Jumat, 24 April 2015

Mengapa Syiah Ingin Menguasai Makkah dan Madinah?

Tidak heran bila Saudi menyerang Syiah di Yaman. Disekeliling saudi saat ini sudah dikelilingi negara-negara syiah. Mulai dari suriah, irak, bahrain, yaman, dan sudah pasti iran. Mengapa syiah ingin menguasai Arab Saudi? Karena di sana ada al haramain. Kenapa syiah ingin menguasai al haramain?

Tanah Haramain (Makkah-Madinah) sangat istimewa dan strategis. Nilai spiritual kedua temapt suci ini menembus hati setiap muslim sejati.

Makkah adalah Qiblat kaum muslimin seluruh dunia. Setiap tahun jutaan kaum muslimin berbondong-bondong datang ke Makkah demi melaksanakan ibadah haji atau Umrah. Dan Madinah adalah kota Nabi , sekaligus tempat dimakamkannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Selain itu, nilai politis kedua tanah suci ini sangat tinggi. Siapa saja diberi taufik untuk memakmurkan al-Haramain, maka mereka bisa mempengaruhi opini dan ideologi muslim dunia.

Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar 52/386 menulis: "Tahukah kalian, apa perbuatan yang pertama kali dilakukan oleh al-Mahdi?" Yang pertama kali dia lakukan adalah mengeluarkan jasad kedua orang ini (Abu Bakar dan Umar), kemudian membakar keduanya dan menerbangkan debunya di udara. Lalu menghancurkan Masjid (Nabawi)".

"Sesungguhnya al-Qa'im (Imam Mahdi Syiah) akan menghancurkan Ka'bah dan Masjid Nabawi, dan mengembalikannya ke asalanya". (Al-Ghaibah, h 282)

Inilah sebabnya, mengapa Iran dan Syiahnya sangat bernafsu merebut Makkah dan Madinah.

Selasa, 21 April 2015

Menjadikan Hinaan Sebagai Cambuk Kebaikan

Imam Al Bukhari di waktu kecilnya sering mendatangi para fuqaha di Marwa. Jika mendatangi mereka, Imam Al Bukhari malu untuk mengucapkan salam.

Sampai pada suatu saat salah satu pendidik di tempat itu bertanya,”Berapa hadits yang engkau tulis hari ini?” Imam Al Bukhari pun menjawab,”Dua”. Maka tertawalah mereka yang berada di majelis tersebut.

Setelah itu, salah satu syeikh mengatakan, "Janganlah kalian menertawainya. Bisa jadi suatu saat ia yang akan menertawakan kalian!” (Siyar A’lam An Nubala, 12/401)

Benar adanya, meski pernah menjadi bahan tertawaan, ketekunan Imam Al Bukhari dalam menuntut hadits sejak di masa kecil membuatnya menjadi ulama besar di dunia Islam.

Sahabat, sering orang menertawakan kita bukan karena kita lucu tapi karena mereka tidak tahu tentang siapa diri kita sebenarnya. Tentang kebaikan yang banyak kita lakukan. Tentang kebaikan yang kita sembunyikan. Tentang betapa bersungguhnya kita dalam menuntut ilmu dan beramal.

Bertahan dan bersabar untuk terus setia di jalan yang selama ini kita tempuh adalah jawabannya. Karena bila kita mundur ke belakang malah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam beramal. Kita menunjukkan amal-amal kebaikan yang banyak kepada orang-orang agar kita dihormati. Kita menunjukkan betapa luasnya ilmu kita agar kita tidak dianggap bodoh.

Imam Ahmad bin Hanbal setiap hari berdoa dengan menyebut satu persatu sahabat-sahabatnya. Imam Ibnu Sirin pada siang hari tertawa, namun tatkala sedang sendirian air matanya mengalir laksana sungai.

Seorang sufi terkenal, Bisyr al-Hafi, sering duduk bersama penjual minyak wangi. Thalhah bin Mathruf, seorang qari terkemuka asal Kufah, setelah melihat bahwa telah banyak orang yang belajar darinya, dia malah berangkat menuju al-A’masy dan belajar darinya, hingga orang-orang lebih condong kepada al-A’masy dan meninggalkan Thalhah. 

