Senin, 12 Januari 2015

Tetap Produktif Menjelang Wafat

Imam Ibnu Al Jauzy berkata, “Orang berakal adalah yang tahu bahwa dunia ini tidak diciptakan hanya untuk mencari kesenangan, karenanya dalam kondisi apa pun ia harus konsisten dalam menggunakan waktunya secara tepat.”

Sungguh sebuah ungkapan yang menarik. Dalam kondisi apapun kita harus konsisten menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, tak terkecuali disaat kita sakit hingga menjelang wafat. Para ulama kita dibawah ini telah memberikan contoh yang baik bagaimana mereka tetap konsisten dalam menjaga waktunya meskipun mereka saat itu sedang sakit berat yang berujung pada kematian.

Ibrahim bin al-Jarrah berkata, Imam Abu Yusuf Al-Qadhi rahimahullah sedang sakit. Saya pun menjenguknya. Saat itu dia tidak sadarkan diri. Ketika terjaga, beliau lalu bersandar dan mengatakan, "Hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?' Saya menjawab, 'Dalam kondisi seperti ini?' Dia mengatakan, "Tidak mengapa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karena kita memecahkan masalah ini." Lalu saya pulang, ketika baru sampai rumah, saya mendengar kabar bahwa beliau telah wafat.

Ibnu Asy Syahnah adalah seorang hafidz hadits yang bermadzhab Hanafi yang memiliki umur lebih dari 100 tahun dan masih mampu melaksanakan puasa Ramadhan dan 6 hari setelah Syawal di usia 100 tahun.

Sehari sebelum wafatnya ulama Damaskus ini, murid beliau Muhibbuddin bin Muhib membaca Shahih Al Bukhari di hadapan beliau. Kemudian di keesokan harinya di waktu dhuha beliau kembali menyimak As Shahih dan wafat sesaat sebelum dhuhur tahun 730 H. (Dzail Tadzkirah Al Huffadz, hal. 134-135)

Ibnu Malik, ulama nahwu memiliki semangat yang cukup tinggi dalam mencari ilmu. Hal ini tercermin dari kesungguhan beliau menghafal ilmu meskipun ajal hendak menjemput. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait ilmu, di hari wafatnya beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Abu Hasan Al Walwaliji pada tahun 440 H, menjenguk Abu Raihan Al Biruni, seorang ahli falak dan sastrawan di zaman itu. Ulama ini sakit keras di tengah usianya yang mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaliji,"Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?"

"Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas hal itu)?" Jawab Al Walwaliji, menaruh belas kasihan. "Wahai Al Walwaliji, saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya."

Akhirnya Al Walwaliji mengulangi apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya. Dan Abu Raihan pun menghafalnya. Tidak lama kemudian, Al Walwaliji keluar, dan saat di jalan beliau mendengar teriakan. Ternyata Abu Raihan telah wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Mu’jam Al Udaba`, 17/181,182).

Al-Jariri berkata, "Saya berada di kepala Junaid ketika menjelang kematiannya. Pada saat itu dia sedang membaca Al-Qur’an dan saya berkata kepadanya,"Kasihanilah dirimu.”"(yakni, jangan engkau memberatkan dirimu dengan membaca Al-Qur’an pada saat menjemput). Dia menjawab,"Apakah ada orang yang lebih membutuhkan pahala dariku pada saat seperti ini, dan inilah diriku. Buku catatan amalku hampir ditutup." Al-Jariri berkata,"Junaid telah mengkhatamkan Al-Qur’an, dia kemudian memulai lagi dengan surat Al-Baqarah dan telah membaca tujuh puluh ayat, kemudian dia wafat." (Thabaqat Asy-Syafiiyah, As-Subki, juz 4). 

Imam Abu Ishak An-Naisaburi rahimahulloh sedang menghadapi ajalnya. Sepanjang hari itu dia berpuasa. Dia berkata kepada anaknya, “Buka kelambu,” kemudian dia berkata lagi, "Saya haus." Lalu anaknya membawakan air untuknya. Abu Ishak berkata, “Apakah matahari telah terbenam?” Anaknya menjawab,"Belum." Maka Abu Ishak mengembalikan air tersebut, lalu dia berkata, "Untuk seperti inilah hendaknya orang-orang beramal." Kemudian ruhnya pergi kepada Tuhannya. (Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, juz 6)

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahulloh adalah orang yang selalu memperbanyak dzikir kepada Alloh Ta’ala. Hingga dia meninggal dalam keadaan bertasbih yang dia hitung dengan jarinya. (Syadzarat Adz-Dzahab, Ibnul Ahmad Al-Hambali, juz 5).

