Rabu, 08 April 2015

Mengapa Terjadi Peredaran Narkoba di Lapas?

Beberapa hari yang lalu saya melihat berita penangkapan pengedar narkoba di salah satu Lapas di Jakarta. Aneh tapi nyata, pengedar narkoba ditangkap di dalam penjara. Dan kejadian ini bukan hanya sekali dua kali ini saja. Tapi sudah cukup santer terdengar. Artinya, Lapas sudah menjadi tempat peredaran narkoba.

Saya bertanya-tanya, mengapa semua itu bisa terjadi? Saya memberi empat catatan tentang fenomena ini: Pertama, tidak adanya ketegasan dan hukuman yang berat kepada petugas Lapas yang turut terlibat dalam peredaran narkoba di Lapas. Sehingga kasus-kasus seperti ini terus menerus terjadi di Lapas.

Kedua, orang-orang yang ditahan karena narkoba tidak bisa dikatakan dapat sembuh setelah ditahan. Bila tidak ada rehabilitasi maka kecanduan itu alias sakau akan muncul kembali. Sehingga mereka merasa perlu mendapatkan narkoba bagaimanapun caranya.

Ketiga, yang paling berbahaya dari peredaran narkoba di Lapas adalah mencampurbaurkan tahanan narkoba dengan tahanan-tahanan lainnya, misalnya tahanan pencurian atau perampokan. Bisa saja pengguna narkoba ini menularkan perilaku buruknya kepada para tahanan lain itu. Bagi para pelaku kriminal itu tidak ada bedanya kriminalitas yang satu dengan yang lain. Selagi menguntungkan, akan mereka lakukan. Apalagi bila ditambah jika mereka menjadi pemakai dan kemudian kecanduan. Maka keinginan untuk menjadi pengedar narkoba akan semakin kuat. Mereka menjual narkoba dan uangnya untuk mereka belikan narkoba lagi. Begitu seterusnya.

Keempat, pencampurbauran ini menghasilkan efek domino lainnya, yaitu penyebaran virus HIV/ AIDS yang berasal dari pengguna narkoba. Penyalahgunaan narkoba dan kecanduan seseorang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan, membuat mereka lebih rentan terhadap HIV atau, pada orang dengan HIV, memperburuk perkembangan HIV dan konsekuensi-konsekuensinya, terutama di otak. Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa HIV menyebabkan kerusakan sel-sel saraf di otak dan kerusakan kognitif yang lebih besar di antara pengguna methamphetamine dan pelaku orang-orang dengan HIV yang tidak menyalahgunakan narkoba. Dalam penelitian hewan, metamfetamin telah terbukti meningkatkan jumlah HIV dalam sel-sel otak.

Kesimpulan saya, karena semakin banyaknya pengguna narkoba yang dipenjara, seharusnya pemerintah mendirikan Lapas khusus untuk mereka. Selain menahan mereka, pemerintah juga punya kewajiban merahabilitasi mereka. Sehingga apabila keluar dari penjara, mereka tidak menjadi pemakai narkoba lagi. Kontrol dan hukuman yang tegas harus ditegakkan. Hukuman mati sudah sangat layak diberikan kepada mereka yang kembali terlibat pengedaran narkoba di dalam Lapas. Hukuman itu juga pantas diberikan kepada petugas Lapas yang terlibat karena secara tidak langsung mereka juga bagian dari pengedar narkoba, agar timbul efek jera untuk tidak melakukannya lagi.

Selasa, 07 April 2015

Ridwan Kamil Walikota Bandung

Kang Emil orangnya santai tapi sering mobile; lihat-lihat keadaan disekelilingnya kadang sampai malam hari. Dibawa enjoy. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Tidak terasa sudah bangun ini bangun itu. Taman-taman diperindah. Tujuannya agar orang bandung bahagia.

