Rabu, 25 November 2015

Adakah Sama Orang yang Berilmu dengan yang Tidak?

Saya sering membaca ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran:

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar: 9)

"Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?" (QS. Ar Ra'd: 19)

Ayat-ayat seperti ini di dalam Al Quran dikenal dengan istilah istifham yang berarti mengerti, paham, dan jelas. Maknanya kita tidak perlu bersusah payah untuk menemukan jawabannya karena pada hakikatnya semua dari kita sudah mengetahui jawabannya.

Justru yang perlu kita renungkan adalah tentang sindiran dari ayat ini. Seolah ia mengatakan, "Orang yang berilmu kok kelakuannya sama dengan orang yang tidak berilmu. Apakah kamu benar-benar berilmu?" Sebagai contoh, orang yang mengetahui keutamaan zikir tetapi tidak berzikir. Lantas apa bedanya dengan orang yang tidak mengetahui keutamaan zikir?

Ayat-ayat seperti ini pada intinya mengajak kita untuk merenungi diri kita sendiri, sampai sejauh mana kita mencari ilmu dan sampai sejauh mana pula kita mengamalkannya. Jadi tidak sebatas untuk mengetahui tetapi ia juga mengajak kita mengamalkan apa yang kita ketahui tersebut.


Ikhwanul Muslimin dan Tasawuf

Saya termasuk orang yang mengambil manfaat dari kelompok manapun dan membuang yang tak berguna dari kelompok manapun. Baik dari kalangan Salafi maupun Sufi. Saya mempelajari buku-buku karya Imam Ibnul Qayyim dan Imam Ibnul Jauzy mencerminkan hal itu. Saya juga berguru pada jamaah Ikhwanul Muslimin tentang hal ini. Buku-buku seperti Madarijus Salikin, Shaidul Khathir, Dzammul Hawa dan Minhajul Qashidin banyak merekam nuansa tasawuf atau tazkiyatun nafs dengan sangat kuat. Buku yang terakhir (Minhajul Qashidin) adalah hasil tahqiq dan takhrij Imam Ibnu Al Jauzy terhadap buku Ihya Ulumuddin. Dengan kata lain, beliau "menulis ulang" buku Ihya Ulumuddin; meluruskan yang menyimpang, mencantumkan yang bermanfaat, membuang hadits-hadits yang dhaif dan jika ada menggantinya dengan hadits-hadits yang shahih. Intinya, gagasan besar buku Ihya Ulumuddin sebenarnya masih tersimpan dalam buku Minhajul Qashidin.

Saya pernah membaca buku yang ditulis tokoh Ikhwanul Muslimin. Buku itu tidak terlalu tebal. Buku itu adalah sebuah intisari dari kitab Madarijus Salikin karya Imam Ibnul Qayyim. Tokoh Ikhwan itu berkata dalam mukadimahnya jika apa yang dia tulis adalah materi-materi yang disampaikannya kehadapan kader-kader Ikhwan ketika di dalam penjara. Saya teringat yang pertama kali menerjemahkan kitab Madarijus Salikin secara lengkap (3 jilid) ke dalam bahasa Indonesia adalah dari penerbit Robbani Press, penerbit yang banyak menerbitkan buku-buku harokah Ikhwanul Muslimin.

Sosok masyaikh Ikhwan yang sangat kental nuansa sufistiknya di antara Syaikh Said Hawwa yang telah mensyarah kitab Al Hikam, sebuah mahakarya Imam Ibnu A'thaillah As Sakandari, seorang gurubesar Tarekat Syadziliyah. Kitab beliau yang lain seperti Tazkiyatun Nufus, yang merupakan intisari dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Lalu ada kitab Tarbiyatunar Ruhiyah yang merupakan rujuk antara harokah dan tasawuf. Mungkin kitab Al Hikam di pilih karena pada hakikatnya kitab itu selain menggambarkan kejernihan, juga menjelaskan hikmah dan keseimbangan, antara dunia dan akhirat, akal dan hati.

Tokoh yang lain adalah Syaikh Muhammad Al Ghazali. Beliau juga telah menulis kitab Al Janib Al 'Athifi fi Al Islam di antaranya banyak menjelaskan isi kitab Al Hikam. Kitab Al Hikam adalah butiran-butiran mutiara berharga dengan bahasa Arab yang fushah sehingga sangat berharga untuk disampaikan dan dijelaskan kepada umat. Buku beliau lainnya yang bernuansa tazkiyatun nafs adalah Fann Adz Dzikri wa Ad Dua' Inda Khatim Al Anbiya. Yaitu pembahasan tentang dzikir dan doa.

