Kamis, 19 November 2015

Menyatukan Syiah dan Sunni Ibarat Menyatukan Minyak dengan Air

Apa pandangan saya terkait Syiah? Saya seorang sunni. Ketika saya melihat syiah, apakah saya melihat adanya perbedaan di dalamnya? Bila berbeda, apakah perbedaan itu hanya masalah furu seperti halnya perbedaan mazhab fikih yang empat atau ia terkait dengan ushul agama seperti halnya perbedaan antar agama?

Untuk memulai bahasan ini, saya ingin memulai satu pertanyaan, dalam sejarah, pernahkah syiah dan sunni hidup berdampingan, misalnya saling bersahabat baik? Atau mereka hidup dalam peperangan? Mengapa Daulah Shafawiyah yang syiah memerangi Daulah Utsmaniyah yang sunni? Begitupun sebaliknya. Mengapa Daulah Fathimiyah yang syiah memerangi ahlussunnah hingga menguasai Mesir dan Syam? Dan, mengapa juga Sultan Nuruddin Zanki dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi yang sunni memerangi Daulah Fathimiyah hingga mengusirnya dari Mesir? Mengapa pula Daulah Mamlukiyah yang sunni merombak total kurikulum pendidikan Al Azhar yang semula syiah menjadi sunni? Kenapa terjadi peperangan antara sultan syiah dengan sultan sunni di Peureulak Aceh, sehingga karena berlarut-larutnya peperangan tersebut, akhirnya keduanya bersepakat membagi Aceh Peurelak menjadi dua bagian: Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah, dan Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (1).

Hingga kini, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Fahmi Salim (alumni Al Azhar), Al Azhar tidak pernah mengajarkan fikih selain fikih yang empat. Pada tahun 60 an pernah diwacanakan pengajaran fikih ja'fari yang syiah namun tidak pernah terwujud karena banyak ditentang para Ulama guru besar syariah di Al-Azhar (2). Artinya, Al Azhar ingin mengokohkan institusinya sebagai 100% ahlussunnah.

Sampai disini saja kita bisa menyimpulkan bahwa Syiah dengan ahlussunnah seperti antara minyak dengan air, mana mungkin bisa bersatu. Ini baru membahas sejarahnya, belum lagi isi ajarannya!

Rabu, 18 November 2015

Kelompok Sesat Bekerjasama dengan Kelompok Sesat Lainnya

Imam Ibnu Taimiyah berkata, "Rafidhah (Syiah) itu menjadikan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah sebagai teman; mereka bekerja sama dengan Tatar dan Nasrani. Mereka juga menjalin perdamaian dengan orang-orang Eropa… …Apabila umat Islam menang atas Tatar, mereka (Syiah) pun berduka dan bersedih. Sebaliknya, kalau Tatar yang menang, mereka bersuka cita dan bahagia…"

Bukan hanya syiah yang menjadi masalah. Pada umumnya kelompok-kelompok yang beraliran sesat tidak mungkin bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang beraliran lurus. Dengan kata lain, mereka malah bekerjasama dengan kelompok-kelompok sesat lainnya. Dulu orang-orang syiah bekerjasama dengan tentara Mongol untuk menghancurkan Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka juga bekerjasama dengan orang-orang kafir seperti bangsa Inggris dan Portugal untuk merongrong kekhalifahan Utsmaniyah. Di saat ini, mereka bekerjasama dengan JIL dan Ahmadiyah.

Jadi, bagaimana mungkin orang yang katanya memperjuangkan syariat bekerjasama dalam masalah dien dengan orang yang sangat anti syariat? Bagaimana mungkin orang yang katanya lurus bekerjasama dengan orang yang menyimpang dari agama? Bagaimana mungkin orang yang katanya meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir bekerjasama dengan orang yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad?

Orang yang baik atau kelompok yang baik dan orang yang sesat atau kelompok yang sesat memiliki dua hati yang bertolak belakang. Sunnatullahnya, Nabi Muhammad Saw. tidak bersahabat dengan Abu Lahab dan Abu Jahal. Karena kedua orang itu jahat dan sesat. Nabi Muhammad Saw. bersabat dengan orang-orang yang memang menghendaki kebaikan, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq (yang membenarkan Nabi di saat orang lain mendustakannya) dan Umar al-Faruq (yang mampu membedakan antara yang haq dan yang batil).

Persahabatan itu alami, tidak dibuat-buat, berjalan sesuai dengan sunnah-Nya. Salman al-Farisi jauh-jauh dari Persia untuk bersahabat dengan Nabi, begitupun dengan Shuaib ar-Rumi yang berasal dari Romawi. Bagaimana bisa persahabatan itu diciptakan karena adanya jarak yang dekat atau jauh. Persahabatan Nabi dengan para sahabatnya tercipta karena sunnatullah, bukan hasil kreasi manusia.

