Sabtu, 24 Oktober 2015

Perjuangan Melawan Hawa Nafsu

Sesungguhnya perjuangan melawan hawa nafsu akan terus terjadi hingga kita mati. Karena bagi orang beriman, dunia ini ibarat penjara yang memagari hawa nafsu. Sedangkan bagi orang kafir, dunia ibarat surga; mereka bebas melakukan apa saja yang mereka mau.

Bila saja kita berhenti berjuang, niscaya berhenti pula semua karunia yang kita rasakan. Bahkan semenit saja kita lepas dari mengingat Allah, maka menit-menit selanjutnya hidup terasa kurang bermakna.

Apakah kita termasuk di antara orang yang paginya mukmin, sorenya menjadi ahli maksiat? Atau sorenya mukmin, paginya menjadi ahli maksiat? Semoga Allah menjauhi kita dari hal semacam itu.

Gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, timbullah asmara dihati. Lalu muncullah keinginan untuk melakukan perbuatan tercela. Padahal sebelumnya dia adalah ahli ibadah. Namun hanya gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, menodai hatinya yang bersih. Tak begitu lama, rasa malas beribadah menghiasi diri dan begitu ringan ia melakukan kemaksiatan lainnya.

Dalam menjalani hidup ini, kita tidak lepas dari dua pilihan: ketaatan atau kemaksiatan. Renungkanlah setiap perbuatan, lalu katakan, apa manfaatnya bagiku? Apakah dengan perbuatan yang aku lakukan itu dapat membuatku menjadi lebih baik? Bila tidak, perbuatan yang kita lakukan bisa jadi termasuk kategori kemaksiatan.

Jumat, 23 Oktober 2015

Nikmatnya Pahala Sabar Menghilangkan Rasa Sakit Karena Musibah

Di dalam kitab Ihya Ulumuddin dikisahkan, Fath Al Maushili memiliki seorang istri yang dikenal dengan kesabarannya. Suatu saat istri beliau terjatuh dan kuku jarinya pecah hingga menyebabkan luka, namun ia malah tertawa dengan keadaan seperti itu.

Hal itu menyebabkan orang disekitarnya bertanya terheran-heran, "Apakah engkau tidak merasa sakit?"

Istri Fath Al Maushili pun menjawab, "Sesungguhnya nikmatnya pahala karena luka ini menghilangkan rasa sakitnya dari hatiku."

Demikianlah keajaiban rasa sabar; musibah yang berat terasa ringan dan senantiasa tenang dan berbahagia ditengah kesulitan. Keadaan ini akan jauh berbeda bila musibah itu dihadapi dengan ketidaksabaran; musibah yang ringan menjadi terasa berat, masalah yang kecil dibesar-besarkan.

Ketika menghadapi musibah, ingat-ingatlah keutamaan sabar; keutamaannya di dunia dan pahalanya di akhirat.Ingatlah ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Rasulullah, dan perkataan ulama tentang sabar.

Selasa, 20 Oktober 2015

TANDA-TANDA PEOPLE POWER DI MESIR

Disitus middleeastmonitor.com menyebutkan tingkat partisipasi rakyat Mesir dalam mengikuti pemilu parlemen baru-baru ini hanya sebesar 2,27% dari 27 juta pemilih atau hanya sekitar 612 ribuan yang ikut mencoblos. Keadaan ini sangat jauh berbeda ketika pemilu parlemen untuk pertama kalinya pasca tumbangnya Mubarak. Di mana Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu parlemen pada saat itu; masyarakat berbondong-bondong memilih wakil rakyatnya.

Para peneliti politik di seluruh dunia sudah mafhum, kondisi rendahnya partisipasi publik dalam pemilu adalah bukti paling kuat rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah atau partai yang ada. Kondisi di Mesir saat ini sangat mengherankan sekali. Betapa pemerintahan kudeta As Sisi yang selama ini mengaku-ngaku mendapatkan dukungan rakyat, nyatanya tidak mempunyai dukungan atau legitimasi dari rakyatnya sendiri. Dari sini terlihat bahwa rakyat Mesir sedang menghukum As Sisi. Dan kudeta yang dilakukan As Sisi terhadap Mursi semakin menunjukkan bahwa kudeta tersebut hanyalah dusta dan manipulasi.