Ada yang mengatakan tasawuf adalah kelemahan. Memang betul. Tapi tasawuf yang dimaksud adalah tasawuf yang menyimpang dari syariat. Sementara tasawuf yang menjalankan syariat, justru malah menguatkan dan mensucikan hati. Hal ini telah dijelaskan dalam buku Majmu Fatawa karya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau berkata, "Seorang sufi yang hakiki (shufiyyah al-haqa’iq) haruslah memenuhi 3 syarat berikut:

Pertama, Ia harus mampu melakukan “keseimbangan syar’i”. Yaitu dengan menunaikan yang fardhu dan meninggalkan yang diharamkan. Dengan kata lain, seorang sufi yang hakiki harus komitmen dengan jalan taqwa. Kedua, Ia harus menjalani adab-adab penempuh jalan ini. Yaitu mengamalkan adab-adab syar’i dan meninggalkan adab-adab yang bid’ah. Atau dengan kata lain, mengikuti adab-adab al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. Ketiga, bersikap zuhud terhadap dunia dengan meninggalkan hal-hal yang tidak ia butuhkan dan menyebabkannya hidup berlebihan.

Tiga syarat di atas adalah tiga gambaran besar tentang sosok sufi sejati. Para pejuang-pejuang Ikhwanul Muslimin di manapun berada, dari zaman Imam Hasan Al Banna yang syahid di Mesir, Syaikh Abdullah Azzam yang syahid di Afghanistan, hingga Syaikh Ahmad Yasin yang syahid di Palestina, pada gilirannya adalah sosok-sosok sufi sejati yang menghabiskan siang-malam untuk taqarub kepada Allah Swt.

Kamis, 19 November 2015

Ulama Besar Saja Ditipu Syiah, Bagaimana dengan Kita yang Awam?

Siapa yang tidak mengenal nama Syaikh Yusuf Al Qaradhawi? Ulama besar yang dilahirkan dari rahim Universitas Al Azhar. Buku-buku yang beliau tulis sangat banyak jumlahnya. Syaikh Abul A'la Maududi menyebut karya beliau, Fiqhuz Zakat sebagai karya terbaik di abad ke-20. Imam Hasan Al Banna berkata, "Sesungguhnya ia adalah seorang penyair yang jempolan dan berbakat." Di waktu mudanya, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi memang dikenal sebagai penyair yang jempolan. Bakat ini tampaknya menurun kepada putra beliau, Abdurrahman yang dikenal sebagai seorang penyair. Bila Hasan Al Banna melihat keilmuan Syaikh Yusuf di masa tuanya, maka pujiannya mungkin akan bertambah, sebagaimana telah disaksikan ulama besar lainnya.

Imam Abul Hasan An Nadwi, ulama terkenal asal India berkata: "Al Qaradhawi adalah seorang 'alim yang sangat dalam ilmunya sekaligus sebagai pendidik kelas dunia."

Al 'Allamah Musthafa Az Zarqa', ahli fiqh asal Suriah berkata: "Al Qaradhawi adalah Hujjah zaman ini dan ia merupakan nikmat Allah atas kaum muslimin." Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, ahli hadis asal Suriah berkata: "al Qaradhawi adalah mursyid kita. Ia adalah seorang 'Allamah."

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz mantan mufti kerajaan Saudi dan ketua Hai'ah Kibarul Ulama berkata: "Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh di dunia Islam."

Syaikh Qadhi Husein Ahmad, amir Jamiat Islami Pakistan berkata: "Al Qaradhawi adalah madrasah ilmiah fiqhiyah dan da'awiyah. Wajib bagi umat untuk mereguk ilmunya yang sejuk." Syaikh Thaha Jabir al Ulwani, direktur International Institute of Islamic Thought di AS, berkata: "Al Qaradhawi adalah faqihnya para dai dan dainya para faqih."

Syaikh Muhammad Al Ghazali, ulama besar Al Azhar, berkata: "Al Qaradhawi adalah salah seorang Imam kaum muslimin zaman ini yang mampu menggabungkan fiqh antara akal dengan atsar." Ketika ditanya lagi tentang al Qaradhawi, ia menjawab, "Saya gurunya, tetapi ia ustadku. Syaikh dulu pernah menjadi muridku, tetapi kini ia telah menjadi guruku."

