Selasa, 10 Februari 2015

Orang Saleh Saja Banyak Beristighfar, Apalagi Para Pendosa!

Rasulullah Saw. bersabda, "Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." (HR. Bukhari)

Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat di hadits itu adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah Saw. banyak melakukannya. 

Imam Al Munawiy menjelaskan bahwa ada perbedaan penyebutan jumlah taubat dalam hadits ini dan hadits lainnya yang menyebutkan 70 kali, namun itu semua cermin banyaknya istighfar bukan pembatasan jumlah istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. 

Imam Abu Hanifah Rahimahullah jika merasa kesulitan dalam memecahkan suatu masalah maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya,"Ini tidak lain karena dosa yang aku lakukan." Dan beliau beristighfar dan terkadang melaksanakan shalat, hingga terbuka bagi beliau permasalahan itu dan manyatakan,"Aku mengharapkan aku telah diampuni."

Apa yang biasa dilakukan Abu Hanifah itu akhirnya sampai kepada Fudhail bin Iyadh. Maka beliau langsung menangis tersedu-sedu hingga mangatakan, "Itu karena sedikitnya dosa beliau. Adapun orang lain tidak akan merasakan hal itu."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika masalah yang saya hadapi mengalami kebuntuan (sulit menemukan solusinya), saya beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali, lebih atau kurang. Allah pun memberikan saya jalan keluarnya."

Bila orang-orang saleh saja menjadikan istighfar sebagai bacaan harian mereka, lalu bagaimana dengan para pendosa?

Sebagian ulama salaf berkata, “Bergembiralah seorang yang menjumpai dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.”

Imam Qatadah berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian tentang penyakit dan obatnya. Adapun penyakit itu adalah dosa-dosa, dan istighfar merupakan obat bagi kalian.”

Abu Musa Al-Asy’ari Ra. berkata, “Kami mempunyai dua pengaman dari azab. Yang pertama telah tiada, yaitu keberadaan Rasulullah di tengah-tengah kami, dan tinggallah istighfar bersama kami. Maka jika ia ikut lenyap, kami pasti binasa.”

Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah beristighfar di rumah-rumah kalian, di meja-meja kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian, dan di majelis-majelis kalian! Sebab, kalian tidak tahu kapan ampunan akan turun.”

Orang saleh memperbanyak istighfar karena mereka tidak tahu pada istighfar ke berapa Allah mengampuni dosa-dosa mereka. Sedangkan para pendosa berangan-angan dengan sedikitnya kebaikan yang ada pada mereka. Lalu mereka menganggap bahwa Allah mengampuni dosa mereka. Roja (harapan) mereka tidak sebanding dengan khauf (takut) mereka kepada Allah. Padahal kebaikan itu ada di dalam roja dan khauf sekaligus, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. kepada kita.

Beristighar dapat dilakukan kapan saja. Tidak hanya disaat mendapat musibah, ketika mendapat nikmat pun Rasulullah memberi teladan kepada kita untuk beristighfar. Contohnya ketika Rasulullah dan para sahabatnya berhasil menaklukan kota Makkah dari tangan kafir Quraisy. Saat itu turunlah surat An-Nashr. Di mana di dalam surat itu Allah memerintahkan Rasulullah dan orang-orang beriman yang bersamanya untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar. Mengapa beliau diperintahkan bertasbih, bertahmid, dan beristighfar? Bukankah beliau baru saja mendapatkan kenikmatan dan itu artinya Allah telah meridhai beliau?

Bila kita renungkan lebih dalam lagi, ketika mendapat kenikmatan, bisa saja menimbulkan penyakit hati, seperti sombong karena merasa paling mulia di sisi Allah atau merasa apa yang telah dilakukan adalah hasil usahanya sendiri bukan berkat pertolongan Allah semata. Inilah mengapa kemudian Allah memerintahkan kepada kita untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighar. Yaitu segera menyadari bahwa semua karunia itu datangnya dari Allah Swt. Dengan bertasbih, bertahmid, dan beristighfar maka kenikmatan yang diperoleh menjadi sempurna. Yaitu kenikmatan hidup di dunia dan kenikmatan hidup di akhirat.

