Selasa, 03 November 2015

Syaikh Ali Ash Shobuni Berdoa untuk Kemenangan Erdogan

Syaikh berkata sebelum pemilu di Turki, aku tidaklah terlena tidur dan makan sebelum mengangkat kedua tanganku kepada Allah memohon agar Allah memberi kemenangan kepada lelaki ini (Erdogan) yang memimpin Turki dengan hikmah dan agama. 
Syaikh Ali Ash Shobuni adalah sedikit ulama besar dalam ilmu tafsir yang masih hidup. Karya tulis beliau sangatlah banyak, utamanya adalah kitab tafsir Shafwatut Tafasir yang dipuji oleh ulama-ulama dunia sebagai salah satu tafsir terbaik yang ditulis oleh ulama khalaf. 
Beliau berdoa kepada Allah untuk kemenangan Erdogan karena beliau melihat dan merasakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan Erdogan untuk kaum muslimin. Terlebih lagi Syaikh Ali adalah orang Suriah di mana orang Suriah banyak dibantu Erdogan. 
Alhamdulillah, doa yang dipanjatkan Syaikh Ali dikabulkan Allah dengan kemenangan AKP (partai-nya Erdogan) dengan kemenangan yang tak disangka-sangka. Kemenangan yang cukup mengejutkan bagi kebanyakan orang. Karena di pemilu sebelumnya AKP hanya meraih 41% suara, sedangkan saat ini meraih 49% suara. Itu artinya, AKP akan bisa mandiri dalam membuat kebijakan-kebijakan terutama yang berkaitan dengan Islam dan kaum muslimin, tidak hanya untuk Turki tapi selebihnya diluar Turki.
Apa yang dilakukan oleh Syaikh Ali Ash Shobuni secara tidak langsung mengesahkan Erdogan sebagai salah seorang pejuang Islam. Oleh karenanya, sungguh mengherankan bila ada orang yang nyinyir dan dengki dengan kemenangan ini. 

Jumat, 30 Oktober 2015

Bencana Kabut Asap, Siapa yang Peduli?

Bencana kabut asap menimpa saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan. Dan efeknya tidak hanya pada wilayah tersebut. Provinsi lain dan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand juga terkena dampaknya. Sudah berbulan-bulan bencana ini belum juga berhenti sementara korban terus berjatuhan.

Bencana Kabut Asap Bukan Bencana Nasional?
Ada yang mengatakan bencana ini bukan bencana nasional karena kebakaran dan asap merupakan hasil perilaku manusia yang serakah dan sengaja membakar hutan dan lahan. Tapi mengapa kebakaran hutan di tahun 1997, yang jauh lebih parah daripada tahun 2015 tidak dipermasalahkan? Padahal kebakarannya mencapai 9,7 juta hektar dibanding saat ini yang hanya 1,7 juta hektar sebagaimana dikatakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kalau begitu mengapa dampak kebakaran hutan saat ini jauh lebih luas? Menurut BNPB hal itu terjadi karena pengaruh El Nino yang panjang (1).

Jadi, jika ditafsirkan bencana kabut asap bukan bencana nasional karena faktor manusia atau terkait masalah hukum, bisa jadi salah. Tapi sudahlah. Fokus saya bukan disitu. Yang menjadi perhatian saya adalah alasan belum ditetapkannya status bencana nasional karena terkait jumlah korban dan kerugian ekonomi. Hal ini diakui oleh Kabareskrim Komjen Anang Iskandar dan Kepala BNPB William Rampangilei, bahwa penegakan hukum tidak terpengaruh status bencana itu sendiri (2).

Bencana asap telah menyebabkan 503.874 jiwa sakit ISPA di 6 provinsi sejak 1 Juli hingga 23 Oktober 2015. Jumlah masing-masing provinsi adalah 80.263 di Riau, 129.229 di Jambi, 101.333 di Sumsel, 43.477 di Kalbar, 52.142 di Kalteng dan 97.430 di Kalsel (3). Dampak kabut asap diperkirakan capai Rp 200 trilliun (4).