Senin, 20 April 2015

Kemuliaan Orang-Orang yang Tawadhu Dihadapan Allah dan Makhluk-Nya

Allah berkata pada hari pembalasan, "Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakan?" (HR. Ahmad, Al Baghawi, dan Ath Thabrani dengan sanad yang shahih)

Maka, tidaklah mengherankan bila orang-orang saleh berusaha untuk menyembunyikan amal-amal mereka. Imam Sufyan Ats Tsaury tidak menganggap penting amal-amalnya yang dilihat oleh orang lain dan menganggap amalnya yang sesungguhnya adalah amal-amal yang tidak diketahui orang lain.

Imam Ali Zainal Abidin bertahun-tahun bersedekah kepada fakir miskin tanpa ada orang yang tahu. Kaum fakir itu baru mengetahuinya setelah sang imam wafat karena tak ada lagi yang bersedekah kepada mereka.

Pernah suatu ketika Imam Abu Hanifah kepergok sedang shalat malam yang panjangnya dari setelah shalat isya sampai menjelang subuh. Setelah sang Imam tahu ada yang melihatnya sedang shalat, lantas beliau berkata kepada orang tersebut agar merahasiakan apa yang dilihat.

Ada orang saleh yang bertahun-tahun menangis karena takut kepada Allah tanpa diketahui oleh istri yang tinggal bersamanya. Ada orang saleh yang menangis lantas kemudian dilihat oleh banyak orang, tapi beliau malah berkata, "Tidak apa-apa, aku sedang flu." Ada orang saleh lainnya yang berusaha menahan tangis ditengah khalayak ramai walaupun demikian orang lain yang berada bersamanya dapat merasakan bagaimana nafas yang terasa berat dan tubuh yang berguncang menahan tangis tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga keikhlasan di dalam hatinya. Agar tidak sia-sia amal mereka. Agar Allah memberi mereka pahala bukan menambah mereka dosa. Tidak penting menjadi terkenal dihadapan manusia tapi yang paling penting adalah terkenal dihadapan Allah.

Namun anehnya, meskipun orang-orang saleh itu menyembunyikan amal saleh mereka, tapi Allah membuat mereka terkenal dihadapan manusia. Semakin mereka menjauhi dunia, semakin dunia mengejar mereka. Semakin tidak ingin mereka menjadi orang yang terkenal, semakin terkenal mereka dihadapan manusia. Lihatlah sejarah telah mencatat perbuatan mereka meskipun mereka tidak mempedulikannya. Bila Allah begitu mudah membuka aib manusia meskipun aib itu ditutup rapat oleh manusia. Tentu betapa mudahnya juga bagi Allah untuk membuka kebaikan si fulan dihadapan manusia sebagai rasa cinta-Nya kepada fulan tersebut.

Minggu, 19 April 2015

Ridwan Kamil, Kopiah, dan Sejarah Budaya Bangsa

Kalau melihat foto kang Emil saat jalan bareng dengan Jokowi cs, tampak ada yang berbeda dari kang Emil dari kebanyakan orang yang difoto saat itu. Yaitu kopiah atau peci atau songkok yang dipakainya. Kalau melihat foto-foto sejarah pendiri bangsa, kemana-mana sering pakai songkok atau kopiah. Sebut saja misalnya Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Sutan Syahrir, dan Wahid Hasyim. Mungkin karena inilah kang Emil disangka Presiden Indonesia oleh wisatawan dari Jerman. Karena para wisatawan itu melihat foto-foto pemimpin bangsa ini juga menggunakan songkok.


Menurut laman wikipedia, Songkok, yang disebut juga sebagai peci atau kopiah merupakan sejenis topi tradisional bagi orang Melayu. Di Indonesia, songkok yang juga dikenal dengan nama peci ini kemudian menjadi bagian dari pakaian nasional, dan dipakai tidak hanya oleh orang Islam. Songkok juga dipakai oleh tentara dan polisi Malaysia dan Brunei pada upacara-upacara tertentu. Penutup kepala ini merupakan variasi dari Fes atau Tharbusy yang berasal dari Maroko.

