Rabu, 16 September 2015

Tuntutlah Ilmu Mulai dari Buaian Hingga Liang Lahat

Pada detik-detik terakhir ketika ajal hendak menjemput Abu Raihan Al Biruni, beliau masih ingin membahas permasalahan ilmu yang belum tuntas jawabannya. Saat detik-detik kematian beliau, ada sahabatnya yang bernama Abu Hasan al-Walwajiyi hadir menjenguknya. Beliau telah mendengar pendapat Abu Hasan tadi tentang bagian warisan nenek yang ternyata kurang tepat. Pada saat itu Abu Hasan merasa kaget dan bertanya, “Apakah dalam situasi genting semacam ini engkau masih membahas tentang pendapat saya sementara engkau hendak meninggalkan dunia ini?” Kemudian beliau menjawab, “Apakah pantas saya meninggalkan dunia ini sementara saya tahu tentang suatu masalah dan saya tidak membenarkannya?”.
Yang hidup malas menuntut ilmu. Sedangkan engkau, yang mau mati, masih membahas ilmu dengan senang hati.

Minggu, 06 September 2015

Tips Istiqomah Membaca Al Quran

Bagi orang yang merasa berat membaca Al Quran, saya sarankan cobalah duduk dan mulai membaca Al Quran. Lembar pertama mungkin akan terasa berat bagi anda karena pada saat itu sedang terjadi pertarungan antara nafsu dengan iman. Kalau anda berhenti, anda akan semakin malas membaca Al Quran pada waktu-waktu berikutnya. Oleh karena itu, lanjutkan terus membacanya. Anggaplah semua itu ujian dan pengorbanan bagi Anda. Saksikanlah setelahnya Al Quran menjadi terasa ringan dan semakin ringan untuk dibaca. Hingga anda dapat menyelesaikan satu juz, dua juz, bahkan tiga juz penuh dengan kenikmatan.

Sabtu, 05 September 2015

Menuntut Ilmu Agama Haruns Diikut Ketakwaan

Menuntut ilmu agama haruslah diiringi dengan ketakwaan. Karena jika telah memperoleh banyak ilmu, biasanya timbul dalam hati perasaan ujub. Sedangkan ketakwaan membawa hati tetap tawadhu. Bahwa di atasnya masih ada orang yang lebih tinggi ilmunya. Dan semua ilmu pada akhirnya adalah milik Allah Azza wa Jalla.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

Kamis, 30 Juli 2015

Poligami Jangan Dilihat Enaknya Saja

Saya mendengar ada beberapa petinggi partai yang poligami. Ada yang gagal, tapi ada juga yang berhasil membina rumah tangga. Maksudnya, mungkin dia menjadi lebih baik daripada sebelum berpoligami; lebih dekat kepada Allah. Lebih takwa.

Bagaimana dengan yang tidak berhasil alias perilakunya semakin jauh dari Allah seperti korupsi atau berakhlak buruk lainnya? Sepertinya mereka tidak mampu mengatur rumah tangganya dengan baik. Persoalan ekonomi bisa saja yang melatarbelakanginya. Menambah istri bisa dikatakan menambah pengeluaran. Dengan kata lain pendapatan juga harus bertambah. Tadinya 2 juta untuk satu istri, kini harus 4 juta, 6 juta, 8 juta bila istrinya terus bertambah. Uang dari mana?

Poligami jangan mau enaknya saja tapi tanggung jawabnya kurang. Tanggung jawab disini bisa dibagi dua; tanggung jawab memberikan nafkah yang berkaitan dengan materi (duniawi), anak-istri tidak terlantar sandang-papan-pangannya. Dan yang kedua, tanggung jawab menjaga nafkah tersebut agar tetap halal; berkaitan dengan akhirat. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 12)

Kalau merasa belum mampu berpoligami, ya jangan berpoligami. Puas-puasin saja dengan istri yang ada. Kalau belum puas juga, nafsu memang tidak ada istilah puasnya, direm saja dengan berpuasa dan muraqabatullah. Tujuan pernikahan selain untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi (menyalurkan syahwat biologis), juga untuk untuk membentengi akhlak yang luhur dan untuk menundukkan pandangan, dan menegakkan rumah tangga yang Islami.

Kamis, 16 Juli 2015

Ulama Su' di Mesir

Saya terkejut dan heran dengan pernyataan Syaikh Mukhtar Jumah, menteri agama-nya rezim kudeta, bahwa boleh mendoakan keburukan untuk mursi dan tidak boleh mendoakan keburukan untuk as sisi. Karena mursi adalah presiden yang sah, sedangkan As Sisi adalah presiden yang sah.

Fakta seperti apakah dia bisa berkata seperti itu? Secara fakta bagi orang yang berakal sehat bahwa pernyataan seperti itu ibarat orang yang terbalik akalnya alias gila. Mursi adalah presiden yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan as sisi adalah presiden yang diraih dengan kekerasan dan kezaliman. Mursi adalah orang saleh. Sedangkan as sisi adalah orang zalim.