Syaikh Abdullah bin Baih ulama besar Saudi berkata: "Sesungguhnya Allamah Dr. Yusuf al Qaradhawi adalah sosok yang tidak perlu lagi pujian karena ia adalah seorang 'alim yang memiliki keluasan ilmu bagaikan samudera. Ia adalah seorang dai yang sangat berpengaruh. Seorang murabbi generasi Islam yang sangat jempolan dan seorang reformis yang berbakti dengan amal dan perkataan. Ia sebarkan ilmu dan hikmah karena ia adalah sosok pendidik yang profesional."

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafidzahullah pernah mengatakan bahwa pekerjaan yang paling disesalinya adalah mengadakan taqrib antara ahlussunnah dengan syiah.

Kita ketahui bersama, dulu Syaikh Yusuf adalah ulama yang paling getol mensyiarkan perlunya taqrib antara ahlussunnah dengan syiah. Karena gagasannya ini, sebagian orang menuduh beliau sebagai ulama yang sesat. Padahal niat beliau bagus; husnudzon dan menyatukan umat Islam. Tetapi tampaknya usaha beliau ini disalahgunakan oleh ulama-ulama syiah untuk menyebarkan syiah di negeri-negeri sunni. Mereka kini banyak berlindung dibalik "Risalah Amman" di mana Syaikh Yusuf banyak terlibat didalamnya.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengubah pandangannya tentang syiah dan taqrib sunnah syiah setelah beliau menyaksikan bahwa kenyataan yang terjadi dilapangan jauh berbeda dengan apa yang diucapkan ulama syiah bahwa mereka tidak mensyiahkan sunni dan tidak mencela sahabat..

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi sampai berkata seperti ini dibuku fatwa terbarunya: "Saya tidak ingin mengatakan jika mereka (para ulama Syiah) mengatakan hal ini adalah sebagai bentuk Taqiyyah." Mungkin beliau ingin mengatakan kepada ulama-ulama syiah tersebut, "Apakah anda sedang bertaqiyah? Di sini ngomong A, diluar ngomong B?"

Syaikh Yusuf lanjut berkata, "Akan tetapi saya melihat jika ajaran Syiah yang dominan selalu melampaui seluruh ucapan ulama Syiah di berbagai forum. Ini imbas dari sejarah yang panjang. Inilah wujud realitas yang dipenuhi kebencian dan dendam kesumat.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa siapa saja orangnya yang sudah mengenal madzhab Syiah, maka dengan mudah dia akan memahami sikap Syi’ah terhadap para sahabat, terutama terhadap para sahabat senior."

Beliau menegaskan bahwa kebencian syiah kepada para sahabat Nabi itu sangat mudah ditemukan. Bukan suatu yang aneh, apalagi sebentuk konspirasi. Semuanya jelas dan terang benderang.

Lebih lanjut beliau berkata, "Saya sangat sedih ketika terjadi peristiwa di Beirut pada tahun 2008, pada saat pasukan Hizbulloh memasuki rumah-rumah Ahlu Sunnah sambil berteriak, ”Semoga Allah SWT melaknat tiga orang!” Tiga orang yang mereka maksudkan adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan. Cerita ini saya dengar dari orang-orang yang bisa dipercaya, karena mereka menyaksikannya sendiri."

Fakta-fakta seperti ini, kini tidak hanya lewat lisan si fulan yang jujur, tapi juga lewat tayangan-tayangan yang dapat dengan mudah kita temui di media-media internet seperti youtube.

Kenyataannya, tidak hanya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi yang kena tipu Syiah, ulama-ulama besar dari Al Azhar nasibnya hampir sama seperti beliau. Lembaga taqrib di Al Azhar sudah lama non aktif karena banyak ditentang oleh para ulama besar Al Azhar sendiri seperti Syaikh Muhammad Arafah (anggota Hay’ah Kibar Ulama Azhar), Syaikh Hasanain Makhluf (mantan Mufti Agung Mesir), Syekh Gad elHaq Ali Gad elHaq mantan grand Syaikh al-Azhar, Dr. Abdul Mun’im An Nimr (mantan wakil Grand Syekh al-Azhar dan menteri wakaf Mesir), serta Syaikh Athiyyah Shaqr (ketua komisi fatwa al-Azhar) dan lain-lain.