Semoga Allah merahmati mereka dan menjadi cambuk bagi kita untuk tetap konsisten dalam menjaga waktu dengan kegiatan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita.

Minggu, 11 Januari 2015

Bacalah dengan Menyebut Nama Tuhanmu

Lebah madu memiiki karakteristik yang benar-benar unik. Keunikan itu telah menjadi diskusi dan penelitian banyak ilmuwan dari zaman dulu hingga zaman sekarang. Seolah dari keunikan tersebut ingin menyebutkan sebuah keajaiban. Yaitu keajaiban seekor binatang. Ya, hanya seekor binatang dari jutaan bahkan milyaran binatang lainnya. Apa keunikan dari lebah madu? Saya mencatat setidaknya ada lima keunikan

Pertama, lebah madu membangun sarangnya dengan sangat cermat, efisien dan efektif. Sarangnya berbentuk heksagonal (segi enam). Kita layak bertanya, mengapa harus heksagonal? Bukan segitiga atau segi empat atau yang lain misalnya? Hal ini menjadi pertanyaan serius yang kemudian hari diteliti dan dijawab oleh sejumlah ilmuwan. Ahli matematika memberikan alasannya: "Struktur segi enam adalah bentuk geometris yang paling cocok untuk memanfaatkan setiap area unit secara maksimum". Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat area yang tidak terpakai, sehingga lebih sedikit madu yang bisa disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya.

Banyak inspirasi yang keluar dari sana (heksagon). Salah satu orang yang meneliti segi enam ini adalah George Saa, putra Indonesia yang menulis paper Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. Saa menghitung hambatan antara dua titik dari suatu rangkaian resistor tak berhingga yang membentuk segitiga dan heksagon. Berkat hasil penelitiannya inilah Saa berhasil menyabet medali emas Nobel Fisika yunior tingkat Internasional.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia'." (QS. An Nahl: 68).

Kedua, lebah madu tidak mungkin membangun sarangnya seorang diri, dia harus dibantu dengan yang lain. Artinya, untuk membangun sarang lebah yang dapat memuat 80.000 lebah diperlukan kerja kolektif. Lebah mencontohkan persaudaraan dan kerjasamanya yang efektif kepada kita.

Ketiga, lebah hanya memakan makanan yang halal dan baik, yaitu nektar dan serbuksari bunga. Sehingga tidak heran yang dihasilkannya pun akan baik atau bahkan sangat baik, yaitu madu (keempat). Dari berbagai hasil penelitian, madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon. Kandungan-kandungan itu berfungsi sebagai "obat untuk manusia". "…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (An Nahl: 69). Pada kesempatan yang lain, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa madu itu beragam jenis dan warnanya. "…Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya…" (QS. An Nahl: 69).

Kelima, lebah madu bergerak berdasarkan perintah Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah.." Artinya gerak gerik lebah bukan instink yang muncul tiba-tiba dan kebetulan, melainkan bersumber dari kekuatan Allah yang menguasai dan menciptakan alam semesta ini. Allah mewahyukan demikian, bukan berarti yang diwahyukan hanya sebatas lebah madu saja. Lebah madu ditampilkan karena contoh yang paling efektif kecerdasan seekor binatang yang telah diakui oleh kebanyakan orang pada umumnya. Allah Swt. ingin meluruskan bahwa tidak mungkin kecerdasan lebah madu itu muncul secara tiba-tiba melalui peristiwa yang disebut kebetulan. Kecerdasan itu berasal dari Allah yang mewahyukan kepada lebah untuk bertindak demikian.

Setelah menjelaskan tentang lebah madu, ayat itu diakhiri dengan, "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."

Ilmuwan-ilmuwan yang sombong dan bingung
Para ilmuwan Barat khususnya sekalipun ateis merasa "takjub dan hormat" dengan fenomena-fenomena seperti itu. Mereka sering menyebutnya sebagai "keajaiban". Tapi jelas, rasa takjub dan hormat itu tidak pernah keluar dari gelanggang materialisme. Keadaan ini hampir tak ada bedanya dengan Abu Jahal atau Abu Lahab, dua tokoh Quraisy yang disegani, yang merasa kagum dan takjub dengan ayat-ayat Al Quran yang didengarnya. Namun, karena kesombongannya, mereka tetap saja menolak menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Allah sebagai Tuhan yang Esa. Nabi Muhammad pernah menerangkan definisi kesombongan kepada kita, dalam sebuah haditsnya: "menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain."