Simpati dan Empati untuk Korban Kabut Asap
Angka-angka di atas sangat besar. Bila Gubernur SUMSEL mengatakan bahwa bencana kabut asap bukan hanya sekedar bencana nasional tetapi bencana internasional, ada benarnya juga. Berpegang pada dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah tentang persaudaraan sesama muslim, keutamaan menolong sesama muslim maupun kepada manusia pada umumnya, maka setiap muslim hendaknya peduli untuk mengulurkan pertolongan kepada saudara-saudaranya yang tertimpa bencana kabut asap. Tidak ada istilah bencana tersebut hanya urusan orang Sumatera atau orang Kalimantan saja. Kepedulian bisa diberikan oleh kaum muslimin diluar wilayah tersebut, bahkan hingga mancanegara. Saya pernah membaca berita ada rakyat Palestina yang turut memberikan bantuan kepada korban bencana asap ini. Fakta ini menunjukkan bahwa persaudaraan antar sesama muslim melewati batas-batas teritorial sebuah negara. Seperti kata Erdogan, di mana azan berkumandang, disanalah tanah air Islam.

Kurang cepatnya penanganan bencana kabut asap ini, menurut saya, terkait erat dengan lemahnya kepemimpinan nasional. Kebijakan-kebijakan yang diambil menunjukkan kelemahan itu. Semua orang bisa saja melihat data-data, tapi untuk "merasa" tidak semua orang bisa mendapatkannya. Merasakan kesedihan orangtua yang bayinya wafat karena menjadi korban terpapar asap; merasakan betapa tidak nyamannya hidup dengan asap dimana-mana; merasakan mereka yang terkena asma atau infeksi saluran pernafasan. Seperti kurang simpatiknya perkataan MENKES yang mengatakan, Pencemaran asap (di Riau) saat ini belum pada taraf sangat berbahaya (5).

Pemerintah Amerika, misalnya, untuk menyelamatkan satu orang sandera saja menerjunkan ratusan tentara untuk membebaskannya. Harga satu orang begitu mahal dan berarti. Tapi di negeri ini, harga satu orang begitu murah! Menunggu korban berjatuhan agar bisa dikategorikan bencana nasional, sungguh memprihatinkan.

Bencana Alam Jangan Dijadikan Ajang Pencitraan
Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengatakan, keengganan pemerintah untuk menaikan status bencana asap sebagai bencana nasional mengisyaratkan jika Jokowi masih ingin membuktikan diri akan kemampuannya mengatasi masalah asap, meskipun pada akhirnya menerima bantuan asing yang sebelumnya telah ditolak! (6)

“Intinya begini, sebenarnya pemerintah sama sekali tidak menutup diri terhadap bantuan, tetapi bantuan itu pemerintah tidak mau kemudian diklaim. Bahwa ini kan pemerintah sedang sungguh-sungguh untuk menyelesaikan, termasuk statusnya, jangan sampai kemudian ini diklaim karena mereka (negara lain),” demikian Seskab Pramono Anung menjelaskan terkait pemerintah mau menerima bantuan asing (7).

Saya tanggapi, mengapa tidak dari dulu saja pak pemerintah mau menerima bantuan asing? Apakah itu berarti pemerintah salah prediksi, misalnya pernyataan Jokowi yang menyebutkan kabut asap dapat diatasi dalam waktu dua minggu? Lalu setelah pemerintah tidak berhasil, baru kemudian meminta bantuan asing dengan SYARAT: keberhasilan dalam mengatasi kabut asap jangan diklaim sebagai keberhasilan pihak asing yang membantu. Keberhasilan itu semata-mata adalah keberhasilan pemerintah. Itulah yang diinginkan pemerintah saat ini.

Duh, rakyat kok dijadikan barang mainan!

Coba bandingkan dengan merajalelanya tenaga kerja Cina di Indonesia. Di mana harga diri bangsa sementara warganya sendiri disingkirkan! Sementara untuk korban bencana, pemerintah merasa harus punya harga diri!

