatkan jumlah HIV dalam sel-sel otak.

Kesimpulan saya, karena semakin banyaknya pengguna narkoba yang dipenjara, seharusnya pemerintah mendirikan Lapas khusus untuk mereka. Selain menahan mereka, pemerintah juga punya kewajiban merahabilitasi mereka. Sehingga apabila keluar dari penjara, mereka tidak menjadi pemakai narkoba lagi. Kontrol dan hukuman yang tegas harus ditegakkan. Hukuman mati sudah sangat layak diberikan kepada mereka yang kembali terlibat pengedaran narkoba di dalam Lapas. Hukuman itu juga pantas diberikan kepada petugas Lapas yang terlibat karena secara tidak langsung mereka juga bagian dari pengedar narkoba, agar timbul efek jera untuk tidak melakukannya lagi.

Selasa, 07 April 2015

Ridwan Kamil Walikota Bandung

Kang Emil orangnya santai tapi sering mobile; lihat-lihat keadaan disekelilingnya kadang sampai malam hari. Dibawa enjoy. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Tidak terasa sudah bangun ini bangun itu. Taman-taman diperindah. Tujuannya agar orang bandung bahagia.

Kata kang emil, bekerja itu tidak perlu bising. Apalagi mereka yang punya niat pencitraan. Marah sana marah sini agar terlihat peduli tapi ternyata bawahannya makin tak peduli sebagian malah mengundurkan diri. Kelihatan sibuk di media tapi hasilnya tidak ada untuk rakyat.

Masyarakat Bandung khususnya dan Jawa Barat umumnya banyak bersyukur sudah diberi pemimpin soleh seperti kang emil dan kang aher. Mudah-mudahan keduanya istiqomah. Aamiin

Jumat, 03 April 2015

Jihad Pena Melawan Kezaliman

Situs-situs islam diblokir. Beberapa FB atau fanpage yang kritis kepada pemerintah juga ikut diblokir. Melihat kezaliman yang dilakukan musuh-musuh Islam di negeri ini, membuat tangan ini merasa gatal untuk terus menulis menyuarakan kebenaran.

Saya pernah hidup di akhir masa kepemimpinan Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Dan saya melihat era Jokowi yang baru seumur jagung sangat terasa permusuhannya kepada rakyat pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Banyak kasus yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena hampir semua kita sudah mengetahuinya. Buktinya menurut survei indonesia monitoring development, rakyat menginginkan Jokowi lengser. Ini membuktikan rakyat sudah muak dengan rezim saat ini.

Tapi saya harus akui tidak mudah untuk konsisten dan banyak menulis. Saya menghadapi dua masalah: Pertama, terkait wawasan. Saya hanya menulis apa yang saya ketahui dan pahami. Sehingga sudah pasti tulisan yang saya buat tidak terlalu banyak disebabkan keterbatasan wawasan saya dalam banyak hal. Kedua, masalah waktu. Agar tidak mengganggu dan terganggu dalam menulis, saya biasa menulis di tengah malam atau saat anak-anak saya tidur. Jadi waktu saya menulis juga terbatas.

Saya berpikir, ditengah keterbatasan saya ini, pasti banyak muslim yang memiliki semangat seperti saya. Bahkan mereka lebih fakih daripada saya yang dhoif ini. Umat ini harus disadarkan betapa pentingnya memiliki kemampuan menulis dan rajin menulis pada tema-tema yang bermanfaat bagi umat. Karena, pena-pena mereka pada hakikatnya sama seperti senjata kaum mujahidin di medan jihad. Tinta muslim yang peduli kepada Islam dan umatnya sejajar dengan darah para syuhada.

Bila rezim ini menutup situs-situs islam sehingga umat terhalang dari mendapatkan informasi keislaman, maka kita secara pribadi bisa tampil mengisi kekosongan ini. Misalnya dengan menulis di blog dan mensharenya ke banyak orang. Mati satu tumbuh seribu. Satu situs Islam diblokir, seribu situs islam akan hadir.