Songkok populer bagi masyarakat Melayu di Malaysia, Singapura, Indonesia dan selatan Thailand. Perlengkapan ini dikatakan berasal dari pakaian yang dipakai di Ottoman Turki. Songkok menjadi popular dikalangan India Muslim dan menurut pakar kemudiannya berangsur menjadi songkok di dunia Melayu.

Sedangkan dari segi bahasa, sebagaimana diungkap oleh Gustaaf Kusno di kompasiana.com, istilah ‘kopiah’ di adopsi dari kata Arab ‘keffieh’, ‘kaffiyeh’, atau ‘kufiya’, namun wujud topi ini sama sekali berbeda dengan tutup kepala orang Melayu ini. Kaffiyeh berbentuk kain katun segi empat yang ditangkupkan di atas kepala dan pola kainnya biasanya berbentuk kotak-kotak kecil seperti jala ikan. Tokoh yang populer mengenakan kaffiyeh ini adalah Yasser Arafat, pejuang Palestina. Sebagaimana kata-kata Arab lain yang diserap ke dalam bahasa Melayu, suara ‘f’ berubah pelafalan menjadi ‘p’, sehingga ‘kufiah’ pun menjadi ‘kopiah’.

Tutup kepala orang Melayu ini ternyata juga dikenal dengan nama ‘peci’. Istilah ini kemungkinan besar ‘diperkenalkan’ oleh penjajah Belanda dengan sebutan ‘petje’, yaitu kata ‘pet’ yang diberi imbuhan ‘-je’ (kebiasaan orang Belanda menambahkan akhiran ‘je’ atau ‘tje’ yang makna harfiahnya ‘kecil’). Namun sama halnya seperti ‘kaffiyeh’, ujud topi ‘pet’ ini sangat berbeda dengan ‘peci’ yang kita kenal sekarang ini. Topi pet ini mempunyai pinggiran pelindung matahari dan biasanya dipakai oleh tentara di daerah operasi. Penamaan yang sebetulnya keliru dari orang Belanda ini, akhirnya malah kita adopsi menjadi kosakata Indonesia. Jadilah ‘petje’ ini menjadi ‘peci’. Sama halnya seperti ‘je’ atau ‘tje’ lainnya, seperti ‘panje’ menjadi ‘panci’, ‘schuitje’ menjadi ‘sekoci’ (perahu penyelamat), ‘laje’ menjadi ‘laci’.

Bagaimana pula dengan istilah ‘songkok’? Dalam bahasa Inggris dikenal istilah ‘skull cap’ ( dari skull = batok kepala, cap = topi). Skull cap ini juga topi yang biasa dikenakan masyarakat di Timur Tengah, bentuknya setengah bundar dan menutupi bagian ubun-ubun (crown) kepala, mirip dengan ‘topi haji’ yang sering dipakai orang di tanah air kita. Di kawasan Melayu yang dahulu dijajah Inggris, istilah ‘skull cap’ ini juga mengalami metamorfosa pelafalan, dari bunyi ‘skol-kep’ menjadi ‘song-kep’ dan akhirnya ‘song-kok’. Istilah ‘songkok’ di tanah air kita cukup populer di zaman Soekarno, namun di masa kini sepertinya agak jarang diucapkan orang. Berbeda dengan di Malaysia dan Brunei, kata ‘songkok’ ini masih sangat galib dipakai dalam wacana sehari-hari.

Begitulah sejarah dan asal usul istilah kopiah, peci, atau songkok telah populer sejak zaman sebelum kemerdekaan. Yang mempopulerkan justru bangsa kita sendiri sehingga melekat pada kebudayaan kita. Bahwa orang melayu, orang Indonesia terkenal dengan kopiahnya. Kalau ada orang pakai kopiah kemungkinan besar itu orang Indonesia atau orang melayu. Benarlah apa yang dikatakan oleh kang Emil, sebagaimana dikatakannya di twitternya, "Saya itu terbiasa berpeci di setiap acara kedinasan. peci adalah simbol nasionalisme. Mohon maaf jika jadi salah paham. lain kali saya akan menyesuaikan."

