Minggu, 20 September 2015

Imam Ibnu Taimiyah: Ulama Ahlussunnah dan Murabbi Agung

Saya termasuk orang yang tidak setuju menjelek-jelekkan ulama sebesar Imam Ibnu Taimiyah. Seperti misalnya kalangan syiah dan sebagian ahlussunnah menjelek-jelekkannya dengan julukan dedengkotnya wahabi. Bagi saya beliau adalah ulama ahlussunnah waljamaah. Adapun kejelekannya yang banyak diungkapkan seperti mujasimah adalah fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Kekurangannya, sebutlah demikian, adalah sikap kerasnya kepada musuh-musuh syariat. Beliau berhadapan secara frontal tokoh-tokoh syiah, wahdatul wujud, sejarawan yang menyimpang, pernah beliau meludahi buku sejarah yang banyak mengandung penyimpangan, dan beliau juga pernah mengkritik kitab Sibawaih yang dianggap "kitab sucinya" ahli bahasa dan mengatakan di dalamnya terdapat 81 kesalahan. Hal ini membuat marah Imam Abu Hayyan yang sebelumnya pernah memujinya. Semua itu, kritikan itu, selagi benar, adalah amar ma'ruf nahi munkar beliau dalam menghentikan segala kemungkaran yang tampak dihadapannya. Tapi mungkin saja sikap kerasnya itu dipandang lain, apalagi oleh orang yang dari segi keilmuan berada dibawahnya.

Namun di sisi lain, beliau menunjukkan sikap lemah lembut, tawadhu, banyak beribadah, Prof. Fazlur Rahman menyebut beliau sebagai neo-sufi, sebagai julukan terhadap ulama yang memiliki citra ruhani. Beliau pernah berkata, ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.” Beliau juga pernah berkata, "Manusia tanpa dzikir seperti ikan tanpa air."

Imam Ibnu Taimiyah meninggal penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Imam Ibnul Qayyim, ketika dia sedang membaca Al-Qur'an surah Al-Qamar yang berbunyi "Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin"

Tidaklah mengherankan di antara deretan murid-muridnya adalah ulama-ulama Rabbani yang tidak diragukan lagi, sebut saja misalnya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang karyanya I'lamul Muwaqqin adalah rujukan utama pemikiran banyak ulama besar, seperti pengakuan Syaikh Wahbah Zuhaili. Beliau juga menelurkan masterpice dibidang tasawuf "Madarijus Salikin". Lalu ada murid beliau yang lain seperti Imam Ibnu Katsir, pakar tafsir dan sejarah yang tiada duanya, salah satu ulama besar mazhab syafi'i. Ada juga ahli hadits dan sejarawan kenamaan seperti Imam Adz Dzahabi.

Bagaimana mungkin ulama seperti Imam Ibnu Taimiyah mampu melahirkan generasi ulama-ulama Rabbani jika beliau sendiri bukan seorang murabbi agung. Di antara orang yang membenci dan mencintainya secara fanatik, saya adalah orang yang berusaha bersikap adil terhadapnya. Sebagai penghormatan saya kepada para ulama besar, maka saya berkata apalah saya ini. Khilafiyah di antara para ulama saya biarkan apa adanya tanpa perlu menghujat di antara pendapat yang bertolak belakang dengan pendapat yang saya yakini. Saya katakan, semua itu, perbedaan pada masalah-masalah furu, adalah rahmat dari Allah yang bisa saja satu pendapat dapat dijadikan pegangan dimasa tertentu, tapi dimasa lain pendapat yang lain lebih layak dijadikan pegangan.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Sabtu, 19 September 2015

Jenggot dan Sunnah Nabi

Zaman sekarang ini niat orang memelihara jenggot berbeda-beda. Sebagian karena mode, sebagian lagi karena mengikuti sunnah Rasul, mungkin saja ada yang karena alasan kesehatan. Di dalam kitab "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Syaikh Abbas As Sisi rahimahullah disebutkan sebuah kisah tentang hal ini. Suatu ketika Syaikh Abbas menaiki kendaraan umum. Di dalam kendaraan tersebut ada seorang pemuda yang berjenggot. Syaikh pun bertanya, "Untuk apa antum berjenggot?" Pemuda itu menjawab, "Mengikuti Sunnah Rasul."