Abu Lahab dan Abu Jahal adalah dua orang paman Nabi. Bahkan, Abu Lahab adalah orang yang menyembelih domba akikah ketika Nabi lahir, tetapi ketika Nabi memproklamirkan kenabian dan kerasulannya, ia menolak bersahabat dengan Nabi bahkan menjadi musuhnya yang paling utama. Bukankah pula istri Nabi Luth terkena azab Allah atas kaum Sadum, padahal dia istri seorang Nabi? Mengapa dia tidak mau bersahabat dengan Nabi? Begitupun dengan Kan’an putra Nabi Nuh, Azar bapak dari Nabi Ibrahim, Fir’aun bapak angkat Nabi Musa. Ketiga orang itu tidak mau bersahabat dengan orang yang sudah jelas hujjahnya dan sudah dikenal baik akhlaknya.

Ketika Allah menyatakan “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”, kenyataannya seperti itu. Karena persaudaraan itu adalah fitrah dan sunnatullah. Di belahan bumi manapun, ketika iman menyatukan kita, ketika kebaikan yang utama, kita adalah dekat, lebih dekat daripada pertalian darah, seperti persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua kaum ini dari tempat yang berbeda; terbentang jarak ratusan kilometer. Apakah kedua kaum itu berdiri di atas peradaban yang berbeda setelah mereka berkumpul bersama? Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Ketika ada nafsu syahwat terselip dalam persahabatan kita, maka nafsu tersebut akan merenggangkan persahabatan kita. Semakin banyak syahwat itu terkumpul, semakin rengganglah ikatan persahabatan kita. Jika gosip mengalahkan kenyataan yang sesungguhnya, maka ia dibutakan dari kebenaran. Jika kita berusaha menjadi orang yang baik, secara sunnatullah kita akan berkumpul dan bekerjasama dengan orang-orang yang baik pula, seperti doa robithoh yang sering kita panjatkan,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...

Arab Saudi Memberontak Melawan Kekhalifahan Utsmaniyah?

Selama ini saya sering mendengar dari salah satu harokah sebelah yang sering meributkan bahwa kerajaan Arab Saudi adalah salah satu penyebab runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah. Lalu mereka mengatakan bahwa kerajaan Arab Saudi berkomplot dengan Inggris untuk mengusir Daulah Khilafah dari tanah Arab. Akhir-akhir ini yang meributkan hal ini tidak hanya dari harokah tersebut, tapi juga sebagian dari saudara saya dari ASWAJA dan dari kelompok syiah yang berwajah sunni. Apakah benar yang terjadi seperti itu? Saya bukan orang yang sering mereka sebut sebagai "wahabi". Dalam beberapa pendapat, saya berbeda dengan kelompok ini. Namun saya selalu ingin bersikap adil, entah kepada kawan dekat maupun kawan jauh, dan kepada musuh sekalipun. Agar saya dapat lebih obyektif dalam menilai.

Pertama, wilayah Daulah Utsmaniyah terbentang luas dari Asia, Afrika, hingga sebagian Eropa. Arab Saudi hanyalah sedikit wilayah dari sekian besar wilayah Daulah Utsmaniyah. Jika Arab Saudi yang dipermasalahkan, lalu mengapa negara-negara lain bekas wilayah Daulah Utsmaniyah tidak dipermasalahkan? Jika Arab Saudi yang notabene sebagai negara berbasis syariah, mengapa negara lain yang jauh lebih sekuler tidak dipermasalahkan? Taruhlah Arab Saudi memang betul melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, lalu bagaimana dengan negara lain yang juga melepaskan diri dari Daulah Utsmaniyah, bahkan banyak negara yang sudah jauh-jauh hari sebelum berdirinya kerajaan Arab Saudi sudah menyatakan berpisah dari Daulah Utsmaniyah?

Negara atau wilayah yang mula-mula memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah adalah apa yang disebut sebagai Daulah Shafawiyah di zaman dulu atau Iran yang dikenal sekarang. Negara Iran sudah kita ketahui bersama adalah negara yang berpaham Syiah. Tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, Daulah Shafawiyah juga menyebarkan Syiah dan merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah dengan membunuhi ribuan ahlussunnah dan menghancurkan banyak masjid.

Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Daulah Shafawiyah terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Daulah Shafawiyah yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).

Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.

Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).

Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira'ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengetahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.

