Minggu, 15 Maret 2015

Pentingnya Tabayun kepada Sesama Orang Beriman

Bagi sesama orang yang beriman, tabayun itu sangat penting bila ada sesama kita diberitakan melakukan kejelekan meskipun yang memberitakan kejelekan itu sangat banyak jumlahnya.

Kasus bapak Tubagus Arif, anggota DPRD DKI dari PKS, misalnya, dituduh telah memaki dan berkata kasar dan rasis kepada Ahok. Salah satu yang menghembuskan fitnah ini adalah seorang wanita bernama Dian Supolo, eks Direktur Komunikasi McDonald.

Tidak sedikit kaum muslimin yang percaya dengan fitnah yang dilontarkan Dian ini. Dan kemudian turut menghina Tubagus Arif yang notabene tidak tahu apa-apa atau tidak pernah mengatakan apa yang dituduhkan itu. Dan terbukti saat ini kata-kata kasar itu bukan dirinya yang mengatakan melainkan anggota dewan dari partai lain.

Entah mengapa apa-apa yang berbau PKS seringkali menjadi berita yang menghebohkan. Fitnah yang belum terbukti kebenarannya dianggap sudah benar adanya. Yang lebih menyakitkan lagi, memfitnah tokoh umat adalah batu loncatan untuk menghina ajaran Islam. Seperti yang dilakukan oleh Dian Supolo. Setelah memfitnah bapak Tubagus, dia menjelek-jelekkan ajaran Islam diantaranya shalat jumat.

Sungguh dalam sejarah sering kita dapatkan orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap mereka. Bersabarlah, dan tanamkanlah ke dalam dirimu baik sangka terhadap saudaramu yang mukmin. Jangan mudah larut dalam omongan orang.

Bila ada rasa dihatimu kebencian terhadap saudaramu karena terpengaruh fitnah orang lain, diam adalah yang terbaik bagi dirimu hingga masalah yang sesungguhnya benar-benar terungkap. Seringkali orang terpengaruh karena banyaknya orang yang berbicara tentang apa yang ingin dipengaruhinya itu.

Orang baik bisa dituduh jahat karena banyaknya orang yang mengatakan si fulan itu jahat. Padahal seringkali tuduhan itu hanyalah opini bukan fakta sesungguhnya. Sedikit saja engkau memfitnah saudaramu, sungguh fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Bila membunuh orang adalah dosa besar, maka memfitnah orang dosanya jauh lebih besar!! Bahkan dalam urusan ini, beberapa ulama mengatakan, bila kita ingin taubat kita diterima Allah, tidak cukup beristighfar kepada Allah saja tetapi juga harus meminta maaf kepada orang yang kita zalimi itu.

Sabtu, 14 Maret 2015

Madzhab Fikih Imam Asy'ari

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan seseorang. Tampaknya dia tidak senang dengan pendapat saya yang menyebutkan bahwa Imam Abul Hasan Al Asy'ari ber-madzhab Hanbali. Katanya, tidak mungkin Imam Al Asy'ari bermadzhab Hanbali karena murid-murid dan pengikutnya bermadzhab Syafi'i. 

Saya tahu hal itu karena banyak orang akan berpandangan seperti itu. Hampir mustahil rasanya Imam Asy'ari bermadzhabkan Hanbali karena ajaran Asy'ariyah sendiri sangat "dimusuhi" oleh sebagian pengikut madzhab Hanbali. Saya katakan sebagian karena toh tidak semua pengikut madzhab Hanbali menolak ajaran Asy'ariyah. Walaupun pada kenyataannya yang sebagian ini sangat nyaring suaranya sehingga seolah menutup peluang untuk menyebutkan hakikat bahwa sesungguhnya Imam Asy'ari bermadzhabkan Hanbali.