Tentu saja seorang muslim yang tidak berjenggot tidak berarti pula dia orang yang sesat. Tapi berjenggot dengan niat ittibaur Rasul itulah yang menjadikan amal yang kelihatan remeh itu menjadi besar disisi Allah. Rasulullah Saw. bersabda, Man Ahabba Sunnati Faqad Ahabbani, "Barangsiapa yang mencintai sunnahku, maka sesungguhnya dia mencintaiku." Dalam hadits shahih yang lain disebutkan, di akhirat nanti kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Siapa lagi kalau bukan bersama Rasulullah Saw.

Bagi saya mengejek muslim berjenggot (yang berniat ittibaur Rasul) adalah sebuah penghinaan kepada masalah ushuliyah yang berakibat pada kesesatan orang yang mengejek. Sebagai contoh terkait istihza atau memperolok-olok agama. Karena tidak mungkin bagi seorang mukmin melakukan istihza. Imam Al Fakhrur Razi dalam tafsirnya mengatakan: "Sesungguhnya, memperolok-olok agama, bagaimanapun bentuknya, hukumnya kafir. Karena olok-olokan itu menunjukkan penghinaan; sementara keimanan dibangun atas pondasi pengagungan terhadap Allah dengan sebenar-benar pengagungan. Dan mustahil keduanya bisa berkumpul." (At Tafsir Al Kabir (XVI/124).

Kondisi orang yang beriman digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, "Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." [Al Hajj:32].

Rabu, 16 September 2015

Tuntutlah Ilmu Mulai dari Buaian Hingga Liang Lahat

Pada detik-detik terakhir ketika ajal hendak menjemput Abu Raihan Al Biruni, beliau masih ingin membahas permasalahan ilmu yang belum tuntas jawabannya. Saat detik-detik kematian beliau, ada sahabatnya yang bernama Abu Hasan al-Walwajiyi hadir menjenguknya. Beliau telah mendengar pendapat Abu Hasan tadi tentang bagian warisan nenek yang ternyata kurang tepat. Pada saat itu Abu Hasan merasa kaget dan bertanya, “Apakah dalam situasi genting semacam ini engkau masih membahas tentang pendapat saya sementara engkau hendak meninggalkan dunia ini?” Kemudian beliau menjawab, “Apakah pantas saya meninggalkan dunia ini sementara saya tahu tentang suatu masalah dan saya tidak membenarkannya?”.
Yang hidup malas menuntut ilmu. Sedangkan engkau, yang mau mati, masih membahas ilmu dengan senang hati.

Minggu, 06 September 2015

Tips Istiqomah Membaca Al Quran

Bagi orang yang merasa berat membaca Al Quran, saya sarankan cobalah duduk dan mulai membaca Al Quran. Lembar pertama mungkin akan terasa berat bagi anda karena pada saat itu sedang terjadi pertarungan antara nafsu dengan iman. Kalau anda berhenti, anda akan semakin malas membaca Al Quran pada waktu-waktu berikutnya. Oleh karena itu, lanjutkan terus membacanya. Anggaplah semua itu ujian dan pengorbanan bagi Anda. Saksikanlah setelahnya Al Quran menjadi terasa ringan dan semakin ringan untuk dibaca. Hingga anda dapat menyelesaikan satu juz, dua juz, bahkan tiga juz penuh dengan kenikmatan.

Sabtu, 05 September 2015

Menuntut Ilmu Agama Haruns Diikut Ketakwaan

Menuntut ilmu agama haruslah diiringi dengan ketakwaan. Karena jika telah memperoleh banyak ilmu, biasanya timbul dalam hati perasaan ujub. Sedangkan ketakwaan membawa hati tetap tawadhu. Bahwa di atasnya masih ada orang yang lebih tinggi ilmunya. Dan semua ilmu pada akhirnya adalah milik Allah Azza wa Jalla.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

Kamis, 30 Juli 2015

Poligami Jangan Dilihat Enaknya Saja

Saya mendengar ada beberapa petinggi partai yang poligami. Ada yang gagal, tapi ada juga yang berhasil membina rumah tangga. Maksudnya, mungkin dia menjadi lebih baik daripada sebelum berpoligami; lebih dekat kepada Allah. Lebih takwa.

