Tampilkan postingan dengan label HAMKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMKA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2015

Jangan Diam, Jadilah Pembela Islam!

Saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh guru saya, Prof. Dr. Afif Muhammad, salah seorang guru besar UIN Bandung. Dalam suatu ceramahnya beliau berkata, dengan mengutip perkataan Imam Abul A'la Al Maududi, "Bila kita baru mempunyai silet untuk dapat menebang pohon, maka tebanglah pohon tersebut dengan silet tersebut!"

Saya menangkap pesan tersebut bahwa seorang muslim mestilah memiliki sumbangsih sedikit atau banyak untuk kejayaan Islam. Bila kita tak punya harta benda untuk bersedekah, kita masih punya ilmu, tenaga, dan waktu yang dapat kita gunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Jangan hanya karena kita tidak punya harta untuk bersedekah, lalu kita, juga berhenti dari memberi manfaat dan kebaikan untuk orang lain.

Kadang saya geram dengan tulisan yang dibuat oleh orang-orang sekuler. Saya berkata dalam hati, jika saya punya kemampuan menulis maka akan saya hadapi mereka. Beberapa artikel pun berhasil saya buat untuk melawan pemikiran mereka. Namun bila saya tidak dapat membuatnya disebabkan ilmu saya yang sedikit, maka saya pun berkata dalam hati, "Ya Allah, mudah-mudahan ada ustadz yang diberi kemampuan menulis guna menghadang pemikiran orang-orang sekuler itu." Tetaplah bergerak menebar kebaikan meskipun gerakan itu terbatas dengan apa yang kita miliki.

Imam Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama yang produktif menulis kitab. Kabarnya beliau telah menulis 500 an kitab. Saat beliau dipenjara, beliau masih tetap istiqomah menulis walaupun dengan arang. Karena pada saat itu, pena-pena beliau disingkirkan dari diri beliau oleh penguasa yang tidak senang kepadanya. Dari penjara itu, lahirlah kitab Majmu Fatawa, salah satu karya terbaik yang pernah beliau tulis.

Imam Hasan al-Banna pernah menulis komentar atas buku tokoh sekuler Mesir, Dr. Thaha Husein, yang berjudul Mustaqbal Tsaqofah fi Mishr (Masa Depan Kebudayaan di Mesir), yaitu ketika sedang dalam perjalanan naik kereta. Saat membedah buku tersebut di sebuah seminar, Imam Hasan Al Banna menyampaikan materi-materi yang ditulisnya di kereta. Dr. Thaha Husein mendengarnya dibelakang panggung tanpa sepengetahuan Imam Hasan Al Banna. Selesai acara tersebut beliau memeluk Imam Hasan Al Banna karena terpukau dengan materi yang disampaikan oleh sang Imam, dan berterimakasih karena telah menyampaikan pandangan secara objektif.

Banyak karya-karya hebat ditulis di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis Tafsir Al Azhar ketika di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb dengan Fizhilal-nya, DR. Aidh Al Qarni dengan La Tahzan-nya, dsb. Penjara bagi mereka bukanlah tempat untuk berdiam diri. Justru penjara adalah salah satu medan jihad yang apinya terus mereka kobarkan.

Abu As Samra Adh Dharir merupakan seorang ulama besar madzhab Asy Syafi’i yang buta. Meski demikian beliau tetap bermujahadah dalam menghafal, dengan cara ditalqin. Hingga dalam setiap harinya beliau berhasil menghafal lebih dari seratus baris. Karena kepandaian serta toleransinya, meski bermadzhab Asy Syafi’i, ketika beliau berfatwa, maka fatwa disesuaikan dengan madzhab si penanya.

Kaki yang lumpuh disaat muda tidaklah menghentikan langkah Syaikh Ahmad Yasin untuk terus berjihad hingga titik darah penghabisan. Maka, janganlah diam berpangku tangan menunggu yang lain berjuang, teruslah bergerak dengan kebaikan yang kita miliki dan jadilah pembela Islam yang istiqomah.

Sabtu, 02 Mei 2015

Menulis Sejarah Artinya Menulis Ilmu Itu Sendiri

Menulis tentang sejarah tidaklah semudah yang saya bayangkan. Karena menulis sejarah artinya menulis tentang ilmu itu sendiri. Bukan hanya sekedar mengetahui kapan lahir, kapan mati, tempat  lahir, tempat mati, nama lengkapnya, nama ayah ibunya, tapi menulis sejarah artinya menulis tentang segala apa yang ada pada dirinya, termasuk maknanya yang mendalam. 