Demikianlah istighfar adalah suatu kewajiban bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, tidak pandang bulu, orang saleh atau para pendosa.

Senin, 09 Februari 2015

Manfaat Tidur Siang Bagi Kesehatan

Manfaat tidur siang ternyata cukup berpengaruh bagi ke­sehatan. Berdasarkan stu­di yang dilakukan para ahli, mereka berhasil menemukan beberapa manfaat tidur siang, salah satunya untuk mengurangi kemungkinan kematian akibat serangan jantung.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Yunani juga menunjukkan bahwa tidur siang kurang lebih selama se­tengah jam, dapat mengurangi risiko serangan jantung sebesar 37% jika dilakukan minimal 3 kali seminggu.

Sebuah penelitian berhasil meng­ungkap jika tidur siang 20 menit lebih efektif daripada mengkonsumsi 200 mg kafein.

Kelelahan yang diakibatkan otak menampung informasi yang berlebihan dapat mengganggu daya konsentrasi Anda. Jika Anda berpikir untuk tidak tidur siang karena memiliki terlalu banyak tugas yang harus dilakukan, maka asumsi Anda salah. Karena sebuah penelitian telah menunjukkan tidur siang setidaknya 30 menit dapat meningkatkan daya ingat Anda karena otak kembali fresh.

Menurut seorang ilmuwan terkemuka yang bernama Sara C. Mednick, tidur siang dapat meningkatkan persepsi sensorik Anda. Namun hal ini justru tidak terjadi saat anda tidur di malam hari.

Setiap orang normal membutuhkan tidur setidaknya 8 jam sehari. Kurang tidur dapat menyebabkan me­ningkatnya hormon kortisol dalam tubuh. Kortisol adalah hormon yang dikenal sebagai hormon pemicu stres, dengan tidur siang diharapkan hormon horsitol dapat berkurang dan Anda dapat kembali beraktivitas.

Kadar neurotransmitter serotonin yang kita peroleh saat tidur siang dapat membuat suasana hati menjadi tenang dan menghilangkan rasa cemas yang berlebihan. Menurut Mednick salah seorang ahli kesehatan, tidur siang dapat menciptakan pandangan yang lebih positif dan menenangkan pikiran anda..

Tak hanya dari sisi kesehatan tinjauannya. Jauh lebih penting la­gi, tidur siang adalah sunnah yang di­ajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Saw. Beliau memerintahkan kita un­tuk tidur siang dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Anas bin Malik r.a.,  Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb dengan sanad shahih)

Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walau­pun tidak disertai tidur.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ini juga diikuti oleh pa­ra sahabat. Di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab r.a., pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud me­ngatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal han­yalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati se­orang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Anas bin Malik r.a. mengabarkan ke­biasaan para sahabat Rasulullah, “Me­reka (para sahabat) dulu biasa me­laksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Itulah deretan manfaat tidur siang bagi kesehatan, jika Anda sebelumnya menyepelekan tidur siang karena dianggap buang waktu. Semoga de­ngan membaca artikel ini akan mem­buat Anda sadar akan dahsyatnya manfaat tidur siang.

Minggu, 08 Februari 2015

Syiah Mengkambinghitamkan Ibnu Taimiyah

Saya terlibat diskusi dengan orang Syiah. Kali ini semakin terlihat betapa dangkalnya pemikiran orang syiah. Hanya karena mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah, saya kemudian dituduh Wahabi oleh mereka. 

Pertama, keadaan mereka seperti pepatah yang mengatakan, gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Mereka meributkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah yang hanya satu kutipan, tapi anehnya tidak meributkan perkataan ulama-ulama lainnya seperti Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad. 

Mengapa? Karena mereka takut kalau mereka menyerang para Imam Madzhab itu belang syiah mereka akan terlihat. Mereka menyadari psikologis kaum muslimin saat ini yang sangat kuat berpegang kepada imam madzhab yang empat. Menyerang 4 imam sama saja dengan menyerang ahlus sunnah yang hakiki, meskipun pada dasarnya ahlus sunnah itu bukan hanya dari empat imam saja. 

