Kamis, 30 Juli 2015

Poligami Jangan Dilihat Enaknya Saja

Saya mendengar ada beberapa petinggi partai yang poligami. Ada yang gagal, tapi ada juga yang berhasil membina rumah tangga. Maksudnya, mungkin dia menjadi lebih baik daripada sebelum berpoligami; lebih dekat kepada Allah. Lebih takwa.

Bagaimana dengan yang tidak berhasil alias perilakunya semakin jauh dari Allah seperti korupsi atau berakhlak buruk lainnya? Sepertinya mereka tidak mampu mengatur rumah tangganya dengan baik. Persoalan ekonomi bisa saja yang melatarbelakanginya. Menambah istri bisa dikatakan menambah pengeluaran. Dengan kata lain pendapatan juga harus bertambah. Tadinya 2 juta untuk satu istri, kini harus 4 juta, 6 juta, 8 juta bila istrinya terus bertambah. Uang dari mana?

Poligami jangan mau enaknya saja tapi tanggung jawabnya kurang. Tanggung jawab disini bisa dibagi dua; tanggung jawab memberikan nafkah yang berkaitan dengan materi (duniawi), anak-istri tidak terlantar sandang-papan-pangannya. Dan yang kedua, tanggung jawab menjaga nafkah tersebut agar tetap halal; berkaitan dengan akhirat. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 12)

Kalau merasa belum mampu berpoligami, ya jangan berpoligami. Puas-puasin saja dengan istri yang ada. Kalau belum puas juga, nafsu memang tidak ada istilah puasnya, direm saja dengan berpuasa dan muraqabatullah. Tujuan pernikahan selain untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi (menyalurkan syahwat biologis), juga untuk untuk membentengi akhlak yang luhur dan untuk menundukkan pandangan, dan menegakkan rumah tangga yang Islami.

Kamis, 16 Juli 2015

Ulama Su' di Mesir

Saya terkejut dan heran dengan pernyataan Syaikh Mukhtar Jumah, menteri agama-nya rezim kudeta, bahwa boleh mendoakan keburukan untuk mursi dan tidak boleh mendoakan keburukan untuk as sisi. Karena mursi adalah presiden yang sah, sedangkan As Sisi adalah presiden yang sah.

Fakta seperti apakah dia bisa berkata seperti itu? Secara fakta bagi orang yang berakal sehat bahwa pernyataan seperti itu ibarat orang yang terbalik akalnya alias gila. Mursi adalah presiden yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan as sisi adalah presiden yang diraih dengan kekerasan dan kezaliman. Mursi adalah orang saleh. Sedangkan as sisi adalah orang zalim.

Lalu saya mengingat sejarah tentang ulama-ulama su' (buruk) diseputar penguasa. Ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Merekalah yang turut andil melegitimasi penyiksaan penguasa atas ulama-ulama saleh seperti terhadap Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan Imam Hasan Al Banna. Bagaimana bisa legitimasi itu terjadi? Bukankah mereka orang-orang yang berilmu? Dan bukankah orang-orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al fathir?

Lalu kemudian saya bercermin pada sebuah hadits, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh."

Ulama su' bisa jadi adalah orang yang berilmu tinggi. Tapi ilmunya itu tidak membawanya dekat kepada Allah. Tidak membawa kebaikan untuk dirinya maupun untuk umat.

Ulama su’ pada umumnya adalah ulama yang bukannya mendekati Allah ta’ala namun mendekati para penguasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah.” ( HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu pengusaha” bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu penguasa” adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.

Di Mesir saat ini telah terlihat, setelah sebelumnya di masa mursi samar terlihat, ulama-ulama su'. Maka salah satu doa Syaikh Muhammad Jibril saat mengingami shalat tarawih di masjid amr bin ash mesir beberapa hari lalu, selain memohon laknat untuk penguasa yang zalim, juga untuk para ulama su' yang menjadi pengikut penguasa yang zalim. Begini doanya: “Ya Allah, siksalah orang-orang yang telah menjadi kejam, termasuk di dalamnya para syaikh yang menjadi pengikut penguasa kejam.”