Lalu saya mengingat sejarah tentang ulama-ulama su' (buruk) diseputar penguasa. Ternyata jumlah mereka tidak sedikit. Merekalah yang turut andil melegitimasi penyiksaan penguasa atas ulama-ulama saleh seperti terhadap Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dan Imam Hasan Al Banna. Bagaimana bisa legitimasi itu terjadi? Bukankah mereka orang-orang yang berilmu? Dan bukankah orang-orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat al fathir?

Lalu kemudian saya bercermin pada sebuah hadits, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh."

Ulama su' bisa jadi adalah orang yang berilmu tinggi. Tapi ilmunya itu tidak membawanya dekat kepada Allah. Tidak membawa kebaikan untuk dirinya maupun untuk umat.

Ulama su’ pada umumnya adalah ulama yang bukannya mendekati Allah ta’ala namun mendekati para penguasa.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah.” ( HR. Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘,”

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu pengusaha” bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat

Larangan bagi para ulama untuk “mendatangi pintu penguasa” adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.

Di Mesir saat ini telah terlihat, setelah sebelumnya di masa mursi samar terlihat, ulama-ulama su'. Maka salah satu doa Syaikh Muhammad Jibril saat mengingami shalat tarawih di masjid amr bin ash mesir beberapa hari lalu, selain memohon laknat untuk penguasa yang zalim, juga untuk para ulama su' yang menjadi pengikut penguasa yang zalim. Begini doanya: “Ya Allah, siksalah orang-orang yang telah menjadi kejam, termasuk di dalamnya para syaikh yang menjadi pengikut penguasa kejam.”

Aamiin

Senin, 22 Juni 2015

Tiga Juta Kebaikan untuk Mereka yang Khatam Al Quran

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Mujahid Ra. sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, jumlah huruf dalam Al Quran sebanyak 321.180. Sedangkan menurut Imam Ibnu Abbas Ra sebanyak 323.671. Mari kita ambil riwayat dari Imam Ibnu Abbas karena beliau adalah sahabat Nabi dan kepakaran beliau dibidang ilmu fikih dan Al Quran lebih baik daripada Imam Mujahid.

Bila 323.671 huruf X 10. Maka apabila kita mengkhatamkan Al Quran, kita akan memperoleh 3.236.710 kebaikan. Itu pahala diluar bulan Ramadhan. Pahala membacanya di dalam bulan Ramadhan akan jauh lebih besar lagi. Dilipatgandakan hingga hanya Allah yang tahu seberapa besar pahala itu dilipatgandakan.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengapa Orang-Orang Beriman Bergembira Menyambut Kedatangan Ramadhan?

Bagi orang yang beriman, Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan kedatangannya. Ketika bulan memasuki Rajab, mereka sudah berdoa, "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami kepada bulan Ramadhan."

Saat bulan yang dinanti itu tiba, mereka menyambutnya dengan penuh kegembiraan, "Marhaban ya Ramadhan". Perkataan "marhaban" berasal dari kata "rahb" yang berarti "luas dan lapang". Sehingga marhaban mengandung makna bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Sudah mafhum bahwa orang yang bergembira menampakkan dirinya sebagai orang yang antusias dan ceria. Begitupun dengan keadaan orang yang beriman dalam menyambut bulan Ramadhan, yang antusias dan bersemangat dalam beramal serta tersirat diwajahnya keceriaan. Bila menyambutnya saja sudah bergembira, apatah lagi bila sudah berada di dalamnya. Ingin sekali berlama-lama di dalamnya, sedih mereka apabila berpisah dengannya.

Pahala amal saleh dibulan Ramadhan dilipatgandakan hingga unlimited. Sedangkan wujud amal saleh tidak hanya satu. Tidak hanya shalat sunah atau tilawah atau dzikir bil lisan saja. Seorang polisi yang mengatur lalu lintas, dokter yang mengobati pasiennya, atau petugas pemerintah yang melayani warganya dengan ikhlas dan sebaik-baiknya adalah juga sedang beramal saleh. Maka di bulan Ramadhan kita dapati mereka bertugas lebih baik, lebih bersemangat, dan lebih produktif. Bila Rasulullah dan para sahabatnya banyak berjihad di bulan Ramadhan, begitupun orang-orang yang beriman saat ini khususnya di Indonesia, mereka berjihad; beramal saleh dengan penuh kesungguhan, mengharap ridho Allah Swt. Bukannya bermalas-malasan, orang-orang beriman justru bersungguh-sungguh dalam beramal meskipun mereka sedang berpuasa.

Maka keadaan orang-orang yang beriman di Bulan Ramadhan merupakan model ideal khairu ummah yang dapat kita lihat di setiap zaman.