Para ilmuwan itu, sekalipun mereka melihat bukti-bukti nyata yang menggugurkan argumen-argumen mereka, tetapi tetap saja mereka menolaknya; "Segala bentuk justifikasi yang menyeret kita pada bentuk selain materialisme kita tolak!" Terbayang-bayang dalam benak mereka bagaimana agama digunakan untuk menindas banyak ilmuwan seperti Galileo Galilei, Copernicus, dan orang-orang kritis yang sezaman. Alfred Tang dalam artikelnya yang berjudul Science & Theology: An Integrative Approach, 2003, berkata: "Para astronom pada zaman sekarang sering menggunakan penganiayaan pada Galileo dan Copernicus sebagai contoh menakutkan tentang gereja sebagai tokoh jahat yang merintangi kemajuan ilmiah."

Bayangan-bayangan ini membuat mereka trauma. Mereka tidak lagi memandang benar atau tidak. Selama kebenaran itu berkonotasi tentang agama, mereka langsung menolaknya. Apapun itu agamanya. Mereka tidak peduli ada agama lain yang tidak sama dengan agama yang sebelumnya mereka anut. 

Pernyataan ahli biologi evolusionis terkenal dari Jerman, Hoimar Von Dithfurt, merupakan contoh nyata pemahaman materialis yang fanatik. Setelah mengutarakan contoh susunan kehidupan yang sangat kompleks, selanjutnya ia mengungkapkan kemungkinan kehidupan muncul secara kebetulan, padahal sudah terbukti bahwa alam ini tidak tercipta secara kebetulan: "Mungkinkah keserasian seperti itu terjadi secara kebetulan? Inilah pertanyaan mendasar dari keseluruhan evolusi biologis. Menjawabnya dengan "Ya, mungkin" berarti membuktikan kesetiaan pada ilmu alam modern. Secara kritis dapat dikatakan, mereka yang menerima ilmu alam modern tidak punya pilihan selain mengatakan "ya", karena dengan ini dia akan dapat menjelaskan fenomena alam melalui cara-cara yang mudah dipahami dan merujuk pada hukum-hukum alam tanpa menyertakan campur tangan metafisis. Bagaimanapun, menjelaskan segala sesuatu dengan hukum alam, yakni konsep kebetulan, merupakan pertanda bahwa tidak ada lagi jalan baginya. Karena, apa yang dapat dilakukannya selain mempercayai konsep kebetulan?" (Hoimar Von Dithfurt, Im Anfang War Der Wasserstoff (Secret Night of the Dinosaurs), Vol 2, p. 64 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Sekalipun banyak fakta yang berlawanan dari "teori kebetulan ini". Namun anehnya, masih saja mereka tetap mempertahankannya sampai sekarang. Bagaikan hipotesis ptolomeus yang mendekati kehancurannya: setiap kali timbul kesulitan, lingkaran lain ditambahkan untuk menyelamatkan teori itu.

Bukan karena tidak ilmiah
Seorang pakar astrobiologi Inggris, Prof. Chandra Wickramasinghe berkata tentang hal ini: "Sejak masa pendidikan untuk menjadi seorang ilmuwan, otak saya benar-benar dicuci agar percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan penciptaan yang 'disengaja'. Pemikiran tentang penciptaan ini harus disingkirkan dengan cara yang menyakitkan. Pada saat ini, saya tidak dapat menemukan argumentasi rasional untuk mengalahkan ajakan mempercayai Tuhan. Kami biasanya memiliki pikiran terbuka; dan sekarang, kami sadar bahwa satu-satunya jawaban logis atas kehidupan ini adalah penciptaan-bukan proses acak dan kebetulan." (Chandra Wickramasinghe, wawancara dalam London Daily Express, 14 Agustus 1981 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com)

Ahli genetika terkenal dari Universitas Harvard, Richard C. Lewontin, mengakui bahwa dia "materialis dulu baru ilmuwan" dengan kata-kata berikut: "Bukan metode dan penemuan-penemuan ilmiah yang mendorong kami menerima penjelasan material tentang dunia yang fenomenal ini. Sebaliknya, kami dipaksa oleh keyakinan apriori kami terhadap prinsip-prinsip material untuk menciptakan perangkat penyelidikan dan serangkaian konsep yang menghasilkan penjelasan material, betapa pun bertentangan dengan intuisi, atau membingungkan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Lagi-pula, materialisme itu absolut, jadi kami tidak bisa membiarkan Kaki Tuhan masuk." (Richard C. Lewontin, The Demon-Haunted World, The New York Review of Books - 9 januari 1997, p. 28 Sebagaimana dikutipwww.harunyahya.com).