Apa bukti Imam Asy'ari bermadzhabkan Hanbali? Yaitu perkataan beliau dalam kitab al-Ibanah an Ushuli Diyanah hal. 17: Apabila seseorang bertan­ya, “Kamu mengingkari perkataan Mu’tazilah, Qadariyyah, Jahmi­yyah, Haruriyyah, Rafidhah, dan Murji’ah. Maka terangkan kepada kami pendapatmu dan keyaki­nanmu yang engkau beribadah ke­pada Allah dengannya!” Jawablah, “Pendapat dan keyakinan yang kami pegangi adalah berpegang teguh dengan kitab Rabb kita, sunnah Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan para ahli hadits. Kami berpegang teguh dengannya. Dan berpendapat dengan apa yang di­katakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.”

Untuk memperjelasnya kalimat terakhir harus kita garis bawahi. Tampaklah dengan jelas pernyataan beliau jika beliau sendiri bermadzhabkan Hanbali, bukan Syafi'i. Mengenai ulama pengikut beliau yang seluruhnya bermadzhabkan Syafi'i, tidak seratus persen benar. Karena di antara para ulama madzhab lain juga ada pengikut Imam Asy'ari. Dalam hal ini ulama madzhab Hanbali, di antaranya: al-Imam ibn Sam’un al-Wa’izh, Abu Khaththab al-Kalwadzani, Abu al-Wafa bin ‘Aqil, al-Hafizh ibn al-Jawzi dan lain-lain. Namun kemudian sejak abad pertengahan terjadi kesenjangan hubungan antara pengikut al-Asy’ari dengan pengikut madzhab Hanbali. Jadilah para pengikut al-Asy'ari mengambil jarak dengan madzhab Hanbali dengan mengikuti madzhab ahlussunnah yang lain.

Mengenai guru dan murid berbeda madzhab sebenarnya banyak kita temui dalam buku-buku sejarah Islam. Misalnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau adalah ulama bermadzhabkan Hanbali. Murid beliau yang terkenal adalah Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali penulis kitab Al-Mughni. Di antara bukti lain bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bermadzhabkan Hanbali adalah penuturan sejarawan Islam, yakni Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A'lamin Nubala, "Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau." Namun kemudian Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lebih dikenal oleh orang Indonesia bermadzhabkan Syafi'i. Itu sah-sah saja karena bisa jadi pengikut beliau kebanyakan bermadzhabkan Syafi'i. Tapi yang menjadi masalah ketika ada orang yang tetap ngotot mengatakan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bermadzhabkan Syafi'i hanya karena kebanyakan pengikutnya bermadzhabkan Syafi'i.

Contoh yang lain guru dan murid beda madzhab adalah antara Imam Ibnu Taimiyah yang bermadzhabkan Hanbali dengan Imam Ibnu Katsir yang bermadzhab Syafi'i. Tapi anehnya ada sebagian orang berpandangan bahwa Imam Ibnu Katsir itu bermadzhab Hanbali. Mungkinkah hanya gara-gara guru Imam Ibnu Katsir, yakni Imam Ibnu Taimiyah bermadzhabkan Hanbali jadinya orang tersebut berpandangan demikian.

Sejarah harus diceritakan apa adanya. Jangan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Karena sejarah yang ditambah-tambahi atau dikurangi artinya manipulasi. Keesokan harinya anak cucu kita buta akan sejarah yang sesungguhnya. Naudzubillahi mindzalik.

Jumat, 13 Maret 2015

Untuk Meraih Kesuksesan Butuh Pengorbanan

Manusia memerlukan ketenangan agar ia dapat berpikir jernih. Dan berpikir jernih diperlukan agar ia dapat menjalani hidup ini dengan benar.

Manusia sering mendapati masalah dalam hidupnya. Dan masalah-masalah itu sering membuatnya tidak tenang. Mereka ingin masalah-masalah itu cepat teratasi.

Sebagian manusia berpikir mengatasi masalah itu dengan cara kesenangan. Mereka lantas menghabiskan waktu dengan berbuat maksiat. Mereka meminum-minuman keras, menghisap sabu-sabu, traping di diskotik, berzina dengan wanita, meminum obat-obatan penenang, bermalas-malasan dalam beramal, dan melakukan kemaksiatan lainnya. Betul mereka tenang tapi itu hanya sesaat! Setelah itu mereka kembali tidak tenang, bahkan stres atau depresi mereka bertambah!