Kata kang emil, bekerja itu tidak perlu bising. Apalagi mereka yang punya niat pencitraan. Marah sana marah sini agar terlihat peduli tapi ternyata bawahannya makin tak peduli sebagian malah mengundurkan diri. Kelihatan sibuk di media tapi hasilnya tidak ada untuk rakyat.

Masyarakat Bandung khususnya dan Jawa Barat umumnya banyak bersyukur sudah diberi pemimpin soleh seperti kang emil dan kang aher. Mudah-mudahan keduanya istiqomah. Aamiin

Senin, 06 April 2015

Kezaliman ISIS Terhadap Gerakan Islam

Saya menonton di TV aksi penyerangan ISIS di Kamp Yarmouk Suriah di mana di tempat itu banyak dihuni aktivis HAMAS. Aksi penyerangan itu begitu mengerikan. ISIS dengan senjata beratnya memberondong membabi buta orang-orang yang ada di hadapannya. Aktivis HAMAS saya yakin tidak siap dengan kondisi itu karena sebelumnya kondisi di kamp aman-aman saja dan juga tidak menyangka yang melakukannya adalah kelompok yang menamakan dirinya "mujahidin". Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan mengerikan ini sebelumnya dari kelompok-kelompok oposisi lainnya. Bahkan kelompok-kelompok tersebut menjalin persaudaraan dengan rakyat Palestina di sana.

Mengapa ISIS merebut wilayah kamp Yarmouk? Karena mereka sudah dihajar habis-habisan di Irak dan Suriah. Sehingga wilayah kekuasaan mereka semakin sempit dan terjepit. Agar punya ruang gerak, mereka pun merangsek masuk wilayah yang mudah mereka kuasai; tidak peduli wilayah tersebut tempat pengungsian rakyat Palestina atau bukan. Tidak peduli muslim atau bukan. Tidak peduli HAMAS atau bukan.

Itulah hakikat ISIS. Mereka seolah hidup di dunia lain. Mereka mengkafirkan orang-orang yang berada diluar kelompok mereka. Bila tidak mau berbaiat kepada mereka, lantas kemudian mereka perangi layaknya perang melawan orang-orang kafir. Semoga Allah membalas kezaliman mereka!

Minggu, 05 April 2015

Rezim Jokowi Rezim Militer

Hari jum'at lalu saya membaca sebuah berita di salah satu koran nasional. Di sana disebutkan bahwa Presiden Thailand yang notabene dari kalangan militer mengatakan bahwa pemerintah akan membredel media yang kritis kepada pemerintah.

Pada umumnya, diberbagai negara yang dipimpin oleh rezim militer, bertindak dengan tangan besi kepada para pengkritiknya.

Saya menjadi bertanya-tanya, negeri ini dipimpin oleh orang yang bukan kalangan militer, tapi mengapa perbuatannya lebih sadis daripada rezim militer di Thailand? Kalau di Thailand baru mau, disini sudah mulai dilakukan upaya pembredelan itu.

Keadaan sebaliknya malah terjadi pada pemerintahan SBY. Sudah 2 periode SBY memimpin negeri, sudah sangat banyak media mengkritik pemerintahannya, tapi tak satupun dari media-media tersebut yang dibredel. Bukankah SBY itu berasal dari kalangan militer? Mengapa dia tidak membredel media yang kritis kepadanya?

Saya jadi bertanya-tanya tentang definisi rezim militer. Menurut kamus bahasa Indonesia, rezim militer adalah sistem pengelola pemerintahan yang dijalankan oleh militer.

Jokowi walaupun bukan dari kalangan militer, tapi orang-orang disekelilingnya, yang mempengaruhi kebijakannya, berasal dari kalangan militer. Contohnya yang paling penting dan signifikan adalah Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan dan mantan kepala BIN Hendropriyono. Keduanya adalah jendral-jendral yang dikenal dekat dengan kalangan sekuler dan Kristen Fundamentalis.