Ali Demirsoy salah seorang ahli biologi evolusionis ternama dari Turki berikut ini merupakan contoh nyata untuk melihat tujuan dari penilaian menyimpang akibat keyakinan buta ini. Ilmuwan ini membahas probabilitas pembentukan secara kebetulan sitokrom-C, salah satu enzim terpenting bagi kehidupan: Probabilitas pembentukan rangkaian sitokrom-C mendekati nol. Jadi, jika kehidupan memerlukan sebuah rangkaian tertentu, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki probabilitas untuk terwujud hanya satu kali di seluruh alam semesta. Jika tidak, kekuatan-kekuatan metafisis di luar definisi kita mestilah telah berperan dalam pembentukan tersebut. Menerima pernyataan terakhir ini tidak sesuai dengan tujuan-tujuan ilmu pengetahuan, karenanya kita harus mengkaji hipotesis pertama. (Ali Demirsoy, Kalitim ve Evrim (Vererbung und Evolution), Ankara: Meteksan Publishing Co., 1984, S. 61 Sebagaimana dikutip www.harunyahya.com).

Penyebab kemunduran sains
Ibnu Taimiyah dalam bukunya Ar Raddu Alal Manthiqiyyun mengatakan bahwa salah satu penyebab kemunduran keilmuwan rasional dalam Islam adalah, ketika para ilmuwan muslim tidak lagi kritis dan tidak mau lagi menguji hipotesis-hipotesis lama. Mereka menerima begitu saja (taqlid) dan menganggap pemikiran guru-guru mereka sudah final dan sempurna. Dalam buku-buku mereka hanya tertulis kutipan-kutipan (manqul) guru-guru mereka. Dapat kita simak contoh-contohnya sebagai berikut: "Kedua filosof ini (Aristoteles dan Plato) adalah pencipta filsafat, asal-usulnya, sekaligus penyempurnanya. Mereka juga terpercaya sedikit dan banyaknya filsafat." (Al Farabi). "Tiada Aristoteles sejak zaman dahulu melainkan keputusan dan penelitian yang dikemukakannya tidak lagi memerlukan tambahan sedikitpun." (Ibnu Sina).

Sekalipun secara alamiah saya kontra terhadap teori evolusi, tapi saya terkesan dengan sikap Michael Ruse Profesor Guelph University – anjing buldognya darwinisme – yang menempatkan penjajahan atas teologi oleh biologi ini dalam perspektifnya ketika dia menuduh rekan darwinis lain bertingkah laku seakan-akan darwinisme sebuah agama. Rustum Roy, seorang ilmuwan di Pennsylvania State University melangkah lebih jauh. Setengah guyon, dia mengancam akan memperkarakan National Science Foundation karena sudah melanggar ketentuan pemisahan antara agama dan negara, sebab membiayai riset pada bidang-bidang ilmiah yang kemudian menjadi agama. Jika mereka benar dan darwinisme makin doktriner, kita mempunyai tontonan menarik, karena yang dijajah kini bukan hanya teologi melainkan juga biologi. (Huston Smith, Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains?, Cet. I 2003, Mizan).

Allah Swt. telah berfirman, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu." Ilmu pengetahuan yang hakiki adalah ilmu pengetahuan yang jujur secara ilmiah. Dan, ilmu yang jujur secara ilmiah tidak mungkin bertolak belakang dari pengakuan terhadap eksistensi Tuhan. Di mana ketika kita mengkaji ilmu, maka kita akan takjub pada kekuasaan Tuhan, dan ketakjuban itu membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

Jumat, 09 Januari 2015

Cara Cepat Terkabulnya Doa

Pada suatu ketika tiga orang sedang berjalan-jalan, tiba-tiba hujan turun. Maka mereka berteduh di sebuah goa di gunung. Sebuah batu besar tiba-tiba menggelinding dari gunung menuju pintu goa dan menutupnya.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Lihatlah amal saleh yang telah kamu kerjakan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengannya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.”

