Tampilkan postingan dengan label Syaikh Muhammad Al-Ghazali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikh Muhammad Al-Ghazali. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

Ikhwanul Muslimin dan Khilafiyah

Kelompok sufi dan tradisional menuduh Ikhwanul Muslimin adalah Wahabi. Sementara kelompok Salafy menuduh Ikhwanul Muslimin sebagai jamaah Sufi. Ikhwanul Muslimin dijepit dan diserang di antara dua tuduhan ini. Saya tidak sedang mengada-ngada terhadap tuduhan-tuduhan ini karena bisa dilacak pada dua kelompok tersebut.

Menurut saya, mereka yang menuduh tersebut karena dua hal: Pertama karena mereka tidak memahami manhaj Ikhwanul Muslimin. Dan kedua karena permusuhan mereka terhadap Ikhwanul Muslimin. Imam Hasan Al Banna memberi nama jamaahnya tentu saja mempunyai makna, harapan, dan cita-cita. Sebagaimana juga para pendiri jamaah Islam lainnya memberi nama jamaahnya. Ikhwanul Muslimin mempunyai arti “persaudaraan kaum muslimin”. Imam Hasan Al Banna memahami dakwah dimana ia bersentuhan langsung dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat. Beliau keluar masuk kedai-kedai kopi, berinteraksi dengan orang awam hingga para ulama. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah keributan-keributan pada masalah khilafiyah yang tidak pernah berkesudahan ujung pangkalnya; antara pembaca qunut dengan yang tidak, antara pembaca niat yang dijaharkan dengan yang tidak, antara pembaca sayidina pada shalawat dengan yang tidak, dan seterusnya. Keributan-keributan itu membuat umat Islam terpecah belah sehingga semakin terpuruk. Umat Islam sudah terpuruk karena kehilangan lambang pemersatu mereka, yaitu kekhalifahan Utsmaniyah, ditambah lagi pada keributan seputar khilafiyah. Keterpurukan umat Islam adalah musibah bagi zaman karena Islam tidak lagi menjadi ustadziyatul alam atau sokoguru peradaban.

Imam Hasan Al Banna adalah anak didik dari madrasah Imam Jamaluddin Al Afghani yang dikenal dengan ide Pan Islamisme-nya, anak didik dari madrasah Imam Muhammad Abduh dengan modernisasinya, anak didik dari madrasah salafiyahnya Imam Rasyid Ridha, sekaligus anak didik jamaah tarekat Hashafiyah yang mana istilah "mursyid am" adalah diambil dari istilah pembimbing tarekat itu sendiri dan wirid alma'tsurat adalah kebiasaan rutin jamaah tarekat itu. Maka semua istilah itu beririsan dengan manhaj Jamaah Ikhwanul Muslimin. Imam Hasan Al Banna mengatakan tentang hakikat Ikhwanul Muslimin: 

1. Dakwah salafiyah (dakwah salaf),
2. Thariqah sunniyah (jalan sunnah),
3. Hakikat shufiyah (hakikat sufi),
4. Hai'ah siyasiyah (lembaga politik),
5. Jama'ah riyadhiyah (kelompok olahraga),
6. Rabithah 'ilmiyah tsaqafiah (ikatan ilmiah berwawasan),
7. Syirkah iqtishadiyah (perserikatan ekonomi), dan
8. Fikrah ijtima'iyah (pemikiran sosial)

Kedelapan unsur ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya atau tidak bisa dihilangkan satu bagian dari keseluruhannya karena bila terjadi akan kehilangan hakikatnya. Maka tidaklah mengherankan apabila didalam tubuh jamaah ini terdapat banyak corak ragam pemikiran namun tetap menjalin persaudaraan dan saling mengasihi, sebagaimana yang terjadi pada salafus salih dahulu. Di antara tokoh-tokohnya ada yang berkecenderungan tasawuf seperti Syaikh Bahi Al Khuli, Syaikh Said Hawwa, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Syaikh Mutawalli Sya'rawi, dan Syaikh Muhammad Al Ghazali. Ada yang berkecenderungan salafy seperti Syaikh Muhibbuddin Al Khatib, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Manna Al Qathan, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Namun semuanya memiliki titik temu dalam manhaj Ikhwanul Muslimin. Mereka para sufi yang fakih dan para fakih yang sufi. Mereka menelurkan karya tazkiyatun nafs, di sisi lain menelurkan pula karya dibidang tafsir, fikih, dan hadits.

Oleh karena itu, bukanlah pada tempatnya meributkan masalah khilafiyah dalam jamaah Ikhwanul Muslimin. Cukuplah mempersatukan umat dengan tiga perkara: pertama, kesatuan referensi (wihdatul maraji’iyah), semuanya berhukum dengan syariah Islam yang bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah; kedua, kesatuan tanah air Islam (wihdatu darul Islam), meskipun terdiri dari banyak negara yang jaraknya berjauhan; ketiga, kesatuan kepemimpinan (wihdatul qiyadah as-siyasiyah), yang diwujudkan dengan khalifah sebagai pemimpin tertinggi.

Kamis, 05 Maret 2015

Syaikh Prof. Sayyid Sabiq rahimahullah

Fikih Sunnah adalah karya beliau yang paling terkenal. Karya beliau ini bermula ketika beliau rutin menulis majalah Ikhwanul Muslimin. Beliau mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta’lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani Al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fikih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Imam Hasan Al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya.

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Kita menyaksikan dalam buku Fikih Sunnah tampak kepakaran, kecerdasan, dan kejeniusan seorang Sayyid Sabiq. Tidak heran banyak ulama kontemporer menyarankan untuk mempelajari buku ini. Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjuluki Syaikh Sayid Sabiq sebagai orang yang paling faqih di abad ke 20. Beliau menjadi tempat rujukan ulama-ulama besar termasuk Syaikh Mutawalli Sya’rawi. Bahkan saking populernya buku Fikih Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani merasa terpanggil untuk mentakhrij hadits-hadits yang ada di dalam kitab tersebut, sehingga kitab tersebut semakin berbobot di mata umat. Selain Fikih Sunnah 3 jilid, beliau juga menulis beberapa buku seperti Aqidah Islamiyah dan Islamuna.