Alangkah inspiratifnya perkataan Syaikh Muhammad Abu Zahra berikut ini, "Seseorang yang mempelajari sejarah disiplin ilmu filsafat, berarti ia juga mempelajari isi ilmu filsafat itu sendii. Jika seseorang mempelajari sejarah ilmu hukum berarti juga mempelajari ilmu hukum itu sendiri. Bagi mereka yang mempunyai perhatian serta keinginan mengetahui dasar dan tujuan sebuah ilmu fikih, maka mempelajari sejarah ilmu fikih berarti juga mempelajari isi ilmu fikih. Sebab sejarah sebuah disiplin ilmu merupakan bagian dari ilmu itu sendiri." (Syaikh Abu Zahra, Imam Syafi'i, hal. 15)

Para sejarawan muslim dahulu kala hingga zaman sekarang adalah seorang ulama yang juga pakar sejarah. Mereka telah menulis buku-buku besar tentang sejarah, entah itu sejarah tokoh, sejarah kekhalifahan, sejarah ilmu, dan sebagainya. Sebut saja misalnya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, seorang mufassir dan mujtahid mutlak, adalah juga seorang sejarawan berkat karyanya yang gemilang Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Nabi dan Raja), atau lebih dikenal sebagai Tarikh ath-Thabari. Kitab ini berisi sejarah dunia hingga tahun 915, dan terkenal karena keakuratannya dalam menuliskan sejarah Arab dan Muslim. Lalu ada Imam Ibnu Al Atsir yang menulis kitab al-Kāmil fi t-tarīkh dan Usd al-Ghabah fi ma’rifati ash-sahabah, Imam Ibnu Katsir menulis kitab sejarah Al-Bidayah wa an Nihayah, Al-Fusul fi Sirah ar-Rasul, dan Tabaqat asy-Syafi'iyah. Imam Adz Dzahabi menulis kitab Siyar A’lam An-Nubala, Imam Jalaluddin As Suyuthi menulis kitab Tarikh Al Khulafa, dan Imam Ibnu Khaldun menulis kitab Muqaddimah.

Di Indonesia kita mengenal beberapa nama, di antaranya Prof. Abu Bakar Atjeh, seorang ulama besar dari Aceh selain menulis buku-buku keislaman, juga menulis buku tentang sejarah, seperti: Gerakan Salafiyah di Indonesia, Perbandingan mazhab ahlussunnah, perbandingan mazhab syiah, sejarah ka'bah dan manasik haji, pengantar sejarah sufi dan tasawuf, sejarah alquran, sejarah hidup KH. Wahid Hasyim, sekitar masuknya Islam di Indonesia, sejarah filsafat islam. 

Ulama lainnya, seperti Prof. Ali Hasymi menulis buku sejarah masuk dan perkembangan islam di indonesia, Syeikh Abdurrauf Syiah Kuala ulama negarawan yang bijaksana, kerajaan saudi arabia, pahlawan-pahlawan yang gugur di zaman nabi, sejarah kebudayaan islam, aceh merdeka di bawah seri ratu, apa sebab rakyat aceh sanggup berperang puluhan tahun melawan agresi belanda, iskandar muda meukuta alam, sumbangan kesustraan aceh dlm pembinaan kesustraan indonesia.

Lalu ada Prof. HAMKA ketua MUI periode pertama yang juga sastrawan dan sejarawan. Beliau adalah pencetus "teori makkah" yang telah menjadi rujukan kaum sejarawan baik muslim maupun orientalis. Yaitu teori yang menyebutkan bahwa awal masuknya berasal dari Makkah sekitar abad ke 7 M. Namun anehnya walaupun mempunyai bukti yang kuat dan otentik, buku-buku pelajaran sekolah banyak mengadopsi pemikiran orientalis, Snouck Hurgronje yang menyebutkan bahwa Islam di Indonesia datang dari pedagang-pedagang Gujarat. Lalu ada Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, guru besar sejarah UNPAD yang mempunyai semangat keislaman dengan menulis buku Menemukan Sejarah dan Api Sejarah. 

Mereka menulis tentang sejarah ulama A, maka mereka sangat paham betul tentang pemikiran ulama A tersebut. Mereka menulis sejarah perkembangan ilmu hadits, mereka paham betul tentang riwayah dan dirayah hadits. Mereka menulis sejarah perkembangan ilmu tafsir, mereka paham betul asbabun nuzul-nya, nasikh mansukh-nya, sanadnya, adabnya, makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya.

Jadi, bila ada yang ingin menulis buku sejarah, adalah sangat kurang bila kita tidak memahami seluk beluk pemikiran sejarah yang kita tulis itu sendiri. Karena sejarah artinya ilmu itu sendiri.

Jumat, 10 April 2015

Fakta Islam Indonesia Datang Langsung dari Mekah

Saya teringat ketika masih duduk di sekolah menengah, saya diberitahu oleh guru-guru sejarah saya, berdasarkan buku rujukan sejarah sekolah, bahwa Islam di Indonesia datang pertama kali dari negeri Gujarat. Alasan yang saya ingat, karena pedagang-pedagang muslim dari Gujarat yang datang ke Indonesia.