Akhirnya mereka menyerang ulama yang paling besar perbedaan pendapatnya dengan kalangan penganut akidah asyariyah dan maturidiyah. Yaitu Imam Ibnu Taimiyah. Dengan demikian,serangan mereka terhadap orang-orang yang anti syiah seolah dilancarkan oleh kaum ahlus sunnah sendiri. Pada akhirnya sesama ahlus sunnah saling bentrok sendiri. Sementara akar permasalahan tentang pemikiran Syiah tidak dikemukakan lebih lanjut. Sampai disini, orang syiah berhasil membelokkan masalah yang sesungguhnya. Di satu sisi, mereka tetap mengemukakan pemikirannya yang sesat, di sisi lain mereka mengadu domba sesama kalangan ahlus sunnah.

Kedua, orang syiah memberi gelar orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dengan sebutan Wahabi. Saya heran, apa hubungan langsung antara Ibnu Taimiyah dengan Wahabi? Seolah Ibnu Taimiyah itu penganut Wahabi. Padahal Ibnu Taimiyah hidup sebelum pendiri "Wahabi" itu hidup. 

Kalau memang orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah disebut Wahabi, tentu orang-orang Islam Liberal seperti Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Nurcholis Majid adalah penganut Wahabi. Prof. Fazlur Rahman pernah memuji Ibnu Taimiyah dengan sebutan "neo sufism" dan Prof. Nurcholis Majid menulis desertasi doktoralnya tentang pemikiran Ibnu Taimiyah. 

Orang-orang Jamaah Tabligh dengan tokohnya seperti Syaikh Maulana Kandahlawi dalam bukunya banyak mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Bahkan tokohnya yang lain, yakni Syaikh Abul Hasan An-Nadwi menulis buku biografi tentang Imam Ibnu Taimiyah. Sementara itu dikalangan Wahabi itu sendiri, Jamaah Tabligh sering dikritik sebagai jamaah yang banyak bid'ahnya. 

Begitupun dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin yang banyak dikritik dan dihujat oleh kalangan Wahabi, banyak mengutip pemikiran Imam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya. 

Kesimpulannya, Imam Ibnu Taimiyah adalah milik kaum muslimin. Bukan milik orang-orang Wahabi semata. Murid-murid Imam Ibnu Taimiyah di antaranya: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Rajab, dan Imam Adz Dzahabi. Banyak karya-karya Imam Ibnul Qayyim condong pada tasawuf seperti kitab Madarijus Salikin, Ighatsul Lahfan dan Al Jawabul Kafi. Imam Ibnu Katsir terkenal dengan karyanya Tafsir Ibnu Katsir dan Al Bidayah wan Nihayah yang dijadikan rujukan seluruh kaum ahlussunnah tidak terkecuali. Begitupun Imam Adz Dzahabi dikenal sebagai ahli hadits yang diakui oleh para ulama ahlussunnah.

Sabtu, 07 Februari 2015

Dahsyatnya Semangat Belajar Imam Ath-Thabari

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, "Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk mengujikan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari ilmu Arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang ilmu tersebut. Akhirnya, aku katakan kepadanya, Aku tidak bisa bicara, karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah Arudh sedikit pun. Tetapi datanglah besok dan temui aku. Lalu aku pun meminjam Kitab Arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari kitab tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.'' 

Sungguh luar biasa Imam Ath-Thabari mampu memahami ilmu Arudh (tentang syair) hanya dalam waktu semalam!

Setidaknya ada 3 pelajaran yang saya dapatkan dari penuturan beliau di atas: Pertama, beliau tidak mengatakan apa yang beliau tidak ketahui. Maka, beliau pun menjawab tidak tahu ketika seseorang bertanya tentang sesuatu yang belum beliau ketahui. Ini adalah kejujuran sekaligus kerendahan hati beliau. 

Kedua, beliau memberi kesempatan si penanya untuk datang besok. Kata-kata yang keluar dari lisan beliau ini menunjukkan kesungguhan dan tekad yang kuat untuk menguasai ilmu yang ditanyakan si penanya. Setelah itu, beliau benar-benar menghabiskan waktu yang pendek itu untuk memahami ilmu tersebut. Pada saat itu mungkin beliau tidur sebentar atau tidak sama sekali. 