Aamiin

Senin, 22 Juni 2015

Tiga Juta Kebaikan untuk Mereka yang Khatam Al Quran

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Mujahid Ra. sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, jumlah huruf dalam Al Quran sebanyak 321.180. Sedangkan menurut Imam Ibnu Abbas Ra sebanyak 323.671. Mari kita ambil riwayat dari Imam Ibnu Abbas karena beliau adalah sahabat Nabi dan kepakaran beliau dibidang ilmu fikih dan Al Quran lebih baik daripada Imam Mujahid.

Bila 323.671 huruf X 10. Maka apabila kita mengkhatamkan Al Quran, kita akan memperoleh 3.236.710 kebaikan. Itu pahala diluar bulan Ramadhan. Pahala membacanya di dalam bulan Ramadhan akan jauh lebih besar lagi. Dilipatgandakan hingga hanya Allah yang tahu seberapa besar pahala itu dilipatgandakan.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengapa Orang-Orang Beriman Bergembira Menyambut Kedatangan Ramadhan?

Bagi orang yang beriman, Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan kedatangannya. Ketika bulan memasuki Rajab, mereka sudah berdoa, "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami kepada bulan Ramadhan."

Saat bulan yang dinanti itu tiba, mereka menyambutnya dengan penuh kegembiraan, "Marhaban ya Ramadhan". Perkataan "marhaban" berasal dari kata "rahb" yang berarti "luas dan lapang". Sehingga marhaban mengandung makna bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Sudah mafhum bahwa orang yang bergembira menampakkan dirinya sebagai orang yang antusias dan ceria. Begitupun dengan keadaan orang yang beriman dalam menyambut bulan Ramadhan, yang antusias dan bersemangat dalam beramal serta tersirat diwajahnya keceriaan. Bila menyambutnya saja sudah bergembira, apatah lagi bila sudah berada di dalamnya. Ingin sekali berlama-lama di dalamnya, sedih mereka apabila berpisah dengannya.

Pahala amal saleh dibulan Ramadhan dilipatgandakan hingga unlimited. Sedangkan wujud amal saleh tidak hanya satu. Tidak hanya shalat sunah atau tilawah atau dzikir bil lisan saja. Seorang polisi yang mengatur lalu lintas, dokter yang mengobati pasiennya, atau petugas pemerintah yang melayani warganya dengan ikhlas dan sebaik-baiknya adalah juga sedang beramal saleh. Maka di bulan Ramadhan kita dapati mereka bertugas lebih baik, lebih bersemangat, dan lebih produktif. Bila Rasulullah dan para sahabatnya banyak berjihad di bulan Ramadhan, begitupun orang-orang yang beriman saat ini khususnya di Indonesia, mereka berjihad; beramal saleh dengan penuh kesungguhan, mengharap ridho Allah Swt. Bukannya bermalas-malasan, orang-orang beriman justru bersungguh-sungguh dalam beramal meskipun mereka sedang berpuasa.

Maka keadaan orang-orang yang beriman di Bulan Ramadhan merupakan model ideal khairu ummah yang dapat kita lihat di setiap zaman.

Minggu, 03 Mei 2015

Kedustaan di Media Sosial

Di dunia maya ini orang bisa bicara sebebas-bebasnya. Dengan membuat banyak akun tidak jelas, foto profil diambil dari orang lain, dst. Lalu mulailah mereka memprovokasi dengan tulisan atau perkataan yang membangkitkan kemarahan. Sebagian orang tampaknya terprovokasi dengan kata-katanya itu. Sebagian lagi merasa diuntungkan dengan kata-kata itu dan menjadikannya sebagai amunisi untuk menyerang dan memfitnah.