Saya yakin doktrin "Gujarat" ini banyak melekat pada benak kaum muslimin di Indonesia. Karena buku-buku sejarah sekolah tidak pernah mengajarkan adanya kemungkinan lain tentang kapannya Islam masuk ke Indonesia. Padahal jika dipelajari lebih lanjut, adanya teori-teori lain yang bisa disandingkan dengan teori Gujarat ini. Dan teori-teori itu cukup masuk akal dan bisa jadi benar karena memiliki bukti-bukti yang otentik. 

Salah satu teori yang cukup kuat tentang kapan masuknya Islam di Indonesia adalah teori Mekkh. Teori ini telah dikemukakan oleh A. Hasjmy, HAMKA, Agus Salim, dan orientalis seperti T.W. Arnold, dan D.G.E. Hall. Fakta-fakta tersebut dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Orang Arab (Islam) telah memegang peranan penting di perairan Selat Malaka.

2. Tercatat Raja Sriwijaya Sri indrayana pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Yang pertama dikirim kepada Muawiyah I, Bagian pembukaan dari surat pertama dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya Kitab al Hayawan berdasarkan 3 rantai isnad. Muawiyah 1 sendiri hidup sekitar tahun 661 M.  Dan untuk surat yang  ke-2 di kirimkan kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz. Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860-940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid. Surat ke-2 ini diterima Khalifah sekitar tahun 717 M. Isi surat ke-2: “Dari Rajadiraja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” 

3. Agama Islam masuk ke kawasan Nusantara bersamaan dengan masuknya Islam di Tiongkok (abad ke-7 M). Alasannya, sejak semula perdagangan antara Tiongkok dengan Nusantara sudah ramai, khususnya kawasan Sumatra.

4. Berdasarkan keterangan Dr. Ilyas Ismail (Imam Besar Masjid Manila) bahwa Islam telah masuk ke Aceh Besar pada masa Utsman bin Affan (abad ke-1 H/7 M). Pendapat Ilyas Ismail didasarkan pada catatan pedagang Arab dalam naskah tua di Manila.

5. Terdapat catatan Cina tentang adanya sebuah kerajaan yang bernama Ta Chi di gugusan pulau Melayu dan kerajaan ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan Cina dari tahun 630 hingga 655. Ta Chi adalah nama yang diberi oleh orang-orang Islam gugusan pulau Melayu di pertengahan abad ke-7.

Menurut saya lima fakta di atas begitu kuat dan bisa jadi shahih mutawattir. Teori ini memberikan pelajaran berharga bahwa sesungguhnya Islam di Indonesia memiliki rantai sanad dengan para sahabat Nabi Saw. Sanad ini sangat penting mengingat ia merupakan bagian dari agama. 

Imam Sufyan Ats Tsaury mengatakan, “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, "Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).”  Beliau juga berkata, "Antara kami dengan satu kaum terdapat beberapa kaum – yaitu sanad."

Imam Malik berkata, “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu).”

Bangsa kita adalah bangsa Islam. Bangsa yang sudah ditanamkan Islam sejak Islam itu didakwahkan langsung oleh Rasulullah Saw. Dengan kata lain, umat Islam Indonesia merupakan salah satu pewaris sah dakwah Rasulullah Saw. secara langsung, disamping bangsa Arab. Hal ini menunjukkan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada bangsa kita yang tidak diberikan kepada bangsa lain. 

Senin, 23 Maret 2015

Bahasa Menunjukkan Kualitas Seseorang

Sultan-sultan melayu di zaman dulu sangat memperhatikan dunia kesusastraan. Mereka sangat menghargai karya-karya sastra. Pejabat tinggi hingga rakyat jelata, ulama hingga para pengikutnya berlomba-lomba dalam dunia sastra ini; baik dalam bertutur kata maupun melalui karya tulis yang mereka buat.

Sastra disini bukan sekedar sastra itu sendiri. Sastra disini adalah sastra yang mengandung budi pekerti, nilai-nilai religi, hingga sebagai alat untuk memahami ilmu pengetahuan. Bila ada peribahasa mengatakan, bahasa menunjukkan bangsa, sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai luhur. Baik buruk sifat dan tabiat orang dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya. Seorang ayah berbahasa kepada putra putrinya, seorang anak berbahasa kepada orangtuanya, seorang ulama berbahasa kepada penguasa, seorang penguasa berbahasa kepada ulama dan rakyatnya. Semua orang berbahasa. Semakin baik bahasanya, semakin tinggi kualitas dirinya.