Ketiga, keadaan para ulama yang sibuk dengan ilmunya terutama di zaman keemasan Islam menunjukkan bahwa mereka sangat kaya ilmu. Mereka ibarat tambang yang terus digali dan diambil manfaatnya. Bila memahami satu ilmu saja bisa dikuasai dalam satu malam, bagaimana dengan waktu mereka yang tersisa dalam hidup mereka, berapa banyak ilmu yang pasti telah mereka kuasai? Tidaklah mengherankan jika para ulama pada saat itu seperti ensiklopedia yang berjalan. Mereka menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. 

Selain menguasai sejarah, tafsir Al-Qur'an, fikih, ushul fikih, dan hadits, Imam Ath-Thabari juga menguasai ilmu kedokteran. Pernah suatu ketika beliau meminta seorang dokter untuk mendiagnosa sakitnya. Sang dokter yang diminta malah menjawab, “Sesungguhnya aku tidak lebih pandai dalam ilmu kedokteran dari pada dirimu wahai Imam Besar.” Al Washaya adalah salah satu kitab kedokteran yang beliau tulis.

Jumat, 06 Februari 2015

Inspirasi Tiada Henti

"Seperti listrik, inspirasi tak pernah berhenti mengalir. Kalau lampu dalam diri kita tidak menyala, itu karena saluran yang terganggu atau memang putus sama sekali. Maka, jika engkau ingin inspirasi itu hidup, siapkan jiwamu untuk menyambutnya." (Mohammad Fauzil Adhim)

Ya, mempersiapkan jiwa. Itulah kata kunci agar kita terus menerus memdapatkan inspirasi. Tanpa kesiapan jiwa, sebanyak apapun informasi yang kita terima, tidak akan membekas dalam benak kita. Seperti halnya informasi yang masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan.

Jiwa yang siap ibarat tanah yang luas. Ia dapat menampung berbagai macam hal yang bermanfaat. Batas dan tepinya tidak kita ketahui karena saking luasnya. Bila benar apa yang dikatakan Einstein, kita baru menggunakan 5% saja dari kemampuan otak kita, betapa besarnya kapasitas otak kita dan betapa luasnya pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas menggunakan otaknya?

Bagi jiwa yang selalu siap, situasi dan kondisi apapun bisa sangat menguntungkan bagi dirinya. Penderitaan dan sempitnya penjara bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah maha karya. Bahkan, situasi dan kondisi itu adalah stimulan untuk menulis buku-buku hebat dan bermakna kuat. Imam Ibnu Taimiyah, misalnya, menulis sebagian besar buku Majmu Fatawa yang tebalnya 30 jilid ketika berada di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis sebagian besar Tafsir Al Azhar ketika berada di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Quran, ketika berada di dalam penjara.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menulis buku Fiqh Sirah ketika berada dalam pengasingan di Madinah akibat diusir oleh pemerintah Mesir yang zalim pada saat itu. Begitupun dengan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis buku Fiqh Zakat ditempat pengasingannya di Qatar.

Dahsyatnya, semua buku yang mereka tulis itu menjadi karya fenomenal dan rujukan berjuta-juta kaum muslimin. Majmu Fatawa adalah buku berisi kumpulan fatwa terbesar yang pernah ada. Tafsir Al Azhar, menurut seorang orientalis, adalah kitab tafsir terbaik yang pernah ditulis ulama asal Indonesia. Kitab ini menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Bahkan di beberapa pusat pendidikan Islam, kitab ini menjadi buku wajib bagi para santrinya.

Tafsir Fi Zhilalil Quran adalah tafsir Al Quran yang paling banyak dibaca aktivis pergerakan Islam saat ini. Sayyid Quthb menulis tafsirnya dengan bahasa yang sangat indah. Kemampuan sastranya mengalir bersama dengan semangat juangnya yang tinggi. Banyak kalangan menyebutkan, belum pernah ada orang menulis tafsir seperti yang dilakukan oleh Sayyid Quthb.

Kitab Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad Al Ghazali begitu khas. Dalam buku itu, beliau memadukan antara sejarah Nabi Muhammad dan pergerakan Islam saat ini. Sehingga karyanya ini menjadi salah satu rujukan utama aktivis Islam dalam disiplin ilmu Sirah Nabawiyah. Buku beliau ditulis di depan makam Rasulullah. Setiap kali mulai menulis, beliau menangis mengenang perjuangan agung Rasulullah Saw. Tulisannya mengalir deras bersamaan dengan derasnya airmata yang keluar. Membentuk kalimat-kalimat indah dan bermakna.