Bila lawan dari ketenangan adalah kesenangan, maka ketenangan itu sama dengan pengorbanan. Ketenangan hanya bisa diraih melalui pengorbanan. Buktinya pendahulu kita melawan penjajah, bukannya bersenang-senang dengan penjajah. Meskipun akibatnya nyawa melayang dan harta benda menjadi korban tapi kesudahannya adalah kemerdekaan. Karena tidak mungkin dapat meraih ketenangan selama masih dijajah. Begitupun yang terjadi pada rakyat Palestina. Mereka ingin hidup tenang. Dan satu-satunya cara adalah dengan meraih kemerdekaan. Untuk menebus kemerdekaan itu mereka korbankan jiwa harta dan tenaga.

Seorang miskin ingin hidup tenang maka dia berkorban mengejar impiannya menjadi orang yang sukses dan kaya harta. Dia belajar menjadi orang yang sukses. Dia berusaha terapkan ilmunya dalam kehidupannya sehari-hari. Dia rajin menabung atau berinvestasi. Dia lupakan segala kesenangan untuk meraih kesuksesan. Dia lawan kemalasan dengan ketekunan dan kerja keras.

Seorang pelajar ingin hidup tenang maka dia berkorban dengan cara tekun belajar untuk mendapatkan prestasi dan nilai yang baik.

Itulah sunnatullah. Bila ingin hidup tenang jangan melalui kesenangan tapi raihlah melalui pengorbanan. Korbankanlah diri anda untuk tilawah. Korbankanlah diri anda untuk doa dan dzikrullah. Korbankanlah diri anda untuk shalat. Korbankanlah diri anda untuk kebaikan, menundukkan hawa nafsu anda, dan menjauhi segala maksiat dalam hidup anda.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.Sesudah kesulitan akan datang kemudahan.

Kamis, 12 Maret 2015

Islam Sebagai Solusi Problematika Kehidupan

"Ketika saya sedang menulis, saya membagi pikiran dan perasaanku ke dalam dua bagian: Satu bagian berupaya mengenal realitas Islam dengan teliti, yaitu kondisi-kondisi yang nampak maupun tersembunyi dari umat kita, dan yang lainnya menyerap arahan-arahan Islam yang sifatnya menyembuhkan penyakit dan memperkuat keberadaan Islam.

Dalam pengenalan itu saya mencoba memilah penyakit-penyakit warisan dari luar sehingga saya tidak sesat jalan. Saya tidak akan kompromi dengan berbagai jenis penampilan-penampilan serupa yang ingin menipuku sehingga saya tidak mampu mengetahui virus-virusnya yang beragam!

Dan dalam upaya mencari obat, saya membedakan ajaran Islam yang berasal dari sumber-sumbernya yang ma'shum dengan perjalanan sejarahnya yang mengalami pasang surut, baik sejarah itu sifatnya politis maupun kebudayaan." (Syaikh Muhammad Al Ghazali rahimahullah)

Kata-kata di atas adalah sebuah renungan yang menusuk relung hati saya. Yang membuat saya menyadari kesalahan saya selama ini. Tentang betapa malasnya saya dalam menuntut ilmu. Tentang waktu yang banyak terbuang untuk hal-hal yang mubah, makruh hingga yang diharamkan-Nya. Padahal kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia. 

Betapa bodohnya diri saya! Saat saya mengetahui problematika di dunia modern saat ini, saya tidak dapat menunjukkan kegemilangan Islam dengan memberikan solusi terhadap problematika itu. Karena, saya tidak banyak mengetahui ajarannya! Bahkan mungkin pengetahuan saya tentang diluar Islam jauh lebih banyak daripada ajaran Islam itu sendiri. Maka, bagaimana mungkin yang banyak menggeser yang sedikit! Atau yang sedikit menutupi yang banyak! Bagaimana mungkin saya dapat menunjukkan kegemilangan Islam sementara saya sendiri tidak mengetahui apa yang ada di dalam Islam! Tidak menghafal ayat-ayat-Nya dan Sunnah Nabi-Nya! Malas membaca sejarah dan khazanah ilmu yang ada padanya!