Karya-karya ulama di negeri ini. Mulai dari zaman Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar Raniry, Raja Ali Haji hingga Buya HAMKA, begitu sangat kuat nilai-nilai sastra dalam karya-karya mereka, begitu bermaknanya mereka dalam bertutur kata menunjukkan 2 hal: Pertama, lingkungan mereka yang sangat kental dengan sastra. Dan kedua, sastra menunjukkan kualitas diri mereka.

Ketinggian nilai-nilai satra ditunjukkan di dalam Al Quran. Semakin menunjukkan kepada kita semakin tinggi kualitas seseorang, semakin tinggi kualitas bahasanya. Begitupun sebaliknya, semakin tinggi kualitas bahasa seseorang, semakin tinggi kualitas diri orang tersebut. Al Quran menunjukkan siapa sebenarnya ia dan siapa sebenarnya yang mengatakannya. Sehingga ia berani menantang kepada para sastrawan hingga cendikiawan untuk membuat satu ayat hingga satu surat seperti halnya Al Quran. Luar biasanya, tantangan itu disertai jaminan bahwa tidak ada yang bisa melakukannya. Dan memang betul tidak ada yang mampu menandinginya hingga kini.

Kamis, 12 Maret 2015

Dahsyatnya Amal Seorang Mukmin (Bag 2)

Sayyid Quthb dalam Fizhilalil Quran menjelaskan makna surat Al Ashr dengan sangat indah. Katanya, seorang mukmin dengan amalnya ibarat bunga yang tidak kuasa menahan wewangiannya. 

Sejarah peradaban Islam yang agung telah menggambarkan kepada kita tentang kehebatan dan kedahsyatannya dalam berkarya. Gedung-gedung dengan nilai seni dan arsitektur tinggi bertebaran di mana-mana dan menjadi sejarah dunia yang elok untuk disaksikan. Buku-buku yang ditulis oleh para ulama begitu banyak jumlahnya dan sebagian di antaranya masih bisa kita baca hingga kini. Tapak-tapaknya masih terasa menunjukkan betapa besar dan hebatnya peradaban pada saat itu.

Semangat itu tidak lain muncul dari keimanan yang kokoh dan kuat. Bila saja 313 muslim tidak mau berperang melawan kafir Quraisy yang jumlahnya lebih dari seribu orang pada perang Badar, maka berhentilah peradaban itu. Bila Thariq bin Ziyad dengan bala tentaranya yang tidak begitu banyak tidak berani menyerang orang-orang kafir Spanyol, maka terputuslah Eropa dari mengenal Islam.

Bila Muhammad Al Fatih dan pasukannya berhenti untuk melanjutkan penyerangan terhadap Konstantinopel, maka mungkin kita tidak akan menyaksikan Konstantinopel berubah nama menjadi Istambul (di ambil dari kata "Islambul" yang artinya "kota Islam").

Bila saja Ibnu Taimiyah berhenti berkarya karena dijebloskan ke dalam penjara, mungkin kita tidak mengenal Kitab Majmu Fatawa, salah satu karya hebat dibidang ilmu fikih. Begitupun dengan Sayyid Quthb, di penjara justru menghasilkan karya legendarisnya Fizhilalil Quran, HAMKA menghasilkan karya agungnya Tafsir Al Azhar yang tebal dari kedua kitab itu bila digabungkan mencapai satu meter. Begitupun yang terjadi pada Aidh Al Qarni, keimanan yang ada dalam dirinya justru mengobarkan semangatnya untuk terus berkarya meskipun di dalam penjara. Maka lahirlah kitab La Tahzan yang kesohor itu.

Beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang mahasiswi berprestasi, anak tukang becak yang miskin. Dia meraih prestasi tertinggi dikampusnya dengan IPK 3,9. Ketika ditanya apa rahasianya bisa sukses dalam belajar. Jawabannya, selalu mengulang-ulang pelajaran yang di dapat, tilawah satu hari satu juz, shalat tahajud, dan shalat dhuha. Jawabannya sederhana tapi sungguh bermakna. Kebiasaan-kebiasaan itu membentuk karakternya, mengisi baterai jiwanya, mengobarkan semangatnya. Karena yang menghidupkan hati yang malas adalah Allah, yang membuka khazanah pengetahuan adalah Allah. Kemiskinan bukanlah penghalang dari kemuliaan. Tapi yang menjadi penghalang seseorang meraih kemuliaan adalah kemaksiatan yang dilakukannya.

Orang-orang berprestasi tidak mungkin didapat dari pelaku maksiat, pelajar yang sering tawuran, suka bolos, dan malas belajar. Tapi ia bisa saja didapat dari rumah-rumah semi permanen, para pelajar yang berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolahnya, atau mereka yang terpaksa mencari nafkah sendiri karena orangtuanya tidak mampu membiayainya sekolah.