Salah seorang dari mere­ka berkata, “Ya Allah, se­sungguhnya aku mem­punyai dua orang tua yang telah berusia lanjut, is­tri dan beberapa anak yang masih kecil. Aku yang menggembala untuk mereka. Jika aku pulang di sore hari, aku memerah susu, lalu memberi mi­num kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum anak-anakku. Suatu hari aku menggemba­la cukup jauh dari desa. Aku tidak pulang kecuali hari telah sore, dan aku mendapati mereka berdua telah tidur. Aku memerah susu seperti biasa. Aku membawa bejana susu kepada keduanya dan berdiri menung­gu di atas kepala mereka berdua. Aku tidak ingin membangunkan kedu­nya dari tidur dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku sebelum keduanya minum. Sementara anak-anak menangis kelaparan di bawah kakiku. Aku tetap melakukan apa yang aku lakukan dan anak-anak juga demikian sampai terbit fajar.

Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu hanya demi mencari keridhoan-Mu, maka bukalah pintu goa ini sedikit sehingga kami bisa melihat langit.”

Lalu Allah membuka pintu goa sedikit dan mereka mulai melihat langit.

Yang lain berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai sepupu perempuan, dan aku sangat mencintainya seperti laki-laki mencintai perempuan. Aku meminta dirinya, tetapi dia menolak sampai aku bisa memberinya seratus dinar. Aku bekerja keras hingga aku berhasil mengumpulkan seratus dinar. Aku menyerahkan kepadanya. Manakala aku telah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah, jangan melakukan sesuatu bukan pada haknya.’

Maka aku meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena mencari keridhoan-Mu, maka bukalah pintu goa sedikit.”

Maka pintu goa terbuka agak lebar.

Yang ketiga berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku menyewa seorang pekerja dengan imbalan gaji yang besar. Selesai menunaikan pekerjaannya, dia berkata, ‘Berikan hakku’. Lalu aku menyodorkan kepadanya gaji untuknya, tetapi dia menolaknya. Selanjutnya aku menggunakan uang itu sampai aku dapat mengumpulkan beberapa sapi sekaligus pengembalanya darinya. Dia datang lagi dan berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah, jangan menzalimi hakku’.

Aku berkata, ‘Pergilah kepada sapi-sapi itu berikut penggembalanya. Ambillah!’ Dia menjawab, ‘Jangan mengolok-olokku, bertakwalah kepada Allah’.

Aku berkata, ‘Aku tidak mengolok-olok dirimu. Ambillah sapi-sapi itu dan pengembalanya’. Lalu dia mengambil dan pergi.

Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu demi mendapatkan keridhoan-Mu, maka bukakanlah sisanya.” Maka Allah membuka pintu goa itu seluruhnya. (HR. Bukhari)

Kisah ini mengajarkan kepada kita suatu cara agar doa kita segera terkabul. Saya sendiri merasakan manfaatnya setelah saya mengamalkannya. Setiap kali saya berdoa ketika saya selesai beramal atau menjauhi kemaksiatan, saya merasa doa saya begitu cepat dikabulkan-Nya. Alangkah baiknya, setiap beramal saleh dan menjauhi kemaksiatan, sesudahnya kita berdoa kepada Allah. Misalnya ketika kita menundukkan pandangan kita dari hal-hal yang diharamkan-Nya, padahal dorongan hati begitu kuat menggebu. Pada saat inilah yang tepat agar doa kita segera dikabulkan-Nya. Berdoalah kepada Allah, misalnya, “Ya Allah, perzinahan ini tidak kulakukan semata-mata karena-Mu, maka berikanlah aku istri yang salehah.” 

Atau bisa dengan doa-doa yang lain, seperti:
Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan-Nya kepadaku karena aku telah mengerjakan shalat fardhu berjamaah tepat waktu di masjid. Semoga dengannya pula, rezekiku dilancarkannya, diberi karunia yang banyak, sekaligus menjadi ahli syukur, ahli ibadah dan ahli dzikir.

Semoga Allah semakin mencintaiku karena aku telah melaksanakan shalat sunah. Semoga dengannya pula, aku diberi kesehatan, kesejahteraan, kekuatan iman, dan keturunan yang saleh dan salehah.