Jadi, bila ingin menyalahkan Kerajaan Arab Saudi dalam hal ini, maka salahkan juga negara-negara lainnya. Salahkan juga Mesir, Suriah, Yordania, Libya, dan seterusnya, mengapa mereka memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan terlebih lagi mendirikan negara sekuler atau jauh dari syariat. Dan yang patut disalahkan lagi adalah dengan Iran. Mereka tidak hanya memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah, tetapi juga merongrong kekuasaan Daulah Utsmaniyah yang sunni dan membunuhi rakyatnya yang ahlussunnah.

Selasa, 10 November 2015

Kudeta Mesir Di Ambang Kehancuran

Tampaknya para pimpinan kudeta Mesir sudah mulai ketar ketir. Mereka dibayangi oleh ketidakmenentuan nasib mereka di Mesir. Di belakang mereka dibayangi oleh kezaliman yang telah mereka perbuat, di depan mereka dibayangi oleh hukuman yang akan mereka tanggung di dunia dan akhirat.

Oleh karena itulah, saat ini, mereka sedang memperlambat jarak mereka dari hukuman yang akan mereka terima kelak. Yaitu dengan cara menghapus 18 pimpinan Ikhwanul Muslimin dari daftar hitam. Termasuk di dalamnya adalah mengampuni Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Prof. DR. Muhammad Badi' hafidzahullah. Jalan yang mereka tempuh kini setengah-setengah, mengampuni Ikhwanul Muslimin sambil berharap mereka kelak tidak mendapat hukuman dari kudeta yang mereka lakukan. Tapi dalam hati dan pikiran mereka masih menginginkan mereka tetap berkuasa, entah bagaimana caranya. Mungkin ini yang namanya mimpi. Mimpi disiang bolong.

Allah Swt. telah menegaskan bahwa orang yang melakukan kezaliman, pada hakikatnya dia telah menzalimi dirinya sendiri. (al-Baqarah: 231) Orang-orang zalim akan terkena akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri. (az-Zumar: 51) Mereka akan tertimpa akibat dari perbuatan mereka sendiri dan mereka akan diliputi oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokkan. (an-Nahl: 34)

Jadi, tunggu saja tanggal mainnya, wahai orang-orang yang zalim!

Taman Orang Jatuh Cinta karya Imam Ibnul Qayyim

Buku "Taman Orang Jatuh Cinta: Tamasya Orang yang Terbakar Rindu" adalah salah satu buku yang saya edit. Tebalnya 464 halaman. Buku ini sangat bagus terutama bagi orang yang tengah dimabuk asmara terhadap lawan jenis. Diterjemahkan dari kitab aslinya yang berjudul "Raudhatul Muhibbin man Nuzhatul Musytaqin" karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah.

Berikut ini adalah salah satu perkataan Imam Ibnul Qayyim yang ada dalam buku tersebut:
"Salah satu kecocokan seseorang dengan orang yang dicintainya adalah keserasian akhlak, keselarasan jiwa, rindunya satu jiwa kepada jiwa yang selaras dengannya. Secara alami, kesamaan sesuatu akan menarik kebersamaan dua jiwa. Dua jiwa yang serupa dalam dalam penciptaannya yang asli akan menghasilkan daya tarik antara keduanya. Sekali lagi hal itu terjadi secara alami, tidak bisa dicari latar belakangnya atau alasan tarik menarik di antara keduanya. Seperti halnya sepotong besi dengan biji-biji debu yang mengandung sifat magnetik. Tidak dapat disangkal bahwa daya tarik kedua ruh semacam itu, lebih kuat daripada daya tarik material lainnya."

Ingin saya katakan, mengomentari perkataan Imam Ibnul Qayyim di atas, bahwa beliau, tidak hanya memahami ilmu-ilmu syariat, tetapi juga sangat memahami ilmu psikologi dan sosial. Intinya all about love ada di dalam buku ini.

Senin, 09 November 2015

NU itu Syiah Minus Imamah

Orang syiah merasa gembira dengan perkataan Gus Dur yang mengatakan NU itu syiah minus imamah. Bahwa perkataan itu menunjukkan dukungan Gus Dur kepada syiah. Bahwa NU itu dekat dengan syiah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagaimana dikatakan orang syiah yang bernama Candiki Repantu dalam situs http://www.alhassanain.com/…/im…/imamah_dan_wilayah/001.html:

"Salah satu perbedaan pokok yang mendasar antara sunni dan syiah adalah keyakinan tentang imamah. Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau."