Kondisi Mesir saat ini ibarat bom waktu yang siap meledak. Ledakan tersebut tercipta bergantung pada kerjasama semua elemen masyarakat, tidak terkecuali militer di dalamnya. Bercermin dari kesuksesan gerakan People Power yang berlangsung secara damai di Filipina, di mana semua elemen masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Bahkan pembelotan militer pun terjadi. Kelompok pro-Mursi tidak bisa mengabaikan satu elemen People Power, dalam hal ini militer, walaupun militerlah yang menyiksa mereka secara kejam. Saya percaya tidak semua militer di Mesir seperti As Sisi cs.

Dalam sejarah, setidaknya ada tiga kelompok militer ketika di dalam negaranya dipimpin oleh orang zalim: Pertama, menjadi pendukung bagi pemimpin zalim tersebut. Mereka datang menyiksa lawan-lawan politik pemimpin zalim tersebut. Biasanya mereka adalah perwira-perwira papan atas yang haus harta, tahta, dan wanita.

Kedua, kelompok militer yang diam menyaksikan kezaliman tersebut. Mereka diam karena tidak ingin terlibat dalam kezaliman itu namun disisi lain mereka tidak punya kemampuan untuk menghentikan kezaliman itu. Mereka berharap akan ada pemimpin lainnya yang berani menggerakkan rakyat untuk melawan pemimpin zalim itu. Ketika kemenangan rakyat di depan mata, mereka tampil sebagai penguat atau melegitimasi kemenangan tersebut.

Ketiga, mereka yang menentang pemimpin zalim tersebut secara terang-terangan. Kebanyakan mereka bukan dari perwira papan atas. Pengaruh mereka tidak begitu besar dikalangan militer tapi dapat dijadikan penggerak revolusi dan melakukan pendekatan kepada kalangan militer lainnya.

Dari ketiga kelompok militer di atas, setidaknya dua kelompok militer dapat diajak kerjasama. Hanya saja perlakuannya berbeda. Untuk kelompok militer ketiga sudah jelas. Sedangkan untuk kelompok militer kedua, karena mereka diam, mereka juga harus diajak secara diam-diam. Maka permainan intelejen harus dijalankan agar dapat menggerakan mereka.

Saya merasa yakin bahwa revolusi di Mesir akan terjadi. melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi di Mesir saat ini. Dapat dilihat dari tanda-tandanya, selain rendahnya partisipasi rakyat dalam pemilu sebagai faktor politik, juga karena faktor perekonomian Mesir yang semakin terpuruk.Almesryoon.com melaporkan, krisis ekonomi di Mesir telah memburuk menempatkan masa depannya beresiko dan menjurus kepada kebangkrutan.

Sabtu, 17 Oktober 2015

TIDAK ADIL MENYAMAKAN KASUS PEMBAKARAN GEREJA DI ACEH SINGKIL DENGAN PEMBAKARAN MASJID DI TOLIKARA

Saya tidak suka kekerasan. Saya mencintai keadilan. Sudah seharusnyalah yang berperan dalam menutup gereja-gereja liar di Aceh Singkil adalah aparat pemerintah. Kalaupun rakyat marah lalu membakar gereja-gereja tersebut, pasti ada sebabnya. Dan yang saya tahu penyebabnya adalah ketidakadilan. Bayangkan di bumi serambi Makkah Aceh Singkil yang mayoritas muslim, mendekati angka 99%, terdapat 20 gereja liar (menurut data lain ada 25 gereja liar) Buat apa gereja sebanyak itu?

Salah satu taktik kristenisasi adalah membangun gereja liar di perkampungan muslim. Setelah gereja itu terbangun, orang-orang Kristen diluar pemukiman itu mendatangi gereja tersebut. Sehingga kemudian tidak lagi ada anggapan bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan muslim. Bila tidak ada tindak pencegahan dari penduduk kampung tersebut, mereka tidak segan-segan membeli tanah atau rumah untuk tinggal di kampung tersebut. Jadi, pendirian gereja-gereja itu bukan semata sebagai tempat beribadah. Tapi juga untuk menancapkan pengaruhnya yang besar kepada penduduk setempat bahkan kepada dunia. Bahwa Aceh bukan lagi serambi Makkah karena sudah banyak orang Kristen di dalamnya.