Jangan biarkan rezim ini menghentikan dakwah kita. Karena yang menghentikan dakwah kita hanyalah kematian. Selain itu tidak boleh ada.

Sabtu, 28 Maret 2015

MotoGP, Valentino Rossi, dan Hiburan Dunia Sport

Di TV, sport yang paling saya senangi untuk ditonton adalah MOTOGP. Saya menontonnya dari awal sampai akhir. Tidak seperti sport lain yang kadang tamat kadang tidak, seringkali juga sekelebatan saja. Misalnya saya menonton sepakbola seringkali hanya nonton cuplikan gol saja.

Yang paling saya senangi dari motogp adalah saat motor saling salip menyalip. Rasa-rasanya menegangkan sekali dan membuat penasaran. Apalagi saat Valentino Rossi tampil. Start dari urutan keberapa saja bisa tampil sebagai juara. Pernah saya lihat Rossi tercecer di urutan belakang setelah sebelumnya nyungsep di gundukan pasir. Tapi kemudian dia mampu bangkit kembali dengan menyalip satu persatu lawan-lawannya di depan hingga akhirnya finish di urutan pertama. Faktor Rossi inilah yang banyak menyedot perhatian saya selama menonton motogp.

Saat Rossi masih di Honda, boleh dibilang dia rajanya motogp. Skill ditunjang dengan motor yang prima mampu mengantarnya menjadi juara dunia beberapa kali berturut-turut. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau Rossi ganti pabrikan motor? Biar ada tantangan begitu. Kalau motornya honda dan Rossi menang terus, kesannya motornya yang bagus dan bukan karena keahlian Rossi.

Ternyata pikiran Rossi sejalan dengan pikiran saya. Rossi angkat koper menuju Yamaha. Dia ingin tantangan baru. Yamaha selama Rossi mengikuti motogp selalu berada di bawah honda. Seolah Rossi ingin membuktikan apapun motor yang dikendarainya, dia bisa tampil sebagai juara. Ketika Rossi dengan Yamahanya juara, saya semakin salut dan semakin menunjukkan bahwa bukan karena motornya tapi karena keahliannyalah yang membuat Rossi juara.

Ketika Rossi pindah ke Ducati pun saya berharap Rossi bisa tampil sebagai juara. Tapi ternyata harapan itu kandas setelah Rossi tidak mampu bersaing di tiga besar. Rossi sering mengeluhkan motornya. Padahal niat Rossi pindah ke Ducati karena faktor nasionalisme. Ducati adalah pabrikan motor dari negara asal Rossi, yaitu Italia.

Saya melihat rider-rider muda saat ini belum ada yang seperti Rossi yang banyak menampilkan sisi hiburan dengan acara salip menyalipnya. Sehingga kesan tidak ada Rossi motogp tidak ramai sepertinya memang benar adanya. Marquez yang juara dunia tahun lalu hanya terlihat sebagai rider yang melulu ingin tampil sebagai juara. Kesannya motogp saat ini agak membosankan.

Rossi? Saat ini dia hampir uzur tapi masih memikat untuk dilihat penampilannya. Ditengah rider-rider muda, dia mampu bersaing dan seringkali tampil mengejutkan. Dulu saya berharap pada kegarangan Simonceli tapi dia tewas kecelakaan. Lalu ada Lorenzo pembalap papan atas yang sering jatuh karena keganasannya di track. Baginya juara atau jatuh. Tapi akhir-akhir ini Lorenzo terlihat lebih berhati-hati sehingga agak kurang menarik dari sisi hiburan. Harapan saya semoga motogp dapat memunculkan kembali rossi rossi baru sehingga motogp masih layak untuk saya tonton lagi.

Kamis, 26 Februari 2015

Melihat Indonesia dari Luar Negeri (2)

Sudah lazim wisatawan asal Indonesia dikenal sebagai wisatawan yang doyan belanja. Sebagian dari penjualnya sudah fasih berbahasa Indonesia. Hal ini tentu saja membuat calon pembeli akan lebih senang berbelanja ke penjual yang bisa berbahasa Indonesia ketimbang yang tidak bisa.