Luhut adalah salah satu aktor penting pembentukan Provinsi Kristen Tapanuli. Namun alhamdulillah dengan izin Allah upaya pembentukan provinsi ini gagal. Sedangkan Hendropriyono adalah aktor dibalik pembantaian umat Islam di Talangsari Lampung.

Kepala Staf Kepresidenan adalah posisi sentral dalam mempengaruhi kebijakan seorang Presiden. Apalagi saat ini, Luhut mempunyai 5 orang deputi kepala staf kepresidenan. Hal ini semakin menunjukkan cengkraman kepada Jokowi dan upaya sistematis untuk mengurangi pengaruh Wapres Jusuf Kalla. Pengangkatan deputi itu diprotes oleh JK dan Akbar Faisal.

Hendropriyono adalah aktor dibalik proyek mobil nasional. Walaupun Jokowi lagi-lagi berbohong untuk kesekian kalinya mengatakan bahwa penandatangan itu bukan terkait dengan mobil nasional. Padahal sudah jelas tertulis "mobil nasional". Anak dan menantu Hendro juga diangkat menjadi komisaris telkomsel dan komandan paspampres.

Seorang pengamat dari Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti mengaku heran dengan sikap Presiden Jokowi yang begitu mengistimewakan Mantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono. Ray Rangkuti menilai komposisi tersebut seolah memberi sinyal kalau Jokowi akan banyak mengambil pendekatan keamanan dalam menangani berbagai persoalan, termasuk politik.

Dari pengamatan saya ini, saya menarik kesimpulan. Bahwa pada hakikatnya rezim Jokowi adalah rezim militer. Dari kebijakan-kebijakan Jokowi seperti pemblokiran situs islam, menunjukkan fakta ini.

Jumat, 03 April 2015

Jihad Pena Melawan Kezaliman

Situs-situs islam diblokir. Beberapa FB atau fanpage yang kritis kepada pemerintah juga ikut diblokir. Melihat kezaliman yang dilakukan musuh-musuh Islam di negeri ini, membuat tangan ini merasa gatal untuk terus menulis menyuarakan kebenaran.

Saya pernah hidup di akhir masa kepemimpinan Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Dan saya melihat era Jokowi yang baru seumur jagung sangat terasa permusuhannya kepada rakyat pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Banyak kasus yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena hampir semua kita sudah mengetahuinya. Buktinya menurut survei indonesia monitoring development, rakyat menginginkan Jokowi lengser. Ini membuktikan rakyat sudah muak dengan rezim saat ini.

Tapi saya harus akui tidak mudah untuk konsisten dan banyak menulis. Saya menghadapi dua masalah: Pertama, terkait wawasan. Saya hanya menulis apa yang saya ketahui dan pahami. Sehingga sudah pasti tulisan yang saya buat tidak terlalu banyak disebabkan keterbatasan wawasan saya dalam banyak hal. Kedua, masalah waktu. Agar tidak mengganggu dan terganggu dalam menulis, saya biasa menulis di tengah malam atau saat anak-anak saya tidur. Jadi waktu saya menulis juga terbatas.

Saya berpikir, ditengah keterbatasan saya ini, pasti banyak muslim yang memiliki semangat seperti saya. Bahkan mereka lebih fakih daripada saya yang dhoif ini. Umat ini harus disadarkan betapa pentingnya memiliki kemampuan menulis dan rajin menulis pada tema-tema yang bermanfaat bagi umat. Karena, pena-pena mereka pada hakikatnya sama seperti senjata kaum mujahidin di medan jihad. Tinta muslim yang peduli kepada Islam dan umatnya sejajar dengan darah para syuhada.

Bila rezim ini menutup situs-situs islam sehingga umat terhalang dari mendapatkan informasi keislaman, maka kita secara pribadi bisa tampil mengisi kekosongan ini. Misalnya dengan menulis di blog dan mensharenya ke banyak orang. Mati satu tumbuh seribu. Satu situs Islam diblokir, seribu situs islam akan hadir.