Wahai Pendukung Jokowi, Kalian Jangan Hanya Sibuk Di Medsos Membela Tuan Kalian, Berlomba-Lombalah dalam Kebaikan!
PKS yang selama ini sering mendapat semprot oleh para pendukung Jokowi karena kerjaannya tukang kritik pemerintah, ternyata malah menjadi kelompok yang terdepan dalam penyelasaian kasus bencana kabut asap ini. PKS sudah meluncurkan Gerakan Nasional Tanggap Asap (Genta PKS) demi membantu menanggulangi dampak bencana asap di Indonesia dengan berbagai aksi kemanusiaannya, seperti pembagian masker, pendirian posko-posko bencana, pemberian bahan makanan pokok, dan fraksi PKS menyumbangkan Rp 685 juta yang berasal dari kenaikan tunjangan anggota dewan (8).

Saya menasehati untuk saudara-saudara saya yang telah memilih Jokowi sebagai Presiden RI, hendaknya kalian jangan melepas Jokowi begitu saja tanpa memiliki tanggung jawab moril untuk membantunya agar dapat menyelesaikan masalah bencana ini dengan sebaik-baiknya. Jangan orang-orang yang kritis kepada Jokowi mendahului kalian dalam berbuat kebaikan ini. Karena kalian terlalu berpanjang lebar membahas pembelaan kalian terhadap Jokowi. Padahal pembelaan itu tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, tidak akan membantu korban-korban yang sudah berjatuhan, dan tidak akan bermanfaat apa-apa selain membuat orang yang kalian bela itu semakin kurang peduli terhadap bencana ini! Buktikanlah kepada rakyat bahwa kalian adalah orang yang benar dan orang yang kalian bela juga orang yang benar. Berlomba-lombalah dalam kebaikan!

Sumber:

Kamis, 29 Oktober 2015

Keterkaitan Antara Amalan Ruhiyah dengan Produktivitas Berkarya dan Berprestasi

Pada suatu hari saya merasa malas dalam membaca dan menulis. Kalaupun ingin mulai menulis, otak terasa beku dan tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Setelah saya teliti lebih dalam lagi, ternyata ada beberapa amalan ruhiyah yang tidak saya kerjakan pada hari itu.
Orang-orang mungkin akan bertanya, apa hubungan antara amalan ruhiyah dengan membaca dan menulis? Bagi saya amalan ruhiyah memberikan pengaruh yang besar bagi hati dan akal pikiran ini. Selain berkah dan rahmat Allah sehingga motivasi dan inspirasi begitu melimpah, juga memberikan kenikmatan tersendiri ketika mengerjakannya. Saya bercermin pada tradisi intelektual ulama Islam yang begitu produktif dalam membaca dan menulis. Misalnya Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki dan penulis kitab Al Muwatha. Imam Bukhari, seorang ahli hadits yang menulis kitab seperti Jami Ash Shahih dan Adabul Mufrad. Imam Ibnu Qudamah, seorang ulama besar mazhab hanbali dan penulis kitab Al Mughni. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis 96 judul kitab dan dalam satu judulnya terdiri dari beberapa jilid kitab.
Dari sini kita seringkali terjebak hanya melihat ujungnya, tanpa melihat pangkalnya. Kita tidak melihat mengapa mereka mampu melakukan pekerjaan berat itu. Tapi bagi yang jeli melihatnya, tradisi intelektual itu tidak pernah lepas dari ibadah yang kuat, amalan yang istiqomah. Seperti halnya pondasi yang kuat, maka bangunan yang berdiri di atasnya bisa kokoh, sebesar dan seberat apapun.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Bukhari, beliau tidak meletakkan 1 hadits pun dalam kitabnya, kecuali mandi dan salat 2 rakaat terlebih dahulu.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Malik bin Anas, Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat.
Tentang amalan ruhiyahnya Imam Ibnu Qudamah, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar”
Tentang amalan ruhiyah Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Imam Ibnu Katsir berkata, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”
Imam Ibnu Rajab berkata tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri Imam Ibnul Qayyim, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dari sini saya menyimpulkan adanya keterkaitan antara amalan ruhiyah dengan produktivitas dalam berkarya dan prestasi. Bahwa dakwah akan lancar manakala ruhiyah kita bersinar. Bagi yang ingin istiqomah dalam berkarya dan berprestasi, maka dirinya harus ditunjang dengan banyak mengerjakan amalan-amalan ruhiyah seperti shalat, shaum, tilawah, doa, dan dzikir.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Perjuangan Melawan Hawa Nafsu

