Selasa, 10 November 2015

Taman Orang Jatuh Cinta karya Imam Ibnul Qayyim

Buku "Taman Orang Jatuh Cinta: Tamasya Orang yang Terbakar Rindu" adalah salah satu buku yang saya edit. Tebalnya 464 halaman. Buku ini sangat bagus terutama bagi orang yang tengah dimabuk asmara terhadap lawan jenis. Diterjemahkan dari kitab aslinya yang berjudul "Raudhatul Muhibbin man Nuzhatul Musytaqin" karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah.

Berikut ini adalah salah satu perkataan Imam Ibnul Qayyim yang ada dalam buku tersebut:
"Salah satu kecocokan seseorang dengan orang yang dicintainya adalah keserasian akhlak, keselarasan jiwa, rindunya satu jiwa kepada jiwa yang selaras dengannya. Secara alami, kesamaan sesuatu akan menarik kebersamaan dua jiwa. Dua jiwa yang serupa dalam dalam penciptaannya yang asli akan menghasilkan daya tarik antara keduanya. Sekali lagi hal itu terjadi secara alami, tidak bisa dicari latar belakangnya atau alasan tarik menarik di antara keduanya. Seperti halnya sepotong besi dengan biji-biji debu yang mengandung sifat magnetik. Tidak dapat disangkal bahwa daya tarik kedua ruh semacam itu, lebih kuat daripada daya tarik material lainnya."

Ingin saya katakan, mengomentari perkataan Imam Ibnul Qayyim di atas, bahwa beliau, tidak hanya memahami ilmu-ilmu syariat, tetapi juga sangat memahami ilmu psikologi dan sosial. Intinya all about love ada di dalam buku ini.

Senin, 09 November 2015

NU itu Syiah Minus Imamah

Orang syiah merasa gembira dengan perkataan Gus Dur yang mengatakan NU itu syiah minus imamah. Bahwa perkataan itu menunjukkan dukungan Gus Dur kepada syiah. Bahwa NU itu dekat dengan syiah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagaimana dikatakan orang syiah yang bernama Candiki Repantu dalam situs http://www.alhassanain.com/…/im…/imamah_dan_wilayah/001.html:

"Salah satu perbedaan pokok yang mendasar antara sunni dan syiah adalah keyakinan tentang imamah. Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau."

Imamah dalam syiah adalah rukun iman dan pokok agama mereka. Sedangkan di NU tidak mengenal yang demikian itu. Rukun iman di NU sangat jauh dari istilah imamah. Contoh implikasi imamah adalah bila syiah selain mengambil hadits dari Rasulullah juga dari imam yang duabelas. Sedangkan NU tidaklah mengikuti dengan cara seperti itu. NU mengikuti hadits sebagaimana yang telah digariskan ahlussunnah wal jamaah. Artinya, NU tidak mempercayai hadits-hadits diluar yang telah ditetapkan oleh ijma ulama ahlussunnah waljamaah. Syiah mengatakan imam yang duabelas itu maksum, sedangkan bagi NU imam yang duabelas itu tidak maksum. Yang maksum hanya Nabi Saw. Jadi kalau sudah ngomongin akidah orang NU dengan orang syiah jelas berbeda 180 derajat. Bila Gus Dur mengatakan NU itu syiah minus imamah artinya NU itu bukan syiah. NU itu ahlussunnah. Gitu aja kok repot 
smile emotikon

Minggu, 08 November 2015

Bukti Kebenaran Islam

Sudah tidak terhitung jumlah umat Islam yang hafal Al Quran. Seandainya seluruh Al Quran yang ada di dunia ini hangus terbakar, Al Quran akan tetap abadi di dalam dada kaum muslimin yang telah menghafalnya. Sedikit saja kesalahan dalam tulisan atau bacaannya maka akan dengan mudah diketahui oleh umat Islam yang lainnya. Al Quran dengan sempurna dan utuh diwariskan turun temurun secara mutawatir. Oleh karenanya sangat mustahil mereka bersepakat dalam kebatilan.