Imamah dalam syiah adalah rukun iman dan pokok agama mereka. Sedangkan di NU tidak mengenal yang demikian itu. Rukun iman di NU sangat jauh dari istilah imamah. Contoh implikasi imamah adalah bila syiah selain mengambil hadits dari Rasulullah juga dari imam yang duabelas. Sedangkan NU tidaklah mengikuti dengan cara seperti itu. NU mengikuti hadits sebagaimana yang telah digariskan ahlussunnah wal jamaah. Artinya, NU tidak mempercayai hadits-hadits diluar yang telah ditetapkan oleh ijma ulama ahlussunnah waljamaah. Syiah mengatakan imam yang duabelas itu maksum, sedangkan bagi NU imam yang duabelas itu tidak maksum. Yang maksum hanya Nabi Saw. Jadi kalau sudah ngomongin akidah orang NU dengan orang syiah jelas berbeda 180 derajat. Bila Gus Dur mengatakan NU itu syiah minus imamah artinya NU itu bukan syiah. NU itu ahlussunnah. Gitu aja kok repot 
smile emotikon

Minggu, 08 November 2015

Bukti Kebenaran Islam

Sudah tidak terhitung jumlah umat Islam yang hafal Al Quran. Seandainya seluruh Al Quran yang ada di dunia ini hangus terbakar, Al Quran akan tetap abadi di dalam dada kaum muslimin yang telah menghafalnya. Sedikit saja kesalahan dalam tulisan atau bacaannya maka akan dengan mudah diketahui oleh umat Islam yang lainnya. Al Quran dengan sempurna dan utuh diwariskan turun temurun secara mutawatir. Oleh karenanya sangat mustahil mereka bersepakat dalam kebatilan.

Ketika Zaid bin Tsabit diminta melukiskan kesukaran melakukan tugas suci menghimpun Al Quran, ia berkata, "Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun Al Quran." Perkataan Zaid ini menunjukkan beban dan tanggung jawab seorang mukmin terhadap amanah ilmiah. Beliau tidak main-main dalam memperlakukan Al Quran

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata, "Untuk mengkaji satu ayat saja, saya telah membaca 100 kitab tafsir." Tidak hanya itu, bila mendapatkan masalah ilmu yang cukup pelik, maka beliau beristighfar 1000 kali atau berdoa kepada Allah dalam sujudnya, "Ya Allah Tuhan yang mengajari Adam dan Ibrahim, ajarilah aku!"

Ibnu Umar Ra. ketika meriwayatkan hadits Nabi badannya bergetar karena takut kepada Allah jika saja salah meriwayatkan hadits. Padahal beliau adalah anak dari Amirul Mukminin. Disebutkan juga bahwa beliau adalah salah satu sahabat Nabi yang paling berilmu.Ketakutan beliau menunjukkan kehati-hatian beliau terhadap hadits Nabi. Sebagaimana sabda Nabi Saw.: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari mengerjakan shalat istikharah setiap kali akan menulis hadits Nabi. Beliau kerahkan secara maksimal seluruh potensi yang ada untuk meraih keshahihan hadits. Tidak hanya ilmu yang melekat di kepalanya, tetapi terlebih bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah Swt. Oleh karenanya beliau memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah.

Para ulama menghasilkan ilmu jarh wat ta'dil dengan tujuan menjaga kemurnian dan kebenaran Islam. Bila perawinya dhaif maka akan dikatakan dhaif. Bila perawinya shahih maka akan dikatakan shahih. Semuanya tampak jelas rambu-rambunya, bukan hawa nafsu si penilai.

Selama ini kaum orientalis dan sekuler bingung mencari celah atas kesalahan kaum muslimin terhadap ajaran agamanya. Mereka ingin menyerang Al Quran dan Al Hadits tapi serangan itu semakin menunjukkan betapa bodohnya mereka dan semakin menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah suatu yang ilmiah.

DR. Edward Said, dalam bukunya yang kesohor, Orientalism, mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh para orientalis dalam meneliti agama islam, khususnya hadits, bukanlah pekerjaan yang non profit oriented, artinya mereka memiliki tujuan tertentu dengan meneliti agama Islam sedemikian rupa, tujuan itu antara lain adalah mencari kelemahan Islam dan kemudian mencoba menghancurkannya pelan-pelan dari dalam.

Maka tentu saja perbedaannya akan tampak, yaitu antara ulama dengan para orientalis itu. Yang pertama adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Sedangkan kelompok kedua adalah orang yang memperturutkan hawa nafsu. Buah dari kelompok pertama adalah petunjuk, sedangkan buah dari kelompok kedua adalah kesesatan.

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun..." (QS. Al Qashash: 50)