Sesungguhnya perjuangan melawan hawa nafsu akan terus terjadi hingga kita mati. Karena bagi orang beriman, dunia ini ibarat penjara yang memagari hawa nafsu. Sedangkan bagi orang kafir, dunia ibarat surga; mereka bebas melakukan apa saja yang mereka mau.

Bila saja kita berhenti berjuang, niscaya berhenti pula semua karunia yang kita rasakan. Bahkan semenit saja kita lepas dari mengingat Allah, maka menit-menit selanjutnya hidup terasa kurang bermakna.

Apakah kita termasuk di antara orang yang paginya mukmin, sorenya menjadi ahli maksiat? Atau sorenya mukmin, paginya menjadi ahli maksiat? Semoga Allah menjauhi kita dari hal semacam itu.

Gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, timbullah asmara dihati. Lalu muncullah keinginan untuk melakukan perbuatan tercela. Padahal sebelumnya dia adalah ahli ibadah. Namun hanya gara-gara tidak dapat menjaga pandangan, menodai hatinya yang bersih. Tak begitu lama, rasa malas beribadah menghiasi diri dan begitu ringan ia melakukan kemaksiatan lainnya.

Dalam menjalani hidup ini, kita tidak lepas dari dua pilihan: ketaatan atau kemaksiatan. Renungkanlah setiap perbuatan, lalu katakan, apa manfaatnya bagiku? Apakah dengan perbuatan yang aku lakukan itu dapat membuatku menjadi lebih baik? Bila tidak, perbuatan yang kita lakukan bisa jadi termasuk kategori kemaksiatan.

Jumat, 23 Oktober 2015

Nikmatnya Pahala Sabar Menghilangkan Rasa Sakit Karena Musibah

Di dalam kitab Ihya Ulumuddin dikisahkan, Fath Al Maushili memiliki seorang istri yang dikenal dengan kesabarannya. Suatu saat istri beliau terjatuh dan kuku jarinya pecah hingga menyebabkan luka, namun ia malah tertawa dengan keadaan seperti itu.

Hal itu menyebabkan orang disekitarnya bertanya terheran-heran, "Apakah engkau tidak merasa sakit?"

Istri Fath Al Maushili pun menjawab, "Sesungguhnya nikmatnya pahala karena luka ini menghilangkan rasa sakitnya dari hatiku."

Demikianlah keajaiban rasa sabar; musibah yang berat terasa ringan dan senantiasa tenang dan berbahagia ditengah kesulitan. Keadaan ini akan jauh berbeda bila musibah itu dihadapi dengan ketidaksabaran; musibah yang ringan menjadi terasa berat, masalah yang kecil dibesar-besarkan.

Ketika menghadapi musibah, ingat-ingatlah keutamaan sabar; keutamaannya di dunia dan pahalanya di akhirat.Ingatlah ayat-ayat Al Quran, hadits-hadits Rasulullah, dan perkataan ulama tentang sabar.

Selasa, 20 Oktober 2015

TANDA-TANDA PEOPLE POWER DI MESIR

Disitus middleeastmonitor.com menyebutkan tingkat partisipasi rakyat Mesir dalam mengikuti pemilu parlemen baru-baru ini hanya sebesar 2,27% dari 27 juta pemilih atau hanya sekitar 612 ribuan yang ikut mencoblos. Keadaan ini sangat jauh berbeda ketika pemilu parlemen untuk pertama kalinya pasca tumbangnya Mubarak. Di mana Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu parlemen pada saat itu; masyarakat berbondong-bondong memilih wakil rakyatnya.