Ketika Zaid bin Tsabit diminta melukiskan kesukaran melakukan tugas suci menghimpun Al Quran, ia berkata, "Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun Al Quran." Perkataan Zaid ini menunjukkan beban dan tanggung jawab seorang mukmin terhadap amanah ilmiah. Beliau tidak main-main dalam memperlakukan Al Quran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata, "Untuk mengkaji satu ayat saja, saya telah membaca 100 kitab tafsir." Tidak hanya itu, bila mendapatkan masalah ilmu yang cukup pelik, maka beliau beristighfar 1000 kali atau berdoa kepada Allah dalam sujudnya, "Ya Allah Tuhan yang mengajari Adam dan Ibrahim, ajarilah aku!"

Ibnu Umar Ra. ketika meriwayatkan hadits Nabi badannya bergetar karena takut kepada Allah jika saja salah meriwayatkan hadits. Padahal beliau adalah anak dari Amirul Mukminin. Disebutkan juga bahwa beliau adalah salah satu sahabat Nabi yang paling berilmu.Ketakutan beliau menunjukkan kehati-hatian beliau terhadap hadits Nabi. Sebagaimana sabda Nabi Saw.: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari mengerjakan shalat istikharah setiap kali akan menulis hadits Nabi. Beliau kerahkan secara maksimal seluruh potensi yang ada untuk meraih keshahihan hadits. Tidak hanya ilmu yang melekat di kepalanya, tetapi terlebih bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah Swt. Oleh karenanya beliau memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah.

Para ulama menghasilkan ilmu jarh wat ta'dil dengan tujuan menjaga kemurnian dan kebenaran Islam. Bila perawinya dhaif maka akan dikatakan dhaif. Bila perawinya shahih maka akan dikatakan shahih. Semuanya tampak jelas rambu-rambunya, bukan hawa nafsu si penilai.

Selama ini kaum orientalis dan sekuler bingung mencari celah atas kesalahan kaum muslimin terhadap ajaran agamanya. Mereka ingin menyerang Al Quran dan Al Hadits tapi serangan itu semakin menunjukkan betapa bodohnya mereka dan semakin menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah suatu yang ilmiah.

DR. Edward Said, dalam bukunya yang kesohor, Orientalism, mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh para orientalis dalam meneliti agama islam, khususnya hadits, bukanlah pekerjaan yang non profit oriented, artinya mereka memiliki tujuan tertentu dengan meneliti agama Islam sedemikian rupa, tujuan itu antara lain adalah mencari kelemahan Islam dan kemudian mencoba menghancurkannya pelan-pelan dari dalam.

Maka tentu saja perbedaannya akan tampak, yaitu antara ulama dengan para orientalis itu. Yang pertama adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Sedangkan kelompok kedua adalah orang yang memperturutkan hawa nafsu. Buah dari kelompok pertama adalah petunjuk, sedangkan buah dari kelompok kedua adalah kesesatan.

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun..." (QS. Al Qashash: 50)

Jumat, 06 November 2015

Sumbangsih Tarekat bagi Kebangkitan Islam

Apa pandangan saya tentang tarekat? Apakah ia menyimpang dari kebenaran? Jawaban saya, saya tidak berani mengatakan tarekat itu menyimpang dari kebenaran. Karena saya bukanlah ahli agama atau hakim yang mampu memutuskan perkara. Saya hanya ingin mengungkapkan pandangan saya yang mungkin benar, mungkin juga salah. Tapi yang pasti adalah sejarah telah mencatatnya.

Bagi saya, tarekat pada awal mulanya adalah perwujudan dari ijtihad ulama. Tarekat adalah gerakan tasawuf yang terorganisir. Ia banyak bermunculan setelah banyak terjadinya kekacauan di negeri Islam yang dilakukan oleh orang-orang kafir, seperti direbutnya Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah, oleh tentara-tentara Mongol pimpinan Hulaghu Khan dan dikuasainya Yerusalem oleh tentara-tentara salib.