Berdasarkan laporan perusahaan belanja wisatawan Global Blue Analytics yang dikutip China Daily (hal. 7, edisi 11 juni 2014), ada 5 negara yang terbilang cukup royal dalam rata berbelanja di luar negeri dalam mata uang dollar: 1. Tiongkok $ 1.103, 2. Amerika Serikat $ 876, 3. Indonesia $ 823, 4. Jepang $ 689, dan Rusia $ 482.

Dari data di atas dapat kita lihat, Indonesia berada pada rangking ketiga dalam hal berbelanja di luar negeri. Ini baru sebatas mata uang dollar, belum mata uang real Arab Saudi, Yuan China, Dollar Hongkong, Ringgit Malaysia, Euro Eropa, dan seterusnya, bisa jadi Indonesia berada di peringkat pertama.

Indonesia bersaing menduduki peringkat pertama dengan negara-negara yang jauh lebih maju perekonomiannya. Bandingkan dengan Tiongkok yang pendapatan perkapitanya $ 10.000 per tahun dan PDB nya terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, Amerika Serikat dengan pendapatan perkapitanya $ 49.800, Jepang $ 38.457, Rusia $ 16.690. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata pendapatan perkapitanya baru sampai $ 3.797. Wajar saja negara-negara maju mampu berbelanja lebih banyak daripada negara-negara berkembang karena toh pendapatan perkapitanya jauh lebih besar berlipat-lipat dibanding negara-negara berkembang khususnya Indonesia.

Jadi, uang yang ada di dalam negeri, dihabiskan oleh masyarakat Indonesia untuk dihabiskan berbelanja di luar negeri. Berbeda dengan di Indonesia, 60% mal-mal di Singapura justru berasal dari belanja wisatawan termasuk dari Indonesia. Jadi, negara seperti Singapura kaya bukan dari wisatawan domestik tetapi datang dari wisatawan mancanegara dalam hal ini Indonesia. Di Indonesia walaupun sudah banyak sentra-sentra industri, tapi karena political will pemerintah dan pelaku bisnis travel kurang, hasilnya wisatawan-wisatawan mancanegara malah lebih diarahkan ke wisata alam, bukan wisata belanja produk lokal. 

Karena banyaknya barang belanjaan, tas pun "beranak pinak". Tadinya hanya bawa satu, kini bawa 2-3. Tadinya bawa 2, kini bawa 3-4. Dan seterusnya hingga pusing sendiri apakah tas bagasi sudah melampaui dari berat yang ditentukan atau belum. Pernah saya lihat seorang ibu terpaksa membongkar tas bagasinya karena kelebihan berat. Kemudian sebagian isinya dia titipkan kepada seorang temannya yang tas bagasinya masih bisa diisi beberapa kilogram lagi.

Melihat dahsyatnya belanja masyarakat Indonesia ini, orang-orang luar berbondong-bondong mendirikan mal-mal. Seperti sebuah lingkaran setan, masyarakat kita di setting untuk menjadi masyarakat yang konsumtif. Shopping center tidak lagi dilihat sebagai pusat belanja semata tetapi telah menjadi pusat rekreasi bagi keluarga, anak-anak dan masyarakat kita pada umumnya. Apakah hal itu juga terjadi pada Anda?

Bandingkan dengan masyarakat Eropa pada akhir pekan lebih suka melakukan adventure atau petualangan ketimbang ke mall. Demikian laporan dari traveltextonline.com.