Tampaknya akan susah bagi kita menangkal fenomena ini. Dibunuh satu bisa tumbuh seribu. Kita bisa saja membuat petisi. Tapi yang paling utama bagi diri kita adalah menyibukkan diri dengan amal perbaikan dan dakwah. Mulailah dari diri kita sendiri untuk tidak mengatakan kedustaan atau ketidakbenaran. Karena hal itulah yang akan menentukan keimanan kita kepada Allah Swt. "Barangsiapa yang beriman pada kehidupan akhirat, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam." (HR. Muttafaq alaih).

Ya, keimananlah yang menjaga lisan dan perilaku kita dari ketidakbenaran. Keimanan itu bukan tampak hanya ketika orang lain melihat kita. Dimana disaat itu kita tampil penuh kebaikan, namun ketika sepi melakukan banyak kemungkaran. Tapi keimanan itu selalu melekat dimanapun kita berada. Itulah keimanan yang hidup dan menghidupkan. Kata Sayyid Quthb, orang yang beriman itu seperti bunga yang tidak kuasa menahan wanginya yang harum.

Sabtu, 02 Mei 2015

Menulis Sejarah Artinya Menulis Ilmu Itu Sendiri

Menulis tentang sejarah tidaklah semudah yang saya bayangkan. Karena menulis sejarah artinya menulis tentang ilmu itu sendiri. Bukan hanya sekedar mengetahui kapan lahir, kapan mati, tempat  lahir, tempat mati, nama lengkapnya, nama ayah ibunya, tapi menulis sejarah artinya menulis tentang segala apa yang ada pada dirinya, termasuk maknanya yang mendalam. 

Alangkah inspiratifnya perkataan Syaikh Muhammad Abu Zahra berikut ini, "Seseorang yang mempelajari sejarah disiplin ilmu filsafat, berarti ia juga mempelajari isi ilmu filsafat itu sendii. Jika seseorang mempelajari sejarah ilmu hukum berarti juga mempelajari ilmu hukum itu sendiri. Bagi mereka yang mempunyai perhatian serta keinginan mengetahui dasar dan tujuan sebuah ilmu fikih, maka mempelajari sejarah ilmu fikih berarti juga mempelajari isi ilmu fikih. Sebab sejarah sebuah disiplin ilmu merupakan bagian dari ilmu itu sendiri." (Syaikh Abu Zahra, Imam Syafi'i, hal. 15)

Para sejarawan muslim dahulu kala hingga zaman sekarang adalah seorang ulama yang juga pakar sejarah. Mereka telah menulis buku-buku besar tentang sejarah, entah itu sejarah tokoh, sejarah kekhalifahan, sejarah ilmu, dan sebagainya. Sebut saja misalnya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, seorang mufassir dan mujtahid mutlak, adalah juga seorang sejarawan berkat karyanya yang gemilang Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Nabi dan Raja), atau lebih dikenal sebagai Tarikh ath-Thabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan sejarah Arab dan Muslim. Lalu ada Imam Ibnu Al Atsir yang menulis kitab al-Kāmil fi t-tarīkh dan Usd al-Ghabah fi ma’rifati ash-sahabah, Imam Ibnu Katsir menulis kitab sejarah Al-Bidayah wa an Nihayah, Al-Fusul fi Sirah ar-Rasul, dan Tabaqat asy-Syafi'iyah. Imam Adz Dzahabi menulis kitab Siyar A’lam An-Nubala, Imam Jalaluddin As Suyuthi menulis kitab Tarikh Al Khulafa, dan Imam Ibnu Khaldun menulis kitab Muqaddimah.