Tentu para ulama heran, bagaimana bisa umat Islam yang memiliki agama yang agung, dikalahkan dan dipecundangi sedemikian rupa oleh orang-orang kafir. Para ulama memandang hal ini sebagai sesuatu yang berbahaya bagi umat dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Salah satu ulama yang mula-mula melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini adalah Imam Al Ghazali rahimahullah. Tampaknya beliau melihat bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah umat Islam yang hubbud dunya, jauh dari agama. Sehingga umat Islam tidak begitu mempunyai semangat dalam memperjuangkan agamanya. Maka para ulama mulai menghidupkan ajaran ruhani dalam Islam, agar umat menyadari dari lubuk hatinya yang paling dalam, tentang kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, pentingnya tazkiyatun nafs dan taqarub kepada Allah, dan segera kembali pada agamanya yang nyatanya bernilai mulia.

Membangkitkan kesadaran hati dengan nilai-nilai ruhani nyatanya mampu memunculkan ghirah atau semangat baru sehingga umat pun bangkit dari keterpurukannya; hidup zuhud, jujur, sabar, tawakal, ridha, taat, syukur, mujahadah, dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Maka lahirlah dari tarbiyah itu pemimpin-pemimpin saleh seperti Shalahuddin Al Ayyubi, Nuruddin Zanki, Ertugrul, dan Muhammad Al Fatih.

Tidaklah mengherankan bila gerakan tarekat adalah gerakan yang sangat anti terhadap penjajahan. Para pengikut tarekat tidak malu-malu mengatakan penjajah itu orang kafir dan perang yang mereka kobarkan sebagai jihad fisabilillah.

Syaikh Abdussamad al-Palimbani (dari Palembang) menulis sejumlah kitab tentang jihad fisabilillah sebagai dorongan untuk mengusir pasukan kafirin, di antaranya Nashihat Al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu'minin fi Fadha'il Al-Jihad fi Sabil Allah. Beliau juga telah menulis surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Susuhunan Prabu Jaka (putra Amangkurat IV) yang dapat dianggap dorongan untuk terus berjihad melawan orang kafir, sebagaimana dilakukan para sultan Mataram sebelumnya. Syaikh Abdussamad seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia, bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik.

Ulama tarekat lainnya yang memimpin gerakan jihad melawan kafir penjajah adalah Syaikh Yusuf Makassar Tajul Khalwati. Akibat perlawanannya yang sengit terhadap penjajah, dia dibuang ke beberapa tempat. Di Banten ia mengobarkan jihad, lalu tertangkap. Kemudian dibuang ke Srilangka. Di Srilangka beliau juga tidak diam, penjajah kafir membuangnya lagi ke Afrika Selatan. Bisa anda bayangkan betapa sangat jauhnya ulama yang satu ini dibuang karena ketakutan penjajah kafir akan pengaruhnya terhadap gerakan anti penjajahan.

Pada perang padri di Sumatera Barat selama 17 tahun (1821 - 1838) pimpinan yang terkenal adalah Tuanku Iman bonjol (Muhammad Syahab). Imam bonjol ini adalah seorang ulama Tarekat selalu didampingi para penasehat dan dibantu oleh panglima-panglima pasukan yang kebanyakan ulama yang mengamalkan Tarekat diantaranya Tarekat Naqsyabandiyyah, Qodiriyyah dan Samaniyah , sebagian dari mereka tertawan Belanda dan sebagian gugur.

Peran dan jasa tarekat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji dan kalangan pesantren. Dalam perjuangan yang dilakukan Diponegoro, Kyai Maja pun tampil sebagai pemimpin spiritual pemberontakan tersebut. Untuk menarik dukukan dari pondok pesantren, tokoh agama dan jasa pengikut tarekat, Pangeran Diponegoro menyebut pemberontakannya sebagai perang suci atau perang sabil.Tak heran, jika kemudian peran dan jasa para pengikut tarekat dan umat Islam lainnya, pada waktu itu meyakini pemberontakan Diponegoro itu sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa. Perang itu pun digaungkan Diponegero untuk mengusir kolonial Belanda yang tak beriman dari tanah Jawa.

Selain itu, sejarah juga mencatat banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah belanda yang dimotori tarekat, seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa'I (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917) dan Peristiwa Garut (1919).