Semoga Allah memberiku keridhaan karena telah membaca beberapa halaman buku. Semoga dengannya pula, hatiku diberi kesabaran, ilmuku bertambah luas, banyak hikmah dan pelajaran yang kuraih, mendorongku beramal, menguatkan tekad dan membangkitkan semangat.

Semoga Allah memberiku taufik dan hidayah karena tulisan yang telah kubuat. Semoga dengannya pula ilmuku terus bertambah, hatiku lapang dan ikhlas, ghirahku terus menyala, Allah mengampuni dosa kedua orangtuaku, keluargaku dan saudara-saudaraku yang lain. Semoga Allah juga mencucurkan karunianya kepada guru-guruku yang masih ada dan mengampuni yang telah tiada, juga untuk sahabat-sahabat yang lama tidak berjumpa denganku.

Imam Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu Juraij yang meriwayatkan dari Ata, telah sampai kepada Ata bahwa ketika firman-Nya ini diturunkan: “Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.” (QS. Al-Mu’min: 60)

Maka orang-orang bertanya, “Sekiranya kami mengetahui, saat manakah yng lebih tepat untuk melakukan doa bagi kami?” Maka turunlah firman-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

Menurut Imam Jalaluddin Al-Mahali dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, makna kata “Allah beserta” artinya “ALLAH PASTI MENOLONG”. Ayat-ayat seperti ini ada beberapa di dalam ayat Al-Qur’an. Seperti “Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249). Seolah-olah menegaskan pertolongan Allah sangat dekat bagi orang-orang yang bertakwa, berbuat kebaikan dan sabar.

Kamis, 08 Januari 2015

Kemenangan Sebuah Peradaban

Sebuah pertanyaan besar muncul dalam benak saya ketika membaca sejarah orang-orang Mongol yang menghancurkan Baghdad. Yang notabene adalah ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Termasuk di dalamnya penghancuran warisan ilmiah umat Islam dan membunuh banyak kaum muslimin. Mengapa mereka kemudian memeluk Islam, bahkan menjadi pemimpin kebangkitan peradaban Islam di masa berikutnya?

Ternyata jawabannya sebagai berikut: Peradaban Islam saat itu adalah peradaban terbesar di dunia. Nah, saat tentara Mongol menghancurkan Baghdad, tidak serta merta mereka dapat menghancurkan peradaban Islam yang besar itu. Karena peradaban ini sudah mengakar dan menyebar ke seluruh dunia. Walaupun tentara Mongol dapat memenangkan pertempuran, tapi dari segi fikrah (pemikiran) mereka kalah berat. Pada akhirnya mereka terpaksa bersinggungan dengan Islam, umat Islam dan peradabannya guna menjalankan roda pemerintahan. Puluhan tahun mereka berinteraksi dengan kaum muslimin, akhirnya sebagian besar dari mereka memeluk Islam dan mengikuti tradisi dalam peradaban Islam pada saat itu.

Kesimpulannya, ketika dua peradaban saling berbenturan, pada hakikatnya yang menang bukan peradaban yang memenangkan perang secara fisik semata, tetapi juga menang secara ilmu pengetahuan, sosial, politik, dan kebudayaan. Untuk meraih kemenangan dalam pertempuran melawan orang-orang kafir, maka umat Islam harus memasuki setiap lini kehidupan untuk menghidupkan Islam di dalamnya.

Rabu, 07 Januari 2015

Keutamaan Diam atau Berbicara Baik

"Apabila berbicara itu perak, maka diam dari maksiat kepada Allah adalah emas." (Luqmanul Hakim)

Dalam mengomentari perkataan Luqmanul Hakim ini, penulis kitab Kasyful Khafa menyebutkan, bahwa yang dimaksud "diam" adalah apa yang tidak ada faidah menurut syar'i. Dan kalau ada faidah syar'inya, maka berbicara itu terkadang wajib hukumnya, terkadang juga mandub (terpuji secara syar’i jika dikerjakan dan tidak dicela secara syar’i ketika ditinggalkan).

Sedangkan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly menafsirkan dengan berkata, "Hal itu berarti bahwa mencegah maksiat lebih utama daripada melaksanakan ketaatan."