Jangan biarkan rezim ini menghentikan dakwah kita. Karena yang menghentikan dakwah kita hanyalah kematian. Selain itu tidak boleh ada.

Kamis, 02 April 2015

Siapa Dibalik Pemblokiran Situs Islam?

Malaysia akan bergabung dengan Koalisi negeri-negeri sunni untuk menumpas syiah houthi di Yaman.

Keadaan yang berbeda justru datang dari negeri kita. Disinyalir, kelompok syiahlah yang berada di balik pemblokiran situs-situs Islam. Karena seluruh situs-situs itu mengatakan dengan tegas bahwa syiah adalah aliran sesat dan menyesatkan. Terkait dengan ISIS, justru saya melihat situs-situs itu sangat kontra dengan ISIS.

Setelah Jokowi berkuasa maka gerbong kaum syiah, sekuler, dan fundamentalis kristen berlindung ditubuh pemerintah. Mereka seolah mendapat angin segar untuk eksis dan terlebih menembakkan peluru-peluru kezaliman mereka kepada orang-orang yang ingin menegakkan syariat Islam.

Inilah yang menjadi perbedaan nyata dengan negeri seperti Malaysia. Malaysia adalah negeri muslim yang bermazhab sunni syafiiyah sama seperti muslim di negeri kita. Bedanya disana orang-orang syiah dan sekuler tidak diberi tempat. Mereka sangat memusuhi kaum syiah dan sekuler. Atas nama negara, mereka dengan tegas menyatakan syiah sesat. Tapi dinegara ini, menteri agama justru memberi kata pengantar buku yang ditulis oleh orang syiah. Di Malaysia, istilah "wahabi" bagi mereka yang menolak syiah nyaris tidak terdengar. Tapi di negeri ini, setiap orang yang mengkritik syiah langsung dituduh wahabi. Di negeri ini, istilah "wahabi" begitu tren sebagai upaya pengkambinghitaman yang dilakukan kelompok syiah terhadap kaum muslimin.

Bila kalian ingin mengetahui siapa tokoh-tokoh kebenaran itu, kenalilah kebenaran itu sendiri. Bila kalian dapati kebenaran itu pada kitab-kitab ulama ahlussunnah, lantas mengapa kalian berpaling pada syiah dan tokoh-tokohnya bahkan menjadi pembela-pembelanya?

Rabu, 01 April 2015

Dua Manfaat Utama dari Senyuman

Contoh teladan bagi setiap muslim adalah Rasulullah Saw. Salah satu keteladanan beliau adalah soal senyuman. Beliau adalah seorang yang murah senyum kepada banyak orang yang ditemuinya. Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i ra dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah Saw.” (HR. Tirmidzi)

Karena senyuman dapat memberikan dua manfaat: Pertama, kepada orang yang tersenyum itu sendiri. Dan kedua, kepada orang yang dia senyumi. Bagi orang yang tersenyum, banyak sekali manfaat untuk dirinya secara pribadi. Selain mendapat pahala dari Allah, dengan senyuman juga dapat menularkan kebahagiaan yang tampak di wajahnya menuju hatinya. Sehingga apabila hati itu sedang bersedih atau sedang stress, maka senyuman tulus dapat memberikan efek positif untuk mengatasi kesedihan dan stressnya tersebut. Sebuah riset di University of Kansas meneliti potensi keuntungan dari tersenyum dengan melihat berbagai jenis senyum dan kepedulian terhadap senyuman. Hal itu bisa mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi stres yang dihadapinya.

Sedangkan untuk orang yang dia senyumi, maka senyumnya itu juga dapat menularkan kebahagiaan ke dalam hati orang yang dia senyumi. Senyum adalah magnet yang dapat mengikat hati dan mempererat persaudaraan. Itulah mengapa Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria." (HR. Muslim)