Pada hakikatnya bukan kang Emil yang salah, tapi tampaknya para pemimpin bangsa saat ini yang tidak terbiasa menggunakan kopiah.

Kamis, 16 April 2015

Rakyat Rusak karena Ulama dan Penguasanya Menyimpang

"Sesungguhnya rusaknya rakyat terjadi karena rusaknya penguasa; dan rusaknya penguasa terjadi karena rusaknya ulama." (Imam Al Ghazali)

Mengomentari pernyataan Imam Al Ghazali di atas, Dr. Adian Husaini berkata, "Maka, renungkan: Jika penguasa saat ini rusak, jangan-jangan, memang bermula dari kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan, diawali oleh kerusakan ulama dan cendekiawan!"

Saat ini institusi pendidikan Islam mulai dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi sudah mulai banyak disusupi oleh pemikiran Islam liberal oleh kalangan penganutnya. Akibatnya, banyak dari kyai, santri, dan mahasiswa teracuni oleh pemikiran itu. 

Ketika kalangan ulama sudah rusak pemikirannya maka bisikan yang masuk ke telinga penguasa juga ikut menyimpang. Akibatnya lahirlah penguasa yang menyimpang; jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Karena penguasa punya kekuasaan, lantas ia gunakan kekuasaannya tersebut untuk merusak rakyatnya. Karena sudah rusak, mereka akhirnya memilih pemimpin yang rusak pula. Dan menghasilkan bibit-bibit ulama yang rusak juga karena para ulama itu asalnya dari rakyat.  

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

"Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan." (HR. al-Darimi dalam Shahihnya dari haidts Tsauban, Imam Abu Dawud al-Thayalisi dari hadits Abu Darda')

Penggunaan kata "innama" secara umum memiliki makna hashar (pembatasan). Ini menunjukkan besarnya bahaya pemimpin penyesat. Pemimpin penyesat adalah pemimpin sesat yang mencakup penguasa perusak, ulama penyesat, dan ahli ibadah yang sesat (ngawur). Keberadaan mereka menggiring umat kepada kesesatan, menghancurkan agama mereka, dan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan mereka. Termasuk di dalamnya adalah para du'at (pendakwah dan penceramah); jika mereka menyeru kepada kesesatan maka bahayanya tidak lagi diragukan. Jika masyarakat sudah percaya kepadanya dan yakin dengan ilmunya, maka ia akan merusak akidah dan keimanan mereka. 

Dari Ziyad bin Hudair Radhiyallahu 'Anhu , ia berkata: Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu berkata kepadaku: "Tahukan engkau apa yang akan merobohkan Islam?" Aku menjawab: "Tidak (tahu)." Beliau berkata: "Yang akan merobohkan Islam adalah penyimpangan ulama, debatnya munafik dengan Al-Qur'an, dan hukum para pemimpin penyesat." (Atsar Shahihi riwayat Ibnul Mubarak dalam al-Zuhud wa al-Raqaiq, al-Faryabi dalam Sifah al-Nifaq wa Dzam al-Munafikin, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilmi wa Fadhlih, Al-Darimi dan selainnya. Dishahihkan al-Albani dalam al-Misyhkah)

Pernyataan Imam Al Ghazali rahimahullah di atas bisa menjadi testimoni bila ada suatu wilayah, daerah, atau negara yang mana rakyatnya rusak, maka hal itu bisa terjadi karena penguasa dan ulamanya rusak. Apakah sudah terjadi pada negara ini?  

Selasa, 14 April 2015

Prestasi Menyebabkan Orang Jelek Menjadi Menarik

Banyak orang tidak dianugerahi tampang yang menarik tapi ketika berprestasi banyak orang menghargainya, mengelu-elukannya, merindukannya, dan mencintainya.

Bilal bin Rabah, bekas budak Umayah, berkulit hitam legam, adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, sangat dicintai Nabi, muadzin Rasulullah.