Dalam pemberontakan Cilegon - BANTEN 1888 Selama satu tahun yang menjadi pimpinan pemberontakan adalah KH. Marzuqi putera menantu KH. Asnawi kholifah Tarekat Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah, pengganti Syaikh Abdul Karim kholifah TQN pertama di Banten. Kerugian Belanda amat besar. KH. Asnawi di tangkap Belanda. Atas bukti-bukti tersebut di atas, maka pemerintah penjajah Belanda memandang Tarekat sebagai musuh besar yang sangat ditakuti dan harus dikikis habis.

Di India Sultan Aurangzeb (pertengahan abad ke-17) adalah penganut tarekat Naqsyabandiyah. Tarekat inilah yang punya andil dalam perubahan besar kehidupan beragama di bawah Sultan ini. Agama resmi yang diciptakan Sultan Akbar, Din-i Ilahi, yang merupakan perpaduan Islam dan Hindu, digantikan dengan Islam yang murni dan berorientasi syariah. Dalam salah satu surat kepada Sultan Aurangzeb, Syaikh Muhammad Ma`sum (seorang ulama tarekat Naqsyabandiyah) menganjurkannya untuk menunaikan jihad dalam dua dimensinya, yaitu perang melawan kafir (dalam hal ini negara tetangga Qandahar yang Syiah) dan perang melawan nafsu.

Itulah tarekat yang saya ketahui. Saya tidak menyetujui kemungkaran bila ada di dalamnya. Sekaligus saya tidak menafikan sumbangsihnya dalam kebangkitan peradaban Islam. Dan, setiap ijtihad ulama di zamannya berbeda-beda, bisa jadi satu ajaran Islam yang menjadi prioritas gerakannya di satu zaman, sedangkan di zaman lainnya, prioritasnya yang lain. Bukan berarti bahwa ulama-ulama itu hanya memahami Islam secara parsial, tapi justru ulama-ulama itu datang membawa obat yang diperlukan umat yang sakit.

Kamis, 05 November 2015

Membaca Fenomena Keberanian 'Menyerang' Islam Secara Terang-terangan (2)

"Kami berkuasa maka pemaaf sifat kami,
Tatkala kalian berkuasa
Darah pun mengalir rata
Tidaklah mengherankan perbedaan diantara kita
Karena setiap bejana merembes sesuai isinya."

Syair yang ditulis Dr. Musthafa As Siba’i dalam bukunya yang berjudul "Peradaban Islam Dulu, Kini, dan Esok" menggambarkan realitas umat Islam dan orang-orang kafir ketika mereka berkuasa. Bahwa umat Islam ketika berkuasa maka memaafkan adalah sifat mereka. Namun ketika orang kafir yang berkuasa, maka mereka melakukan perbuatan zalim kepada umat Islam. Kejadian seperti ini sudah banyak contohnya. Seperti yang terjadi di Ambon-Maluku, Tolikara, Manokwari, Myanmar, Palestina, Philipina, dan Uyghur-China.

Dalam peperangan Tartar di negeri Syiria banyak orang-orang Islam, Yahudi, dan Nashrani menjadi tawanan pasukan Tartar. Syaikh Ibnu Taimiyah dengan gagah berani menemui pemimpin Tatar untuk membicarakan persoalan tawanan dan pembebasan tawanan mereka. Pemimpin Tatar mengabulkan pembebasan tawanan kaum muslimin saja, tidak dengan kaum Nashrani dan Yahudi. Namun Syaikh, yang di dunia Barat dikenal sebagai ulama fundamentalis-ekstrimis, menolak! Ia berkata: "Yang harus dibebaskan adalah semua tawanan yang ada pada Anda, termasuk kaum Yahudi dan Nashrani. Mereka ini adalah ahli dzimmah kami. Kami tidak akan membiarkan seorang tawanan pun baik dari ahli dzimmah maupun ahli millah." (lihat buku Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok karya Dr. Musthafa As Siba'i, lihat juga buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karya Abul Hasan Ali An Nadwi).