Di Indonesia kita mengenal beberapa nama, di antaranya Prof. Abu Bakar Atjeh, seorang ulama besar dari Aceh selain menulis buku-buku keislaman, juga menulis buku tentang sejarah, seperti: Gerakan Salafiyah di Indonesia, Perbandingan mazhab ahlussunnah, perbandingan mazhab syiah, sejarah ka'bah dan manasik haji, pengantar sejarah sufi dan tasawuf, sejarah alquran, sejarah hidup KH. Wahid Hasyim, sekitar masuknya Islam di Indonesia, sejarah filsafat islam. 

Ulama lainnya, seperti Prof. Ali Hasymi menulis buku sejarah masuk dan perkembangan islam di indonesia, Syeikh Abdurrauf Syiah Kuala ulama negarawan yang bijaksana, kerajaan saudi arabia, pahlawan-pahlawan yang gugur di zaman nabi, sejarah kebudayaan islam, aceh merdeka di bawah seri ratu, apa sebab rakyat aceh sanggup berperang puluhan tahun melawan agresi belanda, iskandar muda meukuta alam, sumbangan kesustraan aceh dlm pembinaan kesustraan indonesia.

Lalu ada Prof. HAMKA ketua MUI periode pertama yang juga sastrawan dan sejarawan. Beliau adalah pencetus "teori makkah" yang telah menjadi rujukan kaum sejarawan baik muslim maupun orientalis. Yaitu teori yang menyebutkan bahwa awal masuknya berasal dari Makkah sekitar abad ke 7 M. Namun anehnya walaupun mempunyai bukti yang kuat dan otentik, buku-buku pelajaran sekolah banyak mengadopsi pemikiran orientalis, Snouck Hurgronje yang menyebutkan bahwa Islam di Indonesia datang dari pedagang-pedagang Gujarat. Lalu ada Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, guru besar sejarah UNPAD yang mempunyai semangat keislaman dengan menulis buku Menemukan Sejarah dan Api Sejarah. 

Mereka menulis tentang sejarah ulama A, maka mereka sangat paham betul tentang pemikiran ulama A tersebut. Mereka menulis sejarah perkembangan ilmu hadits, mereka paham betul tentang riwayah dan dirayah hadits. Mereka menulis sejarah perkembangan ilmu tafsir, mereka paham betul asbabun nuzul-nya, nasikh mansukh-nya, sanadnya, adabnya, makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya.

Jadi, bila ada yang ingin menulis buku sejarah, adalah sangat kurang bila kita tidak memahami seluk beluk pemikiran sejarah yang kita tulis itu sendiri. Karena sejarah artinya ilmu itu sendiri.

Jumat, 01 Mei 2015

Bila Harapan Tidak Sesuai dengan Kenyataan

Kekecewaan sering melanda saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Di saat harta yang kita kumpulkan hilang begitu saja. Begitu susahnya kita mendapatkannya, namun betapa mudahnya ia hilang dalam genggaman.

Muhammad bin Nu'aim suatu saat mengunjungi Bisyr Al Hafi yang sedang sakit. Kepada ulama besar Baghdad yang dikenal dengan zuhud dan wara’nya itu, Muhammad bin Nu’aim meminta nasihat, ”Berilah saya nasihat!”

Bisyr Al Hafi pun menyampaikan, "Di rumah ini ada semut, yang mengumpulkan biji-bijian di musim panas dan memakannya di musim dingin. Suatu saat aku mengambil biji dari mulutnya, lalu tiba-tiba datanglah seekor burung pipit dan memakan biji itu."

Bisyr Al Hafi pun menarik kesimpulan dari peristiwa itu,"Maka, tidak semua yang engkau kumpulkan engkau memakannya. Tidak semua harapan yang engkau cita-citakan akan engkau peroleh." (Thabaqat Al Auliya, hal. 116)

Belajar dari seekor semut, mudah-mudahan engkau memperoleh gambaran tentang hakikat kehidupan. Bersiap diri bila pada suatu hari engkau mengalaminya sendiri. Bahwa harta yang ada padamu mungkin takdirnya bukan untukmu, sebagian atau seluruhnya.