Karena terbukti terkuak taqiyahnya Al-Qummi dan tak sesuai harapan karena Abdul Husain al-Musawi salah satu penggerak motor Taqrib ternyata menerbitkan kitab al-Muraja’at isinya surat menyurat fiktif dia dengan yang diklaim sebagai Syaikh Al-Azhar yaitu Fadhilatu Syaikh Salim al-Bisyri, sehingga Syaikh Gad elHaq perintahkan Ulama Azhar untuk mentahqiq dan membantah buku fiktif tersebut.

Ulama besar lainnya yang hampir saja kena tipu syiah adalah Prof. DR. Musthafa As Siba'i. Beliau pernah memenuhi seruan ulama Syiah untuk mendamaikan antara Sunnah (Ahlussunnah wal Jama’ah) dengan Syiah. Syaikh As Siba’i menyambutnya dengan baik. Beliau menyampaikan pentingnya ukhuwah dalam kuliah-kuliah, seminar maupun pada kesempatan diskusi akademik.

Namun, Syaikh As Siba’i, kecewa berat. Ulama kenamaan Syiah, Abdul Husein, paska seruan, justru menulis kitab berisi caci maki Shahabat dan ‘Aisyah. Beliau pun memprotes keras kampanye ukhuwah Sunnah-Syiah pada saat itu. Syarafudin Abdul Husen Musawi, jelas As Siba’i, tidak beri’tikad baik untuk berdamai dengan Ahlussunnah. Beliau pun memutuskan untuk keluar dari seruan palsu tersebut. Kisah tersebut ditulis dalam mukaddimah kitabnya, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’.

Dalam kasus tersebut, Syaikh Mustafa As Siba’i dikhianati oleh orang-orang Syiah. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa ajakan Syiah sebetulnya bukan ber-ukhwah dengan Ahlussunnah, namun sejatinya mengajak Sunni untuk menjadi Syiah.

Yang menjadi renungan kita adalah, para ulama-ulama besar itu hampir atau sudah kena tipu syiah, apalagi dengan kita yang awam? Hasbunallah wani'mal wakil.

Menyatukan Syiah dan Sunni Ibarat Menyatukan Minyak dengan Air

Apa pandangan saya terkait Syiah? Saya seorang sunni. Ketika saya melihat syiah, apakah saya melihat adanya perbedaan di dalamnya? Bila berbeda, apakah perbedaan itu hanya masalah furu seperti halnya perbedaan mazhab fikih yang empat atau ia terkait dengan ushul agama seperti halnya perbedaan antar agama?

Untuk memulai bahasan ini, saya ingin memulai satu pertanyaan, dalam sejarah, pernahkah syiah dan sunni hidup berdampingan, misalnya saling bersahabat baik? Atau mereka hidup dalam peperangan? Mengapa Daulah Shafawiyah yang syiah memerangi Daulah Utsmaniyah yang sunni? Begitupun sebaliknya. Mengapa Daulah Fathimiyah yang syiah memerangi ahlussunnah hingga menguasai Mesir dan Syam? Dan, mengapa juga Sultan Nuruddin Zanki dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi yang sunni memerangi Daulah Fathimiyah hingga mengusirnya dari Mesir? Mengapa pula Daulah Mamlukiyah yang sunni merombak total kurikulum pendidikan Al Azhar yang semula syiah menjadi sunni? Kenapa terjadi peperangan antara sultan syiah dengan sultan sunni di Peureulak Aceh, sehingga karena berlarut-larutnya peperangan tersebut, akhirnya keduanya bersepakat membagi Aceh Peurelak menjadi dua bagian: Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah, dan Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (1).

Hingga kini, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Fahmi Salim (alumni Al Azhar), Al Azhar tidak pernah mengajarkan fikih selain fikih yang empat. Pada tahun 60 an pernah diwacanakan pengajaran fikih ja'fari yang syiah namun tidak pernah terwujud karena banyak ditentang para Ulama guru besar syariah di Al-Azhar (2). Artinya, Al Azhar ingin mengokohkan institusinya sebagai 100% ahlussunnah.

Sampai disini saja kita bisa menyimpulkan bahwa Syiah dengan ahlussunnah seperti antara minyak dengan air, mana mungkin bisa bersatu. Ini baru membahas sejarahnya, belum lagi isi ajarannya!