Syaikh Muhammad Hasan salah seorang ulama pendukung Presiden Muhammad Mursi mengatakan berikut ini ketika Mursi berhasil memenangkan pemilu Presiden Mesir: "Saya berpesan kepada saudaraku umat Nashrani Koptik: “Demi Tuhan yang memiliki Ka’bah! Sungguh kalian hidup bersama kami berabad-abad dan kalian akan tetap hidup bersama kami berabad-abad lagi ke depannya dengan aman, tentram di bawah syariat Allah swt. dan Rasul-Nya, karena pengikut syariah tidak akan rela kezhaliman menimpa kalian selamanya, karena kalian adalah wasiat Nabi Muhammad saw., kami dan kaliam menaiki bahtera satu, jika bahtera ini selamat, maka kita semua akan selamat, jika bahtera ini hancur maka kita semua hancur."

Lebih lanjut kesaksian seorang Yahudi bernama Max I. Dimon menyatakan bahwa “salah satu akibat dari toleransi Islam adalah bebasnya orang-orang Yahudi berpindah dan mengambil manfaat dengan menempatkan diri mereka di seluruh pelosok Empirium Islam yang amat besar itu. Lainnya ialah bahwa mereka dapat mencari penghidupan dalam cara apapun yang mereka pilih, karena tidak ada profesi yang dilarang bagi mereka, juga tak ada keahlian khusus yang diserahkan kepada mereka.”

Pengakuan Max I. Dimon atas toleransi Islam pada orang-orang Yahudi di Spanyol adalah pengakuan yang sangat tepat. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam peradaban Islam, masyarakat Islam membuka pintu masjid, dan kamar tidur mereka, untuk pindah agama, pendidikan, maupun asimilasi. Orang-orang Yahudi, kata Max I. Dimon selanjutnya, tidak pernah mengalami hal yang begitu bagus sebelumnya.

Ketika orang-orang kafir sangat masif menyerang Islam akhir-akhir ini, sesungguhnya kejadian itu menimbulkan tanda tanya. Apakah kondisi orang kafir sudah mulai berada di atas umat Islam sehingga mereka begitu mudah dan terang-terangan; tanpa takut lagi, menyerang Islam? Atau kondisi umat Islam saat ini yang telah terkontaminasi oleh pemikiran sekuler dan opini-opini sesat orang-orang kafir sehingga seolah mereka tak berdaya dalam menghadapi serangan kotor tersebut?

Kita ketahui bersama bahwa pelaku utama korupsi yang banyak merugikan negara hingga trilyunan justru dipraktikkan oleh orang-orang kafir. Namun media sekuler dan kafirin mengerdilkannya dan justru membesar-besarkan berita korupsi yang dilakukan oleh segelintir umat Islam. Lalu di caplah bahwa pelaku utama korupsi di negeri ini adalah umat Islam. Umat Islam adalah biang keroknya! Siapa Eddi Tanzil yang korupsinya mencapai 9 trilyun jika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 700 %, jauh lebih dahsyat dari nilai skandal Bank Century yang hanya Rp 6,7 triliun? Lalu siapa koruptor-koruptor BLBI yang korupsi Rp 225 trilyun, Hendra Rahardja yang merugikan negara sebesar Rp 2,6 triliun, Maria Pauline yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 triliun, Anton Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Dewi Tantular yang merugikan negara Rp 3,11 triliun, Tony Suherman yang merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Lesmana Basuki diduga merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika, Marimutu Sinivasan merugikan negara Rp 20 miliar, Sukanto Tanoto diduga merugikan negara sebesar 230 juta dollar Amerika?

Belum lagi bila membicarakan kasus yang melibatkan Miranda Goeltom, Theo Toemion, Freddy Harry Sualang mantan, Panda Nababan, Max Moein, Ni Luh Mariani Tirta Sari, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani alias Ayin dsb.