Pada hakikatnya negara kita adalah negara yang sangat kaya sumber daya alamnya. Tetapi kekayaan itu menjadi hal yang biasa-biasa saja ketika masyarakatnya tidak dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Masyarakat yang konsumtif adalah masyarakat yang membeli barang tidak sesuai dengan kebutuhan dan menerima begitu saja tanpa pernah berpikir untuk menciptakannya. Sumber daya alam kita di ekspor, lalu di jual kembali oleh orang luar ke Indonesia dengan beraneka ragam macam produk dengan harga yang jauh lebih mahal. Merknya merk luar tapi isinya punya kita. Kita beli suatu produk di luar negeri tapi kenyataannya isinya berasal dari negara kita. Bila seperti ini terus, apa bedanya kita dengan bangsa terjajah?

Rabu, 25 Februari 2015

Melihat Indonesia dari Luar Negeri (1)

Walaupun masih tergolong "muda" bepergian ke luar negeri. Yakni sejak tahun 2013, ingin sekali saya berkeliling dunia. Ya setidaknya setahun sekali saya dapat ke luar negeri. Oleh karenanya saya alokasikan uang saya untuk kesana.

Menurut saya pergi ke luar negeri banyak sekali manfaatnya. Bukan semata berlibur. Lebih dari itu, pergi ke luar negeri bagi saya adalah perjalanan spiritual, yakni melihat keagungan dan kekuasaan Allah melalui penciptaan makhlukNya yang beraneka ragam.

"Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan'." (QS. Al An'am: 11)

"Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menciptakannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu'." (QS. Al Ankabut: 20)

Imam Al Qasimi rahimahullah berkata, "Mereka berjalah dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinut Ta'wil, 16/ 225)

Ridwan Kamil, walikota Bandung, sudah berkeliling ke 150 kota di dunia. Dan lihatlah hasil yang ia dapatkan dari perjalanan itu. Sebagaimana penuturannya sendiri, pembangunan beberapa fasilitas di kota Bandung banyak terinspirasi dari hasil perjalanan itu.

Ketika saya berada di luarnegeri ada kesan yang berbeda dalam melihat kondisi negara saya sendiri. Kadang saya membanding-bandingkan negara yang saya kunjungi dengan negara saya sendiri; mengapa bangsa saya tidak semaju bangsa lain? Faktor-faktor apa yang bisa membangkitkan kemajuan bangsa saya? Mengapa, misalnya, Jepang yang di bom atom oleh Amerika mampu bangkit dari keterpurukan itu dan kemudian menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa yang pernah mengalahkannya dalam perang itu?

Saya melihat di beberapa negara maju yang saya kunjungi, besarnya keteraturan, ketaatan pada hukum, dimana hukuman yang berat menanti bagi sang pelanggar hukum. Mungkin tidak perlu terlalu jauh membandingkan, bila kita mengunjungi Malaysia tidak ada yang merokok ditempat-tempat umum. Bahkan di terminal bis yang kita sudah mafhum di Indonesia para supir dan banyak orang di dalamnya merokok seenaknya sendiri. Asap rokok ditambah asap knalpot sudah menjadi pemandangan umum di terminal-terminal bis di Indonesia. Ini hanya salah satu contoh kecil saja. Untuk memulai seribu langkah dimulai dari langkah pertama. Apabila bangsa kita tidak mampu melakukan kebaikan yang kecil ini saja, apalagi yang besar! Dulu Malaysia banyak belajar dari kita. Mereka mengirimkan banyak pelajarnya untuk bersekolah di Indonesia. Tapi kini keadaan berbalik, banyak pelajar kita yang memilih bersekolah di Malaysia. Sedangkan pelajar Malaysia semakin jauh berkurang, kalaupun mereka belajar lebih baik ke negara-negara yang lebih maju daripada mereka. Bukannya lebih rendah daripada mereka!

Jumat, 20 Februari 2015

Lion Air Delay, Penumpangnya Terlantar

Nonton di TV, 6000 penumpang Lion Air terlantar. Alhamdulillah seumur-umur belum pernah naik Lion Air karena sudah terkenal dengan delaynya.

Pemerintah seharusnya turun tangan mengenai masalah ini. Tampak sekali Lion Air seperti tidak berprikemanusiaan kepada penumpangnya. Ditinggal begitu saja tanpa adanya kepastian yang jelas. Sudah nunggu lama-lama tidak ada makan tidak ada minum. Apalagi dapat hotel sebagai tempat beristirahat.