Akibat dari kebodohan akan sumber-sumber Islam, kita tidak mampu berpikir kritis. Kita hanya berputar-putar mencari solusi pada peradaban yang bukan bersumber dari Islam. Padahal peradaban itu sedang bermasalah. Bahkan ada yang mengatakannya sedang kritis! 

Orang-orang saleh dari kalangan ulama begitu mudahnya mensitir suatu ayat atau hadits untuk dijadikan solusi dan inspirasi terhadap problematika yang ada sehingga tampak wujud kegemilangan Islam. Bahwa ternyata peradaban Islam jauh lebih unggul, jauh lebih komprehensif daripada peradaban selainnya. Sehingga umat kemudian menyadari kekeliruannya selama ini. 

Rasulullah Saw. bersabda, "Didiklah anak-anakmu dengan tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai keluarganya dan membaca Al-Qur'an. Sebab, orang-orang yang ahli Al-Qur'an itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya beserta para Nabi dan orang-orang yang disucikan-Nya." (HR. Thabrani)

Dr. Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan kandungan hadits ini dalam buku Tarbiyatul Aulad fil Islam jilid 1, "Rahasianya adalah agar anak-anak mampu meneladani perjalanan hidup orang-orang terdahulu, baik mengenai gerakan, kepahlawanan maupun jihad mereka; agar mereka juga memiliki keterkaitan sejarah, baik perasaan maupun kejayaannya; dan juga agar mereka terikat dengan Al-Qur'an baik semangat, metode maupun bacaannya."

Salah seorang sahabat Nabi yang bernama Sa'ad bin Abi Waqqash juga berkata, "Kami mengajar anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah Saw. sebagaimana kami mengajarkan surah Al-Qur'an kepada mereka."

Filsuf muslim kenamaan, Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, memberikan wasiat sebagai berikut, "Dengan mengajarkan Al-Qur'an Al-Karim kepada anak-anak, hadits-hadits, hikayat orang-orang baik, kemudian beberapa hukum agama."

Sejarawan terkemuka, Imam Ibnu Khaldun, di dalam Muqadimah-nya, mengisyaratkan akan pentingnya mengajarkan dan menghafalkan Al-Qur'an kepada anak-anak. Ia juga menjelaskan bahwa pengajaran Al-Qur'an merupakan dasar bagi seluruh kurikulum sekolah di berbagai dunia Islam. Sebab, Al-Qur'an merupakan salah satu syiar agama yang dapat menguatkan akidah dan keimanan.

Ahli kedokteran muslim terkemuka, Ibnu Sina, dalam buku As-Siyasah memberikan nasihat agar seorang anak sejak kecil sudah mulai diajari Al-Qur'an. Hal ini dimaksudkan agar ia mampu menyerap bahasa Al-Qur'an serta tertanam dalam hati mereka ajaran-ajaran tentang keimanan.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (QS. Al-Nisa’:174).

Maka, untuk meraih kegemilangan itu, mau tidak mau kita harus terus berinteraksi dengan ajaran agama kita. Karena disanalah sumber kegemilangan dan kejayaan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai mempelajarinya. Mari kita mulai dari Al Quran, kemudian As Sunnah, kemudian sejarah Islam. Setelah makna-makna ketiganya melekat pada diri kita, maka akan dengan mudah kita memberikan solusi atas setiap problematika yang ada dengan solusi yang benar dan tepat.

Dahsyatnya Amal Seorang Mukmin (Bag 2)

Sayyid Quthb dalam Fizhilalil Quran menjelaskan makna surat Al Ashr dengan sangat indah. Katanya, seorang mukmin dengan amalnya ibarat bunga yang tidak kuasa menahan wewangiannya. 

Sejarah peradaban Islam yang agung telah menggambarkan kepada kita tentang kehebatan dan kedahsyatannya dalam berkarya. Gedung-gedung dengan nilai seni dan arsitektur tinggi bertebaran di mana-mana dan menjadi sejarah dunia yang elok untuk disaksikan. Buku-buku yang ditulis oleh para ulama begitu banyak jumlahnya dan sebagian di antaranya masih bisa kita baca hingga kini. Tapak-tapaknya masih terasa menunjukkan betapa besar dan hebatnya peradaban pada saat itu.