Para peneliti politik di seluruh dunia sudah mafhum, kondisi rendahnya partisipasi publik dalam pemilu adalah bukti paling kuat rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah atau partai yang ada. Kondisi di Mesir saat ini sangat mengherankan sekali. Betapa pemerintahan kudeta As Sisi yang selama ini mengaku-ngaku mendapatkan dukungan rakyat, nyatanya tidak mempunyai dukungan atau legitimasi dari rakyatnya sendiri. Dari sini terlihat bahwa rakyat Mesir sedang menghukum As Sisi. Dan kudeta yang dilakukan As Sisi terhadap Mursi semakin menunjukkan bahwa kudeta tersebut hanyalah dusta dan manipulasi.

Kondisi Mesir saat ini ibarat bom waktu yang siap meledak. Ledakan tersebut tercipta bergantung pada kerjasama semua elemen masyarakat, tidak terkecuali militer di dalamnya. Bercermin dari kesuksesan gerakan People Power yang berlangsung secara damai di Filipina, di mana semua elemen masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Bahkan pembelotan militer pun terjadi. Kelompok pro-Mursi tidak bisa mengabaikan satu elemen People Power, dalam hal ini militer, walaupun militerlah yang menyiksa mereka secara kejam. Saya percaya tidak semua militer di Mesir seperti As Sisi cs.

Dalam sejarah, setidaknya ada tiga kelompok militer ketika di dalam negaranya dipimpin oleh orang zalim: Pertama, menjadi pendukung bagi pemimpin zalim tersebut. Mereka datang menyiksa lawan-lawan politik pemimpin zalim tersebut. Biasanya mereka adalah perwira-perwira papan atas yang haus harta, tahta, dan wanita.

Kedua, kelompok militer yang diam menyaksikan kezaliman tersebut. Mereka diam karena tidak ingin terlibat dalam kezaliman itu namun disisi lain mereka tidak punya kemampuan untuk menghentikan kezaliman itu. Mereka berharap akan ada pemimpin lainnya yang berani menggerakkan rakyat untuk melawan pemimpin zalim itu. Ketika kemenangan rakyat di depan mata, mereka tampil sebagai penguat atau melegitimasi kemenangan tersebut.

Ketiga, mereka yang menentang pemimpin zalim tersebut secara terang-terangan. Kebanyakan mereka bukan dari perwira papan atas. Pengaruh mereka tidak begitu besar dikalangan militer tapi dapat dijadikan penggerak revolusi dan melakukan pendekatan kepada kalangan militer lainnya.

Dari ketiga kelompok militer di atas, setidaknya dua kelompok militer dapat diajak kerjasama. Hanya saja perlakuannya berbeda. Untuk kelompok militer ketiga sudah jelas. Sedangkan untuk kelompok militer kedua, karena mereka diam, mereka juga harus diajak secara diam-diam. Maka permainan intelejen harus dijalankan agar dapat menggerakan mereka.

Saya merasa yakin bahwa revolusi di Mesir akan terjadi. melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi di Mesir saat ini. Dapat dilihat dari tanda-tandanya, selain rendahnya partisipasi rakyat dalam pemilu sebagai faktor politik, juga karena faktor perekonomian Mesir yang semakin terpuruk.Almesryoon.com melaporkan, krisis ekonomi di Mesir telah memburuk menempatkan masa depannya beresiko dan menjurus kepada kebangkrutan.

Sabtu, 17 Oktober 2015

TIDAK ADIL MENYAMAKAN KASUS PEMBAKARAN GEREJA DI ACEH SINGKIL DENGAN PEMBAKARAN MASJID DI TOLIKARA

Saya tidak suka kekerasan. Saya mencintai keadilan. Sudah seharusnyalah yang berperan dalam menutup gereja-gereja liar di Aceh Singkil adalah aparat pemerintah. Kalaupun rakyat marah lalu membakar gereja-gereja tersebut, pasti ada sebabnya. Dan yang saya tahu penyebabnya adalah ketidakadilan. Bayangkan di bumi serambi Makkah Aceh Singkil yang mayoritas muslim, mendekati angka 99%, terdapat 20 gereja liar (menurut data lain ada 25 gereja liar) Buat apa gereja sebanyak itu?