Sedangkan buku Fiqh Zakat karya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dinobatkan oleh pemikir besar Islam, Imam Abul A'la Al Maududi, sebagai buku terbaik di abad ke-20. Dikalangan pemerhati zakat, buku ini menjadi buku rujukan wajib bagi mereka. Lihat saja buku-buku zakat yang ada sekarang pasti menjadikan Fiqh Zakat sebagai salah satu sumber rujukan utamanya.

Penderitaan bagi mereka adalah tambang kearifan dan kebijaksanaan. Dari sana muncul kata-kata yang tulus, makna yang mendalam, dan hakikat sebuah pengorbanan. Karena ia muncul dari jiwa yang merdeka. Jiwa yang tanpa dusta di dalamnya. Penderitaan mereka dalam berjuang adalah bukti pengorbanan yang sesungguhnya.

Kebalikannya bagi si pemilik jiwa yang sempit. Meskipun tinggal di dalam istana yang luas dan mewah, tidak membuatnya merasa nyaman dan tentram. Selalu saja baginya membuat-buat alasan untuk berhenti berkarya. Padahal alasan-alasan itu hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Alasan-alasan itu pada akhirnya memenjarakan dirinya pada penjara yang hakiki. Penjara yang membuatnya tidak bisa berimajinasi dan berpikir merdeka.

Jangan katakan tidak ada inspirasi. Tapi evaluasilah diri, sudahkah kita siap menyambut datangnya inspirasi. Jangan sampai gara-gara jiwa tidak siap, inspirasi itu menghilang begitu saja. Sebaliknya, ketika jiwa kita sudah siap, insya Allah inspirasi yang kita peroleh tidak ada habis-habisnya.

Kamis, 05 Februari 2015

Rahasia Dibalik Produktivitas Menulis Para Ulama

Jika kita membaca sejarah kehidupan para ulama, akan kita dapatkan produktivitas mereka dalam beramal saleh. Mereka adalah ahli ibadah, juru dakwah, rajin menuntut ilmu, ditangan mereka kitab-kitab bermutu ditulis. Bagaimana mereka bisa sehebat itu? Di sepertiga malam mereka bangun untuk qiyamul lail, setelah itu mengerjakan shalat shubuh dan berdzikir hingga waktu dhuha. Setelah itu mereka mengajar atau menulis kitab. Di malam harinya mereka beribadah, membaca buku, atau menulis kitab. Jika ada waktu luang, mereka tidak pernah habiskan untuk hal yang tidak bermanfaat.

Subhanallah, di antara mereka terdapat nama Imam Ibnu al-Jauzy, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Katsir, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqolani, dan sebagainya. Jika mereka beribadah, sungguh sangat lama sekali; ruku’, sujud, dan berdirinya lama. Jika mereka sedang membaca kitab, mereka berkonsentrasi penuh sehingga kitab itu seolah telah memutuskan dirinya dari dunia luar. Jika mereka berdakwah, ratusan hingga ribuan orang asyik mendengar ceramahnya. Ia tidak hanya menyampaikan ilmu satu jam atau dua jam saja, tetapi dari pagi hingga sore dengan ketekunan yang luar biasa. Di antara mereka ada yang telah menulis puluhan hingga ratusan buku. Imam Jalaluddin as-Suyuti dikabarkan telah menulis 600 jilid. Imam Ibnu Taimiyah dikabarkan telah menulis 500 jilid. Sementara Imam Abu Bakar al-Anbari telah menulis 400 jilid. Subhanallah, sungguh sangat banyak karya tulis yang telah mereka buat.

Ibnu Aththar berkata, “Guru kami an-Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan menghafal.”

Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang Imam Ibnul Qayyim, “Beliau seorang yang bacaan al-Quran serta akhlaknya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Imam Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlak shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untukdzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukanimamah dalam hal din (agama).’”