Semangat itu tidak lain muncul dari keimanan yang kokoh dan kuat. Bila saja 313 muslim tidak mau berperang melawan kafir Quraisy yang jumlahnya lebih dari seribu orang pada perang Badar, maka berhentilah peradaban itu. Bila Thariq bin Ziyad dengan bala tentaranya yang tidak begitu banyak tidak berani menyerang orang-orang kafir Spanyol, maka terputuslah Eropa dari mengenal Islam.

Bila Muhammad Al Fatih dan pasukannya berhenti untuk melanjutkan penyerangan terhadap Konstantinopel, maka mungkin kita tidak akan menyaksikan Konstantinopel berubah nama menjadi Istambul (di ambil dari kata "Islambul" yang artinya "kota Islam").

Bila saja Ibnu Taimiyah berhenti berkarya karena dijebloskan ke dalam penjara, mungkin kita tidak mengenal Kitab Majmu Fatawa, salah satu karya hebat dibidang ilmu fikih. Begitupun dengan Sayyid Quthb, di penjara justru menghasilkan karya legendarisnya Fizhilalil Quran, HAMKA menghasilkan karya agungnya Tafsir Al Azhar yang tebal dari kedua kitab itu bila digabungkan mencapai satu meter. Begitupun yang terjadi pada Aidh Al Qarni, keimanan yang ada dalam dirinya justru mengobarkan semangatnya untuk terus berkarya meskipun di dalam penjara. Maka lahirlah kitab La Tahzan yang kesohor itu.

Beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang mahasiswi berprestasi, anak tukang becak yang miskin. Dia meraih prestasi tertinggi dikampusnya dengan IPK 3,9. Ketika ditanya apa rahasianya bisa sukses dalam belajar. Jawabannya, selalu mengulang-ulang pelajaran yang di dapat, tilawah satu hari satu juz, shalat tahajud, dan shalat dhuha. Jawabannya sederhana tapi sungguh bermakna. Kebiasaan-kebiasaan itu membentuk karakternya, mengisi baterai jiwanya, mengobarkan semangatnya. Karena yang menghidupkan hati yang malas adalah Allah, yang membuka khazanah pengetahuan adalah Allah. Kemiskinan bukanlah penghalang dari kemuliaan. Tapi yang menjadi penghalang seseorang meraih kemuliaan adalah kemaksiatan yang dilakukannya.

Orang-orang berprestasi tidak mungkin didapat dari pelaku maksiat, pelajar yang sering tawuran, suka bolos, dan malas belajar. Tapi ia bisa saja didapat dari rumah-rumah semi permanen, para pelajar yang berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolahnya, atau mereka yang terpaksa mencari nafkah sendiri karena orangtuanya tidak mampu membiayainya sekolah.

Dahsyatnya Amal Seorang Mukmin

Bila membaca sejarah Nabi Saw., para sahabatnya, orang-orang saleh, dan para syuhada, membuat saya berpikir, betapa dahsyatnya amal seorang mukmin.

Keimanan mengobarkan semangat mereka dalam beramal. Mereka tidak dapat melihat Allah, tapi mereka meyakini bahwa Allah ada. Patuh dan taat dalam menjalankan perintah-Nya.

Sekalipun mereka tidak pernah melihat Rasulullah Muhammad Saw., mereka beriman kepadanya, yakin bahwa mengikuti sunnah Nabi adalah jalan terbaik; keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun jarak mereka hidup dengan Nabi sangatlah jauh namun hati mereka dekat dengan Nabi. Bahkan merindukan pertemuan dengan Nabi.

Mereka belum pernah melihat surga tapi sangat ingin masuk ke dalamnya. Mereka juga belum pernah melihat neraka tapi sangat ingin menjauh darinya. Walaupun belum pernah melihat surga dan neraka, mereka meyakini keduanya ada.

Mereka juga meyakini adanya malaikat pencatat amal baik dan amal buruk. Padahal mereka tidak melihatnya sama sekali. Keimananlah yang membuat mereka sadar bahwa para malaikat itu ada dan karenanya mereka terus berusaha agar catatan amal baik mereka jauh lebih banyak daripada amal keburukan mereka.