Salah satu taktik kristenisasi adalah membangun gereja liar di perkampungan muslim. Setelah gereja itu terbangun, orang-orang Kristen diluar pemukiman itu mendatangi gereja tersebut. Sehingga kemudian tidak lagi ada anggapan bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan muslim. Bila tidak ada tindak pencegahan dari penduduk kampung tersebut, mereka tidak segan-segan membeli tanah atau rumah untuk tinggal di kampung tersebut. Jadi, pendirian gereja-gereja itu bukan semata sebagai tempat beribadah. Tapi juga untuk menancapkan pengaruhnya yang besar kepada penduduk setempat bahkan kepada dunia. Bahwa Aceh bukan lagi serambi Makkah karena sudah banyak orang Kristen di dalamnya.

Bandingkan dengan satu masjid di tolikara; umatnya jelas dan proporsional sesuai dengan jumlah penduduk yang ada bahkan mungkin masjidnya kurang. Tapi anehnya ada orang yang menyamakan perusakan terhadap gereja di Aceh Singkil dengan masjid di Tolikara. Ini keterlaluan dan tidak adil! Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010, jumlah penduduk muslim di Aceh sebanyak 4.413.244, Kristen 50.309, Katolik 3.315. Artinya jumlah penduduk muslim mencapai 98% lebih. Bandingkan dengan di Papua: Muslim 450.096, Kristen 1.855.245, Katolik 500.545. Artinya jumlah penduduk muslim mencapai 16% (http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321) Namun anehnya, orang Kristen di Aceh yang hanya 1,5% mempunyai 154 gereja, belum termasuk gereja-gereja liar yang jumlahnya sangat banyak.(https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan_di_Aceh)

Kalau menurut saya, jumlah penduduk muslim di Papua masih bisa diperdebatkan karena sebagian wilayah masih sulit terjangkau. Hal ini berbeda dengan wilayah di Aceh yang lebih terjangkau. Ada kemungkinan penduduk muslim bertambah karena banyak kepala suku di pedalaman Papua yang masuk Islam. Tapi saya memakai angka yang pasti saja dulu mengenai penduduk muslim disana. Dan hingga saat ini juga saya belum mendapatkan angka yang pasti dengan jumlah masjid disana. Berbeda dengan jumlah gereja dapat terdeteksi dengan mudah karena banyaknya. Di Tolikara sendiri sebelum kerusuhan terjadi ada sekitar 700 an muslim disana (http://blog.act.id/mengungkap-sejarah-islam-bertumbuh-kemb…/) Dan hanya berdiri satu masjid. Bagaimana mungkin satu masjid saja tidak boleh didirikan disana dengan jumlah muslim sebanyak itu?!

Merujuk data Kementerian Agama tahun 2008, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 88,8%. Namun, jumlah tempat ibadahnya 64,8% saja. Sementara jumlah pemeluk Kristen Protestan nasional mencapai 5.7% dengan jumlah tempat peribadatan 15, 38%, dan pemeluk Katholik nasional mencapai 3% dengan jumlah tempat peribadatan 3.72%. Artinya tempat peribadatan umat Kristen dan Katolik jauh melebihi tempat peribadatan umat Islam dari segi skala perbandingan.

Pemerintah seharusnya tidak boleh diam melihat fenomena ini. Pendirian tempat ibadah sudah di atur dengan undang-undang. Mereka yang melanggarnya harus dihukum sesuai dengan undang-undang tersebut. Jangan dibiarkan. Kalau dibiarkan jangan salahkan juga bila penduduk yang muslim menghancurkan atau menutup gereja-gereja tersebut.