Pada zaman itu, memperoleh buku sangatlah susah. Tidak seperti zaman sekarang. Di zaman sekarang, kita kebanjiran informasi. Seolah kita tidak perlu lagi mencari informasi, tetapi informasilah yang mencari kita. Dulu, kita hanya mengenal kuda dan unta untuk kendaraan darat, sekarang kita mengenal motor dan mobil. Jika dipikir-pikir, seharusnya zaman sekarang ini, kita dapat lebih produktif dalam berkarya. Jika kita menulis, maka karya tulis yang kita buat seharusnya lebih banyak daripada para penulis zaman dahulu. Bukan sebaliknya! Zaman sekarang ini kita serba cepat tapi lemah; ilmu cepat hafal tapi cepat pula hilangnya. Kita mengenal metode belajar cepat ala quantum learning dan accelerated learning. Kita dimanjakan oleh berbagai kemudahan yang pada akhirnya akar jati diri dan pengetahuan kita yang seharusnya menghujam ke bumi, tidak kuat, sehingga kita menjadi malas, mudah lupa, dan terkesan menunda-nunda pekerjaan.

Zaman dulu tidak ada komputer. Buku-buku yang mereka buat ditulis tangan. Kalau tidak karena ketekunan yang luar biasa, menulis dengan cara kuno seperti itu akan memakan waktu yang sangat lama. Kita membuat sebuah buku dengan mengetik di komputer saja sudah sangat lama, apalagi kita harus menulis buku dengan tulisan tangan! Bagus kalau dapat dibaca, tapi kalau tidak, bagaimana? Siapa yang mau membaca tulisan yang amburadul itu, yang penuh dengan coretan dan koreksian di sana-sini? Bagaimana mungkin pembacanya dapat mengerti? Mungkin memegang bukunya saja sudah tidak mau, apalagi membacanya!

Rabu, 04 Februari 2015

Beragamnya Tema Buku yang Ditulis Para Ulama

Saya kaget ketika pada suatu ketika mendapatkan sebuah buku terjemahan berjudul "Bergonju: Seni Bercinta dalam Islam" karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi di sebuah pameran buku. Saya bertanya dalam hati, apakah benar penulis buku tersebut adalah beliau? Saya berkeliling mencari buku yang serupa, saya dapatkan buku "Sutra Ungu" karya Abu Umar Basyir. Saya berkata dalam hati menyimpulkan, bila ada ulama sekarang menulis masalah seks tentu merujuk pada ulama-ulama terdahulu. Saya berkata lagi, tema yang serupa pasti juga pernah dibahas oleh para ulama lainnya dan entah berapa buku yang telah ditulis mengenai hal ini. Hanya karena ketidaktahuan saya membuat saya kaget; ulama sekelas Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis buku tentang seks! Walaupun dijual bebas, buku ini bagusnya dibaca bagi mereka yang akan dan sudah menikah. Karena disana ada cara-cara dan posisi dalam berhubungan intim suami-istri *_*

Buku-buku seks seperti ini mengingatkan saya pada buku-buku dengan tema lain yang ditulis oleh para alim ulama. Misalnya buku tentang tema "cinta" seperti buku Raudhatul Muhibbin karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Thauqul Hamamah karya Imam Ibnu Hazm. Kedua buku ini begitu dalam membahas tema cinta walaupun dengan bahasa yang berbeda. Ada bahasan tentang sifat-sifat orang yang jatuh cinta, bagaimana mengatasi mabuk asmara, kisah-kisah orang yang terlibat percintaan, dan sebagainya. Yang hebat, keduanya ditulis oleh ulama pakar syariah, ahli ilmu hadits dan fikih. Keduanya ibarat psikolog yang mengetahui tentang seluk beluk cinta. Dan mungkin, keduanya memang psikolog cinta yang sesungguhnya. Banyak buku yang mereka tulis menunjukkan keahlian mereka dalam ilmu psikologi. Lagi-lagi karena sedikitnya buku cinta yang ditulis ulama yang saya baca, saya baru mengetahui dua buku ini. Diluar sana mungkin masih banyak buku dengan tema serupa.