Rabu, 18 November 2015

Kelompok Sesat Bekerjasama dengan Kelompok Sesat Lainnya

Imam Ibnu Taimiyah berkata, "Rafidhah (Syiah) itu menjadikan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah sebagai teman; mereka bekerja sama dengan Tatar dan Nasrani. Mereka juga menjalin perdamaian dengan orang-orang Eropa… …Apabila umat Islam menang atas Tatar, mereka (Syiah) pun berduka dan bersedih. Sebaliknya, kalau Tatar yang menang, mereka bersuka cita dan bahagia…"

Bukan hanya syiah yang menjadi masalah. Pada umumnya kelompok-kelompok yang beraliran sesat tidak mungkin bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang beraliran lurus. Dengan kata lain, mereka malah bekerjasama dengan kelompok-kelompok sesat lainnya. Dulu orang-orang syiah bekerjasama dengan tentara Mongol untuk menghancurkan Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka juga bekerjasama dengan orang-orang kafir seperti bangsa Inggris dan Portugal untuk merongrong kekhalifahan Utsmaniyah. Di saat ini, mereka bekerjasama dengan JIL dan Ahmadiyah.

Jadi, bagaimana mungkin orang yang katanya memperjuangkan syariat bekerjasama dalam masalah dien dengan orang yang sangat anti syariat? Bagaimana mungkin orang yang katanya lurus bekerjasama dengan orang yang menyimpang dari agama? Bagaimana mungkin orang yang katanya meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir bekerjasama dengan orang yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad?

Orang yang baik atau kelompok yang baik dan orang yang sesat atau kelompok yang sesat memiliki dua hati yang bertolak belakang. Sunnatullahnya, Nabi Muhammad Saw. tidak bersahabat dengan Abu Lahab dan Abu Jahal. Karena kedua orang itu jahat dan sesat. Nabi Muhammad Saw. bersabat dengan orang-orang yang memang menghendaki kebaikan, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq (yang membenarkan Nabi di saat orang lain mendustakannya) dan Umar al-Faruq (yang mampu membedakan antara yang haq dan yang batil).

Persahabatan itu alami, tidak dibuat-buat, berjalan sesuai dengan sunnah-Nya. Salman al-Farisi jauh-jauh dari Persia untuk bersahabat dengan Nabi, begitupun dengan Shuaib ar-Rumi yang berasal dari Romawi. Bagaimana bisa persahabatan itu diciptakan karena adanya jarak yang dekat atau jauh. Persahabatan Nabi dengan para sahabatnya tercipta karena sunnatullah, bukan hasil kreasi manusia.

Abu Lahab dan Abu Jahal adalah dua orang paman Nabi. Bahkan, Abu Lahab adalah orang yang menyembelih domba akikah ketika Nabi lahir, tetapi ketika Nabi memproklamirkan kenabian dan kerasulannya, ia menolak bersahabat dengan Nabi bahkan menjadi musuhnya yang paling utama. Bukankah pula istri Nabi Luth terkena azab Allah atas kaum Sadum, padahal dia istri seorang Nabi? Mengapa dia tidak mau bersahabat dengan Nabi? Begitupun dengan Kan’an putra Nabi Nuh, Azar bapak dari Nabi Ibrahim, Fir’aun bapak angkat Nabi Musa. Ketiga orang itu tidak mau bersahabat dengan orang yang sudah jelas hujjahnya dan sudah dikenal baik akhlaknya.

Ketika Allah menyatakan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”, kenyataannya seperti itu. Karena persaudaraan itu adalah fitrah dan sunnatullah. Di belahan bumi manapun, ketika iman menyatukan kita, ketika kebaikan yang utama, kita adalah dekat, lebih dekat daripada pertalian darah, seperti persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua kaum ini dari tempat yang berbeda; terbentang jarak ratusan kilometer. Apakah kedua kaum itu berdiri di atas peradaban yang berbeda setelah mereka berkumpul bersama? Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Ketika ada nafsu syahwat terselip dalam persahabatan kita, maka nafsu tersebut akan merenggangkan persahabatan kita. Semakin banyak syahwat itu terkumpul, semakin rengganglah ikatan persahabatan kita. Jika gosip mengalahkan kenyataan yang sesungguhnya, maka ia dibutakan dari kebenaran. Jika kita berusaha menjadi orang yang baik, secara sunnatullah kita akan berkumpul dan bekerjasama dengan orang-orang yang baik pula, seperti doa robithoh yang sering kita panjatkan,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...

Arab Saudi Memberontak Melawan Kekhalifahan Utsmaniyah?