Merekalah yang terdepan dalam amar ma'ruf nahi munkar, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran walaupun nyawa taruhannya, di depan mereka terdapat seorang penguasa zalim, dan mendapat kebencian orang-orang sombong.

Merekalah yang terdepan dalam beribadah. Mereka mendirikan shalat fardhu, sangat rajin mengerjakan shalat sunah, berpuasa dibulan ramadhan dan puasa sunah dihari-hari yang lain. Bibir mereka tidak jauh dari zikir, tilawah dan dakwah. Kondisi mereka ibarat fursanun fin nahar war ruhbanun fil lail, siangnya ibarat singa (berjihad, mencari nafkah, dan aktivitas duniawi yang bermanfaat), malamnya ibarat rahib (beribadah dengan penuh kekhusyuan). Bila mereka selesai satu urusan, mereka beralih pada urusan bermanfaat lainnya; faidza faraghta fanshab wa ila raabbika farghab. Bila orang kafir beribadah seminggu sekali selebihnya untuk aktivitas duniawi, maka orang yang beriman beribadah menyucikan jiwa mereka setiap hari bahkan setiap waktu. Oleh karena itu, tidak mungkin sama jiwa-jiwa mukmin dengan jiwa-jiwa kafir.

Merekalah yang terdepan dalam ilmu dan prestasi. Mereka meyakini bahwa menuntut ilmu adalah perintah agama oleh karenanya memiliki banyak sekali keutamaan baik di dunia maupun di akhirat. Bila orang kafir menganggap menuntut ilmu tidak ada sangkut pautnya dengan agama; tidak ada sangkut pautnya dengan pahala, maka tidak bagi seorang mukmin. Oleh karena itulah, bagi seorang mukmin lembaran-lembaran pengetahuan yang mereka baca dan majelis-majelis ilmu yang mereka ikuti dipenuhi dengan taburan pahala. Bahkan bila mereka mati saat menuntut ilmu akan diganjar dengan surga. Siapa yang tidak mau?

Mereka terdepan dalam akhlakul karimah. Islam berkembang pesat bukan karena pemberian uang kepada orang kafir agar mau masuk Islam. Atau memaksa mereka dengan kekerasan. Tetapi Islam tersebar karena keindahan akhlak yang diperagakan kaum mukminin. Sangat jauh berbeda dengan umat agama lain dalam menyebarkan agamanya yang sering menghalalkan segala cara.

Seorang suami yang mukmin sangatlah baik memperlakukan istrinya. Begitupun sebaliknya. Orangtua yang mukmin berakhlak baik dalam memperlakukan anak-anaknya. Tidak dengan cara kekerasan melainkan dengan hikmah dan kasih sayang. Hingga kepada orang kafir pun Islam memancarkan akhlakul karimah.

Rabu, 11 Maret 2015

Ingatlah Allah Dikala Senang, Niscaya Allah Akan Mengingat Anda Ketika Susah

Sudah biasa orang berkeluh kesah disaat gelisah. Tapi sungguh luar biasa ketika Allah diingatinya saat sedang bahagia.

Tidakkah engkau mengingat kisah tiga orang yang terperangkap di dalam goa? Mereka berhasil menyelamatkan diri setelah menyebut amal-amal saleh yang pernah mereka lakukan.

Tidakkah juga engkau mengingat kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus? Selama tiga hari berada di dalam gelapnya rongga. Lalu Allah perintahkan ikan paus tersebut untuk mengeluarkan Nabi Yunus. Karena dia adalah hamba-Nya yang banyak berdzikir, mengingat-Nya; bertasbih, mensucikan-Nya. Maka tidaklah sukar baginya mendapat pertolongan Allah.

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, "Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), "Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Madarij as-Salikin, 1/329).

Amal saleh yang engkau lakukan hari ini akan menyelamatkanmu dikemudian hari. Setiap untaian zikir yang engkau baca di saat lapang, akan menjadi pengingat Allah untuk mengingat engkau disaat engkau susah.

”Ingatlah Rabmu ketika lapang, dia akan mengingatmu ketika susah.” (HR. Ahmad).