Jangankan ketika menjadi mayoritas, ketika menjadi minoritas pun orang-orang kafir telah banyak membuat kerusakan. Namun atas nama Hak Asasi Manusia kemudian kerusakan itu mereka tutup seolah tidak pernah ada. Mereka menuduh orang Islam sebagai koruptor, atau PKS, misalnya, sebagai partai terkorup, maka bila dibanding dengan korupsi yang dilakukan orang kafir atau korupsi partai-partai sekuler, maka itu tidak ada apa-apanya meskipun tentu saja korupsi besar atau kecil itu salah.

Sejarah adalah pelajaran berharga bagi kita. Sekali lagi bukan karena kita dendam dengan mereka, justru kita memaafkan mereka, tapi agar kejahatan mereka tidak terulang lagi dikemudian hari. Bahwa kita, hari ini, haruslah mencegah kezaliman itu berulang, tidak hanya kepada diri kita, bahkan kepada mereka yang tidak seagama dengan kita. Mulai dari diri kita, sadar akan posisi kita sebagai muslim di negeri ini, sadar bahwa keislaman kita hari ini adalah berkat perjuangan para leluhur kita; para ulama, orangtua kita, orang-orang saleh, para dai yang gigih berjuang menyerukan kalimat Allah. Sedangkan hari esok, anak-cucu kita, keislamannya ditentukan oleh apa yang kita perjuangkan hari ini. Bila hari esok peradaban Islam itu luntur di negeri ini, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan diri kita sendiri mengapa berdiam diri.

Rabu, 04 November 2015

Membaca Fenomena Keberanian 'Menyerang' Islam Secara Terang-terangan (1)

Akhir-akhir ini sering saya dapatkan komentar orang-orang kafir di situs-situs Islam. Mereka sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi mengutarakan opini mereka ditengah kaum muslimin. Padahal apa yang mereka komentari tidak ada sangkut pautnya dengan mereka secara langsung. Mereka mengutarakan ketidaksukaan dan ejekan pada syariat Islam, para pejuang syariat, ulama, dan orang-orang saleh. Bahkan di antara mereka ada yang berani menyamar sebagai ustadz, ada koordinator JASMEV yang memakai jilbab padahal orang kafir. Fenomena apakah ini?

Terus terang selama bertahun-tahun saya berselancar di internet, baru beberapa bulan terakhir ini saja saya merasakan serangan mereka begitu masif. Tapi saya punya pendapat yang mungkin salah, mungkin benar. Pendapat saya, fenomena ini terjadi karena:

Pertama, mulai bermunculannya kasus korupsi yang melibatkan petinggi PKS. Kondisi ini mengakibatkan tergerusnya pengaruh positif politik Islam secara umum ditengah masyarakat. Karena saat ini ada anggapan bahwa satu-satunya partai Islam yang real adalah PKS, maka ketika PKS menjadi negatif, otomatis politik Islam akan menjadi negatif. Orang-orang kafir menggunakan situasi ini untuk kepentingan mereka; mempengaruhi opini publik bahwa Islam itu buruk.

Kedua, kemenangan Jokowi-Ahok di pilgub DKI lalu kemenangan Jokowi-JK di pilpres adalah dua kemenangan yang beruntun terjadi. Dua kemenangan ini dipercaya atau tidak adalah dua kemenangan yang sangat disukai oleh kelompok sekuler dan kaum kafirin. Berkat dua kemenangan ini mereka seolah mempunyai alasan untuk berani berbicara lebih lantang tanpa perlu takut lagi karena masyarakat sudah berubah.

Ketiga, Gubernur DKI orang kafir ditengah mayoritas muslim. Dia ngomong kasar, menjelek-menjelekkan ajaran Islam, umat Islam marah-marah toh ternyata tidak mempengaruhi Ahok. Ahok cuek saja. Orang-orang kafir sepertinya mengikuti jejak Ahok ini. Mereka menjelek-jelekkan Islam, umat Islam paling cuma bisa marah. Elit politiknya sudah lemah atau bila bersuara pun mereka akan dibully karena adanya kasus pertama di atas. Anehnya sebagian umat Islam malah ikut-ikutan membully. Sepertinya mereka terpengaruh dengan opini yang diciptakan oleh orang sekuler dan orang kafir.