Bagaimana dengan yang tidak berhasil alias perilakunya semakin jauh dari Allah seperti korupsi atau berakhlak buruk lainnya? Sepertinya mereka tidak mampu mengatur rumah tangganya dengan baik. Persoalan ekonomi bisa saja yang melatarbelakanginya. Menambah istri bisa dikatakan menambah pengeluaran. Dengan kata lain pendapatan juga harus bertambah. Tadinya 2 juta untuk satu istri, kini harus 4 juta, 6 juta, 8 juta bila istrinya terus bertambah. Uang dari mana?

Poligami jangan mau enaknya saja tapi tanggung jawabnya kurang. Tanggung jawab disini bisa dibagi dua; tanggung jawab memberikan nafkah yang berkaitan dengan materi (duniawi), anak-istri tidak terlantar sandang-papan-pangannya. Dan yang kedua, tanggung jawab menjaga nafkah tersebut agar tetap halal; berkaitan dengan akhirat. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 12)

Kalau merasa belum mampu berpoligami, ya jangan berpoligami. Puas-puasin saja dengan istri yang ada. Kalau belum puas juga, nafsu memang tidak ada istilah puasnya, direm saja dengan berpuasa dan muraqabatullah. Tujuan pernikahan selain untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi (menyalurkan syahwat biologis), juga untuk untuk membentengi akhlak yang luhur dan untuk menundukkan pandangan, dan menegakkan rumah tangga yang Islami.

Kamis, 16 Juli 2015

Ulama Su' di Mesir

Saya terkejut dan heran dengan pernyataan Syaikh Mukhtar Jumah, menteri agama-nya rezim kudeta, bahwa boleh mendoakan keburukan untuk mursi dan tidak boleh mendoakan keburukan untuk as sisi. Karena mursi adalah presiden yang sah, sedangkan As Sisi adalah presiden yang sah.

Fakta seperti apakah dia bisa berkata seperti itu? Secara fakta bagi orang yang berakal sehat bahwa pernyataan seperti itu ibarat orang yang terbalik akalnya alias gila. Mursi adalah presiden yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan as sisi adalah presiden yang diraih dengan kekerasan dan kezaliman. Mursi adalah orang saleh. Sedangkan as sisi adalah orang zalim.

Lalu saya mengingat sejarah tentang ulama-ulama su' (buruk) diseputar penguasa. Ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Merekalah yang turut andil melegitimasi penyiksaan penguasa atas ulama-ulama saleh seperti terhadap Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan Imam Hasan Al Banna. Bagaimana bisa legitimasi itu terjadi? Bukankah mereka orang-orang yang berilmu? Dan bukankah orang-orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al fathir?

Lalu kemudian saya bercermin pada sebuah hadits, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh."

Ulama su' bisa jadi adalah orang yang berilmu tinggi. Tapi ilmunya itu tidak membawanya dekat kepada Allah. Tidak membawa kebaikan untuk dirinya maupun untuk umat.

Ulama su’ pada umumnya adalah ulama yang bukannya mendekati Allah ta’ala namun mendekati para penguasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah.” ( HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu pengusaha” bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu penguasa” adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.

Di Mesir saat ini telah terlihat, setelah sebelumnya di masa mursi samar terlihat, ulama-ulama su'. Maka salah satu doa Syaikh Muhammad Jibril saat mengingami shalat tarawih di masjid amr bin ash mesir beberapa hari lalu, selain memohon laknat untuk penguasa yang zalim, juga untuk para ulama su' yang menjadi pengikut penguasa yang zalim. Begini doanya: “Ya Allah, siksalah orang-orang yang telah menjadi kejam, termasuk di dalamnya para syaikh yang menjadi pengikut penguasa kejam.”

Aamiin