Menurut aturannya, maskapai yang pesawatnya delay maka penumpang akan memperoleh:
1. Delay lebih dari 60 menit hingga 120 menit, maskapai wajib memberikan makanan ringan (snack).
2. Delay 120-180 menit wajib memberikan makanan berat dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau badan usaha angkutan udara lainnya bila diminta penumpang.
3. Terlambat lebih dari 240 menit dan penumpang tidak dapat dipindahkan ke penerbangan selanjutnya maka wajib memberikan akomodasi (hotel dan makan), diangkut pada penerbangan berikutnya.

Jadi sudah seharusnya pemerintah menindak tegas maskapai yang tidak jelas ini. Jangan mentang-mentang dekat dengan rezim pemerintahan Jokowi lalu dibiarkan begitu saja tanpa ada sanksi. 

Kamis, 19 Februari 2015

Keadilan untuk LHI

Melihat ribut-ribut KPK vs POLRI mengingatkan saya pada LHI. Membuat saya semakin sedih sekaligus marah. Disini saya sedang bicara keadilan. BW ditangkap selepas dia mengantarkan anaknya ke sekolah. LHI ditangkap saat sedang rapat di kantor PKS dan langsung ditetapkan tersangka. Bedanya, BW ditangkap POLRI, sedangkan LHI ditangkap KPK. Keduanya sama-sama ditetapkan sebagai tersangka dgn cepat. 

Tapi anehnya penetapan tersangka BW dianggap para pendukungnya sebagai kriminalisasi, lalu mengapa pendukung LHI tidak berhak juga mengatakan hal yang sama?! Apa alasan penyidik KPK begitu cepat menetapkan LHI sebagai tersangka? Saya ingat perkataan Johan Budi, itu bagaimana penyidik KPK. Bila dirasa memang harus segera ditetapkan tersangka ya harus segera ditetapkan sebagai tersangka. Begitupun ketika penyidik Polri menetapkan BW sebagai tersangka, ya itukan terserah mereka. Jadi sama saja kan? Bukankah wakil ketua KPK dan ketua umum sebuah partai hingga rakyat kecil sama kedudukannya didepan hukum?


Wahai KPK, kini LHI sedang meringkuk penjara selama 18 tahun! Tidak tanggung-tanggung; hak berpolitiknya juga dicabut! Bandingkan dengan koruptor lainnya yang sudah jelas salahnya dan jauh lebih besar korupsinya, malah dihukum tidak seberapa.

Saya bukanlah seorang pembela LHI tapi saya pembela keadilan. Bila LHI bersalah ya harus dihukum. Tapi sangat tidak benar ia diperlakukan tidak adil. Apalagi bila pada hakikatnya ia tidak bersalah dimata Allah. Hukum Allah-lah yang akan "membalas dendam" kepada orang-orang yang menzaliminya.

Jumat, 06 Februari 2015

Inspirasi Tiada Henti

"Seperti listrik, inspirasi tak pernah berhenti mengalir. Kalau lampu dalam diri kita tidak menyala, itu karena saluran yang terganggu atau memang putus sama sekali. Maka, jika engkau ingin inspirasi itu hidup, siapkan jiwamu untuk menyambutnya." (Mohammad Fauzil Adhim)

Ya, mempersiapkan jiwa. Itulah kata kunci agar kita terus menerus memdapatkan inspirasi. Tanpa kesiapan jiwa, sebanyak apapun informasi yang kita terima, tidak akan membekas dalam benak kita. Seperti halnya informasi yang masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan.

Jiwa yang siap ibarat tanah yang luas. Ia dapat menampung berbagai macam hal yang bermanfaat. Batas dan tepinya tidak kita ketahui karena saking luasnya. Bila benar apa yang dikatakan Einstein, kita baru menggunakan 5% saja dari kemampuan otak kita, betapa besarnya kapasitas otak kita dan betapa luasnya pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas menggunakan otaknya?