Bandingkan dengan satu masjid di tolikara; umatnya jelas dan proporsional sesuai dengan jumlah penduduk yang ada bahkan mungkin masjidnya kurang. Tapi anehnya ada orang yang menyamakan perusakan terhadap gereja di Aceh Singkil dengan masjid di Tolikara. Ini keterlaluan dan tidak adil! Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010, jumlah penduduk muslim di Aceh sebanyak 4.413.244, Kristen 50.309, Katolik 3.315. Artinya jumlah penduduk muslim mencapai 98% lebih. Bandingkan dengan di Papua: Muslim 450.096, Kristen 1.855.245, Katolik 500.545. Artinya jumlah penduduk muslim mencapai 16% (http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321) Namun anehnya, orang Kristen di Aceh yang hanya 1,5% mempunyai 154 gereja, belum termasuk gereja-gereja liar yang jumlahnya sangat banyak.(https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan_di_Aceh)

Kalau menurut saya, jumlah penduduk muslim di Papua masih bisa diperdebatkan karena sebagian wilayah masih sulit terjangkau. Hal ini berbeda dengan wilayah di Aceh yang lebih terjangkau. Ada kemungkinan penduduk muslim bertambah karena banyak kepala suku di pedalaman Papua yang masuk Islam. Tapi saya memakai angka yang pasti saja dulu mengenai penduduk muslim disana. Dan hingga saat ini juga saya belum mendapatkan angka yang pasti dengan jumlah masjid disana. Berbeda dengan jumlah gereja dapat terdeteksi dengan mudah karena banyaknya. Di Tolikara sendiri sebelum kerusuhan terjadi ada sekitar 700 an muslim disana (http://blog.act.id/mengungkap-sejarah-islam-bertumbuh-kemb…/) Dan hanya berdiri satu masjid. Bagaimana mungkin satu masjid saja tidak boleh didirikan disana dengan jumlah muslim sebanyak itu?!

Merujuk data Kementerian Agama tahun 2008, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 88,8%. Namun, jumlah tempat ibadahnya 64,8% saja. Sementara jumlah pemeluk Kristen Protestan nasional mencapai 5.7% dengan jumlah tempat peribadatan 15, 38%, dan pemeluk Katholik nasional mencapai 3% dengan jumlah tempat peribadatan 3.72%. Artinya tempat peribadatan umat Kristen dan Katolik jauh melebihi tempat peribadatan umat Islam dari segi skala perbandingan.

Pemerintah seharusnya tidak boleh diam melihat fenomena ini. Pendirian tempat ibadah sudah di atur dengan undang-undang. Mereka yang melanggarnya harus dihukum sesuai dengan undang-undang tersebut. Jangan dibiarkan. Kalau dibiarkan jangan salahkan juga bila penduduk yang muslim menghancurkan atau menutup gereja-gereja tersebut.

Jumat, 16 Oktober 2015

Fenomena Bobotoh Persib

Kemarin saya melihat beberapa bobotoh Persib ngumpul di kampus UIN. Dari pembicaraan yang saya dengar tampaknya mereka sedang berdiskusi ttg mekanisme pemberangkatan mereka ke GBK.

Saya melihat dari wajah-wajah mereka semangat dan senyum ikhlas. Salah satu dari mereka saya dengar berkata, "Isukan urang ke Jakarta bade nginep wae di ditu." Ada yang menimpali, "Nanaonan maneh, masih keneh lami." "Terserah urang atuh.."

Begitulah kecintaan bobotoh kepada tim sepakbola kesayangannya. Apapun mereka lakonin demi agar tim kesayangannya itu meraih kemenangan. Saya sendiri sering melihat di pagi hari remaja-remaja tanggung berkaos Persib berarak-arakan menuju Stadion Jalak Harupat padahal pertandingan baru dimulai sore atau malam hari. Kalau hari sudah mulai sore, jangan harap perjalanan menuju Soreang atau Jalak Harupat lancar. Karena pasti akan dimacetkan oleh ulah bobotoh yang asyik berkonvoi.

Bobotoh Persib memang beda dibanding pendukung dari tim sepakbola daerah lainnya. Tidak hanya mereka, secara kultural orang Sunda sangat senang menonton Persib. Kalau Persib sudah bertanding, apalagi final, jalanan di kota Bandung lengang. Mereka semua sedang asyik menonton TV dimana Persib sedang bertanding. Tidak heran, channel TV ESPN mengambil hak penuh siaran Persib untuk TV kabel karena mereka sudah mengetahui fenomena hebat ini. Akibatnya, pundi-pundi uang pun mengalir ke kocek Persib.

Kepada bobotoh Persib, terutama dari Viking, jadilah sporter yang suportif. Kalah menang adalah keniscayaan. Jangan kalau kalah marah-marah; hancurin sana hancurin sini. Inget orang sunda itu someah hade kasemah. Dan juga jangan lupa shalat. Selamat bertanding di final Piala Presiden.