Selama ini saya sering mendengar dari salah satu harokah sebelah yang sering meributkan bahwa kerajaan Arab Saudi adalah salah satu penyebab runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah. Lalu mereka mengatakan bahwa kerajaan Arab Saudi berkomplot dengan Inggris untuk mengusir Daulah Khilafah dari tanah Arab. Akhir-akhir ini yang meributkan hal ini tidak hanya dari harokah tersebut, tapi juga sebagian dari saudara saya dari ASWAJA dan dari kelompok syiah yang berwajah sunni. Apakah benar yang terjadi seperti itu? Saya bukan orang yang sering mereka sebut sebagai "wahabi". Dalam beberapa pendapat, saya berbeda dengan kelompok ini. Namun saya selalu ingin bersikap adil, entah kepada kawan dekat maupun kawan jauh, dan kepada musuh sekalipun. Agar saya dapat lebih obyektif dalam menilai.

Pertama, wilayah Daulah Utsmaniyah terbentang luas dari Asia, Afrika, hingga sebagian Eropa. Arab Saudi hanyalah sedikit wilayah dari sekian besar wilayah Daulah Utsmaniyah. Jika Arab Saudi yang dipermasalahkan, lalu mengapa negara-negara lain bekas wilayah Daulah Utsmaniyah tidak dipermasalahkan? Jika Arab Saudi yang notabene sebagai negara berbasis syariah, mengapa negara lain yang jauh lebih sekuler tidak dipermasalahkan? Taruhlah Arab Saudi memang betul melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, lalu bagaimana dengan negara lain yang juga melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, bahkan banyak negara yang sudah jauh-jauh hari sebelum berdirinya kerajaan Arab Saudi sudah menyatakan berpisah dari Daulah Utsmaniyah?

Negara atau wilayah yang mula-mula memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah adalah apa yang disebut sebagai Daulah Shafawiyah di zaman dulu atau Iran yang dikenal sekarang. Negara Iran sudah kita ketahui bersama adalah negara yang berpaham Syiah. Tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, Daulah Shafawiyah juga menyebarkan Syiah dan merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah dengan membunuhi ribuan ahlussunnah dan menghancurkan banyak masjid.

Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Daulah Shafawiyah terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Daulah Shafawiyah yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).

Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.

Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).

Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengetahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.

Jadi, bila ingin menyalahkan Kerajaan Arab Saudi dalam hal ini, maka salahkan juga negara-negara lainnya. Salahkan juga Mesir, Suriah, Yordania, Libya, dan seterusnya, mengapa mereka memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan terlebih lagi mendirikan negara sekuler atau jauh dari syariat. Dan yang patut disalahkan lagi adalah dengan Iran. Mereka tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, tetapi juga merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah yang sunni dan membunuhi rakyatnya yang ahlussunnah.

Selasa, 10 November 2015

Kudeta Mesir Di Ambang Kehancuran

Tampaknya para pimpinan kudeta Mesir sudah mulai ketar ketir. Mereka dibayangi oleh ketidakmenentuan nasib mereka di Mesir. Di belakang mereka dibayangi oleh kezaliman yang telah mereka perbuat, di depan mereka dibayangi oleh hukuman yang akan mereka tanggung di dunia dan akhirat.

Oleh karena itulah, saat ini, mereka sedang memperlambat jarak mereka dari hukuman yang akan mereka terima kelak. Yaitu dengan cara menghapus 18 pimpinan Ikhwanul Muslimin dari daftar hitam. Termasuk di dalamnya adalah mengampuni Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Prof. DR. Muhammad Badi' hafidzahullah. Jalan yang mereka tempuh kini setengah-setengah, mengampuni Ikhwanul Muslimin sambil berharap mereka kelak tidak mendapat hukuman dari kudeta yang mereka lakukan. Tapi dalam hati dan pikiran mereka masih menginginkan mereka tetap berkuasa, entah bagaimana caranya. Mungkin ini yang namanya mimpi. Mimpi disiang bolong.

Allah Swt. telah menegaskan bahwa orang yang melakukan kezaliman, pada hakikatnya dia telah menzalimi dirinya sendiri. (al-Baqarah: 231) Orang-orang zalim akan terkena akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri. (az-Zumar: 51) Mereka akan tertimpa akibat dari perbuatan mereka sendiri dan mereka akan diliputi oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokkan. (an-Nahl: 34)

Jadi, tunggu saja tanggal mainnya, wahai orang-orang yang zalim!