Bagi jiwa yang selalu siap, situasi dan kondisi apapun bisa sangat menguntungkan bagi dirinya. Penderitaan dan sempitnya penjara bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah maha karya. Bahkan, situasi dan kondisi itu adalah stimulan untuk menulis buku-buku hebat dan bermakna kuat. Imam Ibnu Taimiyah, misalnya, menulis sebagian besar buku Majmu Fatawa yang tebalnya 30 jilid ketika berada di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis sebagian besar Tafsir Al Azhar ketika berada di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Quran, ketika berada di dalam penjara.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menulis buku Fiqh Sirah ketika berada dalam pengasingan di Madinah akibat diusir oleh pemerintah Mesir yang zalim pada saat itu. Begitupun dengan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis buku Fiqh Zakat ditempat pengasingannya di Qatar.

Dahsyatnya, semua buku yang mereka tulis itu menjadi karya fenomenal dan rujukan berjuta-juta kaum muslimin. Majmu Fatawa adalah buku berisi kumpulan fatwa terbesar yang pernah ada. Tafsir Al Azhar, menurut seorang orientalis, adalah kitab tafsir terbaik yang pernah ditulis ulama asal Indonesia. Kitab ini menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Bahkan di beberapa pusat pendidikan Islam, kitab ini menjadi buku wajib bagi para santrinya.

Tafsir Fi Zhilalil Quran adalah tafsir Al Quran yang paling banyak dibaca aktivis pergerakan Islam saat ini. Sayyid Quthb menulis tafsirnya dengan bahasa yang sangat indah. Kemampuan sastranya mengalir bersama dengan semangat juangnya yang tinggi. Banyak kalangan menyebutkan, belum pernah ada orang menulis tafsir seperti yang dilakukan oleh Sayyid Quthb.

Kitab Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad Al Ghazali begitu khas. Dalam buku itu, beliau memadukan antara sejarah Nabi Muhammad dan pergerakan Islam saat ini. Sehingga karyanya ini menjadi salah satu rujukan utama aktivis Islam dalam disiplin ilmu Sirah Nabawiyah. Buku beliau ditulis di depan makam Rasulullah. Setiap kali mulai menulis, beliau menangis mengenang perjuangan agung Rasulullah Saw. Tulisannya mengalir deras bersamaan dengan derasnya airmata yang keluar. Membentuk kalimat-kalimat indah dan bermakna.

Sedangkan buku Fiqh Zakat karya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dinobatkan oleh pemikir besar Islam, Imam Abul A'la Al Maududi, sebagai buku terbaik di abad ke-20. Dikalangan pemerhati zakat, buku ini menjadi buku rujukan wajib bagi mereka. Lihat saja buku-buku zakat yang ada sekarang pasti menjadikan Fiqh Zakat sebagai salah satu sumber rujukan utamanya.

Penderitaan bagi mereka adalah tambang kearifan dan kebijaksanaan. Dari sana muncul kata-kata yang tulus, makna yang mendalam, dan hakikat sebuah pengorbanan. Karena ia muncul dari jiwa yang merdeka. Jiwa yang tanpa dusta di dalamnya. Penderitaan mereka dalam berjuang adalah bukti pengorbanan yang sesungguhnya.

Kebalikannya bagi si pemilik jiwa yang sempit. Meskipun tinggal di dalam istana yang luas dan mewah, tidak membuatnya merasa nyaman dan tentram. Selalu saja baginya membuat-buat alasan untuk berhenti berkarya. Padahal alasan-alasan itu hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Alasan-alasan itu pada akhirnya memenjarakan dirinya pada penjara yang hakiki. Penjara yang membuatnya tidak bisa berimajinasi dan berpikir merdeka.