Kamis, 15 Oktober 2015

Kemenangan Kalian Datang dari Langit

Melihat foto-foto dan video-video pendek di facebook tentang penderitaan yang dialami saudara-saudaraku di Suriah dan Palestina sungguh menyimpan pilu yang mendalam di hati. Masih terbayang dalam ingatan, sosok mungil Aylan Al Kurdi, yang terkapar di pantai menjadi mayat. Atau seorang muslimah yang lemah dan tidak bersenjata diberondong peluru tentara Zionis la'natullah hingga syahid. Betapa saya tidak banyak berbuat untuk mereka, selain apa yang bisa saya sampaikan secara materi maupun doa.
Saya pernah mendengar salah seorang mujahidin Palestina berkata, doakan saja kami. Ya, mereka hanya minta di doakan. Permintaan yang sangat sederhana. Tapi apakah kita telah melakukannya? Telah menyempatkannya? Misalnya selepas shalat atau waktu dimana diijabahnya doa? Maaf, bukannya di facebook ya. Doa kita dalam kesunyian, hanya kita yang tahu dan dengar lafaz yang kita ucapkan, jauh lebih afdhol daripada doa yang kita ucapkan terang-terangan, apalagi di facebook.
Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, 'Dan bagimu juga kebaikan yang sama'.”(HR. Muslim)
"Doa seorang muslim untuk saudaranya di seberang sana sungguh mustajab. Di kepalanya ada malaikat yang ditugasi oleh Allah untuk mengucapkan 'amin' setiap kali ia mendoakan kebaikan buatnya. Malaikat itu juga berkata: 'Dan bagimu juga seperti itu'." (HR. Bukhari dan Ahmad)
"Doa seseorang untuk saudaranya dikejauhan tidak akan ditolak." (HR. Bazzar)
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata, "Doa ikhwah fillah adalah mustajab." (HR. Bukhari)
Mungkin saja dari doa-doa yang kita panjatkan, Allah menghancurkan tank dan pesawat musuh, atau Allah menolong seorang hamba-Nya yang sedang berjihad, atau Allah menghalau roket-roket musuh, atau Allah membunuh musuh-musuh-Nya lewat para pejuang-Nya, atau Allah menyelamatkan seorang anak. Doa-doa kita untuk mereka ibarat senjata-senjata yang mematikan bagi musuh. Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk mereka dan yakinlah jika doa-doa itu tidak ada yang sia-sia.
Umar bin Khaththab meminta kemenangan kepada Allah atas musuhnya dengan berdoa, padahal Umar adalah tentara-Nya yang paling gagah. Umar pernah berkata kepada pasukannya, “Kalian tidak menang karena jumlah kalian yang banyak, akan tetapi kemenangan kalian datang dari langit.” Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Saya tidak membawa semangat dikabulkannya doa, akan tetapi saya membawa semangat untuk berdoa. Jika saya dikaruniai kesempatan untuk berdoa, maka sesungguhnya aku dikaruniai terkabulnya doa.”
Cobalah setelah membaca tulisan ini Anda berdoa untuk saudara-saudara Anda di Suriah dan Palestina. Berdoalah ditempat duduk Anda berada.

Rabu, 14 Oktober 2015

Atas Nama Kemanusiaan, Persenjatailah Rakyat Palestina!

Begitu mudahnya orang-orang Israel mendapatkan senjata. Sementara bagi rakyat Palestina di tepi barat mendapat senjata saja susah, ketika mendapat senjata, mereka malah ditangkapi oleh orang-orang Mahmud Abbas.

Sudah bukan saatnya lagi rakyat Palestina hanya bermodalkan batu untuk menyerang tentara Israel. Sudah saatnya rakyat Palestina dipersenjatai dengan senjata-senjata yang canggih. Ditangan Pemuda Palestina bukan lagi batu melainkan granat-granat yang siap meledak.

Jika dunia barat menolak aksi ini berarti mereka menolak aksi kemanusiaan. Rakyat Palestina hanyalah membela diri dan mendapatkan hak-hak mereka kembali setelah sebelumnya dirampas oleh Zionis Israel.

Apa bedanya dengan bangsa kita yang dulu ingin merdeka pada awalnya menggunakan bambu runcing lalu kemudian memiliki senapan laras panjang. Zionis Israel tidak ada bedanya dengan Belanda atau Jepang. Mereka sama-sama penjajah. Jika ada yang mengaku dirinya muslim menolak aksi jihad seperti HAMAS maka dia jelas-jelas buta mata hatinya dan tidak berprikemanusiaan.