Para ulama juga menulis buku yang lain daripada yang lain, misalnya lagi tentang tata cara memperlakukan buku, bagaimana meraut ujung pena agar tulisan lebih baik, dan bagaimana menjadi penyalin buku yang baik. Simak penuturan Imam Musa Almawi dalam bukunya yang berjudul Mu'id fi Adab Al-Mufid wa Al-Mustafid sebagaimana dikutip Franz Rosenthal dalam "Etika Kesarjanaan Muslim", "Buku-buku harus diatur menurut subjeknya, dan buku yang paling penting harus ditempatkan paling atas. Urutan berikut ini harus dipatuhi: pertama adalah Al-Qur'an; lalu kitab hadits shahih, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim; selanjutnya tafsir Al-Qur'an; berikutnya komentar terhadap kitab hadits; disambung kitab-kitab fikih; lalu kitab ushuluddin dan ushul fiqh; terus buku-buku tata bahasa, puisi, dan ilmu-ilmu lain."

Imam Ibnu Jama'ah juga menulis tema serupa yang ditulis Imam Musa Almawi. Judul bukunyaTadzkirah Al-Sami' wa Al-Mutakallim fi Adab Al-'Alim wa Al-Muta'allim. Beliau berkata, "Jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Al-Qur'an atau hadits hendaklah ditempatkan di atas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku tersebut mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan lebih atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas."

Coba dengarkan lagi beberapa nasehat Imam Almawi, "Buku tidak boleh dijadikan tempat menyimpan lembaran-lembaran keras atau benda-benda lain yang serupa. Buku tidak boleh dijadikan bantal, dijadikan kipas, sandaran punggung atau alas berbaring, atau dipakai untuk membunuh lalat. Untuk menandai halaman yang sedang dibaca, pinggir atau sudut halaman buku tidak boleh dilipat. Orang-orang bodoh sering melakukan hal itu." Kata Imam Ibnu Jama'ah, "Untuk penanda bacaan harus dipakai selembar kertas atau yang serupa itu, tetapi tidak boleh dari potongan kayu atau apapun yang terbuat dari bahan yang keras."

Subhanallah, sampai sedetail itu para ulama kita dalam menguraikan sebuah pengetahuan. Hampir semua ilmu yang berkembang saat itu ada bukunya. Tapi sayang sekali, yang sampai kepada kita baru sedikit daripadanya. Apalagi banyak buku yang ditulis para ulama itu hilang atau dimusnahkan seperti yang pernah dilakukan oleh pasukan Mongol saat menyerbu Baghdad (ibukota kekhalifahan Abbasiyah). Buku-buku yang ada diperpustakaan besar dibuang ke sungai Tigris hingga sungai pun berubah warna menjadi hitam karena tinta. Kejadian ini ibarat pukulan hook, dalam tinju, membuat umat Islam sempoyongan dan mundur beberapa langkah. Banyak akhirnya para ulama dan ilmuwan setelah kejadian itu berusaha mencari salinan buku yang dimusnahkan itu. Salah satu caranya adalah dengan berteriak, "Wahai fulan, apakah kalian mempunya buku anu?" saat berada ditanah suci pada musim haji. Karena saat itu berkumpul jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Itulah mengapa para ulama berusaha mendapatkan buku yang dimaksud pada saat itu. Bila ada yang punya, maka para ulama itu tidak segan-segan untuk menyalinnya meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mendapatkannya. Di antara para ulama yang menjadi "jembatan" ilmu-ilmu masa lalu untuk disampaikan oleh umat terkemudian adalah Imam Jalaluddin As-Suyuti. Beliau berhasil merangkum banyak pengetahuan dari buku-buku langka itu. Konon kabarnya jumlah buku yang beliau tulis mencapai 500 jilid.

Buku-buku yang ditulis ulama zaman dahulu mungkin tidak kalah hebat dengan yang ditulis oleh orang-orang zaman sekarang, khususnya cerdik pandai dari dunia Barat. Kelebihannya adalah, buku-buku itu ditulis oleh para ulama yang memiliki jiwa tauhid, paham syariah, dan memiliki akhlak yang baik. Melewati fase kemunduran Islam artinya kita memulai dari apa yang ada atau memulainya dari nol. Dan ini merupakan pekerjaan rumah umat. Karena kita harus yakin bahwa kejayaan itu akan kembali berulang di masa yang akan datang. Apakah kita menjadi bagian di dalamnya?