Keempat, gencarnya syiar sekularisme dan kristenisasi. Sekularisme dan kristenisasi adalah dua hal yang seiring sejalan merusak dan melemahkan akidah umat Islam. Tokoh penting yang mengobarkan Ghazwul Fikr (perang pemikiran) terhadap umat Islam, yaitu Samuel Zwemer, adalah seorang pendeta. Berdasarkan data yang saya peroleh, dalam prosentase jumlah umat Islam di Indonesia terus berkurang dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil riset Yayasan Al Itsar Al Islam (Magelang) pada tahun 1999-2000 umat Kristen dan Katolik di Jateng telah meningkat dari 1-5%, kini naik drastis 20-25% dari total jumlah penduduk Indonesia. Dari laporan Riset Dep. Dokumentasi dan Penerangan Majelis Agama Wali Gereja Indonesia, sejak tahun 1980-an setiap tahunnya laju pertumbuhan umat Khatolik: 4,6%, Protestan 4,5%, Hindu 3,3%, Budha 3,1% dan Islam hanya 2,75%. Dalam Kiblat Garut 26 Juni 2012 disebutkan, semula umat Islam di Indonesia mencapai 95% kini anjlok menjadi 85%.

Kelima, melihat begitu masifnya serangan musuh-musuh Islam terhadap Islam dan umatnya, kemungkinan besar terorganisir dengan baik. Mereka menciptakan akun-akun kloningan untuk membentuk opini yang buruk tentang Islam. Mereka adalah Troll internet. Troll internet adalah kelompok pengguna internet yang biasanya masuk ke sebuah diskusi tentang suatu topik dengan tujuan mengacaukan diskusi tersebut, baik dengan tiba-tiba memaki dan berkata kasar sehingga memancing keributan atau berpura-pura bego. Troll sebenarnya sudah ada sejak dunia message board ada di internet, namun salah satu troll bayaran pertama di Indonesia atau troll profesional adalah Jasmev. Beberapa hari yang lalu akun facebook milik Ridwan Kamil diblokir facebook setelah sebelumnya beliau mengungkapkan fakta tentang sungai epicentrum yang diklaim pendukung Ahok adalah buatan Ahok.

Selasa, 03 November 2015

Syaikh Ali Ash Shobuni Berdoa untuk Kemenangan Erdogan

Syaikh berkata sebelum pemilu di Turki, aku tidaklah terlena tidur dan makan sebelum mengangkat kedua tanganku kepada Allah memohon agar Allah memberi kemenangan kepada lelaki ini (Erdogan) yang memimpin Turki dengan hikmah dan agama. 
Syaikh Ali Ash Shobuni adalah sedikit ulama besar dalam ilmu tafsir yang masih hidup. Karya tulis beliau sangatlah banyak, utamanya adalah kitab tafsir Shafwatut Tafasir yang dipuji oleh ulama-ulama dunia sebagai salah satu tafsir terbaik yang ditulis oleh ulama khalaf. 
Beliau berdoa kepada Allah untuk kemenangan Erdogan karena beliau melihat dan merasakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan Erdogan untuk kaum muslimin. Terlebih lagi Syaikh Ali adalah orang Suriah di mana orang Suriah banyak dibantu Erdogan. 
Alhamdulillah, doa yang dipanjatkan Syaikh Ali dikabulkan Allah dengan kemenangan AKP (partai-nya Erdogan) dengan kemenangan yang tak disangka-sangka. Kemenangan yang cukup mengejutkan bagi kebanyakan orang. Karena di pemilu sebelumnya AKP hanya meraih 41% suara, sedangkan saat ini meraih 49% suara. Itu artinya, AKP akan bisa mandiri dalam membuat kebijakan-kebijakan terutama yang berkaitan dengan Islam dan kaum muslimin, tidak hanya untuk Turki tapi selebihnya diluar Turki.
Apa yang dilakukan oleh Syaikh Ali Ash Shobuni secara tidak langsung mengesahkan Erdogan sebagai salah seorang pejuang Islam. Oleh karenanya, sungguh mengherankan bila ada orang yang nyinyir dan dengki dengan kemenangan ini.