Tidak ada orang yang bisa selamat darinya, kecuali dengan diam. Oleh karena itulah agama memuji sikap diam bahkan menganjurkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Barangsiapa diam, niscaya akan selamat." (HR. Tirmidzi)


Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Muadz pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, perbuatan apakah yang paling utama?" Beliau mengeluarkan lisannya, lalu meletakkan jari-jari di atasnya. (maksudnya, perbuatan yang paling utama adalah menjaga lisan)." (HR. Thabrani dan Ibnu Abi Dunya)

Muadz bin Jabal berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, apakah kita disiksa karena apa yang kita katakan?' Maka beliau berkata, 'Bagaimana engkau ini, wahai Ibnu Jabal! Manusia tidak dijerumuskan ke dalam Neraka, kecuali karena apa yang dihasilkan oleh lisan mereka!' " (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw. berkata, "Barangsiapa ingin selamat, hendaknya membiasakan diri diam!" (HR. Ibnu Abi Dunya dan Baihaki)

Rasulullah Saw. berkata, "Tahanlah lisanmu, kecuali untuk kebaikan. Dengan demikian, engkau dapat mengalahkan setan!" (HR. Abi Sa'id dan Ibnu Hibban)

Syaikh Ali Mahfudz dalam kitab Hidayatul Mursyidin mengutip perkatan orang-orang bijak: "Tahanlah lisanmu kecuali dari kebenaran yang engkau nyatakan, atau kebatilan yang engkau bantah, atau dari hikmah yang engkau sebarkan atau dari nikmat yang engkau mengingatnya."

Maka alangkah sedikitnya perkataan. Alangkah banyaknya kebaikan. Setiap kata yang keluar adalah kebaikan, bila tidak maka ia akan diam.

Selasa, 06 Januari 2015

Hidayah itu Mahal, Maka Jagalah!

Ada saatnya iman itu naik dan ada saatnya pula menurun. Di saat iman naik, raga ini bersemangat dalam beramal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Namun di saat menurun, amal saleh pun ikut-ikutan menurun. Ya kalau menurunnya hanya sebatas yang sunnah, tapi bila sudah menyentuh yang fardhu, seperti tidak mengerjakan shalat lima waktu dan banyak melakukan kemaksiatan. Maka iman pun semakin menipis hingga tak membekas. Naudzubillahi mindzalik.

Di antara doa yang sering dibaca oleh Rasulullah Saw. adalah doa-doa berikut ini, 

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik. "Wahai Tuhan Yang Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas agama-MU."

Dalam QS. Ali Imran: 8 juga disebutkan doa agar kita tetap berada dalam hidayah Allah:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Rabbana laa tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana mil ladunka rahmah innaka antal wahhab. "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia."

Imam Ibnu Katsir berkata: "Allah Swt. membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah kehendaki. Allah pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon hidayah, karena Allah telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (QS. An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan.


Terbukti, menjaga hidayah tidak hanya monopoli muslim yang awam, tetapi juga kerap dilakukan oleh para Nabi. Hal ini menunjukkan betapa berharganya hidayah dalam hidup kita sehingga para Nabi dan Rasul pun ikut serta di dalamnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga hidayah dalam diri kita. Agar kita lebih dapat bersemangat dalam beramal dan istiqomah dalam menjauhi segala kemaksiatan.

Senin, 05 Januari 2015

Kebebasan yang Kebablasan

Ada sementara orang, bila mentaati perintah Allah, mereka merasa terikat dan tidak bebas. Begini dilarang begitu haram. Adat lama telah usang dan tradisi hanyalah mengekang hak asasi dan kebebasan manusia saja. Maka tak perlu kita memperhatikan sopan santun, tata susila dan akhlak budi, karena peraturan-peraturan tersebut sama sekali tidak bernilai dan telah kuno, tidak sesuai dengan ‘dinamika’ sekarang. Semua itu hanya patut bagi orang yang sok moralis. Demikian ejekan mereka.

Baiklah! Mari kita coba mengikuti pendirian mereka. Marilah kita langgar adat dan tradisi lama yang baik. Tak perlu kita berbuat sopan dan berbudi luhur. Taat dan hormat kepada orang tua tidak perlu bila orang tua mengekang dan menghambat kita. Kita sekarang kan hidup pada zaman modern. Pergaulan bebas, tak terikat pada aturan. Itulah kebahagiaan sejati.

Mari kita langgar rambu-rambu lalu lintas, aturan sekolah dan etika orang tua serta masyarakat. Sebab semua itu sebagai penyebab ketidakbahagiaan. Berbuatlah sebebas-bebasnya, itulah kebahagiaan. Demikian kata mereka.