Jangan katakan tidak ada inspirasi. Tapi evaluasilah diri, sudahkah kita siap menyambut datangnya inspirasi. Jangan sampai gara-gara jiwa tidak siap, inspirasi itu menghilang begitu saja. Sebaliknya, ketika jiwa kita sudah siap, insya Allah inspirasi yang kita peroleh tidak ada habis-habisnya.

Kamis, 05 Februari 2015

Rahasia Dibalik Produktivitas Menulis Para Ulama

Jika kita membaca sejarah kehidupan para ulama, akan kita dapatkan produktivitas mereka dalam beramal saleh. Mereka adalah ahli ibadah, juru dakwah, rajin menuntut ilmu, ditangan mereka kitab-kitab bermutu ditulis. Bagaimana mereka bisa sehebat itu? Di sepertiga malam mereka bangun untuk qiyamul lail, setelah itu mengerjakan shalat shubuh dan berdzikir hingga waktu dhuha. Setelah itu mereka mengajar atau menulis kitab. Di malam harinya mereka beribadah, membaca buku, atau menulis kitab. Jika ada waktu luang, mereka tidak pernah habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat.

Subhanallah, di antara mereka terdapat nama Imam Ibnu al-Jauzy, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Katsir, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dan sebagainya. Jika mereka beribadah, sungguh sangat lama sekali; ruku’, sujud, dan berdirinya lama. Jika mereka sedang membaca kitab, mereka berkonsentrasi penuh sehingga kitab itu seolah telah memutuskan dirinya dari dunia luar. Jika mereka berdakwah, ratusan hingga ribuan orang asyik mendengar ceramahnya. Ia tidak hanya menyampaikan ilmu satu jam atau dua jam saja, tetapi dari pagi hingga sore dengan ketekunan yang luar biasa. Di antara mereka ada yang telah menulis puluhan hingga ratusan buku. Imam Jalaluddin as-Suyuti dikabarkan telah menulis 600 jilid. Imam Ibnu Taimiyah dikabarkan telah menulis 500 jilid. Sementara Imam Abu Bakar al-Anbari telah menulis 400 jilid. Subhanallah, sungguh sangat banyak karya tulis yang telah mereka buat.

Ibnu Aththar berkata, “Guru kami an-Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan menghafal.”

Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”

Pada zaman itu, memperoleh buku sangatlah susah. Tidak seperti zaman sekarang. Di zaman sekarang, kita kebanjiran informasi. Seolah kita tidak perlu lagi mencari informasi, tetapi informasilah yang mencari kita. Dulu, kita hanya mengenal kuda dan unta untuk kendaraan darat, sekarang kita mengenal motor dan mobil. Jika dipikir-pikir, seharusnya zaman sekarang ini, kita dapat lebih produktif dalam berkarya. Jika kita menulis, maka karya tulis yang kita buat seharusnya lebih banyak daripada para penulis zaman dahulu. Bukan sebaliknya! Zaman sekarang ini kita serba cepat tapi lemah; ilmu cepat hafal tapi cepat pula hilangnya. Kita mengenal metode belajar cepat ala quantum learning dan accelerated learning. Kita dimanjakan oleh berbagai kemudahan yang pada akhirnya akar jati diri dan pengetahuan kita yang seharusnya menghujam ke bumi, tidak kuat, sehingga kita menjadi malas, mudah lupa, dan terkesan menunda-nunda pekerjaan.

Zaman dulu tidak ada komputer. Buku-buku yang mereka buat ditulis tangan. Kalau tidak karena ketekunan yang luar biasa, menulis dengan cara kuno seperti itu akan memakan waktu yang sangat lama. Kita membuat sebuah buku dengan mengetik di komputer saja sudah sangat lama, apalagi kita harus menulis buku dengan tulisan tangan! Bagus kalau dapat dibaca, tapi kalau tidak, bagaimana? Siapa yang mau membaca tulisan yang amburadul itu, yang penuh dengan coretan dan koreksian di sana-sini? Bagaimana mungkin pembacanya dapat mengerti? Mungkin memegang bukunya saja sudah tidak mau, apalagi membacanya!