Atha bin Abi Rabah, berhidung pesek, berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal, bekas budak Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Tapi tahukah anda bagaimana akhlak dan ilmunya

Yahya bin Sa’id mengatakan, “Bagi Atha, masjid adalah tempat tinggalnya selama dua puluh tahun. Ia adalah orang yang paling bagus salatnya.”

Suatu ketika Ibnu Umar Ra. datang ke Mekah lalu orang-orang pun datang mengitarinya untuk meminta fatwa, maka Ibnu Umar mengatakan, “Kalian mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku padahal di sisi kalian ada Atha bin Abi Rabah!!”

Perkataan yang senada pun diucapkan oleh Ibnu Abbas, tatkala ada seseorang yang diutus untuk mengajukan pertanyaan kepadanya, lalu sepupu nabi ini menjawab, “Wahai penduduk Mekah, kalian berkumpul dan meminta fatwa kepadaku padahal di tengah-tengah kalian ada Atha bin Abi Robah.”

Abu Ja’far Al-Baqir mengatakan “Bertanyalah kalian kepada Atha, dia itu orang yang paling baik di antara kita.” Ia juga menuturkan, “Ambillah (ilmu) dari Atha semampu kalian, karena tidaklah tersisa di muka bumi ini seorang yang lebih mengetahui tentang manasik haji selain Atha.”

Ibnu Mas'ud Ra. Perawakannya kurus dan pendek sekali serta kulitnya amat hitam. Selalu berpakaian rapi serta memakai wangi-wangian. Ciri khas lainnya adalah, ia memiliki betis yang kecil. Perawakannya yang kecil inilah yang pernah dipuja Rasulullah dari orang-orang yang menertawakannya.

Sabda Rasulullah kepada para sahabatnya, “Ambillah Alquran itu dari empat orang. Yaitu dari Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad).

Petuah Nabi kepada sahabatnya, “Barang siapa yang ingin membaca Alquran yang baik seperti pertama kali turun, maka bacalah seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud.”(HR Ibnu Majah, Ahmad).

Yang paling menyedihkan adalah orang yang buruk rupa yang tenggelam dalam maksiat; tidak bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi orang lain.

Senin, 13 April 2015

Menjadikan Kritikan dan Hinaan Sebagai Cambuk Penyemangat

Suatu saat ketika masih kecil, Malik bin Anas bersama dengan saudaranya berbincang dengan sang ayah. Saat itu sang ayah bertanya kepada keduanya mengenai ilmu. Ternyata Malik bin Anas menjawab dengan jawaban yang salah sedangkan saudaranya menjawab dengan jawaban yang benar.

“Merpati telah melalaikanmu dari menuntut ilmu!” kata sang ayah kepada Malik bin Anas.

Imam Malik pun amat tersinggung dengan nasehat itu, hingga akhirnya ia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berguru kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun.

Agar tidak terganggu belajarnya dengan Ibnu Hurmuz, Malik bin Anas pun memberi para pembantu Ibnu Hurmuz korma dan mengatakan kepada mereka, "Jika ada yang bertanya kepada kalian mengenai syeikh, katakana bahwa ia sedang sibuk”.

Akhirnya, karena ketekunan Malik bin Anas dalam menuntut ilmu ia pun menjadi mujtahid besar pengasas madzhab Maliki yang diikuti madzhabnya oleh ribuan ulama besar. (lihat, Tartib Al Madarik, 1/55)

Bagi orang yang pesimis dan lemah, segala kritikan, nasehat, bahkan hinaan hanyalah menambah pesimis dan kelemahannya. Apa yang dikatakan orang lain kepada dirinya dianggap sebagai kejelekan dirinya. Bahwa ia tidak bisa berbuat lebih baik lagi.

Bagi orang yang optimis dan bersemangat, segala kritikan, nasehat, bahkan hinaan bisa menjadi energi untuk tampil lebih baik dari hari ke hari. Merekalah yang telah berikrar dan berteguh hati memberi yang terbaik dalam hidup ini. Dulu miskin dihina sekarang kaya raya dipuji. Dulu bodoh di ejek sekarang pandai dihargai.