Seorang filosof terkenal, Karl Jaspers mengakui kenyataan ini dengan berkata, “Freedom is never real as the liberty of individuals alone. Every man is free to the extent others are. Absolute independence is impossible. Where there is freedom it struggles with unfreedom, and if unfreedom were fully overcome through the elimination of all resistances freedom itself would cease”. (Kebebasan tidak pernah nyata sebagaimana kebebasan perorangan semata-mata. Setiap orang adalah bebas sejauh orang lain pun bebas pula. Kebebasan mutlak tidaklah mungkin. Di mana ada kebebasan selalu ada pertarungan dengan ketidakbebasan sepenuhnya diatasi dengan jalan meniadakan segala halangan-halangannya maka kebebasan itu sendiri akan hilang pula).

Kebebasan mutlak itu tidak ada, karena bila orang berbuat semaunya menurut kehendak sendiri di dalam mengejar kebahagiaan, tentulah ia akan melanggar dan tertumbuk dengan kebebasan orang lain.

Apapun kehendak seseorang, kebebasan mutlak tidak akan ada di dunia ini. Baru bermula pada awal kejadian mereka saja, tidak ada kebebasan mutlak. Apakah mereka dahulu bebas memilih dalam kandungan pada rahim ibu siapa saja, misalnya mengapa dahulu mereka tidak memilih menjadi anaknya ibu pengusaha besar, pemilik perusahaan yang beromset bermilyaran rupiah, dan sebagainya? Apakah kehendak mereka di dunia ini mesti terkabul dan tak pernah gagal? Mengapa mereka setiap hari sering mengalami kegagalan di segala bidang? Mengapa mereka tidak bisa memilih jadi orang yang panjang usia, dan mati di tempat yang diinginkan?

Mengapa mereka tidak bebas berjalan di tengah jalan yang ramai kendaraan biar kebebasannya itu membawa maut? Mengapa mereka tidak bebas dari pakaian, bertelanjang bulat dan berjalan di tengah jalan raya, karena ingin bebas? Mengapa setiap hari, di mana saja mereka berada, apa saja yang dikerjakan, mestilah harus taat pada peraturan? Dia menjadi seorang insinyur teknik, ekonom, akuntan, manajer, guru, semua itu harus taat dan tunduk kepada aturannya masing-masing, sesuai dengan peraturan yang ada? Apakah orang bisa bebas menjalankan aturannya sendiri bila ia menyetir mobil tanpa mengerti dan mentaati ketentuan-ketentuan yang telah dibuat oleh pembuat atau pencipta mesin mobil?

Bila orang bebas menebang pepohonan hutan tanpa mengikuti aturan, misalnya tidak tertib menebangnya dan tidak menanami lagi pohon yang baru, tentulah kebebasan orang-orang dengan cara demikian itu akan membawa bencana bagi manusia semuanya. Bila kebebasan mereka itu dibiarkan, maka akan terjadi erosi, banjir besar, tanah longsor, dan sumber air tidak ada. Bukankah bencana yang menimpa umat manusia itu berasal dari falsafahnya orang yang ingin menjalankan kebebasan mutlaknya itu diterapkan?

Bila orang bebas menggunakan obat insektisida dan sebagainya, baik pada cara penangkapan ikan maupun membarantas hama tanpa memperhatikan pencemaran lingkungan, bukankah itu mengakibatkan polusi?

Apalagi hal yang jelas seperti contoh di atas. Sedangkan bila ada seseorang mengetahui ada sebuah rel kereta api terkena tanah longsor, atau jembatan kereta api putus, atau salah satu tiang penyangga jembatan putus, dia tahu semua itu, mestilah ia harus lapor kepada pihak yang berkepentingan atau melakukan perbuatan yang konstruktif bagaimana agar kerusakan tersebut dapat diperbaiki. Bila ia bebas tidak lapor, tidak berbuat yang konstruktif, tentulah kebebasannya itu akan membawa bencana bagi orang lain. 

Apakah bila mereka mengetahui kerusakan-kerusakan tersebut kemudian berdiam diri? Dia tidak bisa bebas berdiam diri. Tetapi dia mesti terikat oleh hukum moral dan kemanusiaan. Hati nurani, kemanusiaan maupun peraturan bagi orang yang hidup dalam masyarakat, mewajibkan dia untuk bertindak, yakni melaporkan keadaan yang sebenarnya, atau berbuat sendiri memperbaiki jembatan atau dengan orang lain.